Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Torium

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
90Th
Torium
Sampel torium di dalam ampul yang berisi gas argon
Garis spektrum torium
Sifat umum
Pengucapan/torium/[1]
Penampilankeperakan, seringkali dengan noda hitam
Torium dalamtabel periodik
Perbesar gambar

90Th
HidrogenHelium
LitiumBeriliumBoronKarbonNitrogenOksigenFluorinNeon
NatriumMagnesiumAluminiumSilikonFosforusBelerangKlorinArgon
KaliumKalsiumSkandiumTitaniumVanadiumKromiumManganBesiKobaltNikelTembagaSengGaliumGermaniumArsenSeleniumBrominKripton
RubidiumStronsiumItriumZirkoniumNiobiumMolibdenumTeknesiumRuteniumRodiumPaladiumPerakKadmiumIndiumTimahAntimonTeluriumIodinXenon
SesiumBariumLantanumSeriumPraseodimiumNeodimiumPrometiumSamariumEuropiumGadoliniumTerbiumDisprosiumHolmiumErbiumTuliumIterbiumLutesiumHafniumTantalumWolframReniumOsmiumIridiumPlatinaEmasRaksaTaliumTimbalBismutPoloniumAstatinRadon
FransiumRadiumAktiniumToriumProtaktiniumUraniumNeptuniumPlutoniumAmerisiumKuriumBerkeliumKaliforniumEinsteiniumFermiumMendeleviumNobeliumLawrensiumRuterfordiumDubniumSeaborgiumBohriumHasiumMeitneriumDarmstadtiumRoentgeniumKopernisiumNihoniumFleroviumMoskoviumLivermoriumTenesinOganeson
Ce

Th

(Uqq)
aktiniumtoriumprotaktinium
Lihat bagan navigasi yang diperbesar
Nomor atom(Z)90
Golongangolongan n/a
Periodeperiode 7
Blokblok-f
Kategori unsur aktinida
Berat atom standar(Ar)
  • 232,0377±0,0004
  • 232,04±0,01 (diringkas)[2]
Konfigurasi elektron[Rn] 6d2 7s2
Elektron per kelopak2, 8, 18, 32, 18, 10, 2
Sifat fisik
Fasepada STS (0 °C dan 101,325 kPa)padat
Titik lebur2115 K(1842 °C,3348 °F)
Titik didih5061 K(4788 °C,8650 °F)
Kepadatanmendekati s.k.11,7 g/cm3
Kalor peleburan13,81 kJ/mol
Kalor penguapan514 kJ/mol
Kapasitas kalor molar26,230 J/(mol·K)
Tekanan uap
P (Pa)1101001 k10 k100 k
pada T (K)263329073248368342595055
Sifat atom
Bilangan oksidasi+1, +2, +3,+4 (oksidabasa lemah)
ElektronegativitasSkala Pauling: 1,3
Energi ionisasike-1: 587 kJ/mol
ke-2: 1110 kJ/mol
ke-3: 1930 kJ/mol
Jari-jari atomempiris:179,8 pm
Jari-jari kovalen206±6 pm
Lain-lain
Kelimpahan alamiprimordial
Struktur kristalkubus berpusat muka (fcc)
Struktur kristal Face-centered cubic untuk torium
Kecepatan suarabatang ringan2490 m/s(suhu 20 °C)
Ekspansi kalor11,0 µm/(m·K)(suhu 25 °C)
Konduktivitas termal54,0 W/(m·K)
Resistivitas listrik157 nΩ·m(suhu 0 °C)
Arah magnetparamagnetik[3]
Suseptibilitas magnetik molar132,0×10−6 cm3/mol(293 K)[4]
Modulus Young79 GPa
Modulus Shear31 GPa
Modulus curah54 GPa
Rasio Poisson0,27
Skala Mohs3,0
Skala Vickers295–685 MPa
Skala Brinell390–1500 MPa
Nomor CAS7440-29-1
Sejarah
PenamaandariThor, dewa guntur Norse
PenemuanJöns J. Berzelius(1829)
Isotop torium yang utama
Iso­topKelim­pahanWaktu paruh(t1/2)Mode peluruhanPro­duk
227Threnik18,68 hriα223Ra
228Threnik1,9116 thnα224Ra
229Threnik7917 thnα225Ra
230Th0,02%75400 thnα226Ra
231Threnik25,5 jamβ231Pa
232Th99,98%1,405×1010 thnα228Ra
234Threnik24,1 hriβ234Pa
|referensi|di Wikidata

Torium adalah suatu unsur kimia dalamtabel periodik yang memiliki lambang Th dan nomor atom 90. Logam torium berwarna keperakan dan bernoda hitam saat terkena udara, membentuktorium dioksida; logam ini cukup keras,mudah dibentuk, dan memilikititik lebur yang tinggi. Torium adalahaktinidaelektropositif yang sifat kimianya didominasi olehkeadaan oksidasi +4; unsur ini cukup reaktif dan bisa menyala di udara saat terbagi halus.

Semua isotop torium yang diketahui tidak stabil. Isotop yang paling stabil,232Th, memilikiwaktu paruh 14,05 miliar tahun, atau sekitarumur alam semesta; isotop ini meluruh sangat lambat melalui prosespeluruhan alfa dan memulai rantai peluruhan yang dinamai "deret torium" yang berakhir pada208Pb yang stabil. Di Bumi, torium,bismut danuranium adalah tiga unsur radioaktif yang masih ada secara alami dalam jumlah banyak sebagaiunsur primordial.[a] Diperkirakan torium tiga kali lebih berlimpah daripada uranium di kerak bumi. Logam torium terutama dimurnikan dari pasirmonasit sebagai produk sampingan dari ekstraksilogam tanah jarang,

Torium ditemukan pada tahun 1828 oleh ahli mineral amatir NorwegiaMorten Thrane Esmark dan diidentifikasi oleh ahli kimia SwediaJöns Jacob Berzelius, yang menamainya dariThor, dewa petir Nordik. Kegunaan pertamanya dikembangkan pada akhir abad ke-19. Radioaktivitas torium diketahui secara luas semasa awal dekade abad ke-20. Pada paruh kedua abad ini, torium telah digantikan penggunaannya dalam berbagai situasi karena muncul kekhawatiran mengenai sifat radioaktifnya.

Torium masih digunakan sebagai unsur paduan dalam elektrode pengelasan TIG, namun secara perlahan digantikan dengan bahan lainnya. Ia juga digunakan sebagai bahan dalam instrumen optik dan ilmiah canggih, dan sebagai sumber cahaya pada perangkat lampu gas, tapi penggunaannya sudah semakin jarang. Torium telah diusulkan digunakan sebagai pengganti uranium untuk bahan bakar reaktor nuklir dan beberapa reaktor torium telah dibangun.

Sifat umum

[sunting |sunting sumber]

Torium merupakan logam aktinida radioaktif berwana keperakan terang,paramagnetik, dan agak lunak. Di dalam tabel periodik, torium berada di sebelah kananaktinium, kiriprotaktinium, dan di bawahserium. Torium murni sangat lunak, dan seperti logam pada umumnya, dapatdirolkan dalam keadaan dingin, ditempa, dan dibentuk.[5] Pada temperatur ruangan, logam torium memiliki struktur kristalkubus berpusat muka. Ia juga memiliki dua bentuk lain, satu pada temperatur tinggi (lebih dari 1360 °C), yaitu kubus berpusat badan dan satu lagi pada tekanan tinggi (sekitar 100 GPa), yaitu tetragonal berpusat badan.[5]

Logam torium memilikimodulus kompresi (ukuran ketahanan terhadap kompresi dari bahan) sebesar 54GPa, hampir sama sepertitimah (58,2 GPa). Sebagai perbandingan, modulus kompresialuminium sebesar 75,2 GPa; tembaga 137,8 GPa; dan baja ringan sebesar 160-169 GPa.[6] Kekerasan torium adalah sama kerasnya denganbaja lunak, sehingga ketika dipanaskan torium dapat dirolkan menjadi lembaran dan ditarik menjadi kawat.[7]

Kepadatan torium mendekati setengah dari kepadatanuranium danplutonium. Namun ia lebih keras dari kedua logam tersebut.[7] Torium menjadisuperkonduktif di bawah suhu 1,4K.[5]Titik lebur torium yang sebesar 1.750 °C berada di atas titik lebur aktinium (1.227 °C) dan protaktinium (1568 °C). Pada unsur-unsur permulaanperiode 7, darifransium sampai dengan torium, titik lebur unsur meningkat (seperti halnya unsur pada periode lain). Hal ini disebabkan jumlah elektron terdelokalisasi yang setiap atom kontribusikan meningkat dari satu elektron pada fransium menjadi empat elektron pada torium. Ini menyebabkan gaya tarik antara elektron-elektron dengan ion logam menjadi lebih besar seiring dengan muatan positif logam yang meningkat dari satu menjadi empat. Setelah torium, ada kecenderungan penurunan titik lebur yang berawal dari torium sampai denganplutonium. Ini beriringan dengan meningkatnya jumlah elektron f dari sekitar 0,4 pada torium menjadi sekitar 6 pada polonium; kecenderungan ini disebabkan oleh peningkatan hibridisasi orbital 5f dan 6d pada atom dan pembentukan ikatan berarah yang mengakibatkan struktur kristal logam menjadi lebih kompleks dan melemahkan ikatan antar logam.[7][8] (Perhitungan elektron f untuk torium tidaklah bulat karena adanya tumpang tindih orbital 5f–6d).[8] Di antara unsur aktinida-aktinida hinggakalifornium, yang dapat dipelajari setidaknya dalam jumlah miligram, torium memiliki titik lebur dan titik didih yang tertinggi dan kepadatan yang terendah kedua; hanya unsur aktinium yang lebih lebih ringan daripada torium.[b] Titik didih torium adalah 4788 °C, merupakan titik didih yang tertinggi kelima di antara semua unsur yang telah diketahui titik didihnya.[c]

Sifat-sifat torium sangat bervariasi tergantung pada tingkat ketidakmurnian dalam sampel logam. Pengotor utama biasanyatorium dioksida (ThO2); bahkan spesimen torium yang paling murni biasanya masih mengandung dioksida tersebut dalam takaran sekitar sepersepuluh persen (0,1 %).[5] Pengukuran-pengukuran eksperimental yang dilakukan untuk menentukan berat jenis torium memberikan nilai sebesar antara 11,5 sampai dengan 11,66 g/cm3: nilai tersebut sedikit lebih rendah dari nilai teoretis yang diharapkan, yaitu 11,7 g/cm3 (dihitung dariparameter kisi torium). Perbedaan ini mungkin disebabkan rongga-rongga mikroskopis yang terbentuk dalam logam ketika dicetak.[5] Nilai-nilai ini berada di antara nilai berat jenis unsur aktinium (10,1 g/cm3) dan protaktinium (15.4 g/cm3) yang bersebelahan dengan torium.[5]

Torium dapat dibentuk menjadialoi dengan logam lainnya. Penambahan sebagian kecil torium padamagnesium akan meningkatkan kekuatan mekanik logam tersebut. Selain itu pemaduan torium-aluminium telah dipertimbangkan sebagai cara untuk menyimpan torium dalam reaktor nuklir torium usulan di masa depan. Torium membentukcampuran eutektik dengankromium dan uranium. Selain itu, torium tercampur sepenuhnya dalamwujud padat maupun cair dengan unsur saudaranya yang lebih ringan,serium.[5]

Isotop

[sunting |sunting sumber]
Presentasi bola dan panah dalam deretan peluruhan torium
Rantai peluruhan 4n232Th, umumnya dikenal sebagai "deret torium".

Kecuali dua unsur,teknesium (unsur 43) danprometium (unsur 61), semua unsur hinggabismut (unsur 83) memiliki satu isotop yang praktis stabil. Sedangkanpolonium (unsur 84) dan semua unsur seterusnya bersifatradioaktif.232Th merupakan salah satu dari tiga nuklida selain bismut (dua lainnya adalah235U dan238U) yang memiliki waktu paruh dalam ukuran miliaran tahun; waktu paruhnya 14,05 miliar tahun, sekitar tiga kaliumur bumi dan sedikit lebih tua dariumur alam semesta. Sekitar delapan puluh persen torium yang ada pada saat pembentukan bumi masih bertahan hingga sekarang.[11][12][13]232Th merupakan satu-satunya isotop torium yang ada dalam jumlah memadai di alam.[11] Stabilitasnya disebabkan olehkulit inti tertutupnya yang ber-142 neutron.[14][15] Torium memiliki karakteristik komposisi isotop bumi, denganberat atom sebesar 232,0377(4). Torium merupakan salah satu dari empat unsur radioaktif (bersama dengan bismut, protaktinium, dan uranium) yang kelimpahannya cukup besar di bumi untuk ditentukan berat atom standarnya.[16]

Inti torium rentan terhadappeluruhan alfa karenagaya nuklir kuatnya tidak dapat mengatasi tolakan elektromagnetik antar proton-protonnya.[17] Peluruhan alfa232Th memulairantai peluruhan 4n yang melibatkan isotop bernomor massa kelipatan 4 (disebut juga deret torium sesuai dengan nama unsur induknya). Rangkaian peluruhan alfa danbeta berturut-turut ini dimulai dari peluruhan232Th menjadi228Ra dan berakhir pada208Pb.[11] Semua sampel logam torium maupun senyawa-senyawanya akan mengandung sekelumitanak-anak peluruhan ini, yaitu isotop-isotoptalium,timbal, bismut, polonium,radon,radium, dan aktinium. Sampel torium alami dapat dimurnikan secara kimiawi untuk mengekstraksi berbagai nuklida anak yang berguna, seperti212Pb, yang digunakan dalamkedokteran nuklir untuk terapi kanker.[18][19]227Th (pemancar partikel alfa berwaktu paruh 18,68 hari) juga dapat digunakan dalam terapi kanker sepertiterapi partikel alfa bertarget.[20][21][22]232Th kadang-kadang juga mengalamifisi spontan daripada peluruhan alfa. Bukti-bukti peristiwa ini tertinggal dalam mineral-mineral torium (sebagai gasxenon yang terjebak dan terbentuk dari hasil fisi tersebut). Namun waktu paruh parsial dari proses ini sangat besar di atas 1021 tahun dan sebaliknya peluruhan alfa lah yang mendominasi.[23][24]

Terdapat tiga puluhradioisotop torium yang telah dikarakterisasi, dari yang bernomor massa 209[25] hingga 238.[23] Setelah232Th, yang paling stabil (berdasarkan waktu paruhnya) adalah230Th dengan waktu paruh 75.380  tahun,229Th dengan waktu paruh 7.340 tahun,228Th dengan waktu paruh 1,92 tahun,234Th dengan waktu paruh 24,10 hari, dan227Th dengan waktu paruh 18,68 hari. Semua isotop-isotop ini terdapat di alam sebagairadioisotop kelumit karena keberadaan mereka dalam rantai peluruhan232Th,235U,238U, dan237Np: yang terakhir ini telah lama punah di alam karena waktu paruhnya yang pendek (2,14 juta tahun), tetapi terus diproduksi dalam jumlah sekelumit akibat prosestangkapan neutron dalam bijih uranium. Isotop-isotop torium yang lain memiliki waktu paruh kurang dari 30 hari dan sebagian besarnya kurang dari 10 menit.[11]

Dilaut dalam, isotop230Th menduduki hingga 0,04% dari torium alami.[16] Ini disebabkan oleh induk238U yang larut dalam air tetapi230Th tak larut dan mengendap ke dalam sedimen. Bijih uranium dengan konsentrasi torium yang rendah dapat dimurnikan untuk menghasilkan sampel torium berukuran gram yang lebih dari seperempatnya berisotop230Th, karena230Th merupakan salah satu anak peluruhan dari238U.[23]Persatuan Kimia Murni dan Terapan Internasional (IUPAC) menggolongkan kembali torium sebagai unsur binuklida pada tahun 2013; sebelumnya torium dianggap sebagaiunsur mononuklida.[16]

