Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Streptococcus pyogenes

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Streptococcus pyogenesSuntingan nilai di Wikidata

Suntingan nilai di Wikidata
PenyakitSindrom TS danLimfangitisSuntingan nilai di Wikidata
Pewarnaan GramGram-positifSuntingan nilai di Wikidata
Taksonomi
KerajaanBacillati
FilumBacillota
KelasBacilli
OrdoLactobacillales
FamiliStreptococcaceae
GenusStreptococcus
SpesiesStreptococcus pyogenesSuntingan nilai di Wikidata
Rosenbach, 1884
Artikel takson sembarang

Streptococcus pyogenes ialahbakteriGram-positif bentukbundar yang tumbuh dalam rantai panjang[1] dan merupakan penyebabinfeksi Streptococcus Grup A.Streptococcus pyogenes menampakkanantigen grup A di dinding selnya danbeta-hemolisis saat dikultur di plat agar darah.Streptococcus pyogenes khas memproduksi zona beta-hemolisis yang besar, gangguaneritrosit sempurna dan pelepasanhemoglobin, sehingga kemudian disebutStreptococcus Grup A (beta-hemolisis). Streptococcus bersifat katalase-negatif.

Serotipe

[sunting |sunting sumber]

Pada tahun 1928,Rebecca Lancefield menerbitkan tulisan tentang cara serotipeStreptococcus pyogenes berdasarkan padaprotein M-nya, faktorvirulensi yang ditampakkan di permukaannya.[2] Kemudian, pada tahun 1946, Lancefield menjelaskan klasifikasi serologi isolasiStreptococcus pyogenes berdasarkan padaantigen T permukaannya.[3] 4 dari 20 antigen T telah diketahui bersifatpilus, yang digunakan bakteri untuk berikatan dengan sel inangnya.[4] Sekarang, lebih dari 100 serotipe M dan sekitar 20 serotipe T diketahui.

Patogenesis

[sunting |sunting sumber]
Artikel utama:Infeksi Streptococcus Grup A

Streptococcus pyogenes adalah penyebab banyak penyakit penting pada manusia yang berkisar dari infeksi kulit permukaan yang ringan hingga penyakit sistemik yang mengancam hidup. Infeksi khasnya bermula ditenggorokan atau kulit. Infeksi ringanStreptococcus pyogenes termasukfaringitis ("radang kerongkongan") dan infeksi kulit setempat ("impetigo").Erisipelas danselulitis dicirikan oleh perbiakan dan penyebaran sampingStreptococcus pyogenes di lapisan dalam kulit. Serangan dan perbiakanStreptococcus pyogenes difasia dapat menimbulkanfasitis nekrosis, keadaan yang besar kemungkinan mengancam hidup yang memerlukan penanganan bedah.

Infeksi akibat strain tertentuStreptococcus pyogenes bisa dikaitkan dengan pelepasantoksin bakteri. Infeksi kerongkongan yang dihubungkan dengan pelepasan toksin tertentu bisa menimbulkanpenyakit jengkering (scarlet fever). Infeksi toksigenStreptococcus pyogenes lainnya bisa menimbulkansindrom syok toksik streptococcus, yang bisa mengancam hidup.

Streptococcus pyogenes juga bisa menyebabkanpenyakit dalam bentuk sindrom "non-pyogenik" (tak dihubungkan dengan perbiakan bakteri dan pembentukan nanah setempat) pascainfeksi. Komplikasi yang diperantaraiautoimun itu mengikuti sejumlah kecil persentase infensi dan termasukpenyakit reumatik danglomerulonefritis pasca-streptococcus akut. Kedua keadaan itu muncul beberapa minggu menyusul infeksi awal streptococcus.Penyakit reumatik dicirikan dengan peradangansendi dan/atau jantung menyusul sejumlahfaringitis streptococcus.Glomerulonefritis akut, peradanganglomerulusginjal, bisa mengikutifaringitis streptococcus atau infeksi kulit.

Bakteri ini benar-benar sensitif terhadappenisilin. Kegagalan penanganan denganpenisilin umumnya dikaitkan dengan organisme komensal lain yang memproduksi β-laktamase atau kegagalan mencapai tingkat jaringan yang cukup di tenggorokan. Strain tertentu sudah kebal akanmakrolid,tetrasiklin danklindamisin.

