Pada Juli 2016, setelahDavid Cameron mengundurkan diri, May terpilih sebagai Pemimpin Partai Konservatif secara aklamasi, dan ia menjadi Perdana Menteri wanita kedua Britania Raya, setelahMargaret Thatcher. Sebagai Perdana Menteri, May memulaiproses keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa, memicu berlakunyaPasal 50 pada Maret 2017. Bulan berikutnya, ia mengumumkan penyelenggaraanpemilihan umumawal, dengan tujuan memperkuat dirinya dalamnegosiasi Brexit dan menjadikannya sebagai pemimpin yang "kuat dan stabil".[4][5] Hasil pemilu tersebut mengakibatkan lahirnyaparlemen gantung, di mana jumlah kursi Partai Konservatif turun dari 330 kursi menjadi 317, meskipun begitu partainya memenangkan persentase suara tertinggisejak 1983. Hilangnya suara mayoritas Partai Konservatif mendorongnya untuk melakukan koalisi denganPartai Unionis Demokrat untuk membentuk pemerintahan. Setelah terbentuknya kabinet pada 11 Juni 2017, May menghadapi sejumlah besar pengunduran diri menteri-menterinya.
May selamat darimosi tidak percaya yang diajukan olehanggota parlemen Partai Konservatif pada Desember 2018 danmosi tidak percaya parlemen pada Januari 2019. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak akan memimpin partainya dalam pemilihan umum berikutnya yang dijadwalkan pada 2022 berdasarkanUndang-Undang Parlemen Masa Jabatan Sah,[6] tetapi tidak mengesampingkan tanggung jawabnya untuk memimpin partai padapemilihan umum awal lain sebelum itu. Dia melakukan negosiasi Brexit denganUni Eropa, mengikutiRencana Chequers, yang menghasilkan drafPerjanjian Penarikan antara Britania Raya dan Uni Eropa. Perjanjian ini ditolak oleh Parlemen pada Januari 2019, merupakan penolakan terbesar parlemen terhadappemerintah Britania Raya sepanjang sejarah.[7][8] Dia kemudian mengumumkan kesepakatan yang direvisi, tetapi kembali ditolak parlemen. Pada Maret 2019, May berkomitmen untuk mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri jika parlemen meloloskan kesepakatan Brexitnya, untuk memberi jalan bagi pemimpin baru di tahap kedua Brexit; namun, Perjanjian Penarikan ditolak untuk ketiga kalinya.[9] Pada 24 Mei 2019, ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin partai yang mulai berlaku pada 7 Juni.[10] Dia menyatakan bahwa akan tetap menjabat sebagai Perdana Menteri sampai penggantinya ditunjuk.[11] Dia mundur sebagai Perdana Menteri pada 24 Juli, setelah terpilihnya mantanMenteri Luar Negeri,Boris Johnson, untuk menggantikannya; tetapi May tetap menjabat sebagaianggota parlemen di Dewan Rakyat sebagaibackbencher.[12]
Gereja Santa Maria sang Perawan,Wheatley, tempat di mana ayah May menjadi vikaris dan tempat May menikah[13][14]
Dilahirkan pada 1 Oktober 1956 diEastbourne,Sussex, May adalah anak tunggal dari pasangan Zaidee Mary (nama gadis Barnes; 1928–1982) dan Hubert Brasier (1917–1981).[15] Ayahnya adalah seorang pendetaGereja Inggris (dan seorangAnglo-Katolik)[16] yang adalah pendeta rumah sakit Eastbourne.[17] Dia kemudian menjadi vikarisEnstone danHeythrop dan akhirnya vikaris di Gereja Santa Maria diWheatley, sebelah timur Oxford.[18][19][20] Ibu May adalah pendukung Partai Konservatif.[21] Ayahnya meninggal pada tahun 1981, karena cedera yang dideritanya akibat kecelakaan mobil, dan ibunya wafat karena menderitasklerosis multipel pada tahun berikutnya.[22][23] May kemudian menyatakan bahwa ia "menyesal mereka [orangtuanya] tidak pernah melihat saya terpilih sebagai Anggota Parlemen".[24]
Pada awalnya May bersekolah diSekolah Dasar Heythrop, sebuah sekolah negeri di Heythrop, lalu diikuti oleh Sekolah Biara St. Juliana untuk Anak Perempuan, sebuah sekolah independenKatolik Roma diBegbroke, yang ditutup pada tahun 1984.[25][26][27]
Pada usia 13, ia diterima di SekolahTata Bahasa Holton Park Girls, sebuah sekolah negeri diWheatley.[28] Selama menjadi murid, sistem pendidikan Oxfordshire direorganisasi, dan sekolahnya berubah menjadi Wheatley Park Comprehensive School yang baru.[25][29] May kuliah diUniversitas Oxford, mengambil studigeografi diKolese St Hugh, dan lulus dengan gelarBA pada tahun 1977.[30] Dia bekerja di sebuah toko roti pada hari Sabtu untuk mendapatkan uang saku, dan merupakan "wanita muda yang tinggi dan sadar mode yang sejak dini berbicara tentang ambisinya untuk menjadi perdana menteri wanita pertama," menurut mereka yang mengenalnya.[31] Menurut seorang teman universitasnya, Pat Frankland: "Saya tidak dapat mengingat saat ketika dia tidak memiliki ambisi politik. Saya ingat, pada saat itu, dia sangat kesal ketikaMargaret Thatcher sampai di sana lebih dulu (menjadi perdana menteri)."[32]
Antara tahun 1977 hingga 1983, May bekerja diBank of England, dan dari tahun 1985 hingga 1997, ia bekerja diAsosiasi Layanan Pembayaran Kliring (APACS), sebagai konsultan keuangan. Dia menjabat sebagai Kepala Unit Urusan Eropa dari tahun 1989 sampai 1996 dan sebagai Penasihat Senior Urusan Internasional pada 1996 hingga 1997 di organisasi tersebut.[33]
May menjabat sebagai anggota dewan mewakili daerah Durnsford[34] diMerton, London dari tahun 1986 hingga 1994, di mana ia menjadi Ketua Bidang Pendidikan (1988-90) dan Wakil Pimpinan Kelompok serta Juru Bicara Perumahan (1992-94).
Dalampemilihan umum 1992, May mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif di daerah pemilihanNorth West Durham, akan tetapi May kalah dari calon Partai Buruh yang juga anggota parlemen petahanaHilary Armstrong. May menempati urutan kedua dalam perolehan suara dengan 12.747 suara (27,6%), sementara Armstrong melaju kembali ke parlemen dengan perolehan 26.734 suara (57,8%), sedangkan calon dari Demokrat Liberal,Tim Farron berada di tempat ketiga. Kemudian May mengikutipemilihan umum sela tahun 1994 untuk dapil Barking, yang digelar karena meninggalnya anggota parlemen Partai BuruhJo Richardson. Kursi dapil tersebut secara terus-menerus dipegang oleh Partai Buruh sejak dapil itu dibentuk pada tahun 1945, dan kandidat Partai BuruhMargaret Hodge diharapkan untuk menang dengan mudah, dan pada akhirnya terjadi, Hodge menang dengan perolehan 13.704 suara (72,1%), sementara May menempati urutan ketiga dengan perolehan suara hanya 1.976 suara (10,4%).
Sekitar 18 bulan menjelangpemilihan umum 1997, May terpilih sebagai kandidat Partai Konservatif untuk dapilMaidenhead, sebuah dapil baru yang diciptakan daridapil surgaWindsor dan Maidenhead danWokingham. May terpilih dengan perolehan 25.344 suara (49,8%), hampir dua kali lipat dari peringkat kedua Andrew Terence Ketteringham dari Demokrat Liberal, yang mendapatkan 13.363 suara (26,3%).[33] Meskipun demikian, partainya pada saat itu mengalami kekalahan terburuk di pemilu dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun terakhir.