Torium memiliki 3isomer nuklir (atau keadaan metastabil), yaitu216m1Th,216m2Th, dan229mTh.229mTh memiliki energi eksitasi terendah dari semua isomer tersebut,[26] yang terukur bernilai 7,6 ± 0,5 eV. Energi ini sebegitu rendahnya sehingga ketika menjalani transisi isomer, radiasi gama yang dipancarkan berada dalam kisaranultraviolet.[27][28][d] Isotop-isotop torium yang berbeda memiliki sifat kimia yang sama tetapi sifat fisikanya yang sedikit berbeda: sebagai contoh, kepadatan dari228Th,229Th,230Th, dan232Th murni berturut-turut adalah 11,5, 11,6, 11,6, dan 11,7 g/cm3.[30] Isotop229Th diprediksi dapat menjalanifisi dengan masa kritis polosnya 2839 kg, walaupun denganreflektor baja nilai ini turun menjadi 994 kg.[30][e]232Th tidak dapat berfisi, tetapi merupakan nuklida fertil karena dapat diubah menjadi bahan fisil233U melalui tangkapan neutron yang diikuti peluruhan beta.[30][31]

Penanggalan radiometrik

[sunting |sunting sumber]

Terdapat dua metode penanggalan radiometrik yang melibatkan isotop torium, yaitupenanggalan uranium–torium yang didasarkan pada peluruhan234U menjadi230Th, danpenanggalan ionium–torium yang mengukur rasio232Th terhadap230Th.[f] Kedua metode ini didasarkan pada fakta bahwa232Th adalah radioisotop purba dan230Th hanya muncul sebagai produk antara dalam rantai peluruhan238U.[32] Penanggalan uranium–torium merupakan proses yang relatif berjangka pendek karena waktu paruh234U dan230Th yang relatif pendek terhadap usia Bumi. Proses ini juga dibarengi dengan proses yang melibatkan peluruhan alfa235U menjadi231Th, yang kemudian dengan cepat menjadi231Pa yang berwaktu paruh panjang. Proses berbarengan ini sering digunakan untuk mengecek hasil penanggalan uranium–torium. Penanggalan uranium–torium umumnya digunakan untuk menentukan usia materialkalsium karbonat sepertispeleotem danbatu karang karena uranium lebih larut daripada torium dan protaktinium, sehingga kedua unsur ini secara selektif mengendap ke dalam sedimen laut. Dari sedimen inilah rasio kedua unsur tersebut diukur. Penanggalan ini memiliki kisaran waktu beberapa ratus tahunan.[32][33] Penanggalan ionium–torium merupakan proses yang mirip, yaitu dengan mengukur rasio232Th terhadap230Th di sedimen laut.[34][35] Kedua metode penanggalan ini memiliki asumsi dasar bahwa proporsi230Th terhadap232Th adalah konstan selama periode sewaktu lapisan sedimen tersebut terbentuk, bahwa sedimen tersebut belumlah mengandung torium sebelum uranium meluruh, dan bahwa torium tidak dapat bermigrasi dalam lapisan sedimen tersebut.[34][35]

Sifat kimia

[sunting |sunting sumber]
Artikel utama:Senyawa torium

Sebuah atom torium memiliki 90 elektron; 4 dari elektron tersebut merupakanelektron valensi. Terdapat tigaorbital atom yang secara teoretis tersedia bagi elektron valensi untuk diduduki, yakni orbital 5f, 6d, dan 7s.[36] Walaupun torium terletak padablok-f tabel periodik, ia memiliki konfigurasi elektron dalam keadaan dasar yang tak lazim, yakni [Rn]6d27s2. Pada unsur aktinida awal, energi subkelopak 5f dan 6d unsur sangatlah dekat; pada torium subkelopak 6d-nya berenergi lebih rendah daripada subkelopak 5f-nya. Hal ini karena subkelopak 5f-nya terdestabilisasi dan tidak terperisai dengan baik oleh subkelopak 6s dan 6p yang terisi. Hal ini disebabkan oleh efek-efek relativitas yang semakin kuat pada unsur bagian bawah dalam tabel periodik, terutama efekinteraksi spin–orbit. Kedekatan energi 5f, 6d, dan 7s pada torium menyebabkannya hampir selalu melepaskan keempat elektron valensinya dan sehingganya berwujud dalam keadaan oksidasi +4. Hal ini berbeda dengan serium, saudara lantanida torium, yang walaupun dapat berwujud dalam keadaan oksidasi +4, keadaan oksidasi +3-nya lah yang memainkan peran penting dan lebih stabil. Sifat-sifat kimiawi torium lebih mirip denganlogam-logam transisi seperti zirkonium dan hafnium daripada dengan serium dalam hal energi ionisasi dan potensial redoksnya. Perilaku bak-logam transisi ini merupakan kecenderungan yang normal pada separuh awal deret unsur aktinida.[37][38]

Crystal structure of fluorite
Torium dioksida memiliki struktur kristalfluorit.Th4+:__  /  O2−:__

Walaupun konfigurasi elektron atom torium dalam wujud gas tidak lazim, torium dalam wujud logam menunjukkan keterlibatan orbital 5f yang signifikan. Sebuah keadaan metalik torium teoretis yang berkonfigurasi [Rn]6d27s2 dengan orbital 5f-nya di atasaras Fermi haruslahtersusun rapat heksagonal seperti padaunsur golongan 4 titanium, zirkonium dan hafnium. Namun, struktur torium yang terpantau sebenarnya adalah struktur kubus berpusat muka . Struktur kristal yang terpantau ini dapat dijelaskan apabila keadaan orbital 5f torium dilibatkan.[8]

Senyawa tetravalen torium biasanya tidak berwarna ataupun berwarna kuning. Ini karena ion Th4+ tidak memiliki elektron 5f atau 6d.[7] Sifat-sifat kimiawi torium oleh sebab itu didominasi oleh keelektropositifannya yang berbentuk iondiamagnetik berkonfigurasi gas mulia.[39][g] Torium dan uranium merupakan unsur radioaktif yang paling banyak dipelajari karena radioaktivitasnya cukup rendah sehingga tidak diperlukan penanganan yang khusus dalam laboratorium.[40]

Reaktivitas

[sunting |sunting sumber]

Torium merupakan logam yang bereaktivitas tinggi dan elektropositif.Potensial reduksi standar torium adalah −1.90 V untuk pasangan Th4+/Th, Torium sedikit lebih elektropositif daripada zirkonium ataupun aluminium.[41] Logam torium yang terbagi halus bersifatpiroforik dan dapat menyala spontan di udara bebas.[5] Ketika dipanaskan di udara bebas, remah torium menyala dan terbakar memancarkan cahaya putih yang terang, membentuk senyawa torium dioksida. Dalam bentuk bongkahan, torium murni bereaksi dengan lambat di udara bebas, walaupun korosi dapat terjadi setelah beberapa bulan. Kebanyakan sampel torium terkontaminasi sesedikit oleh torium dioksida. Kontaminasi ini mempercepat proses korosi.[5] Sampel torium seperti ini akan mengusam dengan perlahan; permukaannya menjadi abu-abu dan akhirnya menghitam.[5]

Padasuhu dan tekanan standar, torium dengan lambat diserang oleh air, tetapi akan dengan segera larut dalam kebanyakan asam, terkecuali dalam larutanasam klorida, yang meninggalkan residu tak larut ThO(OH,Cl)H.[5][42] Torium larut dalamasam nitrat pekat yang mengandung sejumlah kecil ion katalitikfluorida ataufluorosilikat;[5][43] apabila tidak terdapat kedua ion ini, prosespasivasi oleh nitrat akan terjadi, sebagaimana yang terjadi pada uranium dan plutonium.[5][44][45]

Senyawa anorganik

[sunting |sunting sumber]
Crystal structure of thorium tetrafluoride
Struktur kristal torium tetrafluoridaTh4+:__  /  F:__

Kebanyakan senyawa biner torium dengan unsur nonlogam dapat dibuat melalui pemanasan kedua unsur tersebut.[46] Di udara bebas, torium terbakar menjadi ThO2 yang berstrukturfluorit.[47] Torium dioksida ini merupakanbahan refraktori yang bertitik lebur tertinggi (3390 °C) di antara semua senyawa oksida yang diketahui.[48] Torium dioksida sedikit bersifathigroskopik dan bereaksi dengan air dan berbagai gas;[49] ia larut dalam asam nitrat pekat apabila terdapat ion fluorida dalam larutan tersebut.[50]

Ketika dipanaskan di udara bebas, torium dioksida memancarkan cahaya biru yang terang. Cahaya ini berubah menjadi putih ketika torium dioksida dicampur denganserium dioksida (CeO2). Kedua campuran senyawa ini dahulunya umumnya digunakan dalamkaus lampu untuk menghasilkan cahaya putih yang terang.[49] Kobaran api tidaklah diperlukan untuk mendapatkan cahaya terang ini. Pada tahun 1910, ditemukan bahwa kaus lampu Welsbach (terbuat dari ThO2 dengan 1% CeO2) yang panas tetap berpancar penuh ketika terpapar dengan campuran gas bakar dan udara.[51] Cahaya yang dipancarkan torium dioksida memiliki panjang gelombang yang lebih tinggi daripada yang diharapkan dari emisibenda hitam sebuahpijaran yang bertemperatur sama; efek ini disebut sebagaikandoluminesens. Ini terjadi karena ThO2 : Ce berperan sebagai katalis bagi rekombinasiradikal bebas yang muncul pada kobaran api bertemperatur tinggi. Deeksitasi radikal bebas ini menghasilkan energi yang besar. Penambahan 1% serium dioksida pada kaus lampu meningkatkan efek tersebut dengan meningkatkan emisivitas bahan pada daerah spektrumcahaya tampak; serium, tidak seperti torium, dapat berwujud dalam berbagai keadaan oksidasi yang bermacam-macam. Oleh karenanya, muatan beserta emisivitas cahaya tampak serium bergantung pada daerah di mana ia ditemukan dalam kobaran api.[51]

Beberapa senyawa toriumkalkogenida dan oksikalkogenida yang diketahui meliputi persenyawaan dengansulfur,selenium, andtelurium.[52] Torium dapat bersenyawa dengan seluruh unsur golongan halogen sebagai torium tetrahalida.[53] Semua senyawa torium tetrahalida berkoordinasi 8 dan merupakan senyawa higroskopik yang larut dengan mudah dalam pelarut polar seperti air.[54] Senyawa torium tetrafluorida memiliki struktur kristalmonoklinik seperti yang ditemukan padazirkonium tetrafluorida danhafnium tetrafluorida. Senyawa ini memilki geometriantiprisma persegi yang terdistorsi.[53] Sebaliknya, senyawa torium tetrahalida lainnya (klorida, bromida, dan iodida) memiliki geometri dodekahedral.[54] Selain itu, torium ditemukan juga dapat bersenyawa dalam valensi rendah dengan bromida (ThBr2 dan ThBr3) dan iodida (ThI2 dan ThI3).[53] Senyawa ThI3 (yang berwarna hitam) dan ThI2 (yang berwarna emas) dapat dibuat dari reduksi torium tetraiodida dengan logam torium. Senyawa torium iodida bervalensi rendah ini tidak mengandung Th3+ ataupun Th2+, melainkan mengandung Th4+ yang beranion elektron (Th4+ (I-)3 e- pada ThI3). Ini disebut sebagai senyawaelektrida.[53] Berbagai ion torium polihalida juga telah diketahui.[53] Sebagai contohnya, ketika kalium fluorida dan asam fluorida direaksikan dengan Th4+, kompleks anionThF2−6 akan terbentuk dan mengendap menjadi garam K2ThF6 yang tak larut.[43]

Torium borida, karbida, silisida, dan nitrida adalah bahan-bahan refraktori. Oleh sebab itu, senyawa-senyawa ini mendapat perhatian khusus sebagaibahan bakar nuklir.[46] Keempat unsurpniktogen sepertifosforus,arsenik,antimon dan bismut juga bersenyawa dengan torium menjadi senyawa biner. Torium germanida juga telah diketahui keberadaannya.[55] Torium bereaksi dengan hidrogen, membentuk torium hidrida ThH2 dan Th4H15, Senyawa terakhir ini bersifat superkonduktif pada temperatur di bawah 7,5–8 K; pada temperatur dan tekanan standar, ia menghantarkan listrik seperti logam pada umumnya.[56] Senyawa torium hidrida secara termal tidak stabil dan terurai cepat seketika terpapar dengan udara bebas dan kelembapan.[57]

Senyawa koordinasi

[sunting |sunting sumber]
Struktur torosena
Struktur molekul apit torosena

Dalam larutan air yang asam, ion torium berwujud sebagai ion akua tetrapositif [Th(H2O)9]4+ yang bergeometriprisma trigonal bertudung-tiga.[58][59] Pada pH < 3 larutan garam torium didominasi oleh kation tersebut.[58] Ion Th4+ merupakan ion unsur aktinida tetrapositif yang terbesar. Bergantung pada bilangan koordinasinya, ion ini berjari-jari antara 0,95 sampai dengan 1,14 Å.[58] Ion ini bersifat cukup asam karena muatannya yang tinggi. Keasamannya sedikit lebih kuat daripadaasam sulfit, sehingga ia cenderung mengalami hidrolisis dan polimerisasi menjadi [Th2(OH)2]6+ dalam larutan ber-pH 3 atau kurang. Dalam larutan yang lebih basa, proses polimerisasi berlanjut sampai dengan terbentuknya Th(OH)4 yang bergelatin dan kemudian mengendap.[60] Sebagaiasam Lewis keras, Th4+ lebih memfavoritkan ligan keras yang beratom oksigen sebagai donor. Senyawa kompleks dengan ligan beratom sulfur sebagai donor kurang stabil dan sehingganya lebih rentan terhidrolisis.[37]

Bilangan koordinasi yang tinggi sangatlah lazim bagi senyawa koordinasi torium karena ukuran torium yang besar. Torium nitrat pentahidrat merupakan contoh senyawa berbilangan koordinasi 11 yang pertama kali diketahui. Torium oksalat tetrahidrat berbilangan koordinasi 10 sedangkan torium borohidrida (pertama kali dibuat padaProyek Manhattan) berbilangan koordinasi 14.[60] Garam-garam torium ini dikenal baik atas kelarutannya yang tinggi dalam air dan pelarut organik polar.[7]

Terdapat pula banyak senyawa torium anorganik beranion poliatomik yang diketahui. Contohnya toriumperklorat,sulfat,sulfit, nitrat, karbonat,fosfat,vanadat,molibdat, dankromat, beserta dengan bentuk-bentuk hidrat mereka.[61] Senyawa-senyawa ini sangatlah penting dalam proses pemurnian torium dan pembuangan limbah nuklir. Sebagian besar dari senyawa ini belumlah dikarakterisasi dengan penuh, terutama mengenai sifat-sifat strukturnya.[61] Senyawa kompleks torium dengan ligan organik sepertioksalat,sitrat, danEDTA cenderung lebih stabil. Dalam perairan yang mengandung torium alami, senyawa torium organik biasanya ditemukan dalam konsentrasi yang beberapa pangkat orde lebih besar daripada senyawa torium anorganik. Hal ini berlaku bahkan apabila konsentrasi ligan anorganik lebih besar daripada konsentrasi ligan organik.[58]

Senyawa organotorium

[sunting |sunting sumber]
Struktur molekul bangku piano (η8-C8H8)ThCl2(THF)2
Struktur molekul bangku piano (η8-C8H8)ThCl2(THF)2

Kebanyakan hasil riset mengenai senyawa organotorium berfokus padakompleks siklopentadienil dansiklooktatetraenil torium. Sama seperti dengan banyak unsur aktinida awal dan menengah (sampai denganamerisium), torium dapat bersenyawa menjadi kompleks siklooktatetraenida Th(C8H8)2 (torosena) yang berwarna kuning. Kompleks iniisotipik dengan senyawa analog uranium,uranosena. yang lebih terkenal.[62] Torosena dapat dibuat dengan mereaksikankalium siklooktatetraenida (K2C8H8) dengan torium tetraklorida dalamtetrahidrofuran (THF) pada temperatures kering. Ia juga dapat dibuat dengan mereaksikan torium tetrafluorida dengan MgC8H8.[62] Torosena tidak stabil di udara bebas dan akan terurai dalam air atau pada suhu 190 °C.[62] Berbagaisenyawa apit setengah torium juga telah diketahui, seperti misalnya (η8-C8H8)ThCl2(THF)2 yang berstruktur bangku piano. Senyawa ini dibuat dari reaksi antara torosena dengan torium tetraklorida dalam tetrahidrofuran.[37]