Faktor virulensi

[sunting |sunting sumber]

Streptococcus pyogenes mempunyai beberapa faktorvirulensi yang memungkinkannya berikatan dengan jaringan inang, mengelakkan respon imun, dan menyebar dengan melakukan penetrasi ke lapisan jaringan inang.[5] Kapsulkarbohidrat yang tersusun atasasam hialuronat mengelilingi bakteri, melindunginya darifagositosis olehneutrofil. Di samping itu, kapsul dan beberapa faktor yang melekat di dinding sel, termasuk protein M,asam lipoteikoat, dan protein F (SfbI) memfasilitasi perkatan ke sejumlah sel inang.[6] Protein M juga menghambatopsonisasi olehjalur kompemen alternatif dengan berikatan pada regulator komplemen inang. Protein M yang ditemukan di beberapa serotipe juga bisa mencegah opsonisasi dengan berikatan padafibrinogen. Namun, protein M juga titik terlemah dalam pertahanan patogen ini karenaantibodi yang diproduksi olehsistem imun terhadap protein M sasarannya adalah bakteri untuk ditelanfagosit. Protein M juga unik bagi tiap strain, dan identifikasi bisa digunakan secara klinik untuk menegaskan strain yang menyebabkan infeksi.

Streptococcus pyogenes melepaskan sejumlah protein, termasuk beberapa faktor virulensi, kepada inangnya:

Streptolisin O dan S
adalahtoksin yang merupakan dasar sifat beta-hemolisis organisme ini. Streptolisin O ialah racun sel yang berpotensi memengaruhi banyak tipe sel termasuk neutrofil, platelet, dan organella subsel. Menyebabkan respon imun dan penemuan antibodinya; antistreptolisin O (ASO) bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan infeksi yang baru saja. Streptolisin O bersifat meracuni jantung (kardiotoksik).
Eksotoksin Streptococcus pyogenes A dan C
Keduanya adalahsuperantigen yang disekresi oleh sejumlah strainStreptococcus pyogenes. Eksotoksin pyogenes itu bertanggung jawab untukruampenyakit jengkering dan sejumlah gejalasindrom syok toksik streptococcus.
Streptokinase
Secara enzimatis mengaktifkanplasminogen, enzim proteolitik, menjadiplasmin yang akhirnya mencernafibrin dan protein lain.
Hialuronidase
Banyak dianggap memfasilitasi penyebaran bakteri melalui jaringan dengan memecahasam hialuronat, komponen pentingjaringan konektif. Namun, sedikit isolasiStreptococcus pyogenes yang bisa mensekresi hialuronidase aktif akibat mutasi pada gen yang mengkodekan enzim. Apalagi, isolasi yang sedikit yang bisa mensekresi hialuronidase tak tampak memerlukannya untuk menyebar melalui jaringan atau menyebabkan lesi kulit.[7] Sehingga, jika ada, peran hialuronidase yang sesungguhnya dalam patogenesis tetap tak diketahui.
Streptodornase
Kebanyakan strainStreptococcus pyogenes mensekresikan lebih dari 4DNase yang berbeda, yang kadang-kadang disebutstreptodornase. DNase melindungi bakteri dari terjaring diperangkap ekstraseluler neutrofil (NET) dengan mencerna jala NET di DNA, yang diikat pulaserin proteaseneutrofil yang bisa membunuh bakteri.[8]
C5apeptidase
C5a peptidase membelah kemotaksinneutrofil kuat yang disebutC5a, yang diproduksi oleh sistem komplemen.[9] C5a peptidase diperlukan untuk meminimalisasi aliran neutrofil di awal infeksi karena bakteri berusaha mengkolonisasi jaringan inang.[10]
Kemokin protease streptococcus
Jaringan pasien yang terkena dengan kasusfasitis nekrosis parah sama sekali tidak adaneutrofil.[11]Serin protease ScpC, yang dilepas olehStreptococcus pyogenes, bertanggung jawab mencegah migrasi neutrofil ke infeksi yang meluas.[12] ScpC mendegradasikemokinaIL-8, yang sebaliknya menarikneutrofil ke tempat infeksi. C5a peptidase, meskipun diperlukan untuk mendegradasi kemotaksin neutrofil C5a di tahap awal infeksi, tak diperlukan untukStreptococcus pyogenes mencegah aliran neutrofil karena bakteri menyebar melaluifasia.[10][12]

Diagnosis

[sunting |sunting sumber]

Biasanya, usap tenggorokan dibawa ke laboratorium untuk diuji.Pewarnaan Gram diperlukan untuk memperlihatkan Gram-positif, coccus, dalam bentuk rantai. Kemudian, organisme diagar darah dikultur dengan tambahan cakram antibiotikbasitrasin untuk memperlihatkan kolonibeta-hemolisis dan sensitivitas (zona inhibisi sekitar cakram) antibiotik. Lalu dilakukan ujikatalase, yang harus menunjukkan reaksi negatif untuk semuaStreptococcus.Streptococcus pyogenes bersifat negatif untuk uji cAMP danhipurat. Identifikasi serologi atas organisme itu melibatkan uji untuk adanya polisakarida spesifik grup A dalam dinding sel bakteri menggunakan tesPhadebact. Karena uji tindak pencegahan juga dilakukan untuk memeriksa penyakit penyakit seperti, tetapi tak terbatas pada,sifilis, dannekrosis avaskular, dankaki pekuk.

