Dalam psikologi, teori sifat (trait theory, juga disebutteori disposisional) adalah pendekatan dalam mempelajari kepribadian manusia. Para ahli teori sifat terutama tertarik pada pengukuran sifat, yang dapat didefinisikan sebagai pola perilaku, pikiran, dan emosi yang bersifat kebiasaan.[1] Menurut perspektif ini, sifat merupakan aspek kepribadian yang relatif stabil dari waktu ke waktu, berbeda antarindividu (misalnya, beberapa orang bersifat ekstrover sementara yang lain tidak), relatif konsisten di berbagai situasi, dan memengaruhi perilaku. Sifat berbeda dari keadaan (states), yang merupakan disposisi yang lebih bersifat sementara.
Sifat-sifat sepertiekstroversi vs. introversi diukur dalam suatu spektrum, dengan setiap individu berada di suatu titik di antara keduanya. Teori sifat juga menyatakan bahwa beberapa perilaku alami tertentu dapat memberikan seseorang keuntungan dalam posisi kepemimpinan.
Terdapat dua pendekatan dalam mendefinisikan sifat:
Sebagai properti kausal internal, yaitu sifat memengaruhi perilaku kita dan membuat kita bertindak sesuai dengan sifat tersebut.Sebagai ringkasan deskriptif, yaitu sifat hanyalah deskripsi dari tindakan kita tanpa mencoba menafsirkan sebab-musababnya.
Psikolog AmerikaGordon Allport merupakan salah satu pelopor awal dalam kajian mengenai sifat (traits) dalam psikologi kepribadian. Karyanya dianggap sebagai titik awal bagi berkembangnya studi modern tentang kepribadian dalam psikologi ilmiah.[2] Allport berupaya memahami bagaimana pola perilaku, pikiran, dan perasaan seseorang dapat dijelaskan melalui kecenderungan yang stabil, yang ia sebut sebagaidisposisi. Berbeda dari pendekatanpsikoanalisis atau behaviorisme yang dominan pada masanya, Allport menekankan pentingnya memahami kepribadian sebagai sistem yang unik dan dinamis, di mana setiap individu memiliki kombinasi sifat yang khas.
Dalam teorinya, Allport membedakan sifat menjadi tiga tingkatan utama. Sifat kardinal (cardinal traits) merupakan sifat yang paling mendominasi dan membentuk perilaku seseorang secara menyeluruh; sifat ini mencerminkan dorongan utama atau obsesi hidup individu, seperti kebutuhan akan kekuasaan, uang, atau ketenaran. Hanya sedikit orang yang memiliki sifat kardinal yang begitu kuat hingga mendefinisikan seluruh kepribadiannya. Sifat sentral (central traits), di sisi lain, adalah karakteristik umum yang ditemukan dalam berbagai derajat pada hampir setiap individu, misalnya kejujuran, keramahan, atau ambisi. Terakhir, sifat sekunder (secondary traits) merupakan kecenderungan yang muncul hanya dalam situasi tertentu, seperti preferensi makanan, selera musik, atau kebiasaan kecil yang mungkin hanya diketahui oleh teman dekat. Pembagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kompleksitasperilaku manusia dan keunikan individu.[3]
Seiring waktu, beragam teori dan instrumen pengukuran alternatif dikembangkan untuk memperluas atau memodifikasi pandangan Allport tentang kepribadian. Beberapa pendekatan penting antara lain:
Dari berbagai teori tersebut, dua pendekatan besar kemudian menjadi yang paling berpengaruh dalam penelitian dan penerapan psikologi kepribadian kontemporer:[butuh rujukan]
Eysenck Personality Questionnaire (EPQ), atau yang dikenal sebagai model tiga faktor (three-factor model). Melalui teknik analisis faktor, Hans Eysenck berpendapat bahwa kepribadian manusia dapat dijelaskan melalui tiga dimensi utama: neurotisisme, ekstroversi, dan psikosisme. Ia juga menekankan dasar biologis dari setiap dimensi, dengan menautkannya pada sistem saraf dan proses fisiologis tertentu.[4]Model Lima Faktor (Big Five personality traits), atau lima dimensi utama kepribadian, yang saat ini dianggap sebagai kerangka paling umum dalam psikologi kepribadian modern. Model ini menyatakan bahwa kepribadian manusia dapat dijelaskan secara memadai melalui lima dimensi dasar: neurotisisme, ekstroversi, keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experience), keramahan (agreeableness), dan ketaatan atau ketelitian (conscientiousness).[5] Model ini bersifat deskriptif dan empiris, digunakan secara luas dalam penelitian lintas budaya, psikologi industri dan organisasi, serta dalam asesmen kepribadian klinis dan non-klinis.