Senyawa siklopentadienil torium yang paling sederhana adalah Th(C5H5)3 dan Th(C5H5)4. Turunan-turunan dari senyawa ini juga banyak diketahui. Senyawa yang pertama (yang memiliki dua bentuk, bentuk berwarna ungu dan bentuk berwarna hijau) adalah contoh langka torium dalam keadaan oksidasi formal +3;[62][63] torium dalam keadaan oksidasi +2 juga berwujud pada turunan senyawa tersebut.[64] Turunan klorida [Th(C5H5)3Cl] dibuat dari pemanasan torium tetraklorida dengan K(C5H5) yang berjumlahterbatas. Turunanalkil danaril senyawa torium siklopentadienil dapat dibuat dari turunan klorida tersebut dan telah digunakan untuk mempelajari ciri-ciriikatan sigma Th–C.[63]

Senyawa organotorium yang lainnya kuranglah terkaji dengan baik. Senyawa tetrabenziltorium, Th(CH2C6H5) dan tetraaliltorium, Th(C3H5)4 telah diketahui keberadaannya, tetapi strukturnya belum berhasil ditentukan. Keduanya terurai dengan lambat pada suhu ruangan. Torium dapat membentuk anion prismatik trigonal bertudung tunggal [Th(CH3)7]3− heptametiltorat. Anion ini dapat bersenyawa menjadi garam [Li(tmeda)]3[ThMe7] (tmeda= Me2NCH2CH2NMe2). Walaupun satu gugus metil tersebut terikat hanya dengan atom torium (jarak Th–C 257,1 pm) dan enam gugus metil lainnya terikat menghubungkan litium dengan karbon (jarak Th–C 265,5–276,5 pm), ketujuh gugus metil tersebut berperilaku sama dalam larutan. Tetrametiltorium, Th(CH3)4, tidaklah diketahui keberadaannya, tetapiaduk senyawa ini distabilkan oleh liganfosfina.[37]

Keberadaan

[sunting |sunting sumber]
Artikel utama:Keberadaan torium

Pembentukan torium

[sunting |sunting sumber]

232Th adalah nuklida purba yang telah berwujud dalam keadaan seperti sekarang sejak 10 miliar tahun yang lalu. Torium tercipta di dalam inti bintang sekarat melaluiproses-r dan terhambur ke seluruh galaksi olehsupernova dantabrakan bintang neutron.[65][66] Huruf "r" pada proses-r berasal dari frasa "rapid neutron capture" (tangkapan neutron yang cepat). Tangkapan ini terjadi di dalamsupernova runtuh-inti, di mana inti benih yang berat seperti56Fe dengan cepat menangkap neutron melawangaris tetesan neutron; neutron tertangkap dengan lebih cepat daripada kecepatan nuklida menjalani peluruhan beta menjadi nuklida stabil. Penangkapan neutron adalah satu-satunya cara bintang mensintesis unsur-unsur yang lebih berat daripada besi. Ini karena terdapat peningkatansawar Coulomb yang membuat interaksi antar partikel bermuatan lebih sulit terjadi pada atom bernomor atom tinggi. Sebenarnya pula, reaksi fusi atom yang lebih berat dari56Fe bersifatendotermik.[67] Karena stabilitas nuklida hilang dengan tiba-tiba ketika mencapai209Bi, proses-r merupakan satu-satunya proses pada nukleosintesis bintang yang dapat menciptakan unsur torium dan uranium; proses-proses lainnya terlalu lambat dan inti antara yang terbentuk menjalani peluruhan alfa sebelum berhasil menangkap neutron yang cukup untuk menjadi unsur torium dan uranium.[65][68][69]

Histogram perkiraan kelimpahan 83 unsur-unsur primordial dalam Tata Surya
Perkiraan kelimpahan 83 unsur-unsur primordial dalam Tata Surya. Dalamskala logaritmik. Torium, atom bernomor 90, adalah salah satu unsur yang terlangka di Tata Surya.

Dalam alam semesta, torium adalah salah satu dari unsur-unsur primordial yang paling langka, sebab torium adalah satu dari dua unsur (yang lainnya uranium) yang hanya dapat diciptakan dari proses-r. Selain itu, torium juga telah secara perlahan meluruh menjadi unsur lainnya sejak pertama kali diciptakan. Unsur-unsur primordial lainnya yang lebih langka daripada torium adalahtulium,lutesium, tantalum, renium, dan uranium.[65][67] Pada waktu yang lampau, kelimpahan torium dan uranium diperkaya oleh peluruhan isotop plutonium dan kurium. Torium diperkaya relatif terhadap uranium melalui peluruhan236U menjadi232Th dan deplesi alami235U. Sekarang, hal ini tidaklah berkontribusi lagi kepada kelimpahan torium.[70]

Dalam kerak Bumi, torium lebih berlimpah dengan kelimpahan sebesar 8,1 bagian per juta (ppm). Torium merupakan salah satu unsur berat yang paling melimpah. Kelimpahannya menghampiri kelimpahan timbal (13 ppm) dan lebih berlimpah daripada timah (2,1 ppm).[71] Hal ini terjadi karena torium cenderung bersenyawa menjadi mineral oksida yang tidak tenggelam ke dalam inti Bumi; ia digolongkan sebagailitofil. Senyawa-senyawa torium umumnya juga kurang larut dalam air. Oleh karenanya, walaupun unsur-unsur logam refraktori memiliki kelimpahan relatif yang sama di Bumi maupun di Tata Surya, torium lebih terjangkau di kerak Bumi daripada logam-logam golongan platina berat lainnya.[72]

Panas yang dihasilkan dari peluruhan  K-40, Th-232, U-235, U-238 di dalam Bumi seiring waktu
Kalor radiogenik yang dihasilkan dari peluruhan232Th (ungu) berkontribusi besar terhadapneraca panas internal Bumi. Dari keempat nuklida yang menghasilkan panas ini,232Th telah menjadi nuklida yang berkontribusi paling besar seiring dengan lebih cepatnya nuklida-nuklida lain meluruh.[73][74][75][76]

Hampir semua torium yang ditemukan di alam biasanya berisotop232Th. Isotop ini merupakan isotop torium yang berumur paling panjang dan stabil. Waktu paruhnya sebanding dengan usia alam semesta.[23] Panas yang dihasilkan dari peluruhan radioaktif isotop ini berkontribusi terbesar terhadappanas internal bumi; kontributor panas bumi lainnya melibatkan radionuklida-radionuklida primordial yang berumur pendek, seperti238U,40K, dan235U berturut-turut. (Pada saat Bumi terbentuk,40K dan235U berkontribusi lebih besar, tetapi keduanya meluruh dengan cepat. Karena itu, sekarang hanya232Th dan238U yang mendominasi.)[77]

Peluruhan isotop232Th berkontribusi terhadap penurunan kandungan torium di Bumi secara perlahan-lahan. Kandungan torium di Bumi saat ini hanya sebesar 85% dari kandungan awal torium saat Bumi terbentuk.[48]

Isotop torium lainnya berumur pendek. Hanya230Th yang biasanya dapat dideteksi. Torium ini berada dalam keadaankesetimbangan sekuler dengan induk238U.230Th menduduki sekitar 0,04% torium alami.[23][h] Torium hanya ditemukan sebagai komponen minor dalam kebanyakan mineral. Karena itu, torium sebelumnya dianggap merupakan unsur yang langka.[79] Tanah biasanya mengandung sekitar 6 ppm torium.[80] Di alam, torium berwujud dalam keadaan oksidasi +4.[79] Karena keradiokatifannya, mineral-mineral yang mengandung torium sering kali berbentukmetamik (amorf). Ini disebabkan oleh perusakan struktur kristal oleh radiasi alfa yang dihasilkan torium.[81] Contoh ekstremnya adalah mineralekanit (Ca,Fe,Pb)2(Th,U)Si8O20, yang hampir tidak pernah ditemukan dalam keadaan non-metamik karena kandungan toriumnya.[82]

Monasit (terdiri atas utamanya persenyawaan fosfat berbagai unsur tanah jarang) adalah sumber torium komersial yang penting karena ditemukan dalam endapan yang besar di seluruh dunia, utamanya di India, Afrika Selatan, Brazil, Australia, dan Malaysia. Monasit rata-ratanya mengandung sekitar 2,5% torium, walaupun kadang-kadang terdapat endapan monasit yang mengandung hingga 20% torium.[79][83] Monasit secara kimiawi relatif tidak reaktif dan ditemukan sebagai pasir yang berwarna kuning atau cokelat. Reaktivitasnya yang rendah membuatnya sulit untuk diekstraksi untuk mendapatkan torium.[79] Mineralalanit (komposisi utamanya berupa silikat-hidroksida berbagai logam) dapat mangandung 0,1–2% torium. Mineralzirkon (komposisi utamanya berupazirkonium silikat, ZrSiO4) dapat mengandung paling banyak 0,4% torium.[79]

Torium dioksida ditemukan dalam mineral langkatorianit. Karena senyawanya yang isotipik denganuranium dioksida, kedua senyawa aktinida dioksida ini dapat saling larut dalam keadaan padat (membentuk larutan padat). Nama mineral yang mengandung kedua senyawa ini berbeda-beda bergantung pada kandungan ThO2 dalam mineral.[79][i]Torit (komposisi utamanya berupatorium silikat, ThSiO4), juga memiliki kandungan torium yang tinggi dan juga adalah mineral di mana torium pertama kali ditemukan.[79] Dalam mineral torium silikat , ion Th4+ danSiO4−4 sering kali digantikan dengan ion M3+ (M= Sc, Y, or Ln) dan fosfat (PO3−4).[79] Karena torium dioksida sangat tidak larut, torium biasanya tidak menyebar dengan cepat ketika dilepaskan ke lingkungan sekitar. Ion Th4+ bersifat larut, terutama di tanah yang asam. Dalam kondisi tersebut, konsentrasi torium dapat mencapai 40 ppm.[48]

Sejarah

[sunting |sunting sumber]

Laporan penemuan yang keliru

[sunting |sunting sumber]
Thor yang mengacungkan palunya dalam suatu pertarungan melawan raksasa
Tors strid med jättarna (1872) olehMårten Eskil Winge;Thor, dewa petirNordik, mengacungkan paluMjölnirnya dalam suatu pertarungan melawanraksasa Jötunn.[84]

Pada tahun 1815, seorang kimiawan SwediaJöns Jacob Berzelius menganalisis sebuah sampelgadolinit yang berasal dari tambang tembaga diFalun, Swedia tengah. Ia mencermati adanya jejak-jejak mineral putih yang terkandung dalam sampel tersebut dan dengan berhati-hatinya berasumsi bahwa jejak tersebut merupakanoksida unsur baru yang belum diketahui. Berzelius sebelumnya telah menemukan dua unsur baru, yaitu serium dan selenium, tetapi ia juga pernah sekali melakukan kesalahan di depan umum dengan mengumumkan penemuan unsur baru "gahnium", yang ternyata merupakanseng oksida.[85] Berzelius pada tahun 1817 secara pribadi menamai unsur sangkaan tersebut sebagai "thorium"[86] dan oksida unsur tersebut sebagai "thorina". Nama ini berasal dariThor, seorangdewa petir Nordik.[87] Pada tahun 1824, setelah endapan mineral yang sama ditemukan diVest-Agder, Norwegia, Berzelius menarik penemuannya karena mineral tersebut (yang kemudian dinamaixenotim) ternyata mayoritas komposisinya adalahitrium ortofosfat.[31][85][88][89]

Penemuan torium

[sunting |sunting sumber]
Jöns Jacob Berzelius
Jöns Jacob Berzelius yang pertama kali mengidentifikasi torium sebagai suatu unsur baru

Pada tahun 1828,Morten Thrane Esmark menemukan sebuah mineral hitam di pulauLøvøya, wilayahTelemark, Norwegia. Esmark adalahpendeta Norwegia dan juga seorang ahlimineralogi amatir yang mempelajari berbagai mineral yang ada di Telemark. Di sana, ia menjabat sebagai seorangvikep. Sering kali, dia mengirimkan berbagai spesimen yang menarik ke ayahnya,Jens Esmark, seorang ahli mineralogi ternama dan profesor mineralogi dan geologi di Universitas Kerajaan Frederick (sekarangUniversitas Oslo) di Christiania (sekarangOslo).[90] Jens Esmark menentukan bahwa spesimen yang dia terima dari anaknya merupakan mineral yang belum diketahui sebelumnya. Ia kemudian mengirim sampel tersebut kepada Berzelius untuk diperiksa lebih lanjut. Berzelius menentukan bahwa sampel tersebut mengandung unsur baru.[31] Ia memublikasikan penemuannya pada tahun 1829 setelah mengisolasi sampel torium yang tak murni dari reduksi KThF5 menggunakan logamkalium.[91][92][93] Berzelius menggunakan kembali nama "Thorium" (torium)[91][94] untuk merujuk pada unsur baru tersebut, dan menamakan sumber mineral unsur tersebut sebagai "thorit" (torit).[31]

Berzelius melakukan beberapa karakterisasi awal logam baru tersebut beserta senyawa-senyawanya. Ia menentukan dengan benar bawah rasio massa torium dengan oksigen pada torium oksida adalah 7,5 (nilai yang aktual adalah 7,3). Namun ia mengasumsikan bahwa unsur baru tersebut bervalensi dua dan bukannya bervalensi empat, sehingga perhitungan massa atomnya menjadi 7,5 kali massa atom oksigen (120amu); massa atom torium yang sebenarnya adalah 15 kali massa atom oksigen.[j] Ia menentukan bahwa torium adalah logam yang sangatelektropositif, melebihi elektropositivitas serium dan di bawah zirkonium.[95] Logam torium murni (99%) diisolasi pertama kalinya pada tahun 1914 oleh dua usahawan Belanda Dirk Lely Jr. dan Lodewijk Hamburger.[k]

Penggolongan dan kegunaan awal

[sunting |sunting sumber]

Pada tabel periodik yang diterbitkan olehDmitri Mendeleev pada tahun 1869, torium dan unsur-unsur tanah jarang lainnya diletakkan di luar tabel utama di akhir ujung setiap periode setelahlogam alkali tanah. Hal ini mencerminkan keyakinan pada saat itu bahwa torium dan unsur-unsur tanah jarang bervalensi dua. Setelah diketahui bahwa unsur-unsur tanah jarang kebanyakan bervalensi tiga dan torium bervalensi empat, Mendeleev memindahkan serium dan torium ke golongan IV pada tahun 1871. Golongan IV ini juga mengandung unsur-unsurgolongan karbon (golongan 14) dan golongan titanium (golongan 4). Ini karena keadaan oksidasi semua unsur-unsur golongan tersebut maksimum adalah +4.[98][99] Serium kemudian dipindahkan dari tabel utama ke tabel terpisah yang mengandung deret lantanida, sedangkan torium tetap berada dalam golongan IV karena sifat-sifatnya yang dianggap mirip dengan unsur lain golongan tersebut, sepertititanium danzirkonium.[100][l]

Walaupun telah ditemukan pada tahun 1828, torium pertama kali digunakan hanya sejak tahun 1885, ketika kimiawan AustriaCarl Auer von Welsbach menciptakankaus lampu, yakni sumber cahaya portabel yang mampu menghasilkan cahaya dari pijaran torium oksida ketika dipanaskan oleh bahan bakar gas.[31]

Radioaktivitas

[sunting |sunting sumber]
Kaus lampu
Kaus lampu torium dioksida zamanPerang Dunia II

Torium pertama kali diamati bersifat radioaktif pada tahun 1898 oleh kimiawan JermanGerhard Carl Schmidt. Setelahnya pada tahun yang sama, secara terpisah, fisikawan Polandia-PrancisMarie Curie juga mengamati hal yang sama. Torium adalah unsur kedua yang ditemukan beradioaktivitas, setelah uranium yang radioaktivitasnya ditemukan oleh fisikawan PrancisHenri Becquerel pada tahun 1896.[101][102][103] Bermula dari tahun 1899, fisikawan Selandia BaruErnest Rutherford dan insinyur listrik AmerikaRobert Bowie Owens mulai mengkaji radiasi yang dihasilkan torium. Pengamatan awal menunjukkan bahwa radiasi torium bervariasi secara signifikan. Keduanya menentukan bahwa variasi ini disebabkan oleh anak inti torium yang berbentuk gas dan berumur pendek. Anak inti tersebut kemudian ditemukan sebagai unsur yang baru dan sekarang dinamakanradon. Radon adalah satu-satunya unsur radioaktif langka yang ditemukan di alam sebagai anak inti dari torium daripada dari uranium.[104]

Setelah mempertimbangkan kontribusi radon, Rutherford, yang setelahnya bekerja di bawah bimbingan fisikawan BritaniaFrederick Soddy, menunjukkan pada tahun 1900–1903 bagaimana torium meluruh dengan laju yang tetap seiring waktu menjadi sederetan unsur-unsur lain. Pengamatan ini berimbas pada identifikasiwaktu paruh sebagai salah satu akibat dari peluruhan alfa.[105] Efek biologis radiasi tersebut kemudian ditemukan pada tahun 1903.[106] Penemuan fenomena radioaktivitas yang baru tersebut membangkitkan semangat para ilmuwan dan masyarakat umum. Pada tahun 1920-an, radiaktivitas torium dipromosikan sebagai obat untuk penyakitrematik,diabetes, danimpotensi seksual. Penggunaan torium untuk tujuan seperti ini kemudian dilarang di Amerika Serikat pada tahun 1932, setelah investigasi pemerintah federal Amerika mengenai efek-efek radioaktivitas terhadap kesehatan seseorang.[107] Sebelum dilarang, 10.000 orang di Amerika Serikat telah disuntik torium sewaktu menjalani diagnosis sinar-X; mereka kemudian ditemukan menderita masalah kesehatan seperti leukimia dan kromosom abnormal.[48] Ketertarikan publik dengan radioaktivitas menurun pada akhir tahun 1930-an.[107]

Penggolongan lebih lanjut

[sunting |sunting sumber]
Glenn T. Seaborg
Glenn T. Seaborg, yang menempatkan torium kepada blok-f

Sampai dengan akhir abad ke-19, para kimiawan secara bulat setuju bahwa torium dan uranium memiliki sifat-sifat kimia yang beranalogi dengan hafnium dan wolfram; keberadaan unsur-unsur lantanida pada baris periode ke-6 tabel periodik dianggap hanya sebagai pengecualian saja. Pada tahun 1892, kimiawan Britania Henry Bassett mempostulatkan keberadaan baris periode tambahan di bawah lantanida untuk mengakomodasi baik unsur-unsur yang telah diketahui maupun yang belum ditemukan. Henry Bassett berpendapat bahwa torium dan uranium beranalogi dengan unsur-unsur lantanida. Pada tahun 1913, fisikawan DenmarkNiels Bohr memublikasikan suatumodel teoretis atom beserta dengan orbital-orbital elektronnya. Model ini dengan cepat mendapat penerimaan yang luas. Berdasarkan model ini, unsur-unsur periode ke-7 pada tabel periodik haruslah kelopak-f-nya terisi penuh terlebih dahulu sebelum kelopak-d terisi, seperti pada unsur-unsur lantanida periode ke-6 yang mendahului logam-logam transisi 5d.[98] Keberadaan deret unsur transisi dalam kedua (unsur-unsur aktinida) ini tidaklah diterima luas sebelum ditentukannya struktur elektron unsur-unsur lantanida.[108] Bohr memberikan pendapat bahwa orbital 5f mungkin tidak terisi terlebih dahulu pada unsur-unsur setelah uranium.[98]

Hanya setelah penemuan unsur-unsur transuranium pertama, yang mayoritas berkeadaan oksidasi +3 dan +4 seperti pada lantanida, barulah disadari bahwa unsur-unsur aktinida semuanya sebenarnya mengisi orbital-f terlebih dahulu sebelum orbital-d. Kemiripan kimiawi unsur-unsur awal aktinida dengan logam transisi sekarang dianggap sebagai pengecualian daripada sebagai kecenderungan sifat yang berlanjut.[109] Pada tahun 1945, fisikawan AmerikaGlenn T. Seaborg dan anggota tim risetnya menemukan unsur transuraniumamerisium dankurium. Seaborg mengagaskankonsep aktinida setelah menyadari bahwa torium adalah anggota ke-2 deret unsur aktinida blok-f, beranalogi dengan unsur-unsur lantanida daripada dengan unsurhafnium pada periode ke-4 blok-d.[100][m]

Penghentian penggunaan torium secara perlahan

[sunting |sunting sumber]

Pada tahun 1990-an, kebanyakan penggunaan torium yang tidak memanfaatkan sifat-sifat radioaktivitasnya menurun drastis karena kekhawatiran akan keselamatan dan dampak lingkungan torum; hal ini juga diiringi oleh penemuan bahan pengganti torium yang lebih aman.[31][112] Walaupun radioaktif, torium masih digunakan pada pelbagai aplikasi yang pengganti alternatif toriumnya masih belum ditemukan. Dalam suatu kajian tahun 1981 olehLaboratorium Nasional Oak Ridge Amerika Serikat, diperkirakan bahwa penggunaan kaus lampu torium setiap akhir minggu adalah aman bagi seseorang.[112] Namun, ini tidaklah aman bagi para pekerja manufaktur kaus tersebut maupun pada lingkungan tanah tempat pabrik kaus tersebut berada.[113] Beberapa produsen kaus lampu telah mengubah bahan materi kaus, misalnya dengan itrium.[114] Pada tahun 2007, beberapa perusahaan masih memproduksi dan menjual kaus lampu torium tanpa pemberitahuan informasi yang memadai tentang radioaktivitas produk tersebut. Beberapa perusahaan bahkan mengklaim palsu bahwa produk mereka tidak bersifat radioaktif.[112][115]

Tenaga nuklir

[sunting |sunting sumber]
Indian Point Energy Center
Indian Point Energy Center (Buchanan, New York, Amerika Serikat) adalah tempat reaktor torium pertama di dunia didirikan

Torium telah digunakan sebagai sumber energi pada skala purwarupa. Reaktor berbasis torium pertama kali didirikan diIndian Point Energy Center diBuchanan, New York,Amerika Serikat pada tahun 1962.[116] Salah satu sumber terbesar torium di dunia berada diIndia. Pada tahun 1950-an, pemerintah India menargetkan pencapaian swasembada energi melaluiprogram tenaga nuklir tiga tahap India, yang tahap ketiganya adalah pembanguan reaktor nuklir torium.[117][118] Di kebanyakan negara, uranium secara relatif lebih berlimpah daripada torium, sehingga kemajuan pembangunan reaktor berbasis torium di negara lain berjalan lambat.[119] Riset berskala besar dimulai pada tahun 1996 olehBadan Tenaga Atom Internasional untuk mengkaji penggunaan reaktor torium; setahun kemudian,Departemen Energi Amerika Serikat memulai riset mereka.

Pada abad ke-21, potensi torium dalam mengurangi proliferasi nuklir dan karakteristiklimbahnya berujung pada ketertarikan kembali kepada siklus bahan bakar torium.[120][121][122] Pemerintah India memproyeksikan pencapaian pemenuhan 30% konsumsi listrik menggunakan torium pada tahun 2050. Pada bulan Februari 2014,Pusat Penelitian Atom Bhabha diMumbai,India memamerkan desain "reaktor nuklir generasi mendatang" terbaru mereka yang menggunakan torium sebagai inti bahan bakar reaktor, dinamai "Advanced Heavy Water Reactor" (AWHR) atauReaktor air berat tingkat lanjut. Kepala Komisi Energi Atom India pada tahun 2009 mengatakan bahwa India memiliki tujuan jangka panjang untuk berswasembada energi menggunakan sumber daya mineral India yang kaya akan torium."[123]

Senjata nuklir

[sunting |sunting sumber]

Sewaktu sejumlah gramplutonium pertama kali diproduksi padaProyek Manhattan, ditemukan bahwa isotop minor240Pu menjalanifisi spontan yang signifikan. Hal ini menjadikansenjata nuklir jenis bedil berbahan bakar plutonium dipertanyakan kelayakannya. Untuk menghindari masalah tersebut, tim risetLos Alamos mulai mendesainsenjata jenis implosi. Di saat yang bersamaan,tim riset Chicago juga mendiskuksikan penyelesaian masalah tersebut dengan menggunakan desain reaktor baru.Eugene Wigner mengusulkan penggunaan plutonium yang terkontaminasi240Pu tersebut untuk mendorong transmutasi torium menjadi233U dalam suatu reaktor konverter khusus. Dihipotesiskan bahwa233U tersebut akan dapat digunakan pada senjata nuklir jenis bedil, walaupun terdapat pula kekhawatiran akan kontaminasi232U. Kemajuan pada desain senjata jenis implosi Los Alamos membuat pengembangan reaktor konverter ini tidak dilanjutkan. Namun, desain reaktor ini berpengaruh kuat terhadap pengembangan energi nuklir selanjutnya. Dalam rancangannya, terdapat deskripsi mendetail mengenai penggunaan reaktor berpendingin dan bermoderator air tingkat tinggi yang mirip dengan reaktor kapal laut dan reaktor pembangkit listrik di kemudian hari.[124]

SemasaPerang Dingin, Amerika Serikat mempertimbangkan kemungkinan penggunaan232Th sebagai sumber233U untuk kegunaanbom nuklir. Pemerintah Amerika meluncurkan sebuah bom uji pada tahun 1955.[125] Dari hasil pengujian bom tersebut, disimpulkan bahwa bom berbahan233U cukup ampuh, tetapi tidak memiliki "keunggulan teknis" yang berkelanjutan dibandingkan dengan bom kontemporer berbahan uranium–plutonium.[126] Hal ini terutama karena233U sulit diproduksi dalam keadaan berisotop murni.[125] Logam torium digunakan dalamhohlraum senjata nuklirW71 milik Amerika Serikat.[127]

Produksi

[sunting |sunting sumber]
Batas bawah perkiraan cadangan torium pada tahun 2014 (dalam ribuanton)[125]
NegaraJumlah cadangan
 India1070
 Brasil632
 Australia595
 Amerika Serikat595
 Mesir380
 Turki374
 Venezuela300
 Kanada172
 Rusia155
 Afrika Selatan148
 Tiongkok100
 Norwegia87
 Greenland86
 Finlandia60.5
 Swedia50
 Kazakhstan50
Negara lainnya1725
Total seluruh dunia6579,5

Permintaan torium yang rendah membuat pembangunan tambang khusus ekstraksi torium tidak menguntungkan. Karena itu, torium hampir selalu diekstraksi bersamaan dengan logam-logam tanah jarang lainnya. Logam-logam tanah jarang ini pun dapat merupakan produk sampingan produksi mineral lain.[128] Kebanyakan torium di dunia diproduksi sebagai produk sampingan dari ekstraksi mineral monasit. Sumber mineral lainnya seperti torit mengandung lebih banyak torium dan dapat diekstraksi untuk mendapatkan torium apabila permintaan meningkat.[129] Distribusi sumber daya torium di dunia saat ini kurang diketahui karena permintaannya yang rendah membuat usaha eksplorasi torium jarang dilakukan.[130] Pada tahun 2014, produksi konsentrat monasit dunia, yang darinya torium dapat diekstraksi, mencapai 2700 ton.[131]

Lajur produksi torium pada umumnya melibatkan pengonsentrasian mineral bertorium, ekstraksi torium dari konsentrat tersebut, dan pemurnian torium. Jika diperlukan, torium dapat diubah setelahnya menjadi senyawa-senyawa turunannya, seperti torium dioksida.[132]

Pengonsentrasian dan ekstraksi

[sunting |sunting sumber]

Terdapat dua kategori mineral pada proses pengonsentrasian torium, yakni mineral primer dan mineral sekunder. Endapan mineral primer terdapat pada magma asam granit dan pegmatit. Keduanya berkonsentrat monasit secara lokal, tetapi ukurannya kecil-kecil. Endapan mineral sekunder terdapat pada muara sungai daerah pegunungan bergranit. Pada endapan ini, torium diperkaya bersamaan dengan logam mineral berat lainnya.[41] Konsentrasi awal torium dalam mineral bervariasi tergantung pada jenis endapan.[132]

Untuk endapan primer, pegmatit, yang biasanya didapatkan dari penambangan, digiling menjadi bagian-bagian yang kecil, kemudian diflotasikan. Karbonat logam alkali tanah dalam mineral dipisahkan melalui reaksi denganhidrogen klorida. Ini kemudian diikuti oleh prosespengentalan,penyaringan, dankalsinasi. Hasilnya adalah konsentrat dengan kandungan logam tanah jarang yang dapat mencapai 90%.[132] Untuk endapan sekunder, pasir-pasir yang didapatkan pertama-tama dipisahkan terlebih dahulu melalui gravitasi, selanjutnya dipisahkan menggunakan magnet secara bertahap-tahap (dari magnet berkekuatan rendah sampai dengan magnet berkekuatan tinggi). Monasit yang dihasilkan dari metode ini kemurniannya dapat mencapai hingga 98%.[132]

Ekstraksi torium pada industri abad ke-20 mengandalkan perlakuan konsentrat monasit dengan asam sulfat pekat yang panas di dalam wadah yang terbuat dari besi cor. Ini kemudian diikuti oleh proses pengendapan selektif setelah pengenceran dengan air. Keberhasilan metode ini bergantung pada spesifikasi dan ukuran butir konsentrat. Oleh karenanya, terdapat pula banyak metode-metode alternatif lainnya yang telah diusulkan, tetapi hanya satu yang telah terbukti efektif dan ekonomis, yakni perlakuan konsentrat dengan larutan natrium hidroksida panas. Metode ini sedikit lebih mahal daripada metode perlakuan asam sulfat pekat panas, tetapi metode ini dapat menghasilkan logam torium berkemurnian lebih tinggi; terutamanya metode ini mampu memisahkan senyawa fosfat dari konsentrat.[132]

Ekstraksi menggunakan asam

[sunting |sunting sumber]

Untuk mengekstraksi torium, konsentrat monasit dicerna terlebih dahulu menggunakan asam. Proses ini terdiri dari dua tahap dan melibatkan penggunaanasam sulfat berkepekatan hingga 93% pada suhu 210–230 °C. Pertama-tama, asal sulfat pekat dalam jumlah >60% massa konsentrat ditambahkan dan dipanaskan di dalam wadah, diikuti oleh penambahan pasir monasit. Oleh karena proses pelarutan konsentrat ini bersifat eksotermik, pasir monasit yang ditambahkan ke dalam asam haruslah dilakukan secara perlahan. Hal ini menyebabkan mengentalnya campuran reaksi menjadi seperti bubur dan kemudian memadat seiring dengan terbentuknya produk-produk reaksi. Pada tahap kedua, asam sulfat berasap yang berlebih kemudian ditambahkan ke dalam campuran tersebut dan suhu campuran dijaga tetap (210–230 °C) selama lebih dari 5 jam. Konsentrasi asam sulfat yang digunakan memengaruhi laju reaksi dan kekentalan campuran. Laju reaksi dan kekentalan meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sulfat yang digunakan. Namun, kekentalan campuran reaksi yang berlebihan dapat menghambat laju reaksi. Peningkatan suhu reaksi juga dapat digunakan untuk meningkatkan laju reaksi, tetapi suhu lebih dari 300 °C harus dihindari karena akan menyebabkan terbentuknya torium pirofosfat yang tak larut. Sebaliknya, apabila suhunya kurang dari 200 °C, reaksi berjalan dengan lambat dan menjadi tidak praktis. Untuk menghindari terbentuknya endapan-endapan yang menutupi permukaan pasir monasit, massa asam yang digunakan haruslah dua kali lipat lebih banyak daripada massa pasir.[132]

Setelah proses pencernaan selesai, campuran reaksi didinginkan ke suhu 70 °C dan diencerkan dengan air dingin sejumlah 10 kali lipat volume campuran. Garam-garam torium dan logam tanah jarang lain yang dihasilkan akan larut ke dalam air, sementara sisa-sisa pasir monasit yang tidak bereaksi mengendap ke bawah wadah. Torium kemudian dapat dipisahkan sebagai garam fosfat dengan mengatur pH larutan tersebut. Pada pH 1,3, garam fosfat torium akan secara selektif mengendap, sementara garam-garam logam tanah jarang lainnya hanya akan mengendap pada pH >2.[132]

Ekstraksi menggunakan basa

[sunting |sunting sumber]

Dalam metode ini, ekstraksi dilakukan dengan larutannatrium hidroksida 30–45% pada suhu 140 °C selama tiga jam. Suhu yang terlalu tinggi harus dihindari karena akan menyebabkan pembentukan torium oksida dan uranium oksida yang tak larut dalam filtrat. Selain itu, konsentrasi basa yang terlalu rendah juga akan memperlambat laju reaksi. Oleh karena kondisi reaksi yang cukup lembut, pasir monasit yang digunakan dalam ekstraksi harus berukuran partikel di bawah 45 μm. Campuran reaksi kemudian disaring dan hasil saringan padat yang didapatkan mengandung campuran hidroksida logam-logam tanah jarang, torium hidroksida, dannatrium diuranat, sedangkan larutan filtrat yang didapatkan mengandungtrinatrium fosfat. Trinatrium fosfat ini dapat mengkristal sebagai kristal dekahidrat ketika larutan didinginkan di bawah suhu 60 °C.[132]

Campuran padat hidroksida yang didapatkan kemudian dilarutkan ke dalam larutan asam klorida 37% pada suhu 80 °C. Bagian-bagian yang tak larut disaring keluar, dan filtrat yang didapatkan diendapkan menggunakan larutan natrium hidroksida 47%. Senyawa torium dan uranium akan mengendap pada pH 5,8, sedangkan senyawa logam-logam tanah jarang lainnya mengendap pada pH yang lebih tinggi. Endapatan senyawa torium dan uranium tersebut kemudian dilarutkan dalam asam nitrat untuk pemisahan lebih lanjut.[132]

Hasil endapan baik dari ekstraksi menggunakan asam maupun basa haruslah dimurnikan lebih lanjut agar dapat digunakan dalam pelbagai aplikasi nuklir. Sebelumnya, pemurnian torium dicapai dengan melakukan pelarutan danrekristalisasi secara berulang-ulang. Pada zaman sekarang, teknik tersebut telah digantikan dengan metodeekstraksi pelarut lawan arus berjenjang yang melibatkankompleksasi Th4+. Ekstraksi ini menggunakan larutantributil fosfat (TBP) dalamminyak tanah.[132] Proses Amex (amine extraction) yang menggunakan berbagai macam basa-basa amina juga dapat digunakan untuk memisahkan torium dari uranium dan logam-logam tanah jarang lainnya.[133]

Aplikasi modern

[sunting |sunting sumber]

Kebanyakan penggunaan torium yang tidak berkaitan dengan radioaktivitasnya telah menurun sejak tahun 1950-an.[134] Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran akan dampak lingkungan radioaktivitas torium beserta produk-produk peluruhannya.[31][112]

Torium mayoritas digunakan dalam bentuk torium dioksida daripada dalam bentuk logam murni. Senyawa torium dioksida memiliki titik lebur 3300 °C (6000 °F), merupakan yang tertinggi di antara semua senyawa oksida yang diketahui.[48] Hal ini menyebabkan senyawa ini tetap berwujud padat di dalam kobaran api. Selain itu, torium dioksida juga meningkatkan tingkat kecerahan api tersebut. Sifat-sifat inilah yang menjadi sebab digunakannya torium dioksida dalam kaus lampu.[135] Semua senyawa akan memancarkan energi (berpijar) pada suhu yang tinggi, tetapi sinar yang dipancarkan torium hampir semuanya termasuk dalamspektrum cahaya tampak, sehingga tampak lebih cerah.[51] Walaupun masih sering dijumpai, penggunaan torium dioksida dalam kaus lampu telah digantikan oleh itrium secara perlahan sejak akhir tahun 1990-an.[136]

Tiga lensa yang berwarna transparan hingga kekuningan
Lensa torium dioksida yang menguning (kiri), lensa serupa yang telah diawakuningkan secara parsial dengan radiasi ultraviolet (tengah), dan lensa tanpa penguningan (kanan)

Dalam produksi filamenlampu pijar berbahan wolfram,rekristalisasi wolfram dapat ditekan secara signifikan dengan penambahan sejumlah kecil torium dioksida ke dalam bubuksinter wolfram.[134] Penambahan sejumlah kecil torium dioksida kekatode panas wolfram secara signifikan menurunkanfungsi kerja elektron. Sebagai akibatnya, elektron terpancarkan pada suhu yang jauh lebih rendah.[31] Torium membentuk lapisan berketebalan satu atom yang menyelimuti permukaan wolfram. Fungsi kerja dari permukaan torium menurun kemungkinan karena terbentuknya medan listrik pada antarmuka torium dan wolfram yang disebabkan oleh elektropositivitas torium yang lebih besar.[137] Sejak tahun 1920-an, kawat wolfram bertorium telah digunakan dalam tabung-tabung elektronik berserta katode dan antikatode pada tabung sinar-X dan penyearah. Oleh karena torium bereaksi dengan oksigen dan nitrogen dari atmosfer, torium juga berperan sebagaipenangkap zat pengotor dalam tabung vakum. Penemuan transistor pada tahun 1950-an secara signifikan menyebabkan penurunan penggunaan torium untuk tujuan tersebut.[134] Torium dioksida juga digunakan dalamlas busur wolfram gas (gas tungsten arc welding, disingkat GTAW) untuk meningkatkan kekuatan elektrode wolfram dan stabilitas busur pada suhu tinggi.[31] Penggunaan torium dioksida untuk tujuan ini secara perlahan telah digantikan dengan senyawa oksida lainnya, seperti oksida dari zirkonium, serium, danlantanum.[138][139]

Torium dioksida digunakan juga dalam bahan keramik tahan panas, misalnya padakrus laboratorium. Torium dioksida dapat digunakan sebagai bahan utama keramik maupun sebagai zat tambahan ke dalamzirkonium dioksida.[31] Paduan 90%platina dan 10% torium adalah katalis yang efektif dalam pengoksidasianamonia menjadi berbagai senyawa oksida nitrogen. Namun, ia telah digantikan dengan logam paduan 95% platina dan 5%rodium karena sifat-sifat mekanik dan daya tahannya yang lebih baik.[134]

Ketika ditambahkan ke dalamkaca, torium dioksida membantu meningkatkanindeks refraksi dan menurunkandispersi kaca. Kaca-kaca seperti ini digunakan sebagailensa berkualitas tinggi pada kamera dan instrumen ilmiah.[42] Radiasi yang dihasilkan oleh lensa tersebut dapat menyebabkan lensa menjadi kuning secara perlahan, walaupun dampak kesehatannya minimal.[140] Lensa yang telah menguning tersebut dapat dikembalikan ke keadaan asalnya dengan memaparkan lensa tersebut dengan radiasi ultraviolet. Torium dioksida telah digantikan penggunaannya untuk tujuan seperti ini oleh senyawa oksida tanah jarang lainnya.[134]

Torium tetrafluorida digunakan sebagai bahan antirefleksi pada pelapis optik berlapis. Torium tetrafluorida transparan terhadap gelombang elektromagnetik yang berpanjang gelombang antara 0,35–12 µm. Rentang gelombang elektromagnetik ini meliputi sinar ultraviolet dekat, cahaya tampak, dansinar inframerah. Radiasi yang disebabkan torium tetrafluorida utamanya adalah partikel alfa. Partikel ini dapat dihentikan dengan lapisan tipis bahan materi lain.[141] Penggantian torium tetrafluorida untuk tujuan ini telah dalam pengembangan sejak tahun 2010.[142]

Potensi kegunaan untuk energi nuklir

[sunting |sunting sumber]

Sumber tenaga nuklir utama dalam sebuah reaktor nuklir adalah reaksi fisi sebuah nuklida yang diinduksi oleh neutron. Bahan fisil sintetik[e] seperti inti233U dan239Pu dapatdibiakkan melalui penangkapan neutron oleh nuklida232Th dan238U yang keduanya terdapat di alam.235U yang terdapat di alam juga bersifat fisil.[143][144][n] Dalam siklus bahan bakar torium, isotop fertil232Th dibombardir olehneutron lambat dan menjalani penangkapan neutron menjadi233Th. Isotop ini kemudian menjalani peluruhan beta dua kali menjadi233Pa dan kemudian233U:[31]

232
90
Th
+ n →233
90
Th
+γβ21,8 mnt233
91
Pa
β27,0 hari233
92
U

233U bersifat fisil dan dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir selayaknya235U dan239Pu. Ketika233U menjalani fisi nuklir, neutron-neutron yang dipancarkannya dapat menumbuk inti232Th lebih lanjut, sehingga siklus bersinambung.[31] Siklus ini berparalel dengan siklus bahan bakar uranium dalamreaktor pembiak cepat yang238U-nya menjalani penangkapan neutron menjadi239U.239U kemudian meluruh beta menjadi239Np dan selanjutnya menjadi239Pu yang fisil.[145]

Keuntungan

[sunting |sunting sumber]
Transmutasi dalamsiklus bahan bakar torium
237Np
231U232U233U234U235U236U237U
231Pa232Pa233Pa234Pa
230Th231Th232Th233Th
(Nuklida yangberwarna latar kuning memiliki waktu paruh di bawah 30 hari;
nuklida yangditebalkan memiliki waktu paruh lebih dari 1.000.000 tahun;
nuklida yangdikotakmerahkan bersifatfisil)

Keuntungan penggunaan torium ada pada kelimpahannya yang lebih besar daripada uranium, sehingga dapat memenuhi permintaan energi dunia dalam jangka waktu lebih lama.[146]

Selain itu,232Th menyerap neutron lebih mudahnya daripada238U.233U yang dihasilkannya pun memiliki probabilitas menjalani fisi lebih besar (92%) daripada235U (85.5%) ataupun239Pu (73.5%) seketika tertumbuk neutron.[147] Neutron hasil fisi233U juga secara rata-rata dihasilkan lebih banyak.[146] Sebuah penangkapan neutron oleh238U menghasilkan limbah transuranium bersamaan dengan inti fisil239Pu, tetapi penangkapan neutron yang sama oleh232Th hanya akan menghasilkan limbah setelah lima kali penangkapan, menghasilkan limbah237Np. Mayoritas 98–99% inti232Th tidak akan menjalani penangkapan neutron sebanyak ini karena produk antaranya, yakni233U dan235U, akan menjalani fisi, sehingga sangat sedikit limbah transuranium berumur panjang yang dihasilkan. Oleh sebab inilah torium merupakan bahan bakar alternatif yang berpotensi menggantikan uranium dalambahan bakar MOX (bahan bakar oksida campuran) untuk meminimalisasi penghasilan limbah inti transuranium dan memaksimalkan penghancuran plutonium.[148]

Penggunaan bahan bakar torium berdampak pada kinerja sekaligus keselamataninti reaktor yang lebih baik karena torium dioksida memiliki titik lebur yang lebih tinggi,konduktivitas termal yang lebih tinggi, dankoefisien pemuaian termal yang lebih rendah.[31] Ia juga secara kimiawi lebih stabil daripada uranium dioksida yang sekarang umumnya dipakai. Ini karena uranium dioksida dapat teroksidasi menjaditriuranium oktoksida (U3O8) yang secara substansial berkurang kepadatannya.[149]

Kekurangan

[sunting |sunting sumber]

Bahan bakar torium yang telah habis digunakan selain sulit juga berbahaya untuk diproses kembali karena menghasilkan banyak anak inti232Th dan233U yang merupakan pemancar gama yang kuat.[146] Semua metode produksi inti233U akan menghasilkan ketidakmurnian232U, baik dari reaksi pengguguran parasitik (n,2n)232Th,233Pa, dan233U yang berakibat pada pelepasan sebuah neutron, ataupun dari penangkapan neutron ganda oleh230Th yang merupakan ketidakmurnian yang dijumpai pada232Th alami:[150]

230
90
Th
+ n →231
90
Th
+γβ25,5 jam231
91
Pa
α3.28 × 104 thn­231
91
Pa
+ n →232
91
Pa
+γβ1,3 hari232
92
U

232U itu sendiri tidaklah begitu berbahaya, tetapi ia dengan cepat meluruh menjadi inti208Tl yang merupakan pemancar sinar gama yang kuat (232Th juga mengikuti rantai peluruhan yang sama, tetapi waktu paruhnya sangat panjang, sehingga jumlah208Tl yang dihasilkan dapat diabaikan).[151] Ketidakmurnian yang berupa232U ini membuat233U mudah terdeteksi sekaligus berbahaya untuk ditangani. Selain itu, tidaklah praktis untuk memisahkan keduanya. Ini berdampak pada terbatasnya penggunaan233U sebagai bahan fisil.[150]233Pa memiliki waktu paruh yang relatif lebih panjang (27 hari) danpenampang lintang neutron yang tinggi. Karenanya,233Pa adalahracun neutron. Alih-alih233Pa meluruh cepat menjadi233U yang berguna, sebagian besarnya mengonsumsi neutron dan berubah menjadi234U. Sebagai akibatnya,efisiensi reaktor berkurang. Untuk menghindari hal tersebut,233Pa diekstraksi keluar dari zona aktifreaktor garam cair torium semasa pengoperasiannya, sehingga tiada kesempatan bagi233Pa untuk menangkap neutron dan sebaliknya hanya akan meluruh menjadi233U.[152]

Sebelum keuntungan-keuntungan penggunaan torium dapat direalisasikan, teknologi proses iradiasi232Th dengan neutron beserta pemrosesan lanjutannya perlu dikembangkan lebih jauh.[31] Hal ini memerlukan kemajuan teknologi yang lebih lanjut daripada teknologi dalam siklus bahan bakar uranium dan plutonium. Penelitian-penelitian masih terus dilakukan untuk mengembangkan teknologi tersebut. Selain itu, terdapat pula pendapat bahwa siklus bahan bakar torium tidak memiliki keekonomian yang layak.[153][154][155]Asosiasi Nuklir Dunia memprediksikan bahwa siklus bahan bakar torium tidak akan berkeekonomian layak selama uranium masih tersedia dalam jumlah yang berlimpah.[156]

Bahaya

[sunting |sunting sumber]

Bahaya radiologis

[sunting |sunting sumber]
Thorium mantle installed over a small sprout of grass
Eksperimen mengenai efek radiasi (dari kaus lampu torium yang belum terbakar) terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benihPhleum pratense

Torium alami meluruh dengan sangat lambat dibandingkan dengan bahan-bahan radioaktif lainnya. Ia memancarkanradiasi alfa yang tidak dapat menembus kulit manusia. Oleh karenanya, penanganan sejumlah kecil torium, seperti pada kaus lampu, dianggap aman, walaupun penggunaannya kemungkinan berisiko.[157] Pemaparan terhadap torium aerosol, seperti pada debu yang terkontaminasi torium, dapat berdampak pada peningkatan risikokankerparu-paru,pankreas, dandarah. Hal ini disebabkan oleh radiasi alfa yang mampu menembus organ dalam.[157] Paparan internal torium juga dapat meningkatkan risiko penyakit padahati.[158]