Penanganan

[sunting |sunting sumber]

Terapi pilihan adalahpenisilin, tetapi, bila tidak siap tersedia penisilin, sayatan kecil pada daerah yang terinfeksi akan menghilangkan dan bengkak dan rasa tak nyaman hingga bantuan medis yang cocok dapat dicari. Tidak ada kejadian resistensi penisilin yang dilaporkan hingga hari ini, meski sejak tahun 1985 sudah banyak laporan toleransi penisilin.[13]

Makrolid,kloramfenikol, dantetrasiklin bisa digunakan jika strain yang diisolasi tampak sensitif, tetapi lebih umum terjadi resistensi.

Rujukan

[sunting |sunting sumber]
  1. Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004).Sherris Medical Microbiology (Edisi 4th ed.). McGraw Hill.ISBN 0-8385-8529-9.;Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  2. Lancefield RC (1928)."The antigenic complex ofStreptococcus hemolyticus".J Exp Med.47:9–10.
  3. Lancefield RC, Dole VP (1946)."The properties of T antigen extracted from group A hemolytic streptococci".J Exp Med.84:449–71.
  4. Mora M, Bensi G, Capo S, Falugi F, Zingaretti C, Manetti A, Maggi T, Taddei A, Grandi G, Telford J (2005). "Group A Streptococcus produce pilus-like structures containing protective antigens and Lancefield T antigens".Proc Natl Acad Sci U S A.102 (43):15641–6.PMID 16223875. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  5. Patterson MJ (1996).Streptococcus.In: Baron's Medical Microbiology(Baron Set al, eds.) (Edisi 4th ed.). Univ of Texas Medical Branch.(via NCBI Bookshelf)ISBN 0-9631172-1-1.
  6. Bisno AL, Brito MO, Collins CM (2003). "Molecular basis of group A streptococcal virulence".Lancet Infect Dis.3 (4):191–200.PMID 12679262. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  7. Starr C, Engleberg N (2006). "Role of hyaluronidase in subcutaneous spread and growth of group A streptococcus".Infect Immun.74 (1):40–8.PMID 16368955.
  8. Buchanan J, Simpson A, Aziz R, Liu G, Kristian S, Kotb M, Feramisco J, Nizet V (2006). "DNase expression allows the pathogen group A Streptococcus to escape killing in neutrophil extracellular traps".Curr Biol.16 (4):396–400.PMID 16488874. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  9. Wexler D, Chenoweth D, Cleary P (1985). "Mechanism of action of the group A streptococcal C5a inactivator".Proc Natl Acad Sci U S A.82 (23):8144–8.PMID 3906656. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  10. 12Ji Y, McLandsborough L, Kondagunta A, Cleary P (1996). "C5a peptidase alters clearance and trafficking of group A streptococci by infected mice".Infect Immun.64 (2):503–10.PMID 8550199. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  11. Hidalgo-Grass C, Dan-Goor M, Maly A, Eran Y, Kwinn L, Nizet V, Ravins M, Jaffe J, Peyser A, Moses A, Hanski E (2004). "Effect of a bacterial pheromone peptide on host chemokine degradation in group A streptococcal necrotising soft-tissue infections".Lancet.363 (9410):696–703.PMID 15001327. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  12. 12Hidalgo-Grass C, Mishalian I, Dan-Goor M, Belotserkovsky I, Eran Y, Nizet V, Peled A, Hanski E (2006). "A streptococcal protease that degrades CXC chemokines and impairs bacterial clearance from infected tissues".EMBO J.25 (19):4628–37.PMID 16977314. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  13. Kim KS, Kaplan EL (1985). "Association of penicillin tolerance with failure to eradicate group A streptococci from patients with pharyngitis".J Pediatr.107 (5):681–4.PMID 3903089.

Bacaan lanjut

[sunting |sunting sumber]
  • Gladwin, Mark and Bill Trattler.Clinical Microbiology Made Ridiculously Simple, 3rd edition, 2004.
  • Brooks, Geo F., Janet S. Butel, and Stephen A. Morse.Jawetz, Melnick, and Adelberg's Medical Microbiology, 22nd edition, 2001.
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Streptococcus_pyogenes&oldid=28517570"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp