Penaklukan Ming oleh Qing, juga dikenal dengan istilahtransisi Ming–Qing danpenaklukan Manchu di Tiongkok, adalah periode konflik yang berlangsung antaraDinasti Qing (yang didirikan oleh klanManchu yang bernamaAisin Gioro dan berasal dariManchuria) melawanDinasti Ming di Tiongkok, walaupun periode ini juga melibatkan kekuatan-kekuatan lain, sepertiDinasti Shun yang berusia pendek. Sebelum dilancarkannya penaklukan, pemimpin Aisin GioroNurhaci menugaskan penulisan sebuah dokumen yang berjudulTujuh Kebencian Besar pada tahun 1618. Dokumen ini menjabarkan kebencian-kebencian mereka terhadap Ming. Kebanyakan dari keluhan tersebut terkait dengan sikap pilih kasih Manchu terhadap klan klan ManchuYehe. Permintaan Nurhaci agar Ming membayar upeti kepadanya untuk menyelesaikan keluhan-keluhan tersebut pada dasarnya merupakan pernyataan perang, karena Ming tidak akan mau membayar upeti kepada klan yang pernah menjadi salah satu pembayar upeti untuk Tiongkok. Nurhaci kemudian mulai menyerbu wilayah Ming diLiaoning, Manchuria selatan.
Pada saat yang sama, Dinasti Ming menghadapi masalah keuangan dan pemberontakan petani. Pada 24 April 1644,Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin olehLi Zicheng, mantan pejabat Ming yang menjadi pemimpin pemberontakan petani. Ia kemudian menyatakan berdirinyaDinasti Shun. Kaisar Ming terakhir,Kaisar Chongzhen, menggantung dirinya di sebuah pohon di kebun kekaisaran di luarKota Terlarang. Setelah Li Zicheng mulai melancarkan serangan terhadap jenderal MingWu Sangui, sang jenderal bersekutu dengan orang-orang Manchu. Li Zicheng dikalahkan dalamPertempuran Shanhaiguan oleh pasukan gabungan Wu Sangui dan pangeran ManchuDorgon. Pada 6 Juni, pasukan Manchu dan Wu memasuki ibu kota dan memproklamirkanKaisar Shunzhi yang masih muda sebagaiKaisar Tiongkok.
Kaisar Kangxi naik takhta pada tahun 1661, dan pada tahun 1662 wali-walinya melancarkanPembersihan Besar untuk menghabisi perlawanan loyalis Ming di Tiongkok Selatan. Ia kemudian memadamkan beberapa pemberontakan, sepertiPemberontakan Tiga Bawahan yang dipimpin oleh Wu Sangui di Tiongkok selatan, dan juga melancarkan kampanye militer yang memperluas wilayah kekaisarannya. Pada tahun 1662,Zheng Chenggong (Koxinga) mengusir penjajahBelanda dariTaiwan dan mendirikanKerajaan Tungning, negara loyalis Ming yang ingin menaklukan kembali Tiongkok. Namun, Tungning dikalahkan dalamPertempuran Penghu oleh laksamana HanShi Lang yang pernah mengabdi kepada Koxinga.
Jatuhnya Dinasti Ming disebabkan oleh gabungan beberapa faktor. Kenneth Swope menyatakan bahwa faktor utama adalah memburuknya hubungan antara kaisar dengan kepemimpinan militer Ming.[1] Faktor-faktor lain meliputi ekspedisi-ekspedisi militer yang dilancarkan ke utara, tekanan inflasi yang disebabkan oleh pengeluaran negara yang terlalu besar, bencana alam, danepidemi. Kepemimpinan kaisar yang lemah dan pemberontakan petani di Beijing pada tahun 1644 semakin memperparah keadaan. Kekuasaan Ming masih bertahan di Tiongkok selatan selama beberapa tahun, walaupun upaya perlawanan ini pada akhirnya akan dipadamkan oleh Manchu.[2]
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuahrintisan. Anda dapat membantu Wikipedia denganmengembangkannya. |