Produk-produk peluruhan232Th sebagian adalah radium dan radon. Keduanya adalah radionuklida yang lebih berbahaya. Walaupun produk peluruhan torium dihasilkan dalam jumlah yang kecil karena peluruhannya yang sangat lambat, penaksiran keracunan radiologis232Th haruslah memasukkan kontribusi anak-anak intinya. Beberapa anak intinya merupakan pemancarradiasi gama yang kuat[159] dan dapat berakumulasi dengan cepat setelah peluruhan232Th bermula.[160] Karena anak-anak inti torium yang berbahaya memiliki titik lebur yang lebih rendah daripada torium dioksida, anak-anak inti tersebut akan menguap dengan mudah setiap kali kaus lampu dipanaskan. Dalam jangka waktu satu jam pertama penggunaan kaus lampu bertorium, anak-anak inti seperti224Ra,228Ra,212Pb, dan212Bi dilepaskan ke udara bebas.[161] Kebanyakan radiasi yang terpapar kepada konsumen berasal dari penghirupan radium. Diperkirakan dosis radiasinya adalah 0,2 milisievert setiap penggunaan. Nilai ini adalah sekitar sepertiga dosis pemaparan yang diterima dalam pemeriksaanmamografi.[162]

Walaupun dosis radiasi dari satu kaus lampu tidaklah bermasalah, hal ini akan menjadi bermasalah apabila kaus-kaus lampu dikumpulkan bersama dalam jumlah besar, seperti yang terjadi di pabrik pembuatan kaus lampu maupun di tempat pembuangan sampah.[158]

Bahaya biologis

[sunting |sunting sumber]

Torium tidak berbau dan tidak berasa.[163] Toksisitas kimiawi torium rendah karena torium dan kebanyakan senyawa-senyawa turunannya (seperti dioksida) tidaklah larut dengan baik dalam air.[164] Ia akan mengendap dari larutan sebagai torium hidroksida sebelum masuk ke dalam tubuh.[165] Beberapa senyawa torium memiliki sifatracun yang menengah, terutama apabila terdapat ion pembentuk kompleks yang kuat seperti sitrat yang mampu membawa torium ke dalam tubuh dalam bentuk terlarut.[160] Apabila kaus lampu bertorium terkunyah ataupun terhisap, sekitar 0,4% torium dan 90% anak-anak intinya akan terlepas dari kaus.[115] Tiga per empat torium yang telah masuk ke dalam tubuh akan terakumulasi ke dalamtulang. Penyerapan torium melalui kulit adalah dimungkinkan, tetapi bukanlah jalur paparan yang utama.[157] Kelarutan senyawa torium yang rendah dalam air juga berarti bahwa ekskresi senyawa torium oleh ginjal dan dalam feses berjalan lambat.[160]

Pengujian yang dilakukan terhadap para pekerja pemrosesan monasit menunjukkan bahwa tingkat torium yang terdapat dalam tubuh pekerja melebihi batas rekomendasi. Namun, tiada dampak buruk yang ditemukan dari tingkat paparan menengah rendah tersebut. Sampai sekarang, tidak ditemukan adanya dampak buruk kimiawi terhadapsaluran napas danparu-paru dari paparan torium, walaupun dampak radiologisnya telah diketahui.[165]

Bahaya kimiawi

[sunting |sunting sumber]

Debu logam torium bersifat piroforik, yakni ia akan terbakar secara spontan di udara bebas.[5] Titik nyala torium dalam bentuk debu adalah 270 °C (520 °F) sedangkan dalam bentuk lapisan tipis adalah 280 °C (535 °F). Konsentrasi ledak minimum torium adalah 0,075 oz/cu ft (0,075 kg/m3), sedangkan energi ledak minimum untuk debu torium adalah 5 mJ.[166]

Pada tahun 1956, terjadiledakan di laboratoriumSylvania Electric Products semasa pemrosesan ulang dan pembakaran lumpur torium dikota New York, Amerika Serikat. Sembilan orang terluka; satu di antaranya meninggal karena komplikasiluka bakar derajat tiga.[167][168][169]

Lajur paparan

[sunting |sunting sumber]

Torium terdapat di mana-mana di Bumi dalam jumlah kecil, walaupun terdapat pula sejumlah besar torium di bagian tertentu Bumi. Manusia rata-ratanya mengandung 40mikrogram torium dan umumnya mengonsumsi 3 mikrogram torium setiap hari.[48] Kebanyakan paparan torium terjadi melalui penghirupan debu; beberapa jenis torium juga masuk lewat makanan dan minuman. Karena kelarutannya yang rendah dalam air, paparan lewat makanan dan minuman dapat diabaikan.[160]

Tingkat paparan meningkat bagi orang-orang yang tinggal dekat endapan torium, tempat pembuangan limbah nuklir, pabrik pemrosesan uranium, fosfat, dan timah, dan bagi orang-orang yang bekerja di pabrik kaus lampu bertorium.[170] Torium terutama sangatlah umum ditemukan di daerah pesisirTamil Nadu di India. Penduduk daerah tersebut terpapar dosis radiasi alami yang 10 kali lipat lebih tinggi daripada dosis radiasi rata-rata dunia.[171]

Lajur paparan lainnya yang dimungkinkan adalah melalui debu torium yang dihasilkan dalam pengujian senjata rudal, karena torium digunakan dalam sistem kendali beberapa jenis rudal. Hal ini disalahkan sebagai sebab tingginya insiden kelainan bawaan dan kanker diSalto di Quirra di pulauSardinia Italia.[172]

Catatan kaki

[sunting |sunting sumber]
  1. Bismut hanya sedikit radioaktif. Waktu paruhnya yang bernilai 1,9×1019 tahun adalah sangat panjang sedemikiannya peluruhannya dapat diabaikan bahkan dalam jangka waktu geologis.
  2. Manakalaeinsteinium telah terukur memiliki kepadatan yang lebih rendah, pengukuran ini dilakukan pada sampel kecil bermassa mikrogram. Kemungkinan besar hasil pengukuran dipengaruhi oleh penghancuran diri kristal logam einsteinium yang disebabkan oleh radioaktivitasnya yang ekstrem.[9]
  3. Titik didih torium di bawah titik didihosmium,tantalum,wolfram, danrenium;[5] titik didih yang lebih tinggi dispekulasikan ditemukan pada logam-logam transisi 6d. Namun, logam-logam ini belumlah diproduksi dalam jumlah yang cukup besar untuk menguji prediksi ini.[10]
  4. Sinar gama ditentukan dari asal usulnya yang berasal dari inti atom, bukan dari panjang gelombangnya. Oleh karena itu, tiada batas bawah bagi energi gama yang dihasilkan oleh peluruhan radioaktif.[29]
  5. 12Sebuah nuklida dapat menjalani fisi (bahkan dengan probabilitas yang kecil) setelah menangkap neutron berenergi tinggi. Beberapa nuklida ini dapat dipancing untuk menjalani fisi dengan neutron termal berenergi rendah dengan probabilitas tinggi; nuklida jenis ini disebut sebagai "fisil". Nuklida yang "fertil" adalah nuklida yang dapat dibombardir neutron untuk menghasilkan produk nuklida fisil.Massa kritis adalah massa sebuah bahan berbentuk bola yang dapat menjalanireaksi rantai nuklir berkelanjutan.
  6. Namaionium untuk230Th adalah nama yang dulunya diberikan sewaktu unsur-unsur berisotop berbeda tidak dikenali sebagai unsur yang sama dan mempunyai nama yang berbeda.
  7. Tidak seperti kemiripan antara aktinida dan logam transisi, kemiripan antara aktinida dengan unsur golongan utama berakhir di torium, sebelum kemudian berlanjut di paruh kedua deret aktinida. Hal ini karena kontribusi yang meningkat dari orbital 5f terhadap ikatan kovalen. Unsur aktinida uranium masih memiliki sedikit kemiripan dengan unsur golongan utama, yakni keadaan oksidasi umumnya yang berupa uranium(VI) dan uranium (IV). Keduanya berselisih dua dan keadaan oksidasi +6 menandakan hilangnya semua elektron valensi unsur secara formal. Perilaku ini mirip dengan unsur-unsur berat golongan utama padablok-p.[39]
  8. Berbagai isotop lainnya juga dapat terbentuk bersama-sama dengan232Th, tetapi hanya dalam jumlah sekelumit. Apabila tidak terkandung uranium, isotop lain yang hanya dapat ditemukan adalah228Th, yang berasal darirantai peluruhan232Th (deret torium); rasio228Th terhadap232Th bernilai di bawah 10−10.[23] Apabila terkandung uranium, sekelumit isotop-isotop lainnya juga dapat ditemukan, yakni231Th dan227Th yang berasal dari rantai peluruhan235U (deret aktinium), dan234Th dan230Th yang berasal dari rantai peluruhan238U (deret uranium).[23]229Th juga dapat dihasilkan dari rantai peluruhan237Np (deret neptunium); semua isotop primordial237Np telah punah, tetapi masih dihasilkan sebagai hasil reaksi nuklir dalam bijih uranium.[78]229Th kebanyakan diproduksi dari peluruhan233U buatan yang dibuat dariiradiasi neutron232Th.233U sangatlah langka di alam.[23]
  9. Torianit merujuk pada mineral yang mengandung 75–100 mol% ThO2; uranotorianit, 25–75 mol% ThO2; torian uraninit, 15–25 mol% ThO2;uraninit, 0–15 mol% ThO2.[79]
  10. Pada saat itu, unsur-unsur tanah jarang, termasuk torium, dianggap sebagai unsur bervalensi dua; sehingganyamassa atom unsur tanah jarang pada saat itu bernilai dua per tiga dari massa sebenarnya dan torium dan uranium bernilai setengah dari massa sebenarnya.
  11. Kesulitan utama isolasi logam torium bukan pada sifat elektropositifnya, melainkan pada asosiasi torium di alam dengan unsur-unsur tanah jarang lainnya dan uranium yang membuatnya sulit dipisahkan satu sama lainnya. Kimiawan SwediaLars Fredrik Nilson sebelumnya pernah mencoba mengisolasi logam torium pada tahun 1882, tetapi tidak berhasil mendapatkan logam dengan kemurnian yang tinggi.[96] Lely dan Hamburger mendapatkan logam torium 99% murni dengan mereduksi torium klorida dengan logam natrium.[97] Metode yang lebih sederhana dan menghasilkan logam berkemurnian lebih tinggi ditemukan pada tahun 1927 oleh dua insinyur Amerika John Marden dan Harvey Rentschler. Metode ini melibatkan reduksi torium oksida dengan kalsium dan keberadaan kalsium klorida.[97]
  12. Torium juga muncul pada tabel yang dibuat oleh kimiawan BritaniaJohn Newlands pada tahun 1864 sebagai unsur yang terakhir dan terberat. Ini karena awalnya uranium dianggap sebagai unsur bervalensi tiga dengan massa atom sekitar 120; nilai ini adalah setengah kali nilai sebenarnya, karena uranium sebenarnya kebanyakan bervalensi enam. Torium juga muncul sebagai unsur terberat pada tabel tahun 1864 ciptaan kimiawan BritaniaWilliam Odling, di bawah titanium, zirkonium, dantantalum. Torium tidak muncul pada tabel periodik tahun 1862 yang diterbikan oleh ahli geologi PrancisAlexandre-Émile Béguyer de Chancourtois, tabel tahun 1867 yang diterbitkan oleh pemusik Jerman-AmerikaGustav Hinrichs, ataupun tabel tahun 1870 yang diterbitkan oleh kimiawan JermanJulius Lothar Meyer; kesemuaan tabel tersebut juga tidak memasukkan unsur-unsur tanah jarang.[98]
  13. Pengisian orbital subkelopak 5f yang berawal dari deret aktinida dikonfirmasi pada tahun 1964 ketikaruterfordium pertama kali disintesis dan diamati berperilaku seperti hafnium. Ini sesuai dengan prediksi perilaku unsur yang telah terisi penuh orbital 5f-nya.[110] Pada zaman sekarang, kemiripan torium dengan hafnium kadang-kadang masih diakui dan disebut sebagai "unsur golongan 4 semu".[111]
  14. Ketigabelas isotop aktinida fisil yang berwaktu paruh lebih dari satu tahun ialah229Th,233U,235U,236Np,239Pu,241Pu,242mAm,243Cm,245Cm,247Cm,249Cf,251Cf, and252Es.Dari ketigabelas isotop ini, hanya235U yang terdapat di alam dan hanya233U dan239Pu yang dapat dibiakkan dari inti alami melalui penangkapan neutron tunggal.[144]

Referensi

[sunting |sunting sumber]
  1. (Indonesia)"Torium".KBBI Daring. Diakses tanggal17 Juli 2022.
  2. Meija, J.; Coplen, T. B. (2016)."Atomic weights of the elements 2013 (IUPAC Technical Report)".Pure Appl. Chem.88 (3):265–91.doi:10.1515/pac-2015-0305.
  3. Lide, D. R., ed. (2005). "Magnetic susceptibility of the elements and inorganic compounds".CRC Handbook of Chemistry and Physics(PDF) (Edisi 86). CRC Press. hlm. 4–135.ISBN 978-0-8493-0486-6.
  4. Weast, R. (1984).CRC, Handbook of Chemistry and Physics. Chemical Rubber Company Publishing. hlm. E110.ISBN 978-0-8493-0464-4.
  5. 123456789101112131415Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 61–63.
  6. Gale, W. F.; Totemeier, T. C. (2003).Smithells Metals Reference Book (dalam bahasa Inggris).Butterworth-Heinemann. hlm. 15-2 –15-3.ISBN 978-0-08-048096-1.
  7. 12345Tretyakov, Yu. D., ed. (2007).Non-organic chemistry in three volumes. Chemistry of transition elements. Vol. 3. Academy.ISBN 978-5-7695-2533-9.
  8. 123Johansson, B.; Abuja, R.; Eriksson, O.; Wills, J. M. (1995)."Anomalous fcc crystal structure of thorium metal".Physical Review Letters.75 (2):280–283.Bibcode:1995PhRvL..75..280J.doi:10.1103/PhysRevLett.75.280.PMID 10059654.
  9. Haire, R. G.; Baybarz, R. D. (1979)."Studies of einsteinium metal"(PDF).Le Journal de Physique.40: C4–101.doi:10.1051/jphyscol:1979431.
  10. Fricke, Burkhard (1975).Superheavy elements: a prediction of their chemical and physical properties. Structure and Bonding. Vol. 21. hlm. 89–144.doi:10.1007/BFb0116498.ISBN 978-3-540-07109-9. Diakses tanggal4 October 2013.
  11. 1234Audi, G.; Bersillon, O.; Blachot, J.; Wapstra, A. H. (2003)."The NUBASE evaluation of nuclear and decay properties"(PDF).Nuclear Physics A.729 (1):3–128.Bibcode:2003NuPhA.729....3A.CiteSeerX 10.1.1.692.8504.doi:10.1016/j.nuclphysa.2003.11.001. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 24 July 2013.
  12. de Laeter, John Robert; Böhlke, John Karl; De Bièvre, Paul; Hidaka, Hiroshi; Peiser, H. Steffen; Rosman, Kevin J. R.; Taylor, Philip D. P. (2003)."Atomic weights of the elements. Review 2000 (IUPAC Technical Report)".Pure and Applied Chemistry.75 (6):683–800.doi:10.1351/pac200375060683.
  13. International Union of Pure and Applied Chemistry (2006)."Atomic weights of the elements 2005 (IUPAC Technical Report)"(PDF).Pure and Applied Chemistry.78 (11):2051–2066.doi:10.1351/pac200678112051. Diakses tanggal27 July 2017.
  14. Nagy, S. (2009).Radiochemistry and Nuclear Chemistry. Vol. 2. EOLSS Publications. hlm. 374.ISBN 978-1-84826-127-3.
  15. Griffin, H. C. (2010). "Natural Radioactive Decay Chains". Dalam Vértes, A.; Nagy, S.; Klencsár, Z.; Lovas, R. G.; Rösch, F. (ed.).Handbook of Nuclear Chemistry.Springer Science+Business Media. hlm. 668.ISBN 978-1-4419-0719-6.
  16. 123Meija, Juris; Coplen, Tyler B.; Berglund, Michael; Brand, Willi A.; De Bièvre, Paul; Gröning, Manfred; Holden, Norman E.; Irrgeher, Johanna; Loss, Robert D.; Walczyk, Thomas; Prohaska, Thomas (2016)."Atomic weights of the elements 2013 (IUPAC Technical Report)".Pure and Applied Chemistry.88 (3):265–91.doi:10.1515/pac-2015-0305.
  17. Beiser, A. (2003)."Nuclear Transformations"(PDF).Concepts of Modern Physics (Edisi 6).McGraw-Hill Education. hlm. 432–434.ISBN 978-0-07-244848-1. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 2016-10-04. Diakses tanggal2020-06-06.
  18. "AREVA Med launches production of lead-212 at new facility" (Press release).Areva. 2013. Diakses tanggal1 January 2017.
  19. "Mineral Yearbook 2012"(PDF).United States Geological Survey. Diakses tanggal30 September 2017.
  20. Ramdahl, Thomas; Bonge-Hansen, Hanne T.; Ryan, Olav B.; Larsen, Åsmund; Herstad, Gunnar; Sandberg, Marcel; Bjerke, Roger M.; Grant, Derek; Brevik, Ellen M. (2016-09-01)."An efficient chelator for complexation of thorium-227".Bioorganic & Medicinal Chemistry Letters.26 (17):4318–4321.doi:10.1016/j.bmcl.2016.07.034.ISSN 0960-894X.PMID 27476138.
  21. Deblonde, Gauthier J.-P.; Lohrey, Trevor D.; Booth, Corwin H.; Carter, Korey P.; Parker, Bernard F.; Larsen, Åsmund; Smeets, Roger; Ryan, Olav B.; Cuthbertson, Alan S. (2018-11-19)."Solution Thermodynamics and Kinetics of Metal Complexation with a Hydroxypyridinone Chelator Designed for Thorium-227 Targeted Alpha Therapy".Inorganic Chemistry.57 (22):14337–14346.doi:10.1021/acs.inorgchem.8b02430.ISSN 0020-1669.PMID 30372069.
  22. Captain, Ilya; Deblonde, Gauthier J.-P.; Rupert, Peter B.; An, Dahlia D.; Illy, Marie-Claire; Rostan, Emeline; Ralston, Corie Y.; Strong, Roland K.; Abergel, Rebecca J. (2016-11-21)."Engineered Recognition of Tetravalent Zirconium and Thorium by Chelator–Protein Systems: Toward Flexible Radiotherapy and Imaging Platforms".Inorganic Chemistry.55 (22):11930–11936.doi:10.1021/acs.inorgchem.6b02041.ISSN 0020-1669.PMID 27802058.
  23. 12345678Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 53–55.
  24. Bonetti, R.; Chiesa, C.; Guglielmetti, A.; Matheoud, R.; Poli, G.; Mikheev, V. L.; Tretyakova, S. P. (1995). "First observation of spontaneous fission and search for cluster decay of232Th".Physical Review C.51 (5):2530–2533.Bibcode:1995PhRvC..51.2530B.doi:10.1103/PhysRevC.51.2530.PMID 9970335.
  25. Ikezoe, H.; Ikuta, T.; Hamada, S.; Nagame, Y.; Nishinaka, I.; Tsukada, K.; Oura, Y.; Ohtsuki, T. (1996). "alpha decay of a new isotope of209Th".Physical Review C.54 (4):2043–2046.Bibcode:1996PhRvC..54.2043I.doi:10.1103/PhysRevC.54.2043.PMID 9971554.
  26. Ruchowska, E.; Płóciennik, W. A.; Żylicz, J.; Mach; Kvasil; Algora; Amzal; Bäck; Borge; Boutami; Butler; Cederkäll; Cederwall; Fogelberg; Fraile; Fynbo; Hagebø; Hoff; Gausemel; Jungclaus; Kaczarowski; Kerek; Kurcewicz; Lagergren; Nacher; Rubio; Syntfeld; Tengblad; Wasilewski; Weissman (2006)."Nuclear structure of229Th".Physical Review C.73 (4): 044326.Bibcode:2006PhRvC..73d4326R.doi:10.1103/PhysRevC.73.044326.hdl:10261/12130.
  27. Beck, B. R.; Becker, J. A.; Beiersdorfer, P.; Brown; Moody; Wilhelmy; Porter; Kilbourne; Kelley (2007)."Energy splitting in the ground state doublet in the nucleus229Th".Physical Review Letters.98 (14): 142501.Bibcode:2007PhRvL..98n2501B.doi:10.1103/PhysRevLett.98.142501.PMID 17501268.
  28. von der Wense, L.; Seiferle, B.; Laatiaoui, M.; Neumayr, Jürgen B.; Maier, Hans-Jörg; Wirth, Hans-Friedrich; Mokry, Christoph; Runke, Jörg; Eberhardt, Klaus; Düllmann, Christoph E.; Trautmann, Norbert G.; Thirolf, Peter G. (2016). "Direct detection of the229Th nuclear clock transition".Nature.533 (7601):47–51.arXiv:1710.11398.Bibcode:2016Natur.533...47V.doi:10.1038/nature17669.PMID 27147026.
  29. Feynman, R.; Leighton, R.; Sands, M. (1963).The Feynman Lectures on Physics. Vol. 1.Addison-Wesley. hlm. 2–5.ISBN 978-0-201-02116-5. Diakses tanggal13 January 2018.
  30. 123"Evaluation of nuclear criticality safety data and limits for actinides in transport"(PDF).Institut de radioprotection et de sûreté nucléaire. hlm. 15. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 10 July 2007. Diakses tanggal20 December 2010.
  31. 1234567891011121314Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 52–53.
  32. 12"3–6: Uranium Thorium Dating"(PDF). Institute for Structure and Nuclear Astrophysics,University of Notre Dame. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 2021-04-21. Diakses tanggal7 October 2017.
  33. Davis, O."Uranium-Thorium Dating". Department of Geosciences,University of Arizona. Diarsipkan dariasli tanggal 28 March 2017. Diakses tanggal7 October 2017.
  34. 12Rafferty, J. P. (2010),Geochronology, Dating, and Precambrian Time: The Beginning of the World As We Know It, The Geologic History of Earth,Rosen Publishing, hlm. 150,ISBN 978-1-61530-125-6
  35. 12Vértes, A. (2010), Nagy, S.; Klencsár, Z.; Lovas, R. G.; Rösch, F. (ed.),Handbook of Nuclear Chemistry, vol. 5 (Edisi 2nd), Springer Science+Business Media, hlm. 800,ISBN 978-1-4419-0719-6
  36. Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 59–60.
  37. 1234Cotton, S. (2006).Lanthanide and Actinide Chemistry.John Wiley & Sons.
  38. Martin, W. C.; Hagan, L.; Reader, J.; Sugan, J. (1974)."Ground Levels and Ionization Potentials for Lanthanide and Actinide Atoms and Ions"(PDF).J. Phys. Chem. Ref. Data.3 (3):771–779.Bibcode:1974JPCRD...3..771M.doi:10.1063/1.3253147. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal19 October 2013.
  39. 12King, R. Bruce (1995).Inorganic Chemistry of Main Group Elements.Wiley-VCH.ISBN 978-0-471-18602-1.
  40. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1262.
  41. 12Stoll 2005, hlm. 6.
  42. 12Hammond, C. R. (2004).The Elements, in Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 81st).CRC Press.ISBN 978-0-8493-0485-9.
  43. 12Hyde, E. K. (1960).The radiochemistry of thorium(PDF).National Academy of Sciences. Diakses tanggal29 September 2017.
  44. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1264.
  45. Moore, Robert Lee; Goodall, C. A.; Hepworth, J. L.; Watts, R. A. (May 1957). "Nitric Acid Dissolution of Thorium. Kinetics of Fluoride-Catalyzed Reaction".Industrial & Engineering Chemistry.49 (5):885–887.doi:10.1021/ie50569a035.
  46. 12Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1267.
  47. Yamashita, Toshiyuki; Nitani, Noriko; Tsuji, Toshihide; Inagaki, Hironitsu (1997)."Thermal expansions of NpO2 and some other actinide dioxides".J. Nucl. Mater.245 (1):72–78.Bibcode:1997JNuM..245...72Y.doi:10.1016/S0022-3115(96)00750-7.
  48. 123456Emsley, J. (2011).emsley blocks: an A–Z guide to the elements.Oxford University Press. hlm. 544–548.ISBN 978-0-19-960563-7.
  49. 12Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 70–77.
  50. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1269.
  51. 123Ivey, H. F. (1974). "Candoluminescence and radical-excited luminescence".Journal of Luminescence.8 (4):271–307.Bibcode:1974JLum....8..271I.doi:10.1016/0022-2313(74)90001-5.
  52. Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 95–97.
  53. 12345Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 78–94.
  54. 12Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1271.
  55. Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 97–101.
  56. Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 64–66.
  57. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 127.
  58. 1234Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 117–134.
  59. Persson, I. (2010)."Hydrated metal ions in aqueous solution: How regular are their structures?".Pure and Applied Chemistry.82 (10):1901–1917.doi:10.1351/PAC-CON-09-10-22.
  60. 12Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1275–1277.
  61. 12Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 101–115.
  62. 1234Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 116–117.
  63. 12Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1278–1280.
  64. Langeslay, Ryan R.; Fieser, Megan E.; Ziller, Joseph W.; Furche, Philip; Evans, William J. (2015)."Synthesis, structure, and reactivity of crystalline molecular complexes of the {[C5H3(SiMe3)2]3Th}1− anion containing thorium in the formal +2 oxidation state".Chemical Science.6 (6):517–521.doi:10.1039/C4SC03033H.PMC 5811171.PMID 29560172.
  65. 123Cameron, A. G. W. (1973)."Abundance of the Elements in the Solar System"(PDF).Space Science Reviews.15 (1):121–146.Bibcode:1973SSRv...15..121C.doi:10.1007/BF00172440. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 21 October 2011.
  66. Frebel, Anna; Beers, Timothy C. (2018). "The formation of the heaviest elements".Physics Today.71 (1):30–37.arXiv:1801.01190.Bibcode:2018PhT....71a..30F.doi:10.1063/pt.3.3815.ISSN 0031-9228.
  67. 12Roederer, I. U.; Kratz, K.-L.; Frebel, A.; Christlieb, Norbert; Pfeiffer, Bernd; Cowan, John J.; Sneden, Christopher (2009)."The End of Nucleosynthesis: Production of Lead and Thorium in the Early Galaxy".The Astrophysical Journal.698 (2):1963–1980.arXiv:0904.3105.Bibcode:2009ApJ...698.1963R.doi:10.1088/0004-637X/698/2/1963.
  68. Burbidge, E. M.; Burbidge, G. R.; Fowler, W. A.; F. Hoyle (1957)."Synthesis of the Elements in Stars"(PDF).Reviews of Modern Physics.29 (4): 547.Bibcode:1957RvMP...29..547B.doi:10.1103/RevModPhys.29.547. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 2016-06-24. Diakses tanggal2020-06-09.;
  69. Clayton, D. D. (1968).Principles of Stellar Evolution and Nucleosynthesis. McGraw-Hill Education. hlm. 577–591.ISBN 978-0-226-10953-4.
  70. Stoll 2005, hlm. 2.
  71. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1294.
  72. Albarède, F. (2003).Geochemistry: an introduction.Cambridge University Press. hlm. 17.ISBN 978-0-521-89148-6.
  73. Trenn, T. J. (1978). "Thoruranium (U-236) as the extinct natural parent of thorium: The premature falsification of an essentially correct theory".Annals of Science.35 (6):581–597.doi:10.1080/00033797800200441.
  74. Diamond, H.; Friedman, A. M.; Gindler, J. E.; Fields, P. R. (1956). "Possible Existence of Cm247 or Its Daughters in Nature".Physical Review.105 (2):679–680.Bibcode:1957PhRv..105..679D.doi:10.1103/PhysRev.105.679.
  75. Rao, M. N.; Gopalan, K. (1973)."Curium-248 in the Early Solar System".Nature.245 (5424):304–307.Bibcode:1973Natur.245..304R.doi:10.1038/245304a0.
  76. Rosenblatt, D. B. (1953)."Effects of a Primeval Endowment of U236".Physical Review.91 (6):1474–1475.Bibcode:1953PhRv...91.1474R.doi:10.1103/PhysRev.91.1474.
  77. Gando, A.; Gando, Y.; Ichimura, K.; Ikeda, H.; Inoue, K.; Kibe, Y.; Kishimoto, Y.; Koga, M.; Minekawa, Y.; Mitsui, T.; Morikawa, T.; Nagai, N.; Nakajima, K.; Nakamura, K.; Narita, K.; Shimizu, I.; Shimizu, Y.; Shirai, J.; Suekane, F.; Suzuki, A.; Takahashi, H.; Takahashi, N.; Takemoto, Y.; Tamae, K.; Watanabe, H.; Xu, B. D.; Yabumoto, H.; Yoshida, H.; Yoshida, S.; Enomoto, S. (2011)."Partial radiogenic heat model for Earth revealed by geoneutrino measurements"(PDF).Nature Geoscience.4 (9):647–651.Bibcode:2011NatGe...4..647K.doi:10.1038/ngeo1205.
  78. Peppard, D. F.; Mason, G. W.; Gray, P. R.; Mech, J. F. (1952)."Occurrence of the (4n + 1) Series in Nature".Journal of the American Chemical Society.74 (23):6081–6084.doi:10.1021/ja01143a074.
  79. 123456789Wickleder, Fourest& Dorhout 2006, hlm. 55–56.
  80. Agency for Toxic Substances and Disease Registry (2016).Thorium(PDF) (Report). Diakses tanggal30 September 2017.
  81. Woodhead, J. A. (1991)."The metamictization of zircon: Radiation dose-dependent structural characteristics"(PDF).American Mineralogist.76:74–82.
  82. Szymański, J. T. (1982)."A mineralogical study and crystal-structure determination of nonmetamict ekanite, ThCa2Si8O20"(PDF).Canadian Mineralogist.20:65–75.
  83. Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1255.
  84. "Tor's Fight with the Giants" (dalam bahasa Inggris).Google Arts & Culture. Diakses tanggal26 June 2016.
  85. 12Fontani, M.; Costa, M.; Orna, V. (2014).The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side. Oxford University Press. hlm. 73.ISBN 978-0-19-938334-4.
  86. Ryabchikov, D. I.; Gol'braikh, E. K. (2013).The Analytical Chemistry of Thorium: International Series of Monographs on Analytical Chemistry.Elsevier. hlm. 1.ISBN 978-1-4831-5659-0.
  87. Thomson, T. (1831).A System of Chemistry of Inorganic Bodies. Vol. 1. Baldwin & Cradock andWilliam Blackwood. hlm. 475.
  88. Berzelius, J. J. (1824). "Undersökning af några Mineralier. 1. Phosphorsyrad Ytterjord"[Examining some minerals. 1st phosphoric yttria.].Kungliga Svenska Vetenskapsakademiens Handlingar (dalam bahasa Swedia).2:334–338.
  89. "Xenotime-(Y)". Mindat database. Diakses tanggal7 October 2017.
  90. Selbekk, R. S. (2007)."Morten Thrane Esmark".Store norske leksikon (dalam bahasa Norwegia).Kunnskapsforlaget. Diakses tanggal16 May 2009.
  91. 12Weeks, M. E. (1932). "The discovery of the elements. XI. Some elements isolated with the aid of potassium and sodium: Zirconium, titanium, cerium, and thorium".Journal of Chemical Education.9 (7): 1231.Bibcode:1932JChEd...9.1231W.doi:10.1021/ed009p1231.
  92. Berzelius, J. J. (1829)."Untersuchung eines neues Minerals und einer darin erhalten zuvor unbekannten Erde"[Investigasi suatu mineral baru beserta oksida tak diketahui yang terkandung di dalamnya].Annalen der Physik und Chemie (dalam bahasa Jerman).16 (7):385–415.Bibcode:1829AnP....92..385B.doi:10.1002/andp.18290920702. (modern citation:Annalen der Physik, vol. 92, no. 7, pp. 385–415).
  93. Berzelius, J. J. (1829). "Undersökning af ett nytt mineral (Thorit), som innehåller en förut obekant jord"[Investigasi suatu mineral baru (torit) yang terkandung dalam oksida yang sebelumnya tak diketahui].Kungliga Svenska Vetenskaps Akademiens Handlingar (dalam bahasa Swedia):1–30.
  94. Schilling, J. (1902)."Die eigentlichen Thorit-Mineralien (Thorit und Orangit)"[The actual thoritic minerals (thorite and orangite)].Zeitschrift für Angewandte Chemie (dalam bahasa Jerman).15 (37):921–929.doi:10.1002/ange.19020153703.
  95. Leach, M. R."The Internet Database of Periodic Tables: Berzelius' Electronegativity Table". Diakses tanggal16 July 2016.
  96. Nilson, L. F. (1882)."Über metallisches Thorium"[About metallic thorium].Berichte der Deutschen Chemischen Gesellschaft (dalam bahasa Jerman).15 (2):2537–2547.doi:10.1002/cber.188201502213.
  97. 12Meister, G. (1948).Production of Rarer Metals(PDF) (Report).United States Atomic Energy Commission. Diakses tanggal22 September 2017.
  98. 1234Leach, M. R."The Internet Database of Periodic Tables". Diakses tanggal14 May 2012.
  99. Jensen, William B. (2003)."The Place of Zinc, Cadmium, and Mercury in the Periodic Table"(PDF).Journal of Chemical Education.80 (8):952–961.Bibcode:2003JChEd..80..952J.doi:10.1021/ed080p952. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 11 Juni 2010.
  100. 12Masterton, W. L.; Hurley, C. N.; Neth, E. J. (2011).Chemistry: Principles and reactions (Edisi 7th).Cengage Learning. hlm. 173.ISBN 978-1-111-42710-8.
  101. Curie, M. (1898). "Rayons émis par les composés de l'uranium et du thorium"[Sinar yang dipancarkan senyawa-senyawa uranium dan torium].Comptes Rendus (dalam bahasa Prancis).126:1101–1103.OL 24166254M.
  102. Schmidt, G. C. (1898). "Über die vom Thorium und den Thoriumverbindungen ausgehende Strahlung"[Tentang radiasi yang dipancarkan oleh torium dan senyawa-senyawa torium].Verhandlungen der Physikalischen Gesellschaft zu Berlin (Proceedings of the Physical Society in Berlin) (dalam bahasa Jerman).17:14–16.
  103. Schmidt, G. C. (1898)."Über die von den Thorverbindungen und einigen anderen Substanzen ausgehende Strahlung"[Tentang radiasi yang dipancarkan oleh senyawa torium dan beberapa senyawa lainnya].Annalen der Physik und Chemie (dalam bahasa Jerman).65 (5):141–151.Bibcode:1898AnP...301..141S.doi:10.1002/andp.18983010512. (modern citation:Annalen der Physik, vol. 301, pp. 141–151 (1898)).
  104. Rutherford, E.;Owens, R. B. (1899). "Thorium and uranium radiation".Trans. R. Soc. Can.2:9–12.: "The radiation from thorium oxide was not constant, but varied in a most capricious manner", whereas "All the compounds of Uranium give out a radiation which is remarkably constant."
  105. Simmons, J. G. (1996).The Scientific 100: A Ranking of the Most Influential Scientists, Past and Present. Carol. hlm. 19.ISBN 978-0-8065-2139-8.
  106. Fröman, N. (1996)."Marie and Pierre Curie and the Discovery of Polonium and Radium".nobelprize.org.Nobel Media AB. Diakses tanggal11 May 2017.
  107. 12Burns, M. (1987).Low-Level Radioactive Waste Regulation-Science, Politics and Fear. CRC Press. hlm. 24–25.ISBN 978-0-87371-026-8.
  108. van Spronsen, J. W. (1969).The periodic system of chemical elements. Elsevier. hlm. 315–316.ISBN 978-0-444-40776-4..
  109. Rhodes, R. (2012).The Making of the Atomic Bomb (Edisi 25th Anniversary).Simon & Schuster. hlm. 221–222, 349.ISBN 978-1-4516-7761-4.
  110. Türler, A.; Buklanov, G. V.; Eichler, B.; et al. (1998). "Evidence for relativistic effects in the chemistry of element 104".Journal of Alloys and Compounds.271–273: 287.doi:10.1016/S0925-8388(98)00072-3.
  111. Kratz, J. V.; Nagame, Y. (2014)."Liquid-Phase Chemistry of Superheavy Elements". Dalam Schädel, M.; Shaughnessy, D. (ed.).The Chemistry of Superheavy Elements (Edisi 2nd). Springer-Verlag. hlm. 335.doi:10.1007/978-3-642-37466-1.ISBN 978-3-642-37465-4.
  112. 1234Furuta, E.; Yoshizawa, Y.; Aburai, T. (2000). "Comparisons between radioactive and non-radioactive gas lantern mantles".J. Radiol. Prot.20 (4):423–431.Bibcode:2000JRP....20..423F.doi:10.1088/0952-4746/20/4/305.PMID 11140713.
  113. New Jersey Department of Health (1996)."Health and hazardous waste"(PDF).A Practitioner's Guide to Patients' Environmental Exposures.1 (3):1–8. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 15 April 2016.
  114. Toepker, Terrence P. (1996). "Thorium and yttrium in gas lantern mantles".American Journal of Physics.64 (2): 109.Bibcode:1996AmJPh..64..109T.doi:10.1119/1.18463.
  115. 12Poljanc, K.; Steinhauser, G.; Sterba, J. H.; Buchtela, K.; Bichler, M. (2007). "Beyond low-level activity: on a "non-radioactive" gas mantle".Science of the Total Environment.374 (1):36–42.Bibcode:2007ScTEn.374...36P.doi:10.1016/j.scitotenv.2006.11.024.PMID 17270253.
  116. Kazimi, M. (2003)."Thorium Fuel for Nuclear Energy".American Scientist. Diarsipkan dariasli tanggal 1 January 2017. Diakses tanggal29 September 2017.
  117. Majumdar, S.; Purushotham, D. S. C. (1999). "Experience of thorium fuel development in India".Thorium fuel utilization: Options and trends(PDF) (Report).International Atomic Energy Agency. Diakses tanggal7 October 2017.
  118. "Nuclear Power in India". World Nuclear Association. 2017. Diakses tanggal29 September 2017.
  119. "IAEA-TECDOC-1450 Thorium Fuel Cycle – Potential Benefits and Challenges"(PDF). International Atomic Energy Agency. 2005. Diakses tanggal23 March 2009.
  120. "IAEA-TECDOC-1349 Potential of thorium-based fuel cycles to constrain plutonium and to reduce the long-lived waste toxicity"(PDF). International Atomic Energy Agency. 2002. Diakses tanggal24 March 2009.
  121. Evans, B. (2006)."Scientist urges switch to thorium".ABC News. Diarsipkan dariasli tanggal 28 March 2010. Diakses tanggal17 September 2011.
  122. Martin, R. (2009)."Uranium is So Last Century – Enter Thorium, the New Green Nuke".Wired. Diakses tanggal19 June 2010.
  123. "Thorium-based nuclear power",Wikipedia (dalam bahasa Inggris), 2020-01-16, diakses tanggal2020-01-30
  124. Weinberg, Alvin (1994).The First Nuclear Era: The Life and Times of a Technological Fixer. New York: AIP Press. hlm. 36–38.ISBN 978-1-56396-358-2.
  125. 123"Thorium".World Nuclear Association. 2017. Diakses tanggal21 June 2017.
  126. Woods, W. K. (1966).LRL Interest in U-233(PDF) (Report) (dalam bahasa English).Battelle Memorial Institute.doi:10.2172/79078.OSTI 79078. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  127. "Classification Bulletin WNP-118"(PDF). U.S. Department of Energy. March 12, 2008.
  128. Stoll 2005, hlm. 7.
  129. United States Geological Survey (2012)."Thorium"(PDF). Diakses tanggal12 May 2017.
  130. Jayaram, K. M. V. (1987).An Overview of World Thorium Resources, Incentives for Further Exploration and Forecast for Thorium Requirements in the Near Future(PDF) (Report).Department of Atomic Energy. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 28 June 2011.
  131. Thorium. Statistics and Information (Report) (dalam bahasa Inggris).United States Geological Survey. 2017. Diakses tanggal6 January 2018.
  132. 12345678910Stoll 2005, hlm. 8.
  133. Crouse, David J.; Brown, Keith B. (1959-12-01)."The Amex Process for Extracting Thorium Ores with Alkyl Amines".Industrial & Engineering Chemistry.51 (12):1461–1464.doi:10.1021/ie50600a030.ISSN 0019-7866.
  134. 12345Stoll 2005, hlm. 32.
  135. Stoll 2005, hlm. 31.
  136. Matson, Tim (2011).The Book of Non-electric Lighting: The Classic Guide to the Safe Use of Candles, Fuel Lamps, Lanterns, Gaslights & Fire-View Stoves.Countryman Press. hlm. 60.ISBN 978-1-58157-829-4.
  137. Pridham, G. J. (2016).Electronic Devices and Circuits: The Commonwealth and International Library: Electrical Engineering Division (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 105.ISBN 978-1-4831-3979-1.
  138. Uttrachi, J. (2015).Weld Like a Pro: Beginning to Advanced Techniques. CarTech Inc. hlm. 42.ISBN 978-1-61325-221-5.
  139. Jeffus, L. (2016).Welding: Principles and Applications. Cengage Learning. hlm. 393.ISBN 978-1-305-49469-5.
  140. Oak Ridge Associated Universities (1999)."Thoriated Camera Lens (ca. 1970s)". Diakses tanggal29 September 2017.
  141. Rancourt, J. D. (1996).Optical thin films: user handbook.SPIE Press. hlm. 196.ISBN 978-0-8194-2285-9.
  142. Kaiser, N.; Pulker, H. K. (2013).Optical Interference Coatings (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 111.ISBN 978-3-540-36386-6.
  143. Ronen, Y. (2006). "A rule for determining fissile isotopes".Nuclear Science and Engineering.152 (3):334–335.doi:10.13182/nse06-a2588.ISSN 0029-5639.
  144. 12Ronen, Y. (2010). "Some remarks on the fissile isotopes".Annals of Nuclear Energy.37 (12):1783–1784.doi:10.1016/j.anucene.2010.07.006.
  145. "Plutonium". World Nuclear Association. 2017. Diakses tanggal29 September 2017.
  146. 123Greenwood& Earnshaw 1997, hlm. 1259.
  147. "Interactive Chart of Nuclides".Brookhaven National Laboratory. Diarsipkan dariasli tanggal 2017-01-24. Diakses tanggal12 August 2013.
  148. "Thorium test begins". World Nuclear News. 2013. Diakses tanggal21 July 2013.
  149. "IAEA-TECDOC-1450 Thorium Fuel Cycle – Potential Benefits and Challenges"(PDF). International Atomic Energy Agency. 2005. Diakses tanggal23 March 2009.
  150. 12Langford, R. E. (2004).Introduction to Weapons of Mass Destruction: Radiological, Chemical, and Biological. John Wiley & Sons. hlm. 85.ISBN 978-0-471-46560-7.
  151. Stoll 2005, hlm. 30.
  152. Nakajima, Ts.; Groult, H. (2005).Fluorinated Materials for Energy Conversion. Elsevier. hlm. 562–565.ISBN 978-0-08-044472-7.
  153. Rees, E. (2011)."Don't believe the spin on thorium being a greener nuclear option".The Guardian. Diakses tanggal29 September 2017.
  154. Sovacool, B. K.; Valentine, S. V. (2012).The National Politics of Nuclear Power: Economics, Security, and Governance.Routledge. hlm. 226.ISBN 978-1-136-29437-2.
  155. "Nuclear Energy FAQs"(PDF).Argonne National Laboratory. 2014. Diakses tanggal13 January 2018.
  156. Findlay, T. (2011).Nuclear Energy and Global Governance: Ensuring Safety, Security and Non-proliferation. Routledge. hlm. 9.ISBN 978-1-136-84993-0.
  157. 123"Thorium: Radiation Protection". United States Environmental Protection Agency. Diarsipkan dariasli tanggal 1 October 2006. Diakses tanggal27 February 2016.
  158. 12"Radioactivity in Lantern Mantles".Australian Radiation Protection and Nuclear Safety Agency. Diarsipkan dariasli tanggal 14 October 2007. Diakses tanggal29 September 2017.
  159. "Natural Decay Series: Uranium, Radium, and Thorium"(PDF). Argonne National Laboratory. 2005. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 17 August 2016. Diakses tanggal30 September 2017.
  160. 1234Stoll 2005, hlm. 35.
  161. Luetzelschwab, J. W.; Googins, S. W. (1984)."Radioactivity released from burning gas lantern mantles".Health Phys.46 (4):873–881.doi:10.1097/00004032-198404000-00013.PMID 6706595.
  162. Huyskens, C. J.; Hemelaar, J. T.; Kicken, P. J. (1985)."Dose estimates for exposure to radioactivity in gas mantles".Sci. Total Environ.45:157–164.Bibcode:1985ScTEn..45..157H.doi:10.1016/0048-9697(85)90216-5.PMID 4081711.
  163. "Toxicological Profile for Thorium"(PDF). Agency for Toxic Substances and Disease Registry U.S. Public Health Service. 1990. hlm. 4.
  164. Merkel, B.; Dudel, G.; et al. (1988).Untersuchungen zur radiologischen Emission des Uran-Tailings Schneckenstein(PDF) (Report) (dalam bahasa Jerman). Sächsisches Staatsministerium für Umwelt und Landesentwicklung. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 8 January 2013.
  165. 12Stoll 2005, hlm. 34.
  166. Jacobson, M.; Cooper, A. R.; Nagy, J. (1964).Explosibility of metal powders(PDF) (Report).United States Department of the Interior. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 2017-03-05. Diakses tanggal29 September 2017.
  167. "Nine Injured In Atomic Lab Blasts".Pittsburgh Post-Gazette. Associated Press. 1956. hlm. 2. Diakses tanggal29 September 2017.
  168. "No Radiation Threat Seen In A-laboratory Blast".St. Petersburg Times. Associated Press. 1956. hlm. 2. Diakses tanggal29 September 2017.
  169. Harrington, M. (2003)."Sad Memories of '56 Sylvania Explosion".New York Newsday. Diarsipkan dariasli tanggal 4 February 2012. Diakses tanggal29 September 2017.
  170. "Thorium ToxFAQs"(PDF).Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Diakses tanggal29 September 2017.
  171. "Compendium Of Policy And Statutory Provisions Relating To Exploitation Of Beach Sand Minerals". Department of Atomic Energy. Diarsipkan dariasli tanggal 4 Desember 2008. Diakses tanggal19 Desember 2008.
  172. Alberici, Emma (29 January 2019)."Italian military officials' trial ignites suspicions of links between weapon testing and birth defects in Sardinia".ABC News. Australian Broadcasting Corporation. Diakses tanggal29 January 2019.

Daftar pustaka

[sunting |sunting sumber]
(besar)
123456789101112131415161718
1HHe
2LiBeBCNOFNe
3NaMgAlSiPSClAr
4KCaScTiVCrMnFeCoNiCuZnGaGeAsSeBrKr
5RbSrYZrNbMoTcRuRhPdAgCdInSnSbTeIXe
6CsBaLaCePrNdPmSmEuGdTbDyHoErTmYbLuHfTaWReOsIrPtAuHgTlPbBiPoAtRn
7FrRaAcThPaUNpPuAmCmBkCfEsFmMdNoLrRfDbSgBhHsMtDsRgCnNhFlMcLvTsOg
Logam alkaliLogam alkali tanahLan­tanidaAktinidaLogam transisiLogam miskinMetaloidNonlogam poliatomikNonlogam diatomikGas muliaSifat kimia
belum diketahui
Internasional
Nasional
Lain-lain
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Torium&oldid=28471832"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp