Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Soekarno

Checked
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Page version status

Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman ini

Ini adalahversi stabil,terperiksa pada tanggal26 Januari 2026.
Halaman yang dilindungi semi
Penyuntingan Artikel oleh penggunabaru atauanonim untuk saat initidak diizinkan.
Lihatkebijakan pelindungan danlog pelindungan untuk informasi selengkapnya. Jika Anda tidak dapat menyunting Artikel ini dan Anda ingin melakukannya, Anda dapat memohonpermintaan penyuntingan, diskusikan perubahan yang ingin dilakukan dihalaman pembicaraan,memohon untuk melepaskan pelindungan,masuk, ataubuatlah sebuah akun.
Soekarno
Potret resmi,ca1949
Presiden Indonesiake-1
Masa jabatan
18 Agustus 1945 12 Maret 1967
Perdana Menteri
Daftar
Wakil PresidenMohammad Hatta (1945—1956)
Pengganti
Soeharto
Sebelum
PresidenRepublik Indonesia Serikat
Masa jabatan
27 Desember 1949 17 Agustus 1950
Perdana MenteriMohammad Hatta
Wakil PresidenMohammad Hatta
Sebelum
Pengganti
Dirinya sendiri
(sebagai Presiden Indonesia)
Perdana Menteri Indonesiake-12
Masa jabatan
9 Juli 1959 25 Juli 1966
Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesiake-5
Masa jabatan
1959–1966
Informasi pribadi
Lahir
Koesno Sosrodihardjo

(1901-06-06)6 Juni 1901
Surabaya,Jawa Timur,Hindia Belanda[2]
Meninggal21 Juni 1970(1970-06-21) (umur 69)
Jakarta, Indonesia
Sebab kematianGangguan ginjal
MakamBendogerit, Sananwetan, Blitar
8°05′05″S112°10′34″E /8.0846185°S 112.1761243°E /-8.0846185; 112.1761243
KewarganegaraanIndonesia
Partai politikPartai Nasional Indonesia (1927—1931)
Suami/istri
Anak
Daftar
Orang tua
Profesi
  • Insinyur
  • politikus
  • guru
Tanda tangan
IMDB: nm0837705Discogs: 5485119Find a Grave: 8538034Modifica els identificadors a Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info L B
Bantuan penggunaan templat ini
Artikel ini bagian dari
seri tentang
Soekarno

Presiden pertama Indonesia








Galeri: Gambar, Suara, Video
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Video luar
ArsipKonferensi Asia-Afrika diBandung
Konfrensi Asia Afrika oleh Humas Arsip Nasional RI.

Ir.Soekarno (Ejaan Republik:Sukarno;6 Juni 1901  21 Juni 1970),[d] dikenal juga dengan sapaanBung Karno, adalah seorang negarawan, orator, danPresiden Indonesia pertama yang menjabat sejak tahun 1945 sampai 1967. Ia menjabat sebagai presiden setelahmemproklamasikan kemerdekaan Indonesia bersama wakilnya,Mohammad Hatta.[7]:11,81[8]:26–32 Selain dikenal sebagai "Bapak Proklamator", Soekarno dikenal juga sebagai pencetusPancasila, dasar negara dan ideologibangsa Indonesia.[8][9]

Soekarno adalah pemimpin perjuanganIndonesia untuk meraih kemerdekaan daripenjajah Belanda. Ia adalah pemimpin terkemukagerakan nasionalis Indonesia selama masa kolonial dan menghabiskan lebih dari satu dekade di tahanan Belanda hingga dibebaskan olehpenjajahJepang dalamPerang Dunia II. Soekarno dan rekan-rekan nasionalisnya berkolaborasi dengan Jepang untuk mendapatkan dukungan bagi upaya perang Jepang dari penduduk, sebagai imbalan atas bantuan Jepang dalam menyebarkan ide-ide nasionalis. SetelahJepang menyerah, Soekarno danMohammad Hattamendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dan Sukarno diangkat menjadi presiden. Ia memimpinperlawanan Indonesia terhadap upaya penjajahan kembali Belanda melalui cara diplomatik dan militer hinggapengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Oleh karena itu, ia diberi gelar "Bapak Proklamasi."[10]

SetelahEra Demokrasi Liberal Indonesia atau demokrasi parlementer, Soekarno mendirikan sistem otokrasi yang disebut "Demokrasi Terpimpin" pada tahun 1959. Pada awal tahun 1960-an Soekarno memulai serangkaian kebijakan luar negeri yang agresif dengan tajukanti-imperialisme dan secara pribadi memperjuangkanGerakan Non-Blok. Perkembangan ini menyebabkan meningkatnya ketegangan dengan Barat dan hubungan yang lebih dekat denganUni Soviet. Setelah peristiwa seputarGerakan 30 September tahun 1965, jenderal militerSoeharto mengambil alih kendali negara dalampenggulingan pemerintah yang dipimpin Soekarno oleh militer yang didukung Barat. Hal ini diikuti oleh penindasan terhadap kaum kiri yang nyata dan yang dianggap beraliran kiri, termasukeksekusi terhadap anggota partai Komunis dan orang-orang yang diduga bersimpati pada beberapa pembantaian dengan dukungan dariCIA[11] danSIS,[12] mengakibatkan sekitar 500.000 hingga lebih dari 1.000.000 kematian.[13][14][15][16] Pada tahun 1967, Soeharto resmi memangku jabatan presiden, menggantikan Soekarno, yang tetap berada dalam tahanan rumah hingga meninggal pada tahun 1970.

Nama

Soekarno lahir diPeneleh,Surabaya,Jawa Timur dengan namaKusno (Koesno) yang diberikan oleh orangtuanya.[7] Akan tetapi, karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.[7][17]:35–36 Pengubahan nama karena sering sakit merupakan budaya Jawa, hal ini dianggap karena penerima nama diyakini "keberatan nama" yang dalam budaya Jawa dikenal dengan istilahkabotan jeneng.[18] Nama Soekarno diambil dari seorang panglima perang dalam kisahBharatayuddha yaituKarna.[7][17] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalambahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".[17]

Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda).[17]:32 Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalamTeks ProklamasiKemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun.[17]:32 Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulisAchmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?"[19] karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagianpenamaan di Indonesia, terutamanama Jawa, yang hanya menggunakansatu nama saja atau tidak memilikinama keluarga.

Soekarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji.[20] Dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Soekarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negaraArab.

Dalam bukuBung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia[21] dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang terdiri satu kata.

Kehidupan awal

Masa kecil dan remaja

Rumah masa kecil Bung Karno

Soekarno dilahirkan diSurabaya, tanggal 6 Juni 1901, dengan seorang ayah yang bernamaRadenSoekemi Sosrodihardjo (1873–1945) dan ibunya yaituIda Ayu Nyoman Rai (1881–1958).[7] Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan diSekolah Dasar Pribumi diSingaraja,Bali.[7] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragamaHindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragamaIslam.[7] Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir.[22]:4–6,247–251 Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya,RadenHardjokromo diTulung Agung,Jawa Timur.[7]

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah keMojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut.[7] Di Mojokerto, ayahnya memasukkan Soekarno keEerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.[22] Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan keEuropeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima diHogere Burger School (HBS).[7] Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur.[7] Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernamaH.O.S. Tjokroaminoto.[7] Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya.[7] Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpinSarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, sepertiAlimin,Musso,Darsono,Haji Agus Salim, danAbdul Muis.[7] Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemudaTri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dariBudi Utomo.[7] Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadiJong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.[7] Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.[22]

Soekarno sewaktu menjadi siswa HBS Soerabaja
Soekarno bersama mahasiswa pribumiTH Bandung tahun 1923. Baris belakang dari kiri ke kanan: M. Anwari,Soetedjo, Soetojo, Soekarno, R. Soemani, Soetono, R. M. Koesoemaningrat, Djokoasmo, Marsito. Duduk di depan: Soetoto, M. Hoedioro, Katamso.

TamatHBS Soerabaja bulan Juli 1921,[23] bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan keTechnische Hoogeschool te Bandoeng (sekarangITB) diBandung dengan mengambil jurusanteknik sipil pada tahun 1921,[3]:38 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali[3]:38 dan tamat pada tahun 1926.[24]Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan padaDies Natalis ke-6TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belasinsinyur lainnya.[3]:37 Prof.Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan"Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".[3]:37 Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo,[25]:167 selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.[25]:167

Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediamanHaji Sanusi yang merupakan anggotaSarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.[7] Di sana ia berinteraksi denganKi Hajar Dewantara,Tjipto Mangunkusumo, danDr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasiNational Indische Partij.

Silsilah keluarga

Silsilah keluarga
 
 
Raden Soekemi Sosrodihardjo
 
Ida Ayu Nyoman Rai
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Soekarno (1901-1970)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Oetari (menikah 1921;berpisah 1923)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Inggit Garnasih (menikah 1923)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatmawati (menikah 1943)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Guntur (l.1944)
 
Megawati (l.1947)
 
Rachmawati (l.1950)
 
Sukmawati (l.1952)
 
Guruh (l.1953)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hartini (menikah 1952)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Taufan (1951-1981)
 
Bayu (l.1958)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ratna (menikah 1962)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kartika (l.1967)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Haryati (menikah 1963)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ayu
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Yurike Sanger (menikah 1964)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kartini Manoppo
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Totok (l.1967)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Heldy Djafar (menikah 1966)
 
 
 
 

Perjuangan awal kemerdekaan

Informasi lebih lanjut:Politik Etis

Soekarno pertama kali mengenal ide-ide nasionalis saat hidup di bawah pemerintahanOemar Said Tjokroaminoto. Kemudian, ketika menjadi mahasiswa diBandung, ia membenamkan dirinya dalam filsafat politikEropa,Amerika, nasionalis,komunis, dan agama, yang pada akhirnya mengembangkan karyanya memiliki ideologi politik swasembada alasosialis Indonesia. Ia mulai menata ide-idenya sebagaiMarhaenisme, yang diambil dari nama Marhaen, seorang petani Indonesia yang ia temui di wilayah selatanBandung, yang memiliki sebidang tanah kecil dan menggarapnya sendiri, sehingga menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Di universitas, Soekarno mulai mengorganisasi klub belajar untuk mahasiswa Indonesia, Algemeene Studieclub, yang bertentangan dengan klub mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa Belanda.

Keterlibatan dalam Partai Nasional Indonesia

Pada tanggal 4 Juli 1927, Soekarno bersama teman-temannya dariAlgemeene Studieclub mendirikan partai pro-kemerdekaan,Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Soekarno terpilih sebagai pemimpin pertama. Partai ini menganjurkan kemerdekaan bagiIndonesia, dan menentangimperialisme dankapitalisme karena berpendapat bahwa kedua sistem tersebut memperburuk kehidupanrakyat Indonesia. Partai ini juga menganjurkansekularisme dan persatuan di antara berbagai etnis diHindia Belanda, untuk membentukIndonesia yang bersatu. Soekarno juga berharap bahwaJepang akan memulai perang melawankekuatan barat danJawa kemudian dapat memperoleh kemerdekaannya denganbantuan Jepang.PNI mulai menarik sejumlah besar pengikut, khususnya di kalangan pemuda lulusan universitas yang menginginkan kebebasan dan kesempatan yang lebih luas yang tidak diberikan kepada mereka dalam sistem politik kolonialisme Belanda yang rasis dan konstriktif. Hal ini terjadi segera setelah disintegrasiSarekat Islam pada awal tahun 1920-an dan hancurnyaPartai Komunis Indonesia setelahpemberontakan yang gagal pada tahun 1926.[26]

Penangkapan, persidangan, dan pemenjaraan

Penangkapan dan persidangan

Soekarno bersama rekan-rekan terdakwa dan pengacaranya pada saat persidangannya diBandung, 1930

KegiatanPNI menarik perhatian pemerintah kolonial, dan pidato serta pertemuan Soekarno sering kali disusupi dan diganggu oleh agen polisi rahasia kolonial (Politieke Inlichtingendienst). Akhirnya, Soekarno dan para pemimpin pentingPNI lainnya ditangkap pada tanggal 29 Desember 1929 oleh otoritas kolonial Belanda dalam serangkaian penggerebekan di seluruhJawa. Soekarno sendiri ditangkap saat sedang berkunjung keYogyakarta. Selama persidangannya di gedung pengadilan LandraadBandung dari bulan Agustus hingga Desember 1930, Soekarno menyampaikan serangkaian pidato politik panjang yang menyerang kolonialisme danimperialisme, bertajukIndonesia Menggoegat (Indonesia Accuses).[27]

Hukuman dan penjara

Pada bulan Desember 1930, Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara, yang dijalani di penjara Sukamiskin diBandung. Namun pidatonya mendapat liputan luas dari media, dan karena tekanan kuat dari unsur-unsur liberal diBelanda danHindia Belanda, Soekarno dibebaskan lebih awal pada tanggal 31 Desember 1931. Dengan ini Saat itu, ia telah menjadi pahlawan populer yang dikenal luas di seluruhIndonesia.

Namun, selama ia dipenjara,PNI terpecah belah akibat penindasan pemerintah kolonial dan pertikaian internal.PNI yang asli dibubarkan oleh Belanda, dan mantan anggotanya membentuk dua partai berbeda;Partai Indonesia (Partindo) di bawah rekan Soekarno,Sartono yang mempromosikan agitasi massa, dan Pendidikan Nasionalis Indonesia (PNI Baru) di bawahMohammad Hatta danSoetan Sjahrir, dua orang nasionalis yang baru saja kembali dari studi di Belanda, dan mempromosikan strategi jangka panjang dalam menyediakan pendidikan modern kepada masyarakat Indonesia yang tidak berpendidikan untuk mengembangkan elit intelektual yang mampu memberikan perlawanan efektif terhadap pemerintahan Belanda. Setelah berusaha mendamaikan kedua partai untuk membentuk satu front persatuan nasionalis, Soekarno memilih menjadi ketua Partindo pada tanggal 28 Juli 1932. Partindo tetap mempertahankan keselarasan dengan strategi agitasi massa langsung yang dilakukan Soekarno, dan Soekarno tidak setuju denganPerjuangan jangka panjang berbasis kader Hatta. Hatta sendiri meyakini kemerdekaan Indonesia tidak akan terjadi semasa hidupnya, sedangkan Soekarno meyakini strategi Hatta mengabaikan fakta bahwa politik hanya dapat melakukan perubahan nyata melalui pembentukan dan pemanfaatan kekuatan (machtsvorming en machtsaanwending).[26]

Selama periode ini, untuk menghidupi dirinya dan partai secara finansial, Soekarno kembali ke dunia arsitektur, membuka biro Soekarno & Roosseno bersama junior universitasnya,Roosseno. Dia juga menulis artikel untuk surat kabar partai,Fikiran Ra'jat (Pikiran Rakyat). Saat bermarkas diBandung, Soekarno sering bepergian ke seluruhJawa untuk menjalin kontak dengan kaum nasionalis lainnya. Aktivitasnya semakin menarik perhatianPID Belanda. Pada pertengahan tahun 1933, Soekarno menerbitkan serangkaian tulisan berjudul Mentjapai Indonesia Merdeka (“Mencapai Indonesia Merdeka”). Karena tulisan ini, ia ditangkap oleh polisi Belanda saat mengunjungi rekannasionalisnya,Mohammad Hoesni Thamrin diJakarta pada tanggal 1 Agustus 1933.

Diasingkan

Kali ini, untuk mencegah pemberian platform kepada Soekarno untuk menyampaikan pidato politik, gubernur jenderal garis kerasJonkheer,Bonifacius Cornelis de Jonge menggunakan kekuatan daruratnya untuk mengirim Soekarno ke pengasingan internal tanpa pengadilan. Pada tahun 1934, Soekarno dikapalkan bersama keluarganya (termasuk Inggit Garnasih), ke kota terpencilEnde, di pulauFlores. Selama berada di Flores, ia memanfaatkan kebebasan bergeraknya yang terbatas untuk mendirikan teater anak-anak. Di antara anggotanya adalah politisi masa depanFrans Seda. Karena wabah malaria di Flores, pemerintah Belanda memutuskan untuk memindahkan Soekarno dan keluarganya ke Bencoolen (sekarangBengkulu) dipantai barat Sumatra, pada bulan Februari 1938.

DiBengkulu, Soekarno berkenalan dengan Hassan Din, ketua organisasiMuhammadiyah setempat, dan dia diizinkan untuk mengajar agama di sekolah lokal milikMuhammadiyah. Salah satu muridnya adalahFatmawati yang berusia 15 tahun, putri Hassan Din. Ia menjalin hubungan asmara dengan Fatmawati, yang ia beralasan dengan menyatakan ketidakmampuan Inggit Garnasih menghasilkan anak selama hampir 20 tahun pernikahan mereka. Soekarno masih berada di pengasinganBengkulu ketika Jepangmenyerbukepulauan pada tahun 1942.

Perang Dunia II dan pendudukan Jepang

Informasi lebih lanjut:Pendudukan Jepang di Hindia Belanda

Pendudukan Jepang

Latar belakang dan invasi

Soekarno dirumah di pengasingan,Bengkulu

Pada awal tahun 1929, selamaKebangkitan Nasional Indonesia, Soekarno dan rekan pemimpin nasionalis IndonesiaMohammad Hatta (kemudianWakil Presiden), pertama kali meramalkan Perang Pasifik dan Perang Pasifik. peluang yang mungkin diberikan oleh kemajuan Jepang di Indonesia demi tujuan kemerdekaan Indonesia.[28] Pada bulan Februari 1942,Kekaisaran Jepang menginvasiHindia Belanda dengan cepat mengalahkan pasukan Belanda yang berbaris, mengangkut bus dan truk Soekarno dan rombongannya tiga ratus kilometer dariBengkulu kePadang,Sumatera Barat. Mereka bermaksud menahannya dan mengirimnya ke Australia namun tiba-tiba meninggalkannya untuk menyelamatkan diri ketikapasukan Jepang mendekat di Padang.[29]

Kerja sama dengan Jepang

Soekarno berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang,Hideki Tōjō pada November 1943.
Soekarno berjabat tangan dengan Direktur Dalam Negeri Jepang untuk pendudukanHindia Belanda, JendralMoichiri Yamamoto, September 1944

Jepang mempunyai arsip mereka sendiri mengenai Soekarno. Pada 18 Maret 1942, Soekarno memenuhi undangan komandan Jepang diSumatera Kolonel Fujiyama diBukittingi. yang ingin memanfaatkannya untuk mengorganisir dan menenangkan rakyat Indonesia. Soekarno menyanggupi, dan sebaliknya, ingin memanfaatkan Jepang untuk memperoleh kemerdekaan bagi Indonesia: "Terpujilah Tuhan, Tuhan menunjukkan kepadaku jalannya; di lembahNgarai (Sianok) itu aku berkata: Ya, Indonesia Merdeka hanya bisa dicapai dengan Dai Nippon ... Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku melihat diriku di cermin Asia."[30] Pada bulan Juli 1942, Soekarno tiba diJakarta dan ia bersatu kembali dengan para pemimpin nasionalis lainnya yang baru-baru ini dibebaskan oleh Jepang, termasukMohammad Hatta. Di sana, ia bertemu dengan Panglima Jepang JenderalHitoshi Imamura, yang meminta Soekarno dan kaum nasionalis lainnya untuk menggalang dukungan dari masyarakat Indonesia untukmembantu upaya perang Jepang.

Soekarno bersedia mendukung Jepang, dengan imbalan platform bagi dirinya untuk menyebarkan ide-ide nasionalis kepada masyarakat luas.[31][32] Sebaliknya Jepang membutuhkan tenaga kerja dan sumber daya alam Indonesia untuk membantu upaya perangnya. Jepang merekrut jutaan orang, terutama dariJawa, untuk melakukan kerja paksaromusha. Mereka terpaksa membangun rel kereta api, lapangan terbang, dan fasilitas lainnya untuk Jepang diIndonesia hinggaBurma. Selain itu, Jepang memintaberas dan makanan lain yang diproduksi oleh petani Indonesia untuk memasok pasukan mereka, sekaligus memaksa petani untuk menanam tanamanminyak jarak untuk digunakan sebagai bahan bakar dan pelumas penerbangan.[33][34][35]

Untuk mendapatkan kerja sama dari penduduk Indonesia dan untuk mencegah perlawanan terhadap tindakan tersebut, Jepang menempatkan Soekarno sebagai ketuagerakan propaganda organisasi massa 3A Jepang (Tiga-A). Pada bulan Maret 1943, Jepang membentuk organisasi baru bernamaPoesat Tenaga Rakjat (POETERA) di bawah Soekarno,Hatta,Ki Hadjar Dewantara, danKH Mas Mansjoer. Organisasi-organisasi ini bertujuan untuk menggalang dukungan rakyat terhadap perekrutanromusha, permintaan produk makanan, dan untuk mempromosikan sentimen pro-Jepang dananti-Barat di kalangan masyarakat Indonesia. Soekarno yang menciptakan istilahAmerika kita setrika, Inggris kita linggis untuk mempromosikan sentimen anti-Sekutu. Pada tahun-tahun berikutnya, Soekarno merasa malu atas perannya dalam pemerintahanromusha. Selain itu, permintaan makanan oleh Jepang menyebabkan kelaparan yang meluas diJawa, yang menewaskan lebih dari satu juta orang pada tahun 1944–1945. Menurutnya, hal ini merupakan pengorbanan yang perlu dilakukan demi kemerdekaan Indonesia di masa depan.[31][32] Ia juga terlibat dalam pembentukanPembela Tanah Air (PETA) danHeiho (Pasukan Tentara Relawan Indonesia) melalui pidato-pidato yang disiarkan di radio Jepang dan jaringan pengeras suara di seluruh Pulau Jawa dan Sumatera. Pada pertengahan tahun 1945, unit-unit ini berjumlah sekitar dua juta dan bersiap untuk mengalahkanPasukan Sekutu yang dikirim untuk merebut kembaliJawa.

laporanABC tahun 1966 yang meneliti aliansi Soekarno antara Kekaisaran Jepang dan gerakan nasionalis Indonesia

Sementara itu, Soekarno akhirnya menceraikan Inggit yang menolak keinginan suaminya untuk berpoligami. Dia diberi rumah diBandung dan uang pensiun seumur hidupnya. Pada tahun 1943, ia menikah denganFatmawati. Mereka tinggal di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, yang disita dari pemilik Belanda sebelumnya dan diberikan kepada Soekarno oleh Jepang. Rumah ini nantinya menjadi tempat berlangsungnyaProklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Pada tanggal 10 November 1943, Soekarno danHatta dikirim dalam tur 17 hari di Jepang, di mana mereka diberi penghargaan oleh KaisarHirohito dan minum anggur serta makan malam di rumah Perdana MenteriHideki Tojo diTokyo. Pada tanggal 7 September 1944, ketikaperang tidak menguntungkan Jepang,Perdana Menteri Kuniaki Koiso menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia, meskipun tanggalnya belum ditentukan.[36] Pengumuman ini, menurut sejarah resmi AS, dipandang sebagai pembenaran besar atas kolaborasi Soekarno dengan Jepang.[37] AS pada saat itu menganggap Soekarno sebagai salah satu "pemimpin kolaborator terkemuka."[38]

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan

Soekarno saat berkunjung keMakassar, 30 April 1945

Pada tanggal 29 April 1945, ketikaFilipina dibebaskan oleh pasukan Amerika, Jepang mengizinkan pembentukanBadan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah kuasi legislatif yang terdiri dari 67 perwakilan dari sebagian besar kelompok etnis di Indonesia. Soekarno diangkat sebagai ketua BPUPKI dan ditugaskan memimpin pembahasan untuk mempersiapkan dasar negara Indonesia masa depan. Untuk memberikan platform yang umum dan dapat diterima untuk menyatukan berbagai faksi yang berselisih di BPUPKI, Soekarno merumuskan pemikiran ideologisnya yang dikembangkan selama dua puluh tahun sebelumnya ke dalam lima prinsip. Pada tanggal 1 Juni 1945, ia memperkenalkan seperangkat lima prinsip, yang dikenal sebagaiPancasila, dalam sidang gabungan BPUPKI yang diadakan di bekasGedung Volksraad (sekarang disebutGedung Pancasila).

Pancasila, seperti yang disampaikan Soekarno dalam pidatoBPUPKI, terdiri dari lima prinsip yang menurut Soekarno umum dianut oleh seluruh rakyat Indonesia:[39]

  1. Nasionalisme, di mana negara kesatuan Indonesia akan terbentang dariSabang sampaiMerauke, meliputi seluruh bekasHindia Belanda.
  2. Internasionalisme, artinya Indonesia harus menghargai hak asasi manusia dan berkontribusi terhadap perdamaian dunia, serta tidak boleh terjerumus ke dalam fasisme chauvinistik seperti yang dilakukan olehJerman Nazi yang meyakini superioritas rasArya
  3. Demokrasi, yang diyakini Soekarno selalu ada dalam darah bangsa Indonesia melalui praktik musyawarah untuk muafakat, sebuah demokrasi ala Indonesia yang berbeda dengan liberalisme ala Barat.
  4. Keadilan sosial, suatu bentuk sosialisme populis di bidang ekonomi dengan oposisi gaya Marxis terhadap kapitalisme bebas. Keadilan sosial juga dimaksudkan untuk memberikan pemerataan perekonomian bagi seluruh rakyat Indonesia, dibandingkan dengan dominasi ekonomi penuh oleh Belanda dan Tiongkok pada masa kolonial.
  5. Ketuhanan, dimana semua agama diperlakukan sama dan mempunyai kebebasan beragama. Soekarno memandang masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang spiritual dan religius, namun pada hakikatnya toleran terhadap perbedaan keyakinan agama.

Pada tanggal 22 Juni, unsur-unsur Islam dan nasionalis dariBPUPKI membentuk sebuah panitia kecil beranggotakan sembilan orang (Panitia Sembilan), yang merumuskan Gagasan Soekarno ke dalam lima butirPancasila, dalam sebuah dokumen yang dikenal dengan namaPiagam Jakarta:[40]

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islambbagi para pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab'
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam musyawarah perwakilan
  5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

Karena adanya tekanan dari unsur Islam, maka sila pertama menyebutkan kewajiban umat Islam untuk mengamalkan syariat Islam (syariah). Namun Sila final sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 yang mulai berlaku pada tanggal 18 Agustus 1945, tidak mengacu pada hukum Islam demi persatuan bangsa. Penghapusansyariah dilakukan olehMohammad Hatta berdasarkan permintaan perwakilan KristenAlexander Andries Maramis, dan setelah berkonsultasi dengan perwakilan Islam moderat Teuku Mohammad Hassan, Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo.[41]

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang mengizinkan pembentukan badan yang lebih kecil,Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sebuah komite beranggotakan 21 orang yang bertugas menciptakan struktur pemerintahan khusus untuk negara Indonesia masa depan. Pada tanggal 9 Agustus, pimpinan tertinggiPPKI (Soekarno,Hatta, danKRT Radjiman Wediodiningrat), dipanggil oleh Panglima Pasukan Ekspedisi Selatan Jepang, Marsekal LapanganHisaichi Terauchi, keDa Lat, 100 km dariSaigon. Marsekal Lapangan Terauchi memberikan kebebasan kepada Soekarno untuk melanjutkan persiapan kemerdekaan Indonesia, bebas dari campur tangan Jepang. Setelah minum dan makan, rombongan Soekarno diterbangkan kembali ke Jakarta pada 14 Agustus. Tanpa sepengetahuan para tamu,bom atom telah dijatuhkan diHiroshima danNagasaki, dan Jepang sedang mempersiapkanpenyerahan.

Penyerahan Jepang

Keesokan harinya, pada tanggal 15 Agustus, Jepang menyatakan penerimaan mereka terhadap persyaratanDeklarasi Potsdam dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Sore hari itu, Soekarno menerima informasi ini dari para pemimpin kelompok pemuda dan anggota PETAChairul Saleh,Soekarni, danWikana, yang telah mendengarkan siaran radio Barat. Mereka mendesak agar Soekarno segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, saat Jepang sedang kebingungan dan sebelum kedatangan pasukan Sekutu. Menghadapi pergantian peristiwa yang cepat ini, Soekarno menunda-nunda. Dia takut akan pertumpahan darah karena tanggapan bermusuhan dari Jepang terhadap tindakan tersebut dan prihatin dengan kemungkinan pembalasan Sekutu di masa depan.

Penculikan ke Rengasdengklok

Pada dini hari tanggal 16 Agustus, ketiga pemimpin pemuda tersebut, karena tidak sabar dengan keragu-raguan Soekarno, menculiknya dari rumahnya dan membawanya ke sebuah rumah kecil diRengasdengklok,Karawang, milik sebuah keluarga Tionghoa dan ditempati oleh PETA. Di sana mereka memperoleh komitmen Soekarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan keesokan harinya. Malamnya, para pemuda mengantar Soekarno kembali ke rumah LaksamanaTadashi Maeda, perwira penghubung angkatan laut Jepang di kawasanMenteng Jakarta, yang bersimpati dengan kemerdekaan Indonesia. Di sana, ia dan asistennya Sajoeti Melik menyiapkan teksProklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Revolusi Nasional (1945–1949)

Lihat pula:Revolusi Nasional Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Soekarno didampingi Mohammad Hatta (kanan), memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dini hari tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno kembali ke rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, di manaMohammad Hatta bergabung dengannya. Sepanjang pagi, selebaran dadakan yang dicetak oleh PETA dan golongan pemuda menginformasikan kepada masyarakat bahwa proklamasi akan segera dilakukan. Akhirnya pada pukul 10 pagi, Soekarno dan Hatta melangkah ke teras depan, tempat Soekarno mendeklarasikankemerdekaan Republik Indonesia di hadapan 500 orang massa. Bangunan paling bersejarah ini kemudian diperintahkan untuk dibongkar oleh Soekarno sendiri, tanpa alasan yang jelas.[42]

Keesokan harinya, tanggal 18 Agustus, PPKI mendeklarasikan susunan dasar pemerintahan Negara Republik Indonesia yang baru:

  1. Mengangkat Soekarno danMohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden serta kabinetnya.
  2. MemberlakukanUUD Indonesia Tahun 1945, yang pada saat itu tidak menyertakan referensi apapun terhadap hukum Islam.
  3. MembentukKomite Nasional Indonesia Pusat (Komite Nasional Indonesia Poesat/KNIP) untuk membantu presiden sebelum pemilihan parlemen.

Visi Soekarno terhadap UUD Indonesia tahun 1945 terdiri dariPancasila. Filsafat politik Soekarno pada dasarnya merupakan perpaduan unsur-unsurMarxisme,nasionalisme danIslam. Hal ini tercermin dalam usulan Pancasila versinya yang diajukannya kepada BPUPKI dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.[41]

Soekarno berpendapat, seluruh prinsip bangsa dapat terangkum dalam ungkapangotong royong.[43] Parlemen Indonesia, yang didirikan berdasarkan konstitusi asli (dan kemudian direvisi), terbukti tidak dapat diatur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan yang tidak dapat didamaikan antara berbagai faksi sosial, politik, agama dan etnis.[44]

Revolusi dan Masa Bersiap

Lihat pula:Masa Bersiap

Pada hari-hari setelah proklamasi, berita kemerdekaan Indonesia disebarkan melalui radio, surat kabar, selebaran, dan dari mulut ke mulut meskipun ada upaya dari tentara Jepang untuk meredam berita tersebut. Pada tanggal 19 September, Soekarno berpidato di hadapan satu juta orang di Lapangan Ikada Jakarta (sekarang bagian dariLapangan Merdeka) untuk memperingati satu bulan kemerdekaan, yang menunjukkan tingginya tingkat dukungan rakyat terhadap Republik baru, setidaknya di Jawa dan Sumatra. Di kedua pulau ini, pemerintahan Soekarno dengan cepat membangun kendali pemerintahan sementara sebagian besar tentara Jepang yang tersisa mundur ke barak mereka menunggu kedatangan pasukan Sekutu. Periode ini ditandai dengan serangan terus menerus oleh kelompok bersenjata pribumi terhadap orang-orang Eropa, Tionghoa, Kristen, bangsawan pribumi dan siapa saja yang mereka anggap menentang kemerdekaan Indonesia.[45][46] Kasus yang paling serius adalah Revolusi Sosial diAceh danSumatera Utara, di mana sejumlah besar bangsawan Aceh dan Melayu dibunuh oleh kelompok Islam (di Aceh) dan massa yang dipimpin komunis (di Sumatera Utara), dan "Perselingkuhan Tiga Wilayah" di pantai barat lautJawa Tengah di mana sejumlah besar bangsawan Eropa, Tionghoa, dan pribumi dibantai oleh massa. Insiden berdarah ini berlanjut hingga akhir tahun 1945 hingga awal tahun 1946, dan mulai mereda ketika otoritas Partai Republik mulai mengerahkan dan mengkonsolidasi kendali.[47]

Soekarno setelah pertemuannya dengan Perdana MenteriSutan Sjahrir, 15 November 1946.

Pemerintahan Soekarno awalnya menunda pembentukan tentara nasional, karena takut akan perlawanan terhadap pasukan pendudukan Sekutu dan keraguan mereka mengenai apakah mereka mampu membentuk aparat militer yang memadai untuk mempertahankan kendali atas wilayah yang direbut. Anggota berbagai kelompokmilisi yang terbentuk pada masa pendudukan Jepang sepertiPETA danHeiho yang dibubarkan, pada saat itu didorong untuk bergabung denganBadan Keamanan Rakyat (BKR). Baru pada bulan Oktober 1945 BKR direformasi menjadiTentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai respons terhadap meningkatnya kehadiran Sekutu dan Belanda di Indonesia. TKR sebagian besar mempersenjatai diri dengan menyerang pasukan Jepang dan menyita senjata mereka.

Karena pemindahan tiba-tiba Jawa dan Sumatra dari Komando Pasifik Barat Daya pimpinan JenderalDouglas MacArthur yang dikuasai Amerika ke Komando Asia Tenggara pimpinanLord Louis Mountbatten yang dikuasai Inggris, tentara Sekutu pertama (Batalion 1 Seaforth Highlanders) baru tiba di Jakarta pada akhir September 1945. Pasukan Inggris mulai menduduki kota-kota besar di Indonesia pada bulan Oktober 1945. Komandan Divisi 23 Inggris, Letnan Jenderal SirPhilip Christison, mengatur komando di bekas istana gubernur jenderal di Jakarta. Christison menyatakan bahwa ia bermaksud untuk membebaskan seluruh tawanan perang Sekutu dan memungkinkan kembalinya Indonesia ke status sebelum perang, yaitu sebagai koloni Belanda. Pemerintah Republik bersedia bekerja sama dalam pembebasan dan pemulangan tawanan perang sipil dan militer Sekutu, dengan membentukPanitia Oeroesan Pengangkoetan Djepang (POPDA) untuk tujuan ini. POPDA, bekerja sama dengan Inggris, memulangkan lebih dari 70.000 tawanan perang dan interniran Jepang dan Sekutu pada akhir tahun 1946. Namun, karena kelemahan militer Republik Indonesia, Soekarno mencari kemerdekaan dengan mendapatkan pengakuan internasional atas negara barunya daripada terlibat dalam pertempuran dengan pasukan militer Inggris dan Belanda.

Soekarno sadar bahwa masa lalunya sebagaikolaborator Jepang dan kepemimpinannya diPutera yang disetujui Jepang pada masa pendudukan akan membuat negara-negara Barat tidak mempercayainya. Untuk membantu mendapatkan pengakuan internasional serta untuk mengakomodasi tuntutan dalam negeri akan keterwakilan, Soekarno "mengizinkan" pembentukan sistem pemerintahan parlementer, di mana seorangperdana menteri mengendalikan urusan sehari-hari pemerintahan, sedangkan Soekarno sebagai presiden tetap menjadi tokoh boneka. Perdana menteri dan kabinetnya akan bertanggung jawab kepadaKomite Nasional Indonesia Pusat dan bukan kepada presiden. Pada tanggal 14 November 1945, Soekarno mengangkatSutan Sjahrir sebagai perdana menteri pertama; dia adalah seorang politikus lulusan Eropa yang tidak pernah terlibat dengan otoritas pendudukan Jepang.

Pada akhir tahun 1945, para administrator Belanda yang memimpin pemerintahan di pengasingan Hindia Belanda dan tentara yang pernah melawan Jepang mulai kembali dengan nama Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA), dengan perlindungan Inggris. Mereka dipimpin olehHubertus Johannes van Mook, seorang administrator kolonial yang telah mengungsi keBrisbane, Australia. Tentara Belanda yang pernah menjadi tawanan perang di bawah pemerintahan Jepang dibebaskan dan dipersenjatai kembali. Baku tembak antara tentara Belanda dan polisi pendukung pemerintahan Republik yang baru segera terjadi. Hal ini segera meningkat menjadi konflik bersenjata antara pasukan Republik yang baru dibentuk yang dibantu oleh sejumlah massa pro-kemerdekaan dan pasukan Belanda dan Inggris. Pada tanggal 10 November,pertempuran skala penuh pecah diSurabaya antara Brigade Infanteri ke-49 dariAngkatan Darat India Britania dan milisi nasionalis Indonesia. Pasukan Inggris-India didukung oleh angkatan udara dan angkatan laut. Sekitar 300 tentara India terbunuh (termasuk komandan mereka BrigadirAubertin Walter Sothern Mallaby), begitu pula ribuan anggota milisi nasionalis dan warga Indonesia lainnya. Baku tembak terjadi dengan frekuensi yang mengkhawatirkan diJakarta, termasuk percobaan pembunuhan Perdana Menteri Sjahrir oleh orang-orang bersenjata Belanda. Untuk menghindari ancaman ini, Soekarno dan sebagian besar pemerintahannya berangkat keYogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946. Di sana, pemerintah Republik mendapat perlindungan dan dukungan penuh dari Sultan Yogyakarta,Hamengkubuwono IX. Yogyakarta akan tetap menjadi ibu kota Republik hingga akhir perang pada tahun 1949. Sjahrir tetap di Jakarta untuk melakukan perundingan dengan Inggris.[48]

Rangkaian awal pertempuran pada akhir tahun 1945 dan awal tahun 1946 membuat Inggris menguasai kota-kota pelabuhan besar di Jawa dan Sumatra. Pada masa pendudukan Jepang, pulau-pulau terluar (tidak termasuk Jawa dan Sumatra) diduduki oleh Angkatan Laut Jepang (Kaigun), yang tidak mengizinkan mobilisasi politik penduduk pulau. Akibatnya, hanya ada sedikit aktivitas Partai Republik di kepulauan ini pasca proklamasi. Pasukan Australia dan Belanda dapat dengan cepat menguasai pulau-pulau ini tanpa banyak pertempuran pada akhir tahun 1945 (tidak termasuk perlawananI Gusti Ngurah Rai di Bali, pemberontakan diSulawesi Selatan, dan pertempuran di wilayah Hulu SungaiKalimantan Selatan). Sementara itu, wilayah pedalaman di Jawa dan Sumatra tetap berada di bawah kendali Partai Republik.

Karena ingin menarik tentaranya keluar dari Indonesia, Inggris mengizinkan masuknya pasukan Belanda dalam jumlah besar ke Indonesia sepanjang tahun 1946. Pada bulan November 1946, semua tentara Inggris telah ditarik dari Indonesia. Mereka digantikan dengan lebih dari 150.000 tentara Belanda. Inggris mengirimkan LordArchibald Clark Kerr, 1st Baron Inverchapel danMiles Lampson, 1st Baron Killearn untuk membawa Belanda dan Indonesia ke meja perundingan. Hasil perundingan tersebut adalahPerjanjian Linggadjati yang ditandatangani pada bulan November 1946, di mana Belanda mengakuide facto kedaulatan Republik atas Jawa, Sumatera, dan Madura. Sebagai imbalannya, Partai Republik bersedia membahas masa depan Kerajaan Inggris, Belanda dan Indonesia yang mirip Persemakmuran.

Perjanjian Linggadjati dan Agresi Militer Belanda I

Perjanjian Linggadjati

Soekarno pada tahun 1947.
Soekarno berpidato di depan KNIP (parlemen) diMalang, Maret 1947.

Keputusan Soekarno untuk berunding dengan Belanda mendapat tentangan keras dari berbagai faksi di Indonesia.Tan Malaka, seorang politisikomunis, mengorganisir kelompok-kelompok ini menjadi sebuah front persatuan yang disebut Persatoean Perdjoangan (PP). PP menawarkan "Program Minimum" yang menyerukan kemerdekaan penuh, nasionalisasi seluruh properti asing, dan penolakan semua perundingan hingga seluruh pasukan asing ditarik. Program-program ini mendapat dukungan luas dari masyarakat, termasuk dari Panglima Angkatan Bersenjata Republik, JenderalSoedirman. Pada tanggal 4 Juli 1946, satuan militer yang terkait dengan PP menculik Perdana Menteri Sjahrir yang sedang berkunjungYogyakarta untuk memimpin perundingan dengan Belanda. Soekarno, setelah berhasil mempengaruhiSoedirman, berhasil mengamankan pembebasan Sjahrir dan menangkapTan Malaka serta para pemimpin PP lainnya. Ketidaksetujuan terhadap masa jabatan Linggadjati dalamKNIP menyebabkan Soekarno mengeluarkan dekrit yang menggandakan keanggotaan KNIP dengan memasukkan banyak anggota yang ditunjuk pro-perjanjian. Sebagai konsekuensinya, KNIP meratifikasiPerjanjian Linggadjati pada bulan Maret 1947.[49]

Agresi Militer Belanda I

Pada tanggal 21 Juli 1947,Perjanjian Linggadjati dilanggar oleh Belanda, yang melancarkanOperatie Product, sebuah invasi militer besar-besaran ke wilayah yang dikuasai Republik. MeskipunTNI yang baru dibentuk tidak mampu memberikan perlawanan militer yang signifikan, namun pelanggaran terang-terangan yang dilakukan Belanda terhadap perjanjian yang ditengahi secara internasional membuat marah opini dunia. Tekanan internasional memaksa Belanda menghentikan pasukan invasi mereka pada bulan Agustus 1947. Sjahrir, yang jabatan perdana menterinya digantikan olehAmir Sjarifuddin, terbang keNew York City untuk mengajukan banding atas kasus Indonesia di hadapanPBB. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera dan menunjuk Komite Jasa Baik (GOC) untuk mengawasi gencatan senjata tersebut. GOC yang berkedudukan di Jakarta terdiri dari delegasi Australia (dipimpin olehRichard Kirby, dipilih oleh Indonesia), Belgia (dipimpin olehPaul van Zeeland, dipilih oleh Belanda), dan Amerika Serikat (dipimpin olehFrank Porter Graham, netral).

Republik kini berada di bawah cengkeraman kuat militer Belanda, dengan militer Belanda mendudukiJawa Barat, dan pantai utaraJawa Tengah danJawa Timur, serta wilayah produktif utamaSumatra. Selain itu, angkatan laut Belanda memblokade wilayah Republik dari pasokan makanan penting, obat-obatan, dan senjata. Akibatnya, Perdana MenteriAmir Sjarifuddin tidak punya pilihan selain menandatanganiPerjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948, yang mengakui kendali Belanda atas wilayah yang diambil selama Agresi Militer, sementara Partai Republik berjanji untuk menarik semua kekuatan yang tersisa di sisi lain garis gencatan senjata (“Garis Van Mook”). Sementara itu, Belanda mulai mengorganisirnegara boneka di wilayah-wilayah yang didudukinya, untuk melawan pengaruh Republik dengan memanfaatkan keragaman etnis di Indonesia.

Perjanjian Renville dan Pemberontakan Madiun

Penandatanganan Perjanjian Renville yang sangat merugikan menyebabkan ketidakstabilan yang lebih besar dalam struktur politik Partai Republik. Di Jawa Barat yang diduduki Belanda, gerilyawanDarul Islam di bawahSekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mempertahankan perlawanan anti-Belanda dan mencabut kesetiaan apa pun kepada Republik; mereka menyebabkan pemberontakan berdarah di Jawa Barat dan daerah lain pada dekade pertama kemerdekaan. Perdana MenteriSjarifuddin yang menandatangani perjanjian tersebut terpaksa mengundurkan diri pada bulan Januari 1948 dan digantikan olehMohammad Hatta. Kebijakan kabinet Hatta yang merasionalisasi angkatan bersenjata dengan mendemobilisasi sejumlah besar kelompok bersenjata yang berkembang biak di wilayah Republik juga menimbulkan ketidakpuasan yang parah. Elemen politik sayap kiri, yang dipimpin oleh kebangkitan kembaliPartai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinanMusso mengambil keuntungan dari ketidakpuasan masyarakat dengan melancarkan pemberontakan diMadiun,Jawa Timur, pada tanggal 18 September 1948. Pertempuran berdarah berlanjut pada akhir September hingga akhir Oktober 1948, ketika kelompok komunis terakhir dikalahkan, dan Musso ditembak mati.

Operasi Kraai dan pengasingan

Invasi dan pengasingan

Soekarno dan Menteri Luar NegeriAgus Salim dalam tahanan Belanda diParapat 1949.

Pada tanggal 19 Desember 1948, untuk mengambil keuntungan dari lemahnya posisi Republik setelah pemberontakan komunis, Belanda melancarkanOperatie Kraai, invasi militer kedua yang dirancang untuk menghancurkan Republik untuk selamanya. Invasi dimulai dengan serangan udara terhadap ibu kota RepublikYogyakarta. Soekarno memerintahkan angkatan bersenjata di bawah pimpinan JenderalSoedirman untuk melancarkan kampanye gerilya di pedesaan, sementara ia dan para pemimpin penting lainnya seperti Hatta danSjahrir membiarkan diri mereka ditawan oleh Belanda. Untuk menjamin kelangsungan pemerintahan, Soekarno mengirimkan telegram kepadaSjafruddin Prawiranegara, yang memberinya mandat untuk memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), berdasarkan daerah pedalamanSumatera Barat yang belum diduduki, posisi tersebut dipegang oleh Sjafruddin sampai Soekarno dibebaskan pada bulan Juni 1949. Belanda mengirim Soekarno dan para pemimpin Republik lainnya yang ditangkap ke Parapat, di bagianSumatera Utara yang diduduki Belanda dan kemudian ke pulauBangka.

Akibat

Kembalinya Soekarno ke Yogyakarta pada bulan Juni 1949.

Invasi Belanda yang kedua menyebabkan kemarahan internasional yang lebih besar lagi.Amerika Serikat, yang terkesan dengan kemampuan Indonesia mengalahkan tantangan komunis tahun 1948 tanpa bantuan dari luar, mengancam akan memotong danaMarshall Aid ke Belanda jika operasi militer di Indonesia terus berlanjut. TNI tidak terpecah belah dan terus melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda, terutama penyerangan ke Yogyakarta yang dikuasai Belanda yang dipimpin olehLetnan KolonelSoeharto pada tanggal 1 Maret 1949. Akibatnya, Belanda terpaksa menandatanganiPerjanjian Roem-Roijen pada tanggal 7 Mei 1949. Berdasarkan perjanjian ini, Belanda melepaskan kepemimpinan Partai Republik dan mengembalikan wilayah sekitarYogyakarta ke dalam kendali Partai Republik pada bulan Juni 1949. Hal ini disusul denganKonferensi Meja Bundar yang diadakan diDen Haag yang berujung pada penyerahan penuhkedaulatan oleh RatuJuliana dari Belanda ke Indonesia, pada 27 Desember 1949. Pada hari itu, Soekarno terbang dari Yogyakarta keJakarta, menyampaikan pidato kemenangan di tangga istana gubernur jenderal yang kemudian berganti nama menjadiIstana Merdeka.

Presiden Republik Indonesia Serikat

Soekarno (kanan) bersamaJohn Foster Dulles (kiri) danRichard Nixon (tengah) pada tahun 1956
Soekarno dan Nixon pada tahun 1956
Cuplikan berita pelantikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia Serikat, 1946.

Sebagai bagian dari kompromi dengan Belanda, Indonesia mengadopsikonstitusi federal baru yang menjadikan negara ini negara federal yang disebutRepublik Indonesia Serikat (RIS), terdiri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang perbatasannya ditentukan oleh "Garis Van Mook", beserta enam negara bagian dan sembilan wilayah otonom yang dibuat oleh Belanda.[50] Selama paruh pertama tahun 1950, negara-negara ini secara bertahap membubarkan diri seiring dengan ditariknya militer Belanda yang sebelumnya menopang mereka. Pada bulan Agustus 1950, dengan pembubaran negara terakhir,Negara Indonesia Timur, Soekarno mendeklarasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkanUUD Sementara 1950 yang baru saja dirumuskan.[51]

Era Demokrasi Liberal (1950–1959)

Artikel utama:Era Demokrasi Liberal (1950–1959)
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta dalam upacara pembukaanPekan Olahraga Nasional II pada tahun 1951.
Sukarno disambut oleh anak-anak dan warga Surabaya saat kedatangannya diStasiun Surabaya Gubeng, 22 Mei 1952

Baik Konstitusi Federal tahun 1949 maupun Konstitusi Sementara tahun 1950 bersifat parlementer, di mana otoritas eksekutif berada di tangan perdana menteri, dan yang, di atas kertas, membatasi kekuasaan presiden. Akan tetapi, bahkan dengan perannya yang secara formal dikurangi, ia memegang banyakotoritas moral sebagaiBapak Bangsa.

Ketidakstabilan dan pemberontakan

Tahun-tahun pertama demokrasi parlementer terbukti sangat tidak stabil bagi Indonesia. Kabinet berganti secara cepat karena perbedaan tajam antara berbagai partai politik dalamDPR yang baru dibentuk. Terjadi pertentangan pendapat yang serius mengenai arah masa depan negara Indonesia, antara kaum nasionalis yang menginginkannegara sekuler (dipimpin olehPNI, yang pertama kali didirikan oleh Soekarno), kaum Islamis yang menginginkannegara Islam (dipimpin olehPartai Masyumi), dan kaum komunis yang menginginkannegara komunis (dipimpin oleh PKI, yang baru pada tahun 1951 diperbolehkan beroperasi lagi). Di bidang ekonomi, ada ketidakpuasan yang parah terhadap berlanjutnya dominasi ekonomi oleh perusahaan-perusahaan besar Belanda dan etnis Tionghoa.

Pemberontakan Darul Islam

PemberontakDarul Islam di bawahKartosoewirjo di Jawa Barat menolak mengakui otoritas Soekarno dan mendeklarasikanNegara Islam Indonesia (NII) pada bulan Agustus 1949. Pemberontakan yang mendukung Darul Islam juga pecah di Sulawesi Selatan pada tahun 1951, dan di Aceh pada tahun 1953. Sementara itu, anggota pro-federalis dariKNIL yang dibubarkan melancarkan pemberontakan yang gagal di Bandung (pemberontakan APRA tahun 1950), diMakassar tahun 1950, dan di Ambon (pemberontakanRepublik Maluku Selatan tahun 1950).[52]

Perpecahan dalam militer

Soekarno berbicara kepada para pengunjuk rasa, 20 Oktober 1952

Selain itu, militer terpecah oleh permusuhan antara perwira yang berasal dari KNIL era kolonial, yang menginginkan militer profesional yang kecil dan elit, dan mayoritas prajurit yang memulai karier mereka di PETA bentukan Jepang, yang takut diberhentikan dan lebih dikenal karena semangat nasionalisnya daripada profesionalisme.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, pimpinan bekas faksi KNIL, yakni Kepala Staf Angkatan Darat KolonelAbdul Haris Nasution dan Kepala Staf Angkatan PerangTahi Bonar Simatupang mengerahkan pasukannya dalam unjuk kekuatan. Memprotes upaya DPR untuk mencampuri urusan militer atas nama bekas faksi PETA di militer, Nasution dan Simatupang memerintahkan pasukannya untuk mengepung Istana Merdeka dan mengarahkan menara tank mereka ke gedung tersebut. Tuntutan mereka terhadap Soekarno adalah agar DPR saat ini dibubarkan. Atas dasar itu, Nasution dan Simatupang juga memobilisasi pengunjuk rasa sipil. Soekarno keluar dari istana dan meyakinkan para prajurit dan warga sipil untuk pulang. Nasution dan Simatupang kemudian diberhentikan. Namun, Nasution diangkat kembali sebagai Panglima Angkatan Darat setelah berdamai dengan Soekarno pada tahun 1955.

Pemilihan legislatif

Soekarno memberikan suaranya pada pemilu 1955

Pemilihan umum 1955 menghasilkan sebuahparlemen dan sebuahmajelis konstitusi yang baru. Hasil pemilu menunjukkan dukungan yang sama terhadap kekuatan antagonis dari partai PNI, Masyumi,Nahdlatul Ulama, dan PKI. Tanpa adanya fraksi yang menguasai mayoritas yang jelas, ketidakstabilan politik dalam negeri terus berlanjut. Pembicaraan di Majelis Konstitusi untuk menulis konstitusi baru menemui jalan buntu mengenai masalah apakah akan memasukkan hukum Islam.

Soekarno mulai membenci posisi presiden bonekanya dan meningkatnya kekacauan dalam kehidupan politik negara. Dengan menyatakan bahwa demokrasi parlementer ala Barat tidak cocok untuk Indonesia, ia menyerukan sistem "demokrasi terpimpin," yang menurutnya didasarkan pada prinsip-prinsip pemerintahan adat. Soekarno berpendapat bahwa di tingkat desa, masalah-masalah penting diputuskan melaluimusyawarah yang panjang yang dirancang untuk mencapaikonsensus, di bawah bimbingan para tetua desa. Ia percaya bahwa hal itu harus menjadi model bagi seluruh bangsa, dengan presiden mengambil peran yang diasumsikan oleh para tetua desa. Ia mengusulkan sebuah pemerintahan yang tidak hanya didasarkan padapartai politik tetapi juga pada "kelompok fungsional" yang terdiri dari elemen-elemen penting bangsa, yang bersama-sama akan membentuk Dewan Nasional, yang melaluinya konsensus nasional dapat diungkapkan di bawah arahan presiden.

Wakil Presiden Hatta sangat menentang konsep demokrasi terpimpin Sukarno. Dengan alasan ini dan perbedaan-perbedaan lain yang tidak dapat didamaikan, Hatta mengundurkan diri dari jabatannya pada bulan Desember 1956. Pengunduran dirinya menimbulkan gelombang kejut di seluruh Indonesia, khususnya di kalangan non-Jawa, yang memandang Hatta sebagai wakil mereka dalam pemerintahan yang didominasi oleh orang Jawa.

Pengambilalihan militer dan darurat militer

Pengambilalihan militer regional

Dari Desember 1956 hingga Januari 1957, para komandan militer daerah di provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan mengambil alih kendali pemerintahan daerah. Mereka mendeklarasikan serangkaian dewan militer yang akan menjalankan wilayah masing-masing dan menolak menerima perintah dari Jakarta. Gerakan militer regional yang serupa menguasai Sulawesi Utara pada bulan Maret 1957. Mereka menuntut penghapusan pengaruh komunis dalam pemerintahan, pembagian pendapatan pemerintah yang sama, dan pemulihan kembali pemerintahan dwitunggal Soekarno–Hatta.

Deklarasi darurat militer

Menghadapi tantangan serius terhadap persatuan republik ini, Soekarno mengumumkandarurat militer (Staat van Oorlog en Beleg) pada tanggal 14 Maret 1957. Ia menunjukDjuanda Kartawidjaja yang independen sebagai perdana menteri, sementara militer berada di tangan Jenderal Nasution yang setia kepadanya. Nasution semakin sependapat dengan Soekarno tentang dampak negatif demokrasi barat terhadap Indonesia, dan ia melihat peran militer yang lebih signifikan dalam kehidupan politik.

Sebagai langkah rekonsiliasi, Sukarno mengundang para pemimpin dewan daerah ke Jakarta pada 10–14 September 1957, untuk menghadiri Musyawarah Nasional, yang gagal membawa solusi bagi krisis tersebut. Pada tanggal 30 November 1957, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Soekarno dengan menggunakan granat saat ia sedang menghadiri sebuah acara sekolah di Cikini, Jakarta Pusat. Enam anak tewas, tetapi Soekarno tidak mengalami luka serius. Pelakunya adalah anggota kelompok Darul Islam, di bawah pimpinan Kartosoewirjo.

Pada bulan Desember 1957, Soekarno mulai mengambil langkah serius untuk menegakkan kekuasaannya atas negara. Pada bulan tersebut, ia menasionalisasi 246 perusahaan Belanda yang mendominasi perekonomian Indonesia, terutamaNederlandsche Handel-Maatschappij, anak perusahaanRoyal Dutch ShellBataafsche Petroleum Maatschappij,Escomptobank, dan "lima besar" perusahaan dagang Belanda lain (NV Borneo Sumatra Maatschappij / Borsumij,NV Internationale Crediet- en Handelsvereeneging "Rotterdam" / Internatio,NV Jacobson van den Berg & Co,NV Lindeteves-Stokvis, danNV Geo Wehry & Co), dan mengusir 40.000warga negara Belanda yang masih berada di Indonesia sambil menyita harta benda mereka, yang diduga disebabkan oleh kegagalan pemerintah Belanda untuk meneruskan perundingan tentang nasibNugini Belanda seperti yang dijanjikan dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949.[53] Kebijakan nasionalisme ekonomi Soekarno diperkuat dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 10 Tahun 1959 yang melarang kegiatan komersial oleh warga negara asing di daerah pedesaan. Peraturan ini menyasar etnis Tionghoa, yang mendominasi ekonomi ritel di pedesaan dan perkotaan, meskipun saat itu hanya sedikit dari mereka yang memiliki kewarganegaraan Indonesia. Kebijakan ini mengakibatkan relokasi besar-besaran penduduk etnis Tionghoa di pedesaan ke daerah perkotaan, dan sekitar 100.000 orang memilih untuk kembali ke Tiongkok.

Untuk menghadapi para panglima daerah yang membangkang, Soekarno dan Panglima TNI Nasution memutuskan mengambil langkah drastis menyusul kegagalanMusjawarah Nasional. Dengan memanfaatkan perwira-perwira daerah yang tetap setia kepada Jakarta, Nasution mengorganisasikan serangkaian "kudeta daerah" yang menggulingkan komandan-komandan pembangkang di Sumatera Utara (Kolonel Maludin Simbolon) dan Sumatera Selatan (Kolonel Barlian) pada bulan Desember 1957. Hal ini mengembalikan kendali pemerintah atas kota-kota utamaMedan danPalembang.

Pada bulan Februari 1958, para komandan pembangkang yang tersisa di Sumatera Tengah (Kolonel Ahmad Hussein) dan Sulawesi Utara (Kolonel Ventje Sumual) membentuk GerakanPRRI-Permesta yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah Jakarta. Mereka bergabung dengan banyak politikus sipil dari Partai Masyumi, sepertiSjafruddin Prawiranegara, yang menentang pengaruh komunis yang semakin besar. Karena retorika antikomunis mereka, para pemberontak menerima uang, senjata, dan tenaga kerja dariCIA dalam sebuah kampanye yang dikenal sebagai "Archipelago". Dukungan ini berakhir ketikaAllen Lawrence Pope, seorang pilot Amerika dan agen CIA, ditembak jatuh setelah serangan bom diAmbon yang dikuasai pemerintah pada bulan April 1958. Pada bulan April 1958, pemerintah pusat menanggapi dengan melancarkan invasi militer melalui udara dan laut di Padang danManado, ibu kota pemberontak. Pada akhir tahun 1958, para pemberontak telah dikalahkan secara militer, dan kelompok gerilya pemberontak terakhir yang tersisa menyerah pada bulan Agustus 1961.[54][55]

Era Demokrasi Terpimpin (1959–1965)

Artikel utama:Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Soekarno (di atas tangga) membacakan dekritnya pada tanggal 5 Juli 1959
Potret resmi Soekarno pada tahun 1960-an, lengkap dengan dekorasi bergaya militer

Kemenangan militer yang mengesankan atas pemberontak PRRI-Permesta dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh rakyat membuat Sukarno berada dalam posisi yang kuat. Pada tanggal 5 Juli 1959, Sukarno memberlakukan kembali UUD 1945 melaluidekrit presiden. Sistem ini membentuk sistem presidensial yang menurutnya akan memudahkan penerapan prinsip-prinsip demokrasi terpimpin. Ia menyebut sistem iniManifesto Politikcode: id is deprecated atauManipolcode: id is deprecated, tetapi sebenarnya sistem ini adalahpemerintahan melalui dekret. Soekarno membayangkan masyarakat sosialis ala Indonesia, yang menganut prinsip USDEK:

  1. Undang-Undang Dasar '45
  2. Sosialisme Indonesia
  3. Demokrasi Terpimpin
  4. Ekonomi Terpimpin
  5. Kepribadian Indonesia
Struktur demokrasi terpimpin Soekarno pada tahun 1962

Setelah mendirikan demokrasi terpimpin, Soekarno bersamaMaladi bertemu denganDevi Dja, seorang penari kelahiran Indonesia yang mengubah kewarganegaraannya menjadi Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 1959, dan meyakinkannya untuk kembali sebagai warga negara Indonesia, yang ditolak Dja dan menganggapnya sebagai orang yang sangat nasionalis.[56] Pada bulan Maret 1960, Soekarno membubarkan parlemen dan menggantinya dengan parlemen baru yang separuh anggotanya ditunjuk oleh presiden (Dewan Perwakilan Rakjat - Gotong Rojong / DPR-GR). Pada bulan September 1960, ia membentukMajelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) sebagai pemegang kekuasaan legislatif tertinggi menurut UUD 1945. Anggota MPRS terdiri atas anggota DPR-GR dan anggota "golongan fungsional" yang ditunjuk oleh presiden.

Presiden Soekarno menandatangani surat penyerahan kekuasaan dariDjuanda Kartawidjaja kepada dirinya sendiri

Dengan dukungan militer, Soekarno membubarkan partai Islam Masyumi danPSI, menuduh mereka terlibat dalam peristiwa PRRI-Permesta. Militer menangkap dan memenjarakan banyak lawan politik Sukarno, dariSutan Sjahrir yang beraliran sosialis hingga politisi IslamMohammad Natsir danHamka. Dengan menggunakan kekuasaan darurat militer, pemerintah menutup surat kabar yang mengkritik kebijakan Sukarno.[57][58][59]

Selama periode ini, terjadi beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap Soekarno. Pada tanggal 9 Maret 1960,Daniel Maukar, seorang letnan angkatan udara Indonesia yang bersimpati dengan pemberontakan Permesta, menembaki Istana Merdeka dan Istana Bogor dengan jet tempurMiG-17 miliknya, dan berusaha membunuh presiden; ia tidak terluka. Pada bulan Mei 1962, agen Darul Islam menembak presiden saat salat Idul Adha di halaman istana. Soekarno sekali lagi lolos dari cedera.

Di bidang keamanan, militer melancarkan serangkaian operasi efektif yang mengakhiri pemberontakan Darul Islam yang telah berlangsung lama di Jawa Barat (1962), Aceh (1962), dan Sulawesi Selatan (1965).Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam, ditangkap dan dieksekusi pada bulan September 1962.

Untuk mengimbangi kekuatan militer, Sukarno mulai mengandalkan dukungan PKI. Pada tahun 1960, ia mendeklarasikan pemerintahannya berdasarkanNasakom, sebuah penyatuan tiga aliran ideologi yang ada dalam masyarakat Indonesia: nasionalisme, agama, dan komunisme. Oleh karena itu, Sukarno mulai menerima lebih banyak komunis ke dalam pemerintahannya, sambil mengembangkan hubungan yang kuat dengan ketua PKID.N. Aidit.

Untuk meningkatkan prestise Indonesia, Sukarno mendukung dan memenangkan tenderAsian Games 1962 yang diselenggarakan di Jakarta. Banyak fasilitas olahraga seperti kompleks olahraga Senayan (termasukGelora Bung Karno berkapasitas 100.000 tempat duduk) dibangun untuk mengakomodasi pertandingan tersebut. Terjadi ketegangan politik ketika Indonesia menolak masuknya delegasi dariIsrael danTaiwan. SetelahKomite Olimpiade Internasional menjatuhkan sanksi kepada Indonesia karena kebijakan pengecualian ini, Soekarno membalas dengan menyelenggarakan acara kompetitor "non-imperialis" untukOlimpiade, yang disebutGames of New Emerging Forces (GANEFO). GANEFO berhasil diselenggarakan di Jakarta pada bulan November 1963 dan dihadiri oleh 2.700 atlet dari 51 negara.

Sebagai bagian dari program pembangunan prestise, Soekarno memerintahkan pembangunan bangunan-bangunan monumental besar sepertiMonumen Nasional,Masjid Istiqlal, Jakarta, Gedung CONEFO (sekarang Gedung DPR/MPR),Hotel Indonesia, dan pusat perbelanjaan Sarinah untuk mengubah Jakarta dari daerah terpencil bekas kolonial menjadi kota modern. Jalan raya modern Jakarta di Jalan Thamrin, Jalan Sudirman, dan Jalan Gatot Subroto direncanakan dan dibangun di bawah pemerintahan Soekarno.

Kebijakan luar negeri

Konferensi Bandung

Di bidang internasional, Soekarno menyelenggarakanKonferensi Bandung pada tahun 1955, dengan tujuan menyatukan negara-negara berkembang di Asia dan Afrika ke dalamGerakan Non-Blok untuk melawan Amerika Serikat dan Uni Soviet.[60]

Perang Dingin

Soekarno berpidato di hadapanKongres AS pada tahun 1956. Duduk di belakangnya adalah Wakil Presiden dan Presiden SenatRichard Nixon dan Ketua DPRSam Rayburn.

Seiring dengan amannya kekuasaan dalam negeri Soekarno, ia mulai lebih memperhatikan panggung dunia. Ia memulai serangkaian kebijakan agresif dan tegas yang didasarkan padaanti-imperialisme untuk meningkatkan prestise internasional Indonesia. Kebijakan anti-imperialis dan anti-Barat ini, yang sering kali menggunakan taktik berjuang dengan cara yang berbahaya dengan negara lain, juga dirancang untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang beragam dan suka bertengkar. Dalam hal ini, ia dibantu oleh menteri luar negerinyaSoebandrio.

Setelah kunjungan pertamanya keBeijing pada tahun 1956, Soekarno mulai memperkuat hubungannya denganRepublik Rakyat Tiongkok dan blok komunis secara umum. Ia juga mulai menerima bantuan militer dari blokUni Soviet dalam jumlah yang semakin banyak. Pada awal tahun 1960-an, blok Soviet memberikan lebih banyak bantuan kepada Indonesia dibandingkan dengan negara non-komunis lainnya, dan hanyaKuba yang menerima bantuan lebih banyak dari Soviet dibandingkan Indonesia. Gelombang bantuan komunis yang besar ini mendorong peningkatan bantuan militer dari pemerintahanDwight D. Eisenhower danJohn F. Kennedy, yang khawatir akan pergeseran ke arah kiri jika Soekarno terlalu bergantung pada bantuan blok Soviet.[61]

Soekarno danFidel Castro diHavana,Kuba, 1960

Soekarno dipuji selama kunjungannya ke Amerika Serikat pada tahun 1956, di mana ia berpidato di hadapan sidang gabunganKongres Amerika Serikat. Sampai saat ini, ini adalah satu-satunya kali presiden Indonesia berpidato di hadapan sidang gabungan Kongres AS. Segera setelah kunjungan pertamanya ke Amerika, Soekarno mengunjungi Uni Soviet, di mana ia menerima sambutan yang lebih mewah. Perdana Menteri SovietNikita Khrushchev melakukan kunjungan kembali ke Jakarta dan Bali pada tahun 1960, di mana ia menganugerahkan Sukarno denganPenghargaan Perdamaian Lenin. Untuk menebus keterlibatan CIA dalam pemberontakan PRRI-Permesta, Kennedy mengundang Sukarno keWashington, D.C., dan memberikan Indonesia bantuan sipil dan militer senilai miliaran dolar.[61]

Presiden Tito dan Sukarno di pintu keluarGua Postojna, 6 April 1960

Sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bandung 1955 yang sukses, Soekarno berupaya membentuk persekutuan baru yang disebut "New Emerging Forces" (NEFO), sebagai tandingan terhadap negara adikuasa Barat yang dijuluki "Old Established Forces" (OLDEFO), yang dituduhnya menyebarkan "Neo-Kolonialisme dan Imperialisme" (NEKOLIM). Pada tahun 1961, Soekarno membentuk aliansi politik lain, yang disebut Gerakan Non-Blok (GNB) padaKTT ke-1 Gerakan Non-Blok diBelgrade bersama dengan Presiden MesirGamal Abdel Nasser, Perdana Menteri IndiaJawaharlal Nehru, PresidenYugoslaviaJosip Broz Tito, dan Presiden GhanaKwame Nkrumah, dalam suatu aksi yang disebut Inisiatif Lima (Soekarno, Nkrumah, Nasser, Tito, dan Nehru). GNB dimaksudkan untuk memberikan persatuan politik dan pengaruh bagi negara-negara yang ingin mempertahankan kemerdekaan dari blok-blok adidaya Amerika dan Soviet, yang terlibat dalam persainganPerang Dingin. Soekarno masih dikenang dengan baik atas perannya dalam mempromosikan pengaruh negara-negara yang baru merdeka. Namanya digunakan sebagai nama jalan diKairo, Mesir danRabat, Maroko, dan sebagai alun-alun utama diPeshawar, Pakistan. Pada tahun 1956,Universitas Belgrade menganugerahinyagelar doktor kehormatan.

Konflik Papua

Pertemuan Soekarno dengan Presiden ASJohn F. Kennedy, 1961.

Pada tahun 1960, Soekarno memulai kebijakan luar negeri yang agresif untuk mengamankan klaim teritorial Indonesia. Pada bulan Agustus tahun itu, ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda karena terus gagalnya memulai perundingan tentang masa depan Nugini Belanda, seperti yang disepakati pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Pada bulan April 1961, Belanda mengumumkan pembentukanNieuw Guinea Raad, yang bermaksud untuk membentuk negaraPapua yang merdeka. Soekarno menyatakan keadaan konfrontasi militer dalam pidatonyaTri Komando Rakjat (TRIKORA) di Yogyakarta, pada 19 Desember 1961. Ia kemudian mengarahkan serangan militer ke setengah pulau tersebut, yang disebutnya sebagaiIrian Barat. Pada akhir tahun 1962, 3.000 tentara Indonesia hadir di seluruh Irian Barat/Papua Barat.

Pada tanggal 28 Agustus 1961,Elizabeth II dari Britania Raya mengundang Soekarno untuk kunjungan kenegaraan keLondon yang dijadwalkan pada bulan Mei 1962.[62] Namun pada tanggal 19 September,Juliana dari Belanda yang mendengar berita tersebut merasa tidak senang akibat putusnya hubungan diplomatik Indonesia dengan Belanda pasca sengketa Irian Barat.[62] Mendengar berita tersebut, ia menyatakan bahwa perundingan dengan Indonesia mengenai Irian Barat tidak akan dilakukan dan tidak memperbolehkan Elizabeth II yang masih merupakan keponakan jauhnya untuk mengundang Soekarno, yang berakibat pada memburuknya hubungan diplomatik Indonesia denganBritania Raya.[62] Pada tanggal 21 April 1962, Soekarno membatalkan kunjungan tersebut karena adanya serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru.[62]

Pertempuran laut meletus pada bulan Januari 1962 ketika empatkapal torpedo Indonesia dicegat oleh kapal dan pesawat Belanda di lepas pantai Vlakke Hoek. Satu kapal Indonesia tenggelam, menewaskan Wakil Kepala Staf Angkatan LautLaksamana PertamaYos Sudarso. Sementara itu, Pemerintahan Kennedy khawatir akan berlanjutnya pergeseran Indonesia ke arah komunisme jika Belanda tetap menguasai Irian Barat/Papua Barat. Pada bulan Februari 1962Jaksa Agung ASRobert F. Kennedy melakukan perjalanan ke Belanda dan memberi tahu pemerintah bahwa Amerika Serikat tidak akan mendukung Belanda dalam konflik bersenjata dengan Indonesia. Dengan persenjataan dan penasihat Soviet, Soekarno merencanakan invasi besar-besaran melalui udara dan laut ke markas besar militer Belanda di Biak pada bulan Agustus 1962, yang disebutOperasi Djajawidjaja. Operasi ini akan dipimpin oleh Mayor JenderalSoeharto. Sebelum rencana ini dapat terwujud, Indonesia dan Belanda menandatanganiPerjanjian New York pada bulan Agustus 1962. Kedua negara sepakat untuk melaksanakan Rencana Bunker (yang dirumuskan oleh diplomat AmerikaEllsworth Bunker), dimana Belanda setuju untuk menyerahkan Irian Barat/Papua Barat kepadaUNTEA pada tanggal 1 Oktober 1962. UNTEA menyerahkan wilayah tersebut kepada otoritas Indonesia pada bulan Mei 1963.

Konfrontasi Indonesia–Malaysia

Soekarno bersamaKetua Kepala Staf Gabungan JenderalMaxwell Taylor diIstana Merdeka pada tanggal 2 Agustus 1963.

Setelah mengamankan kendali atas Irian Barat/Papua Barat, Soekarno kemudian menentang pembentukanFederasi Malaysia yang didukung Britania Raya pada tahun 1963, dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan rencana neo-kolonial Britania untuk melemahkan Indonesia. Meskipun Soekarno melakukan pendekatan politik, yang mendapat dukungan ketika elemen politik kiri di wilayah Borneo Britania RayaSarawak danBrunei menentang rencana Federasi dan memihak Soekarno, Malaysia tetap berdiri pada bulan September 1963. Hal ini diikuti oleh konfrontasi yang dicanangkan oleh Soekarno dalam pidatoDwi Komando Rakjat (DWIKORA) di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1964. Tujuan yang dicanangkan Soekarno bukanlah, seperti yang diduga oleh beberapa pihak, untuk mencaplok Sabah dan Sarawak ke dalam wilayah Indonesia, tetapi untuk mendirikan "Negara Kalimantan Utara" di bawah kendaliPartai Komunis Kalimantan Utara. Dari tahun 1964 hingga awal tahun 1966, sejumlah kecil tentara Indonesia, warga sipil, dan gerilyawan komunis Malaysia dikirim ke Kalimantan Utara dan Semenanjung Malaya. Pasukan ini bertempur melawan tentara Britania Raya dan Persemakmuran yang dikerahkan untuk melindungi negara Malaysia yang baru berdiri. Agen Indonesia juga meledakkan beberapa bom diSingapura. Di dalam negeri, Soekarno mengobarkan sentimen anti-Inggris, dan Kedutaan Besar Inggris dibakar. Pada tahun 1964, semua perusahaan Britania Raya yang beroperasi di negara tersebut, termasuk operasiChartered Bank danUnilever di Indonesia, dinasionalisasi. Konfrontasi tersebut mencapai klimaksnya pada bulan Agustus 1964, ketika Soekarno mengizinkan pendaratan pasukan Indonesia diPontian danLabis di daratan Malaysia, dan perang habis-habisan tampaknya tak terelakkan karena ketegangan meningkat. Namun, situasi menjadi tenang pada pertengahan September saat puncakKrisis Selat Sunda, dan setelahPertempuran Plaman Mapu yang membawa bencana pada bulan April 1965, serangan Indonesia ke Sarawak menjadi semakin sedikit dan lemah.

Pada tahun 1964, Soekarno memulai kampanye anti-Amerika, yang dimotivasi oleh pergeserannya ke blok komunis dan hubungan yang kurang bersahabat dengan pemerintahanLyndon B. Johnson. Kepentingan dan bisnis Amerika di Indonesia dikecam oleh pejabat pemerintah dan diserang oleh massa yang dipimpin PKI. Film-film Amerika dilarang, buku-buku Amerika dan album-albumThe Beatles dibakar, dan grup musik IndonesiaKoes Plus dipenjara karena memainkan musikrock and roll bergaya Amerika. Akibatnya, bantuan AS ke Indonesia dihentikan, yang membuat Sukarno melontarkan pernyataan terkenalnya "Persetan dengan bantuanmu". Soekarno menarik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Januari 1965 ketika, dengan dukungan AS, Malaysia mengambil kursi diDewan Keamanan PBB.[63]

Konferensi pembentukan poros baru

Ketika negara-negara GNB terpecah menjadi beberapa faksi, dan semakin sedikit negara yang bersedia mendukung kebijakan luar negerinya yang anti-Barat, Soekarno mulai meninggalkan retorika non-bloknya. Soekarno membentuk aliansi baru dengan Tiongkok,Korea Utara,Vietnam Utara, danKamboja yang disebutnya "Poros Beijing-Pyongyang-Hanoi-Phnom Penh-Jakarta". Setelah menarik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang "didominasi imperialis" pada bulan Januari 1965, Soekarno berusaha mendirikan organisasi pesaing PBB yang disebutCONEFO dengan dukungan dari Republik Rakyat Tiongkok,[64] yang pada saat itubelum menjadi anggota PBB. Dengan pemerintah yang terlilit hutang besar terhadap Uni Soviet, Indonesia menjadi semakin bergantung pada Tiongkok untuk dukungan.[65] Soekarno semakin banyak berbicara tentang poros Beijing-Jakarta,[65] yang akan menjadi inti dari organisasi dunia anti-imperialis baru, CONEFO.[butuh rujukan]

Kebijakan dalam negeri

Presiden seumur hidup dan kultus kepribadian

Lihat pula:Nasakom
Sukarno menerima gelar doktor kehormatan dariUniversitas Indonesia, 2 Februari 1963

Di dalam negeri, Sukarno terus mengonsolidasikan kekuasaannya. Pada tanggal 18 Mei 1963, MPRSmemilih Sukarno sebagaipresiden seumur hidup. Tulisan-tulisannya tentang ideologi Manipol-USDEK danNasakom menjadi mata kuliah wajib di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, sementara pidato-pidatonya harus dihafal dan didiskusikan oleh semua siswa. Semua surat kabar, satu-satunya stasiun radio (RRI yang dikelola pemerintah), dan satu-satunya stasiun televisi (TVRI, yang juga dikelola pemerintah) dijadikan "alat revolusi" dan berfungsi menyebarkan pesan-pesan Soekarno. Soekarno mengembangkankultus kepribadian, dengan ibu kotaIrian Barat yang baru diperolehnya diubah namanya menjadiSukarnapura dan puncak tertinggi di negara itu diubah namanya dari Piramida Carstensz menjadiPuntjak Sukarno (Puncak Sukarno).

Kebangkitan PKI

Meskipun tampak adanya kendali yang tak tertandingi, demokrasi terpimpin Soekarno berdiri di atas landasan yang rapuh karena konflik yang terjadi antara dua pilar pendukungnya, militer dan komunis. Militer, nasionalis, dan kelompok Islam terkejut dengan pertumbuhan pesat partai komunis di bawah perlindungan Soekarno. Mereka khawatir akan segera terbentuknya negara komunis di Indonesia. Pada tahun 1965, PKI memiliki tiga juta anggota dan sangat kuat di Jawa Tengah dan Bali. PKI telah menjadi partai terkuat di Indonesia.

Pihak militer dan nasionalis semakin waspada terhadap aliansi dekat Soekarno dengan komunis Tiongkok, yang mereka anggap membahayakan kedaulatan Indonesia. Elemen-elemen militer tidak setuju dengan kebijakan Soekarno yang berkonfrontasi dengan Malaysia, yang menurut pandangan mereka hanya menguntungkan kaum komunis, dan mengirim beberapa perwira (termasuk calon Kepala Angkatan BersenjataLeonardus Benjamin Moerdani) untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian rahasia kepada pemerintah Malaysia. Para ulama Islam, yang sebagian besar adalah tuan tanah, merasa terancam oleh tindakan perampasan tanah oleh PKI di pedesaan dan oleh kampanye komunis melawan "tujuh setan desa", istilah yang digunakan untuk tuan tanah atau petani kaya (mirip dengan kampanye anti-kulak di eraStalinis). Kedua kelompok tersebut memendam kebencian yang mendalam terhadap PKI khususnya karena ingatan mereka terhadap pemberontakan komunis berdarah pada tahun 1948.

Soekarno berpidato pada perayaan ulang tahun ke-45PKI di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), April 1965.[66]

Sebagai mediator ketiga golongan di bawah sistem NASAKOM, Soekarno menunjukkan simpati yang lebih besar kepada kaum komunis. PKI sangat berhati-hati dalam mendukung semua kebijakan Soekarno. Sementara itu, Soekarno melihat PKI sebagai partai yang paling terorganisasi dan kokoh secara ideologis di Indonesia, dan saluran yang berguna untuk mendapatkan lebih banyak bantuan militer dan keuangan dari negara-negaraBlok Komunis. Soekarno juga bersimpati dengan cita-cita revolusioner kaum komunis, yang mirip dengan cita-citanya sendiri.

Untuk melemahkan pengaruh militer, Soekarno mencabut darurat militer (yang memberikan kekuasaan yang luas kepada militer) pada tahun 1963. Pada bulan September 1962, ia "mempromosikan" Jenderal Nasution yang berkuasa ke posisi yang kurang berpengaruh sebagai panglima angkatan bersenjata, sementara posisi panglima angkatan darat yang berpengaruh diberikan kepada loyalis Soekarno,Ahmad Yani. Sementara itu, posisi kepala angkatan udara diberikan kepadaOmar Dhani, yang merupakan simpatisan komunis terbuka. Pada bulan Mei 1964, Soekarno melarang kegiatanManifesto Kebudajaan (Manikebu), suatu perkumpulan seniman dan penulis yang mencakup penulis-penulis terkemuka Indonesia seperti Hans Bague Jassin dan Wiratmo Soekito, yang juga diberhentikan dari pekerjaan mereka. Manikebu dianggap saingan oleh perkumpulan penulis komunisLembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang dipimpin olehPramoedya Ananta Toer. Pada bulan Desember 1964, Soekarno membubarkan Badan Pendukung Soekarnoisme, sebuah organisasi yang berusaha menentang komunisme dengan menggunakan rumusan Pancasila milik Soekarno sendiri. Pada bulan Januari 1965, Soekarno, di bawah tekanan dari PKI, melarangPartai Murba. Murba adalah partai pro-Uni Soviet yang ideologinya bertentangan dengan pandangan PKI yang pro-Tiongkok tentang Marxisme.[67]

LaporanABC tahun 1966 yang membahas konteks politik Soekarno untukKonfrontasi

Ketegangan antara militer dan komunis meningkat pada bulan April 1965, ketika ketua PKIAidit menyerukan pembentukan "Angkatan Kelima" yang terdiri dari petani dan buruh bersenjata. Soekarno menyetujui gagasan ini dan secara terbuka menyerukan pembentukan pasukan semacam itu segera pada tanggal 17 Mei 1965. Akan tetapi, Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani dan Menteri Pertahanan Nasution menunda pelaksanaan gagasan ini, karena hal ini sama saja dengan membiarkan PKI membentuk angkatan bersenjatanya sendiri. Tak lama kemudian, pada tanggal 29 Mei, "Surat Gilchrist" muncul. Surat itu konon ditulis oleh duta besar InggrisAndrew Gilchrist untukKantor Luar Negeri di London, yang menyebutkan upaya bersama Amerika dan Britania Raya untuk melakukan subversi di Indonesia dengan bantuan "teman-teman tentara setempat." Surat yang dibuat oleh Soebandrio ini membangkitkan ketakutan Soekarno akan rencana militer untuk menggulingkannya, ketakutan yang berulang kali ia sebutkan selama beberapa bulan berikutnya. Beberapa tahun kemudian pasca kejatuhan Soekarno, agemCekoslowakia,Ladislav Bittman yang membelot pada tahun 1968, mengklaim bahwa agensinya (StB) memalsukan surat tersebut atas permintaan PKI melalui Uni Soviet untuk mencoreng nama baik para jenderal antikomunis. Dalam pidato hari kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1965, Soekarno menyatakan niatnya untuk mengikat Indonesia pada aliansi anti-imperialis dengan Tiongkok dan rezim komunis lainnya serta memperingatkan tentara agar tidak ikut campur. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap pembentukan "pasukan kelima" yang terdiri dari petani dan buruh bersenjata.[68]

Kemunduran ekonomi

Monumen Dirgantara, salah satu proyek "Program Mercusuar" Soekarno, yang mengalokasikan dana jutaan untuk proyek-proyek nasional berskala besar. Foto ini diambil pada tahun 1971.

Sementara Soekarno mencurahkan energinya untuk politik dalam negeri dan internasional,ekonomi Indonesia terabaikan dan memburuk dengan cepat. Pemerintah mencetak uang untuk membiayai pengeluaran militernya, yang mengakibatkanhiperinflasi yang melebihi 600% per tahun pada tahun 1964–1965. Penyelundupan dan runtuhnya sektor perkebunan ekspor membuat pemerintah kehilangan pendapatan devisa yang sangat dibutuhkan. Akibatnya, pemerintah tidak mampu membayar utang luar negeri yang sangat besar yang telah terkumpul dari negara-negara blok Barat dan Komunis. Sebagian besar anggaran pemerintah dihabiskan untuk militer, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, dan fasilitas umum lainnya. Kerusakan infrastruktur transportasi dan gagal panen menyebabkan kekurangan pangan di banyak tempat. Sektor industri kecil terpuruk dan hanya berproduksi pada kapasitas 20% karena kurangnya investasi.

Soekarno sendiri meremehkanekonomi makro dan tidak mampu serta tidak mau memberikan solusi praktis terhadap kondisi ekonomi negara yang buruk. Sebaliknya, ia menghasilkan konsepsi yang lebih ideologis sepertiTrisakti: kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kemandirian budaya. Ia menganjurkan orang Indonesia untuk "berdiri di atas kaki sendiri" (Berdikari) dan mencapai kemandirian ekonomi, bebas dari pengaruh asing.[69]

Menjelang akhir pemerintahannya, kurangnya minat Soekarno pada ekonomi menciptakan jarak antara dirinya dan rakyat Indonesia, yang sedang menderita secara ekonomi.[70] Wajahnya membengkak karena penyakit, dan kemewahan serta penaklukan seksualnya[butuh rujukan], yang pernah membuatnya disayangi rakyat, menyebabkan kritik publik dan mengalihkan dukungan ke arah tentara.[butuh rujukan]

Tahun-tahun terakhir

Artikel utama:Transisi ke Orde Baru

Gerakan 30 September

Artikel utama:Gerakan 30 September
Potret resmi, kemungkinan di akhir masa jabatannya.

Penculikan dan pembunuhan

Pada awal 1 Oktober 1965, enam jenderal senior angkatan darat Indonesia diculik dan dibunuh oleh sebuah gerakan yang menamakan diri mereka "Gerakan 30 September" (G30S). Di antara mereka yang terbunuh adalah Ahmad Yani, sementara Abdul Haris Nasution berhasil lolos, tetapi gerakan tersebut menculik Letnan SatuPierre Tendean, ajudannya, mungkin karena mengira dia adalah Nasution dalam kegelapan. G30S terdiri dari anggotaPengawal Presiden,Divisi Brawijaya, danDivisi Diponegoro, di bawah komando LetkolUntung Syamsuri. Gerakan ini menguasai stasiun radio RRI dan Lapangan Merdeka. Mereka menyiarkan pernyataan yang menyatakan penculikan itu dimaksudkan untuk melindungi Sukarno dari upaya kudeta oleh para jenderal yang dipengaruhi CIA. Kemudian, mereka menyiarkan berita tentang pembubaran kabinet Sukarno, yang akan digantikan oleh "Dewan Revolusi." Di Jawa Tengah, tentara yang terkait dengan G30S juga merebut kendali Yogyakarta danSurakarta pada tanggal 1–2 Oktober, menewaskan duakolonel dalam proses tersebut.

Akhir gerakan

Mayor JenderalSoeharto, panglima komando cadangan strategis militer, mengambil alih kendali tentara keesokan paginya.[71] Soeharto memerintahkan pasukan untuk mengambil alih stasiun radio RRI dan Lapangan Merdeka. Pada sore hari itu, Soeharto mengeluarkan ultimatum kepadaPangkalan Angkatan Udara Halim, tempat G30S bermarkas dan tempat Soekarno (alasan kehadirannya tidak jelas dan menjadi subjek klaim dan klaim balik), Marsekal UdaraOmar Dhani dan Ketua PKI Aidit berkumpul. Pada hari berikutnya, jelas bahwa kudeta yang tidak terorganisasi dengan baik dan terkoordinasi dengan baik itu telah gagal. Soekarno tinggal di Istana Bogor, sementara Dhani melarikan diri ke Jawa Timur dan Aidit ke Jawa Tengah.[72] Pada tanggal 2 Oktober, tentara Soeharto menduduki Pangkalan Angkatan Udara Halim, setelah baku tembak singkat. Kepatuhan Sukarno terhadap ultimatum Soeharto pada tanggal 1 Oktober untuk meninggalkan Halim dianggap mengubah semua hubungan kekuasaan.[73] Keseimbangan kekuatan Soekarno yang rapuh antara militer, Islam politik, komunis dan nasionalis yang mendasari "demokrasi terpimpin" kini sedang runtuh.[72] Pada tanggal 3 Oktober, mayat para jenderal yang diculik ditemukan di dekat Pangkalan Angkatan Udara Halim, dan pada tanggal 5 Oktober mereka dimakamkan dalam upacara publik yang dipimpin oleh Soeharto.

Akibat dari G30S

Pada awal Oktober 1965, sebuah kampanye propaganda militer mulai melanda negara itu, berhasil meyakinkan khalayak Indonesia dan internasional bahwa itu adalah kudeta komunis, dan bahwa pembunuhan itu merupakan kekejaman pengecut terhadap para pahlawan Indonesia karena mereka yang ditembak adalah perwira militer veteran.[74] Penyangkalan PKI atas keterlibatannya tidak banyak berpengaruh.[75] Setelah penemuan dan pemakaman umum jenazah para jenderal pada tanggal 5 Oktober, tentara bersama dengan organisasi IslamMuhammadiyah danNahdlatul Ulama memimpin kampanye untuk membersihkan masyarakat, pemerintah, dan angkatan bersenjata Indonesia dari partai komunis dan organisasi kiri lainnya. Anggota terkemuka PKI segera ditangkap, beberapa dieksekusi tanpa pengadilan. Aidit ditangkap dan dibunuh pada bulan November 1965.[74]Pembersihan menyebar ke seluruh negeri dengan pembantaian terburuk di Jawa dan Bali.[75] Di beberapa daerah, tentara mengorganisasikan kelompok sipil dan milisi lokal, di daerah lain aksi main hakim sendiri komunal mendahului tentara.[76] Perkiraan yang paling diterima secara luas adalah sedikitnya setengah juta orang terbunuh.[77] Diperkirakan sebanyak 1,5 juta orang dipenjara pada satu tahap atau lainnya.[78]

Sebagai akibat dari pembersihan tersebut, salah satu dari tiga pilar pendukung Soekarno, PKI, telah secara efektif disingkirkan oleh dua pilar lainnya, militer dan Islam politik. Pembunuhan dan kegagalan "revolusi" yang lemah itu membuat Soekarno tertekan, dan ia mencoba untuk melindungi PKI dengan menyebut pembunuhan para jenderal sebagaieen rimpeltje in de oceaancode: nl is deprecated ("riak di lautan revolusi"), namun upaya ini tidak berhasil. Ia berusaha mempertahankan pengaruhnya dengan mengimbau seluruh negeri untuk mengikutinya dalam siaran pada bulan Januari 1966. Soebandrio berusaha membuat Barisan Soekarnois yang dirusak oleh janji kesetiaan Soeharto kepada Soekarno dan instruksi yang diberikan kepada semua orang yang setia kepada Soekarno untuk menyatakan dukungan mereka terhadap tentara.[79]

Transisi ke Orde Baru

Artikel utama:Transisi ke Orde Baru
Presiden Soekarno memimpin sidangKabinet Dwikora saat mahasiswa berdemonstrasi di luar gedung DPR

Perombakan kabinet

Pada tanggal 1 Oktober 1965, Soekarno mengangkat JenderalPranoto Reksosamudro sebagai panglima angkatan darat untuk menggantikan Yani, tetapi ia terpaksa menyerahkan jabatan ini kepada Soeharto dua minggu kemudian. Pada bulan Februari 1966, Soekarno merombak kabinetnya, memecat Nasution sebagai menteri pertahanan dan menghapuskan jabatannya sebagai kepala staf angkatan bersenjata, tetapi Nasution menolak untuk mengundurkan diri. Dimulai pada bulan Januari 1966, mahasiswa mulai berdemonstrasi menentang Soekarno, menuntut pembubaran PKI dan agar pemerintah mengendalikan inflasi yang terus meningkat. Pada bulan Februari 1966, demonstran mahasiswa di depan Istana Merdeka ditembak oleh Pasukan Pengawal Presiden, menewaskan mahasiswa Arief Rachman Hakim, yang dengan cepat menjadi martir oleh demonstran mahasiswa.

Supersemar

Rapat kabinet penuh Sukarno diadakan di Istana Merdeka pada tanggal 11 Maret 1966. Ketika mahasiswa berdemonstrasi menentang pemerintah, pasukan tak dikenal mulai berkumpul di luar. Soekarno, Soebandrio, dan seorang menteri lainnya segera meninggalkan rapat dan pergi ke Istana Bogor dengan helikopter. Tiga jenderal pro-Suharto (Basuki Rahmat,Amir Machmud, danM. Jusuf) dikirim ke Istana Bogor, dan mereka bertemu dengan Soekarno, yang menandatangani Perintah Presiden yang dikenal sebagai "Surat Perintah Sebelas Maret". Melalui perintah tersebut, Soekarno menugaskan Soeharto untuk "mengambil semua tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan, ketenangan, dan stabilitas pemerintahan dan revolusi serta menjamin keselamatan dan kewibawaan pribadi [Soekarno]". Siapa penulis dokumen tersebut, dan apakah Soekarno dipaksa untuk menandatangani, bahkan mungkin dengan todongan senjata, merupakan pokok perdebatan historis. Namun, dampak dari perintah tersebut adalah pengalihan sebagian besar kewenangan presiden kepada Soeharto. Setelah memperoleh Perintah Presiden tersebut, Soeharto menyatakan PKI ilegal, dan partai tersebut dibubarkan. Ia juga menangkap banyak pejabat tinggi yang setia kepada Soekarno dengan tuduhan sebagai anggota dan/atau simpatisan PKI, yang selanjutnya mengurangi kekuatan dan pengaruh politik Soekarno.[80]

Tahanan rumah dan kehilangan kekuasaan

LaporanABC April 1967 tentang ketegangan politik di akhir era Sukarno

Pada tanggal 22 Juni 1966, Soekarno menyampaikan pidatoNawaksara di depan MPRS, yang kini telah dibersihkan dari unsur-unsur komunis dan pro-Soekarno, dalam upaya terakhir yang tidak berhasil untuk membela diri dan sistem demokrasi terpimpinnya. Pada bulan Agustus 1966, meskipun mendapat keberatan dari Soekarno, Indonesia mengakhiri konfrontasinya dengan Malaysia dan bergabung kembali dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setelah pidato pertanggungjawaban yang gagal (Nawaksara) pada 10 Januari 1967, Soekarno menyerahkan kekuasaan eksekutifnya kepada Soeharto pada 20 Februari 1967 sambil tetap menjabat sebagai presiden tituler. Gelar presiden seumur hidup akhirnya dicabut oleh MPRS pada 12 Maret 1967 dalam sidang yang diketuai oleh mantan sekutunya, Nasution. Pada hari yang sama, MPR menunjuk Soeharto sebagai penjabat presiden.[81] Soekarno dikenakantahanan rumah di Wisma Yaso (sekarangMuseum Satria Mandala), di mana kesehatannya memburuk akibat tidak adanya perawatan medis yang memadai.[82]

Kematian

Pemakaman Soekarno pada 22 Juni 1970 di Blitar, Jawa Timur.
MakamPresiden Soekarno diBlitar,Jawa Timur.

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulanAgustus 1965.[80] Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguanginjal dan pernah menjalani perawatan diWina,Austria tahun1961 dan 1964.[80] Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat, tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional.[80] Ia bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD)Gatot Subroto,Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.[7][80] Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki olehRatna Sari Dewi.[80] Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh DokterMahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.[80] Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal TNI dr.Roebiono Kertopati.[80]

Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:[80]

  1. Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
  2. Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.
  3. Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Soekarno hingga saat meninggalnya.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan diIstana Batu Tulis,Bogor, namun pemerintahan PresidenSoeharto memilih KotaBlitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno.[80] Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970.[80] Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.[80] Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI JenderalMaraden Panggabean sebagai inspektur upacara.[80] Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.[80]

Warisan

Garis waktu masa jabatan Presiden Indonesia
Rumah Proklamasi yang merupakan bekas kediaman Soekarno sekitar tahun 1950-1960. Di depannya, tampak Tugu Proklamasi.
Gelanggang Olahraga Bung Karno pada 1962.

Jalan Proklamasi, yang dulunya bernama Jalan Pegangsaan Timur,[83] merupakan letak bekas kediaman Soekarno yang berada di Jakarta Pusat. Rumah tersebut diberikan oleh Syech Faradj bin Martak.[butuh rujukan] Rumah tersebut menjadi saksi bisu Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan di sana.[84] Kediaman Bung Karno yang dijadikan tempat pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pun sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan kehadiranTugu Proklamasi dengan patung Soekarno-Hatta yang menggambarkan suasana pembacaan teks Proklamasi pada tahun 1945 dahulu.[85]

Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada 6 Juni 2001, maka KantorFilateliJakarta menerbitkanprangko "100 Tahun Bung Karno".[22]:247–251 Prangko yang diterbitkan merupakan empat buah prangko berlatar belakang benderaMerah Putih serta menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik Indonesia.[22] Prangko pertama memiliki nilai nominal Rp500 dan menampilkan potret Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp800 dan gambar Soekarno ketika masih di perguruan tinggi tahun1920-an terpampang di atasnya. Sementara itu, prangko yang ketiga memiliki nominal Rp900 serta menunjukkan foto Soekarno saat proklamasi kemerdekaan RI. Prangko yang terakhir memiliki gambar Soekarno ketika menjadi Presiden dan bernominal Rp1000. Keempat prangko tersebut dirancang oleh Heri Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum Peruri.[22] Selain prangko, Divisi Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima macam kemasan prangko, album koleksi prangko, empat jenis kartu pos, dua macam poster Bung Karno serta tiga desain kaus Bung Karno.[22]

Prangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh PemerintahKuba pada tanggal 19 Juni 2008. Prangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan presiden KubaFidel Castro.[86] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan kunjunganPresiden Indonesia, Soekarno, keKuba.

Nama Soekarno diabadikan sebagai nama gelanggang olahraga pada tahun 1958. Bangunan tersebut, yaituGelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan sebagai sarana keperluan penyelenggaraanAsian Games IV tahun 1962 diJakarta. Pada masaOrde Baru, kompleks olahraga ini diubah namanya menjadiGelora Senayan. Tapi sesuai keputusan PresidenAbdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama awalnya yaituGelanggang Olahraga Bung Karno. Hal ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Bung Karno.[87]

Setelah kematiannya, beberapayayasan dibuat atas nama Soekarno. Dua di antaranya adalah Yayasan Pendidikan Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan Pendidikan Soekarno adalah organisasi yang mencetuskan ide untuk membangununiversitas dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin olehRachmawati Soekarnoputri, anak ke tiga Soekarno danFatmawati. Pada tahun 25 Juni 1999PresidenBacharuddin Jusuf Habibie meresmikanUniversitas Bung Karno yang secara resmi meneruskan pemikiran Bung Karno,Nation and Character Building kepada mahasiswa-mahasiswanya.[88]

Sementara itu, Yayasan Bung Karno memiliki tujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan benda-bendaseni maupun nonseni kepunyaan Soekarno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.[89] Yayasan tersebut didirikan pada tanggal 1 Juni 1978 oleh delapan putra-putri Soekarno yaituGuntur Soekarnoputra,Megawati Soekarnoputri,Rachmawati Soekarnoputri,Sukmawati Soekarnoputri,Guruh Soekarnoputra,Taufan Soekarnoputra,Bayu Soekarnoputra, danKartika Sari Dewi Soekarno.[89] Pada tahun 2003, Yayasan Bung Karno membuka stan di ArenaPekan Raya Jakarta.[22] Di stan tersebut ditampilkan video pidato Soekarno berjudul "Indonesia Menggugat" yang disampaikan di Gedung Landraad tahun 1930 serta foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden.[22] Selain memperlihatkan video dan foto, berbagai cenderamata Soekarno dijual di stan tersebut.[22] Di antaranya adalah kaus, jamemas, koin emas,CD berisi pidato Soekarno, serta kartu pos Soekarno.[22]

Seseorang yang bernama Soenuso Goroyo Sukarno mengaku memiliki harta benda warisan Soekarno.[22] Soenuso mengaku merupakan mantan sersan dariBatalyonArtileri Pertahanan Udara Sedang.[22] Ia pernah menunjukkan benda-benda yang dianggapnya sebagai warisan Soekarno itu kepada sejumlah wartawan di rumahnya diCileungsi,Bogor.[22] Benda-benda tersebut antara lain sebuah lempengan emas kuning murni 24 karat yang terdaftar dalam register emas JMLondon, emas putih dengan cap tapal kuda JM Mathey London serta plakatlogam berwarna kuning dengan tulisan ejaan lama berupadeposito hibah.[22] Selain itu terdapat pula uang UBCN (Brasil) danYugoslavia serta sertifikat depositoobligasi garansi diBankSwiss dan Bank Netherland.[22] Meskipun emas yang ditunjukkan oleh Soenuso bersertifikat namun belum ada pakar yang memastikan keaslian dari emas tersebut.[90]

Arsitektur

Selain sebagai presiden, Soearno juga dikenal sebagaiarsitek alumni dariTechnische Hoogeschool te Bandoeng (sekarangITB) diBandung dengan mengambil jurusanteknik sipil dan tamat pada tahun 1926.[e][f][91]

Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara maraton dari bulan Mei sampai Juli pada tahun 1956 ke negara-negaraAmerika Serikat,Kanada,Italia,Jerman Barat, danSwiss. Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara yang baru merdeka.[92]

Soekarno membidikJakarta sebagai wajah (muka) Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah kota sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan pada masa datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan koordinasinya dengan beberapa arsitek sepertiFriedrich Silaban danSoedarsono, dibantu beberapa arsitek junior untuk visualisasi. Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara.[93]

  • Masjid Istiqlal (1951)
  • Monumen Nasional (1960)
  • Gedung Conefo[93]
  • Gedung Sarinah[93]
  • Wisma Nusantara[93]
  • Hotel Indonesia (1962)[94]
  • Tugu Selamat Datang[94]
  • Monumen Pembebasan Irian Barat[94]
  • Patung Dirgantara[94]
  • Tahun 1955 Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan sebagai seorang arsitek, Soekarno tergerak memberikan sumbangan ide arsitektural kepada pemerintahArab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukansa’i menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai. Pemerintah Arab Saudi akhirnya melakukan renovasiMasjidil Haram secara besar-besaran pada tahun 1966, termasuk pembuatan lantai bertingkat bagi umat yang melaksanakansa’i menjadi dua jalur dan lantai bertingkat untuk melakukan tawaf[91]
  • Rancangan skema Tata Ruang KotaPalangkaraya yang diresmikan pada tahun 1957[91]

Penghargaan

Lihat pula:Daftar hal-hal yang dinamai dari Soekarno

Dalam negeri

Baris ke-1Bintang Republik Indonesia Adipurna[95]
Baris ke-2Bintang Mahaputera Adipurna[96]Bintang Jasa Utama[97]Bintang Gerilya[98]
Baris ke-3Bintang Sakti[99]Bintang Dharma[100]Bintang Bhayangkara Utama[101]
Baris ke-4Bintang Garuda[102]Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia[103]Satyalancana Perintis Kemerdekaan

Luar negeri

Karya tulis

  • Sukarno. Pancasila dan Perdamaian Dunia
  • Sukarno. Kepada Bangsaku : Karya-karya Bung Karno Pada Tahun 1926-1930-1933-1947-1957.
  • Sukarno. Cindy Adams. (1965). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
  • Sukarno.Pantja Sila Sebagai Dasar Negara.
  • Sukarno. Bung Karno Tentang Marhaen Dan Proletar.
  • Sukarno. Negara Nasional Dan Cita-Cita Islam: Kuliah Umum Presiden Soekarno.
  • Sukarno. (1933). Mencapai Indonesia Merdeka.
  • Sukarno. (1945).Lahirnya Pancasila
  • Sukarno. (1951).Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial.
  • Sukarno. (1951).Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia.
  • Sukarno. (1957). Indonesia Merdeka.
  • Sukarno. (1959).Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1. (kumpulan esai)
  • Sukarno. (1960).Dibawah Bendera Revolusi Jilid 2. (kumpulan esai)
  • Sukarno. (1960). Amanat Penegasan Presiden Soekarno Didepan Sidang Istimewa Depernas Tanggal 9 Djanuari 1960.
  • Sukarno. (1964). Tjamkan Pantja Sila ! : Pantja Sila Dasar Falsafah Negara.
  • Sukarno. (1964). Komando Presiden/Pemimpin Besar Revolusi: Bersiap-sedialah Menerima Tugas untuk Menjelamatkan R.I. dan untuk Mengganjang "Malaysia"!
  • Sukarno. (1965). Wedjangan Revolusi.
  • Sukarno. (1965). Tjapailah Bintang-Bintang di Langit: Tahun Berdikari.
  • Sukarno. (1965). Pantja Azimat Revolusi.
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:

Pidato

Hari dan tanggalRangkaJudul pidato
Jumat, 17 Agustus 1945Proklamasi Kemerdekaan RITudjuhbelas Agustus 1945
Sabtu, 17 Agustus 1946HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-1Sekali Merdeka, Tetap Merdeka
Minggu, 17 Agustus 1947HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-2Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung
Selasa, 17 Agustus 1948HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-3Seluruh Nusantara Berdjiwa Republik
Rabu, 17 Agustus 1949HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-4Tetaplah Bersemangat Elang-Radjawali
Kamis, 17 Agustus 1950HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-5Dari Sabang sampai Merauke
Jumat, 17 Agustus 1951HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-6Tjapailah Tata, Tenteram, Kertarahardja
Minggu, 17 Agustus 1952HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-7Harapan dan Kenjataan
Senin, 17 Agustus 1953HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-8Djadilah Alat Sedjarah
Selasa, 17 Agustus 1954HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-9Berirama dengan Kodrat
Rabu, 17 Agustus 1955HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-10Tetap Terbanglah Radjawali
Jum'at, 17 Agustus 1956HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-11Berilah Isi Kepada Hidupmu
Sabtu, 17 Agustus 1957HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-12Satu Tahun Ketentuan
Minggu, 17 Agustus 1958HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-13Tahun Tantangan
Senin, 17 Agustus 1959HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-14Penemuan Kembali Revolusi Kita
Rabu, 17 Agustus 1960HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-15Djalannja Revolusi Kita
Jumat, 30 September 1960Sidang Umum PBB ke-XVMembangun Dunia Kembali
To Build The World Anew
Kamis, 17 Agustus 1961HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-16Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional
Jumat, 17 Agustus 1962HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-17Tahun Kemenangan
Sabtu, 17 Agustus 1963HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-18Genta Suara Revolusi Indonesia
Senin, 17 Agustus 1964HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-19Tahun "Vivere Pericoloso"
Selasa, 17 Agustus 1965HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-20Tahun Berdikari
Rabu, 22 Juni 1966Sidang Umum MPRS IVNawaksara
Rabu, 17 Agustus 1966HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-21Djangan Sekali-Kali Meninggalkan Sedjarah

Musik

Soekarno menciptakan laguBersuka Ria, yang muncul dalam albumMari Bersuka Ria dengan Irama Lenso pada tahun 1965. Lagu ini dibawakan olehRita Zahara,Bing Slamet,Titiek Puspa, danNien Lesmana.

Dalam budaya populer

Buku

  • M. Yuanda Zara. Ratna Sari Dewi Sukarno.
  • Sukarno, Iman Toto K. Rahardjo (Editor), Herdianto WK (Editor). (2001). Bung Karno dan Wacana Islam: Kenangan 100 tahun Bung Karno.
  • John Beilenson. Sukarno.
  • Cindy Adams. Sukarno: My Friend.
  • Adams, C. (2011).Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Penerjemah Syamsu Hadi. Ed. Rev. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, ISBN 979-911-032-7-9.
  • Guntur Sukarno. Sukarno: Bapakku, Kawanku, Guruku.
  • Peter Polomka. Indonesia Since Sukarno .
  • Clifford Geertz, Benedict Anderson, Wim F. Wertheim. Sukarno di Panggung Sejarah
  • Justus Maria van der Kroef. Indonesia After Sukarno.
  • Peter Kasenda. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926–1933.
  • Ayub Ranoh. Kepemimpinan Kharismatis: Tinjauan Teologis-Etis Atas Kepemimpinan Kharismatis Sukarno.
  • Books LLC. Sukarno: Indonesia-Malaysia Confrontation, Transition to the New Order, Mohammad Hatta, Megawati Sukarnoputri, Constitution of Indonesia.
  • Anonim. (1956). Presiden Sukarno di Tiongkok.
  • Maslyn Williams. (1965). Five Journeys from Jakarta: Inside Sukarno's Indonesia.
  • John Hughes. (1967). The End of Sukarno: A Coup That Misfired: A Purge That Ran Wild.
  • Bernhard Dahm. (1969). Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan.
  • John D. Legge (1972) Sukarno: A Political.
  • Christiaan Lambert Maria Penders (1974). The Life and Times of Sukarno.
  • Lambert J. Giebels, 1999,Soekarno. Nederlandsch onderdaan. Biografie 1901–1950. Deel I, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam,ISBN 90-351-2114-7
  • Lambert J. Giebels, 2001,Soekarno. President, 1950–1970, Deel II, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam,ISBN 90-351-2294-1 geb.,ISBN 90-351-2325-5 pbk.
  • Lambert J. Giebels, 2005,De stille genocide: de fatale gebeurtenissen rond de val van de Indonesische president Soekarno,ISBN 90-351-2871-0
  • Rex Mortimer. (1974). Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959–1965.
  • Bambang S. Widjanarko, Antonie C.A. Dake (Introduction), Rahadi S. Karni (Ed.). (1974). The Devious Dalang: Sukarno and the So-Called Untung-Putsch.
  • Hal Kosut (Ed.). (1976). Indonesia: The Sukarno Years.
  • Franklin B. Weinstein. (1976). Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence: From Sukarno to Soeharto.
  • Masashi Nishihara, Dean Praty R. (Translator). (1976). Sukarno, Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang: Hubungan Indonesia-Jepang 1951–1966.
  • Ganis Harsono. (1977). Recollections of an Indonesian Diplomat in the Sukarno Era.
  • Fatmawati Sukarno. (1978). Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Book, #1).
  • Guntur Sukarno. (1981). Bung Karno & Kesayangannya.
  • Rosihan Anwar. (1981). Sukarno, Tentara, PKI : Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961–1965.
  • Ramadhan Kartahadimadja. (1981). Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Inggit dengan Sukarno.
  • Marshall Green. (1990). Dari Sukarno ke Soeharto: G30 S-PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar.
  • Willem Oltmans. (1995). Mijn vriend Sukarno.
  • John Subritzky. (2000). Confronting Sukarno: British, American, Australian and New Zealand Diplomacy in the Malaysian-Indonesian Confrontation, 1961–65.
  • Angus McIntyre, David Reeve. (2002). Sukarno in Retrospect: Annual Indonesia Lecture Series # 24.
  • Victor M. Fic. (2004). Anatomy of the Jakarata Coup: October 1, 1965: The Collusion with China Which Destroyed the Army Command, President Sukarno and the Communist Party of Indonesia.
  • Antonie C.A. Dake. (2005). Sukarno File: Berkas-berkas Soekarno 1965–1967 – Kronologi Suatu Keruntuhan.
  • Wijanarka. (2006). Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya.
  • Reni Nuryanti. (2007). Perempuan dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih.
  • Reni Nuryanti. (2007). Istri-istri Sukarno.
  • Helen-Louise Hunter. (2007). Sukarno and the Indonesian Coup: The Untold Story.
  • M. Yuanda Zara. (2008). Sakura Di Tengah Prahara: Biografi Ratna Sari Dewi Sukarno.
  • Wawan Tunggul Alam. (2008). Demi Bangsaku: Pertentangan Sukarno vs Hatta.
  • Arifin Suryo Nugroho. (2009). Srihana-Srihani:Biografi Hartini Sukarno.
  • Onghokham. (2009). Sukarno, Orang Kiri, & Revolusi G30S 1965.
  • Rushdy Hoesein. (2010). Terobosan Sukarno Dalam Perundingan Linggarjati.
  • Tim Buku TEMPO. (2010). Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia.
  • Arifin Surya Nugraha. (2010). Fatmawati Sukarno : The First Lady.
  • M. Ridwan Lubis (2010). Sukarno dan Modernisme Islam.
  • Books LLC. (2010). People From Blitar, East Java: Sukarno.
  • Bücher Gruppe. (2010). Nationalheld Indonesiens: Tan Malaka, Liste Indonesischer Nationalhelden, Sukarno, Mohammad Hatta, Abdul Muis, Diponegoro, Iskandar Muda.
  • Hong Liu. (2011). Sukarno, Tiongkok, & Pembentukan Indonesia (1949–1965).
  • Hephaestus Books. (2011). National Heroes Of Indonesia, including: Tuanku Imam Bonjol, Sukarno, Wage Rudolf Supratman, Diponegoro, Mohammad Hatta, Adam Malik, Yos Sudarso, Sudirman, Hamengkubuwono Ix, Sutan Sjahrir, Kartini, Sultan Agung Of Mataram, Abdul Muis, Rizal Nurdin.
  • Peter Kasenda. (2012). Hari – Hari Terakhir Sukarno.
  • Jesse Russell (Editor), Ronald Cohn (Editor). (2012). Rukmini Sukarno.
  • Joseph H. Daves. (2013). The Indonesian Army from Revolusi to Reformasi Volume 1: The Struggle for Independence and the Sukarno Era.
  • Joseph H Daves. (2013). The Indonesian Army from Revolusi to Reformasi: Volume 1 – The Struggle for Independence and the Sukarno Era.
  • Stefan Seefelder. (2014). Die Bedeutung Der Fruhen Komintern Fur Die Kommunistischen Antikolonialen Bewegungen Asiens. Maos Und Sukarnos.
  • Peter Kasenda. (2014). Sukarno, Marxisme & Leninisme: Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia.
  • Walentina Waluyanti de Jonge. (2015). Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan.
  • Dr. Syafiq A. Mughnie,M.A.,PhD. Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal.PT. Bina Ilmu, 1994, pp 110–111.
  • Leslie H. Palmier. Sukarno, the Nationalist.Pacific Affairs, vol. 30, No, 2 (Jun. 1957), pp 101–119.
  • Bob Hering, 2001,Soekarno, architect of a nation, 1901–1970, KIT Publishers Amsterdam,ISBN 90-6832-510-8,KITLV Leiden,ISBN 90-6718-178-1
  • Stefan Huebner,Pan-Asian Sports and the Emergence of Modern Asia, 1913–1974. Singapore: NUS Press, 2016, 174-201.

Lagu

Film, televisi, dan panggung pertunjukan

Di kancah perfilman, hiburan televisi, dan panggung teater Indonesia dan negara lain, ada beberapa aktor yang memerankan sosok Bung Karno. Semua aktor tersebut, tentu saja bermain dalam film dan panggung pertunjukan dan judul yang berbeda. Kebanyakan aktor itu, ketika mendapatkan tawaran main, merasa bangga karena memerankan tokoh besar, pahlawan proklamator, bapak pendiri bangsa, sekaligus presiden pertama Republik Indonesia.

Catatan

  1. Dari 1949 sampai 1950 sebagai perdana menteriRIS.
  2. Mengangkat dirinya sendiri secarade facto.[1]
  3. SebagaiKetua Presidium Kabinet.
  4. Dalam autobiografiSukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bobbs-Merrill Company Inc, New York, 1965) Sukarno menyebutkan lahir di Surabaya,"Bapak dipindah ke Surabaya dan di sanalah aku dilahirkan" (halaman 26), selanjutnya"Aku dilahirkan pada tahun 1901... Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni." (halaman 21). Namun dalam beberapa dokumen mencantumkan tanggal 6 Juni 1902 di antaranya"Dalam Buku IndukTH Bandoeng yang sekarang masih tersimpan diITB terbaca bahwa tanggal lahir Soekarno adalah 6 Juni 1902."[3]:37[4]:16 Pendapat lain adalah"Dari Buleleng, ia mendapat temuan ayah Soekarno dipindah ke Surabaya tahun 1901. Dan pada 1902 Soekarno lahir. "Kalau akhirnya dibuat 1901 itu mungkin untuk memudahkan sekolahnya saja," ujar Nurinwa."[5] Adapun kontradiksi perbedaan tahun kelahiran ini akhirnya dapat dijelaskan dalam dialog antara Sukarno dan ayahnya pada halaman 35"Kalau perlu kita berbohong. Kita akan mengurangi umurmu satu tahun. Pada tahun ajaran yang baru engkau akan didaftarkan dengan umur tiga belas." - Oleh karenanya dapat dipastikan bahwa tanggal kelahiran Sukarno yang sesungguhnya adalah tanggal6 Juni 1901.[6]
  5. Bambang Eryudhawan,IAI: Ketika berdiri pada tahun 1920,Technische Hoogeschool te Bandoeng berisi Fakultas Teknik saja. Bidang ilmu yang diajarkan, terutama: a) Ilmu Pasti, b) Ilmu Alam, c) Mekanika, d) Arsitektur, e) Ilmu bahan bangunan, f) Sipil Basah/Bangunan air, g) Jalan dan Jembatan, h) Mesin, i) Elektro, j) Surveying and leveling , k) Geodesi, l) Hukum pemerintahan dan perdagangan, m) Kebersihan, n) Teknik penyehatan, o) Pertanian, p) Geologi terapan, q) Sejarah kebudayaan
  6. Bambang Eryudhawan,IAI: Soekarno sebagai insinyur dianggap menguasai soal sipil basah, jalan dan jembatan, serta arsitektur. Di arsitektur, gurunya adalah dua bersaudara Prof.Charles Prosper Wolff Schoemaker dan Prof. Ir.Richard Leonard Arnold Schoemaker yang mengajar di kelas: arsitektur, sejarah arsitektur, rencana kota, pembuatan bestek dan taksiran biaya.

Referensi

  1. Ricklefs, M.C. (2008) [1981].A History of Modern Indonesia Since c.1300 (Edisi 4th). London: MacMillan.ISBN 978-0-230-54685-1.
  2. Setiadi, A. (2013).Soekarno Bapak Bangsa. Yogyakarta: Palapa. hlm. 21.ISBN 978-602-7933-71-2.
  3. 12345(Indonesia) Goenarso (1995).Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920–1942. Bandung: Penerbit ITB.
  4. (Indonesia) Sakri, A. (1979a).Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979. Jilid I: Selintas Perkembangan. Bandung: Penerbit ITB.
  5. Iswidodo (Minggu, 29 Agustus 2010 20:28 WIB). Iswidodo (ed.)."Antropolog UGM: Bung Karno Lahir di Surabaya".Tribunnews.com. tribunnews.com. Diarsipkan dariasli tanggal 2010-09-02. Diakses tanggal11 September 2015.;;
  6. "Soekarno – biografi".Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-08-10. Diakses tanggal6 Juni 2015.
  7. 123456789101112131415161718(Indonesia)Kasenda, Peter (2010).Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926–1933. Jakarta: Komunitas Bambu.ISBN 979-373-177-X.
  8. 12(Indonesia)Warman, Asvi (2009).Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta: Kompas Media Nusantara.ISBN 979-709-404-1.
  9. Thee, Kian Wie, ed. (2012).Indonesia's Economic Development During and After the Soeharto Era: Achievements and Failings. ISEAS Current Economic Affairs. Cambridge University Press. hlm. 69–89.ISBN 978-981-4379-54-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. "Ini 7 Julukan Presiden Indonesia, Dari Soekarno Sampai Jokowi : Okezone Edukasi". 28 November 2022.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2023. Diakses tanggal23 April 2023.
  11. Kadane, Kathy (21 May 1990)."U.S. OFFICIALS' LISTS AIDED INDONESIAN BLOODBATH IN '60S".The Washington Post. Washington, D.C. Diarsipkan dariasli tanggal 31 October 2021. Diakses tanggal5 November 2021.
  12. Lashmar, Paul; Gilby, Nicholas; Oliver, James (17 October 2021)."Revealed: how UK spies incited mass murder of Indonesia's communists".The Guardian. Diakses tanggal17 October 2021.
  13. Robinson, Geoffrey B. (2018).The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965–66.Princeton University Press.ISBN 978-1-4008-8886-3.
  14. Melvin, Jess (2018).The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder.Routledge. hlm. 1.ISBN 978-1-138-57469-4.
  15. Mark Aarons (2007). "Justice Betrayed: Post-1945 Responses to Genocide." In David A. Blumenthal and Timothy L. H. McCormack (eds).The Legacy of Nuremberg: Civilising Influence or Institutionalised Vengeance? (International Humanitarian Law).Diarsipkan 5 January 2016 diWayback Machine.Martinus Nijhoff Publishers.ISBN9004156917 p. 80.
  16. The Memory of Savage Anticommunist Killings Still Haunts Indonesia, 50 Years On,Time
  17. 12345(Indonesia)Adams, Cindy (1984).Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.ISBN 979-96573-2-6.
  18. Editor (2019-10-08)."Mengubah Nama Lahir, Tradisi Masyarakat Jawa saat Bayi Sakit".1001 Indonesia (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2025-08-16.
  19. "Soekarno tanpa achmad". Diarsipkan dariasli tanggal 2019-12-28.
  20. (Inggris)Adams, Cindy (1965).Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams. New York: The Bobs Merryl Company Inc.ASIN B0007DFFFK.
  21. (Cindy Adams, terjemahan Syamsu Hadi. Ed. Rev. 2011. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, ISBN 979-911-032-7-9) halaman 32
  22. 12345678910111213141516Kisah Istimewa Bung Karno. Kompas Media Nusantara. 2010.ISBN 978-979-709-503-1.
  23. "Oost Indië". 15 Jul 1921. Diarsipkan dariasli tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal2020-04-18 via KB NBM Mfm MMK 0030 [Microfilm].
  24. (Inggris)Brown, Colin (2007).Sukarno. Microsoft ® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.
  25. 12(Indonesia) Sakri, A. (1979b).Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979. Jilid II: Daftar lulusan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
  26. 12Sukarno; Adams, Cindy (1965).Sukarno, An Autobiography. The Bobbs-Merrill Company Inc. hlm. 79–80.
  27. "Behind the coup that backfired: the demise of Indonesia's Communist Party".theconversation.com. 30 September 2015. Diakses tanggal7 June 2022.
  28. Sukarno; Adams, Cindy (1965).Sukarno: An Autobiography. The Bobbs-Merrill Company Inc. hlm. 14592.;Legge 2003, hlm. 101–102
  29. Friend, Theodore (2003).Indonesian Destinies. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 27.ISBN 0-674-01834-6.
  30. Friend, Theodore (1988).The Blue-Eyed Enemy: Japan Against the West in Java and Luzon 1942–1945. Princeton University Press. hlm. 82–84.ISBN 0-691-05524-6.
  31. 12Sukarno (1965).Sukarno: An Autobiography. The Bobbs-Merrill Company Inc. hlm. 192.
  32. 12Adams, Cindy (1967).My Friend the Dictator. The Bobbs-Merrill Company Inc. hlm. 184–186.
  33. Ricklefs, Merle Calvin (2008).A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (Edisi 4th). Palgrave Macmillan. hlm. 337.ISBN 978-1-137-14918-3.
  34. Satō, Shigeru (1994).War, Nationalism, and Peasants: Java Under the Japanese Occupation, 1942-1945. Armonk, NY: M. E. Sharpe Incorporated. hlm. 159–160.ISBN 9781317452355.
  35. Library of Congress, 1992, "Indonesia: World War II and the Struggle For Independence, 1942–50; The Japanese Occupation, 1942–45" Access date: 9 February 2007
  36. Ricklefs (1991), page 207
  37. "The National Revolution, 1945–50".Country Studies, Indonesia. U.S. Library of Congress.
  38. Kolko, Gabriel. The Politics of War. page 607
  39. Legge 2003, hlm. 209-210.
  40. Elson 2009, hlm. 112.
  41. 12Smith, Roger M, ed. (1974).Southeast Asia. Documents of Political Development and Change. Ithaca and London. hlm. 174–18.
  42. Mulyawan Karim (18 August 2009). "Misteri Pembongkaran Gedung Proklamasi (Mystery of Demolishing Proclamation Building)".KOMPAS Daily: 27.
  43. "BUNG KARNO: 6 JUNE – 21 JUNE".
  44. Emmerson, Donald K., ed. (1999).Indonesia Beyond Suharto: Polity, Economy, Society, Transition. Armonk, New York: M.E. Sharpe. hlm. 3–38., section: Robert Cribb, 'Nation: Making Indonesia'
  45. Triyana, Bonnie (2022-01-12)."Istilah "Bersiap" yang Problematik".Historia. Diakses tanggal2022-02-13.
  46. Iburg, Nora (2009).Van Pasar Malam tot I Love Indo, identiteitsconstructie en manifestatie door drie generaties Indische Nederlanders(Master thesis, Arnhem University) (dalam bahasa Belanda). Ellessy Publishers.ISBN 9789086601042.
  47. Bussemaker, H.Th. (2005).Bersiap! Opstand in het paradijs: de Bersiap-periode op Java en Sumatra, 1945–1946[Bersiap! Revolt in Paradise: The Bersiap Period in Java and Sumatra, 1945–1946] (dalam bahasa Belanda). Zutphen: Walburg Press. hlm. 327–344.ISBN 9057303663.
  48. MacMillan, Richard (2006).The British Occupation of Indonesia 1945–1946. New York: Routledge.ISBN 0-415-35551-6.
  49. Poeze, Harry (2009).Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jakarta: KITLV.
  50. Ide Anak Agung Gde Agung (1973).Twenty Years Indonesian Foreign Policy: 1945–1965. Mouton & Co. hlm. 67.ISBN 979-8139-06-2.
  51. Ricklefs, M. C. (2008) [1981].A History of Modern Indonesia Since c. 1300 (Edisi 4th). London: MacMillan. hlm. 365-366.ISBN 978-0-230-54685-1.
  52. "Sejarah Indonesia". Gimonca.com. Diakses tanggal14 February 2011.
  53. van de Kerkhof, 2005, p. 28–31
  54. Roadnigh, Andrew (2002).United States Policy towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years. New York:Palgrave Macmillan.ISBN 0-333-79315-3.
  55. Kinzer, Stephen (2013).The Brothers: John Foster Dulles, Allen Dulles, and Their Secret World War. New York: Times Books.
  56. Pradityo, Sapto."Soetidjah Jadi Artis Hollywood".detikx. Diakses tanggal2023-11-28.
  57. Goldstein, Robert Justin (2001).Political Censorship. Taylor & Francis.ISBN 978-1-57958-320-0.
  58. Anwar, Rosihan (2006).Sukarno, tentara, PKI: segitiga kekuasaan sebelum prahara politik, 1961–1965. Yayasan Obor Indonesia.ISBN 978-979-461-613-0.
  59. Hunter, Helen-Louise (2007).Sukarno and the Indonesian Coup: The Untold Story.Greenwood Publishing Group.ISBN 978-0-275-97438-1.
  60. Kinzer, Stephen (2013).The Brothers: John Foster Dulles, Allen Dulles, and Their Secret World War. New York: Times Books. hlm. 203.
  61. 12"Chapter 1: January 1961–Winter 1962: Out from Inheritance". Aga.nvg.org. Diarsipkan dariasli tanggal 19 July 2002. Diakses tanggal14 February 2011.
  62. 1234"Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London".Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2022-09-09. Diakses tanggal2024-01-03.
  63. Matthew Jones, "US relations with Indonesia, the Kennedy-Johnson transition, and the Vietnam connection, 1963–1965".Diplomatic History 26.2 (2002): 249–281.online
  64. "GANEFO & CONEFO Lembaran Sejarah yang Terlupakan". JakartaGreater. 25 October 2015. Diarsipkan dari versi asli pada 15 April 2017. Diakses tanggal18 May 2017.
  65. 12Hughes (2002), p. 21
  66. "Bung Karno Attended The PKI's Birthday At The GBK Main Stadium".VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2025-02-12.
  67. Mortimer, Rex (2006).Indonesian Communism under Sukarno, 1959–1965. Equinox.
  68. Dake, Antonie (2006).Sukarno Files. Yayasan Obor.
  69. Adams, Cindy (1965).Bung Karno, My Friend.
  70. Vickers, Adrian (2012).Bali – A Paradise Created.
  71. Ricklefs (1991), p. 282.
  72. 12Ricklefs (1991), pp. 281–282.
  73. Friend (2003), p. 105.
  74. 12Vickers (2005), p. 157.
  75. 12Ricklefs (1991), p. 287.
  76. Vickers (2005), pp. 158–159
  77. Ricklefs (1991), p. 288; Friend (2003), p. 113; Vickers (2005), p. 159;Cribb, Robert (2002). "Unresolved Problems in the Indonesian Killings of 1965–1966".Asian Survey.42 (4):550–563.doi:10.1525/as.2002.42.4.550.S2CID 145646994.
  78. Vickers (2005), pp. 159–160.
  79. Ricklefs (1991), p. 288.
  80. 1234567891011121314Huda M., Nurul (2010).Benarkah Soeharto Membunuh Soekarno?. Starbooks.ISBN 978-979-25-4724-5. Halaman 5, 57, 84-89.
  81. Ricklefs (1991), p. 295.
  82. "Britain owes an apology to my father and millions of other Indonesians".The Observer (dalam bahasa Inggris (Britania)). 7 November 2021.ISSN 0029-7712. Diakses tanggal8 July 2023.
  83. Nama Jalan Proklamasi Akan Dikembalikan
  84. Merrillees, Scott (2015).Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980. Jakarta: Equinox Publishing. hlm. 44.ISBN 9786028397308. Diarsipkan dariasli tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal2020-08-31.;
  85. Farrel M. Rizqy, ed. (2009).Bung Karno – Di Antara Saksi dan Peristiwa[Bung Karno – Between Witnesses and Events]. Jakarta: Kompas. hlm. 64.ISBN 9789797094096. Diarsipkan dariasli tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal2020-08-31.
  86. Roy (3 Juni 2008)."Kuba Terbitkan Prangko Bung Karno dan Fidel Castro".Kompas.com. Kompas Cyber Media. Diarsipkan dariasli tanggal 2008-10-13. Diakses tanggal3 Juni 2008.;;
  87. Nurdin Saleh (15 Januari 2001)."Gelora Senayan Siap Berubah Menjadi Gelora Bung Karno". Tempo Interaktif. Diarsipkan dariasli tanggal 2012-01-18. Diakses tanggal5 Juni 2010.;
  88. Info UBKDiarsipkan 2010-05-03 diWayback Machine.,Universitas Bung Karno. Diakses pada 5 Juni 2010.
  89. 12Profil YayasanDiarsipkan 2010-07-15 diWayback Machine.,Yayasan Bung Karno. Diakses pada 3 Agustus 2010.
  90. "Satria Piningit Mengaku Temukan Harta Karun Bung Karno".Suara Merdeka Online. Suara Merdeka. 17 Mei 2003. Diarsipkan dariasli tanggal 2010-07-19. Diakses tanggal3 Agustus 2010.;
  91. 123"Menguak Sisi Artistik Bung Karno".Arsip Sunjayadi.com. Diarsipkan dariasli tanggal 2012-11-09. Diakses tanggal18 September 2015.
  92. "Jejak Arsitektur Sang Presiden". Pikiran Rakyat. Senin, 11 September 2006. Diarsipkan dariasli tanggal 2011-06-14. Diakses tanggal11 September 2015.;; Resensi atas bukuBung Karno Sang Arsitek – Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Interior, Kria, Simbol, Mode Busana, dan Teks Pidato 1926 – 1965
  93. 1234Sejarah nasional Indonesia: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia. PT Balai Pustaka. 1992.
  94. 1234Bung Karno Sang Arsitek - Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Interior, Kria, Simbol, Mode Busana, dan Teks Pidato 1926-1965. Depok: Komunitas Bambu. Juni 2005.Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  95. "Penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipurna Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  96. "Penghargaan Bintang Mahaputera Adipurna Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2022-11-06. Diakses tanggal2021-09-07.
  97. "Penghargaan Bintang Jasa Utama Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-10-26. Diakses tanggal2021-09-07.
  98. "Penghargaan Bintang Gerilya Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  99. "Penghargaan Bintang Sakti Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-10-26. Diakses tanggal2021-09-07.
  100. "Penghargaan Bintang Dharma Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  101. "Penghargaan Bintang Bhayangkara Utama Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  102. "Penghargaan Bintang Garuda Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  103. "Penghargaan Bintang Sewindu APRI Presiden Soekarno".Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal2021-09-07.
  104. Bung Karno di Afghanistan, diakses tanggal2023-04-14
  105. "The Order of the Companions of O.R. Tambo". The Presidency Republic of South Africa. Diakses tanggal2022-11-09.
  106. myrepro (2015-11-10)."Penghormatan & Penghargaan Untuk Bung Karno".myrepro. Diakses tanggal2023-04-14.
  107. Jam, Satu (2015-08-28)."Biografi Soekarno".Satu Jam (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-04-14.
  108. "Orang Afrika: Mengapa Sukarno Disingkirkan?".Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2015-09-21. Diakses tanggal2023-04-14.
  109. "Sejarah Lengkap dan Asal Usul Presiden Soekarno".Kuwaluhan.com. Diakses tanggal2023-04-14.
  110. "Biografi Soekarno".Kepustakaan Presiden. Diakses tanggal22 November 2023.
  111. "Bung Karno di Rio de Janeiro".Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2024-06-14. Diakses tanggal2024-09-11.
  112. Presiden Soekarno berkunjung ke Cekoslowakia (1956), diakses tanggal2023-04-14
  113. Limited, Alamy."Sep. 09, 1956 - Czechoslovak order for the President of the Indonesian Republic. Photo shows The President of the Indonesian Republic Dr. Ahmad Sukarno, receives the Czechoslovak award of the order of the white Lion from Antonin Zapotocky , President of Czechoslovakia during a ceremony at Prague Castle Stock Photo - Alamy".www.alamy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2025-09-25.
  114. "Briefer on the Philippine Legion of Honor".Government of Philippines. Diakses tanggal26 October 2018.
  115. "SOEKARNO TO GET P.I. DECORATION".NewspaperSG. 1951-01-23. Diakses tanggal2024-11-27.
  116. "Sukarno In Hungary 1960".British Pathé. 1960. Diakses tanggal2022-11-09.
  117. President Sukarno of Indonesia in Hungary (1960) | British Pathé, diakses tanggal2023-04-14
  118. "Indochina Medals - Cambodia - CM02 National Order of Independence".indochinamedals.com. Diakses tanggal2024-05-17.
  119. Mirnawati, Indonesia (2012).Kumpulan pahlawan Indonesia terlengkap. CIF. hlm. 151. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  120. Geerken, Horst H. (2017).Hitler's Asian Adventure. Bonn: A BukitCinta Book. hlm. 531–532.ISBN 9783738630138. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  121. "Kunjungan Sukarno ke Maroko".Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2020-10-22. Diakses tanggal2023-04-14.
  122. Limited, Alamy."Jul. 23, 1955 - 23-7-55 Prime Minister Nasser welcomes Indonesian President to Cairo. President Ahmed Soekarno, of Indonesia, has arrived in Cairo for a five day State visit. He was received on his arrival by Prime Minister Gamel Abdel Nasser, and members of the Revolution Command Council. Photo Shows: President Soekarno of Indonesia, was decorated by Prime Minister Nasser with the Collar of the Order of the Nile. Here is Nasser handling over the box containing the Collar to the President Stock Photo - Alamy".www.alamy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2024-05-19.
  123. "ENTIDADES ESTRANGEIRAS AGRACIADAS COM ORDENS PORTUGUESAS - Página Oficial das Ordens Honoríficas Portuguesas".www.ordens.presidencia.pt. Diakses tanggal2024-05-16.
  124. แจ้งความสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์
  125. Author."Istana: Presiden menerima Wisa amal Istiqlal tunisia oleh utusan istimewa sayed al habib bouzquiba".khastara.perpusnas.go.id. Diakses tanggal2024-08-30.
  126. "Lenin Peace Prize Pinned on Sukarno".The New York Times. 1960-07-29. Diakses tanggal2022-11-09.
  127. Kementerian Penerangan, Indonesia (1958).Menjongsong tamu negara Josip Broz-Tito, Presiden Republik Rakjat Federal Yugoslavia. Indonesia: Indonesia. Departemen Penerangan. hlm. 32. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat pula

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenaiSukarno.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:Soekarno.
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:
Jabatan politik
Jabatan baru
Kemerdekaan Indonesia
Lihat:Daftar Gubernur-Jenderal Hindia Belanda
Presiden Indonesia
1945–1967
Diteruskan oleh:
Soeharto
Didahului oleh:
Djuanda Kartawidjaja
Perdana Menteri Indonesia
1959–1966
Diteruskan oleh:
Soeharto
sebagai Ketua Presidium Kabinet
Pranala ke artikel terkait
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Keluarga
Orang tua
Istri
Generasi ke-2
Generasi ke-3
Generasi ke-4
Almamater
Kekuasaan Soekarno
Budaya populer
Jabatan baru
Digantikan:Soeharto
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Keluarga
Orang tua
Soekarno (ayah) danFatmawati (ibu)
Pasangan dan saudara
Taufiq Kiemas (suami kedua) •Surindro Supjarso (suami pertama) •Guntur Soekarnoputra (kakak) •Rachmawati Soekarnoputri (adik) •Nazarudin Kiemas (adik ipar) •Dicky Suprapto (adik ipar) •Sukmawati Soekarnoputri (adik) •Mangkunegara IX (adik ipar) •Guruh Soekarnoputra (adik) • Gusyenova Sabina Padmavati (adik ipar)
Generasi ke-2
Mohammad Rizki Pratama (anak) •Muhammad Prananda Prabowo (anak) •Puan Maharani (anak) •Puti Guntur Soekarno (keponakan) • Hendra Rahtomo (keponakan) • Didi Mahardhika (keponakan) •Paundrakarna (keponakan) •Giri Ramanda Kiemas (keponakan)
Generasi ke-3
Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari (cucu) • Praba Diwangkara (cucu)
Almamater
Masa pemerintahan
Didahului:Abdurrahman Wahid
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Lainnya:Syafruddin Prawiranegara(Ketua Pemerintahan Darurat RI) ·Assaat(Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI pada masa RIS)
TemplateStyles'src attribute must not be empty.

Sjahrir
Syahrir
1945–1947

Sjarifoeddin
Syarifuddin
1947–1948

Hatta
Hatta
1948–1950

Halim
Halim
1950

Natsir
Natsir
1950–1951

Soekiman
Sukiman
1951–1952

Wilopo
Wilopo
1952–1953

Ali
Ali
1953–1955
1956–1957

Burhanuddin
Burhanuddin
1955–1956

Djoeanda
Juanda
1957–1959

Soekarno
Soekarno
1959–1966

Lihat pula:Soesanto Tirtoprodjo (Pejabat Sementara Perdana Menteri),Soeharto (Ketua Presidium Kabinet)
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Indonesia AnggotaBPUPKI
TemplateStyles'src attribute must not be empty.
Politik
Abdul Halim Majalengka ·Abdoel Kahar Moezakir ·Abdurrahman Wahid ·Achmad Soebardjo ·Adam Malik ·Adnan Kapau Gani ·Alexander Andries Maramis ·Alimin ·Andi Sultan Daeng Radja ·Arie Frederik Lasut ·Arnold Mononutu ·Djoeanda Kartawidjaja ·Ernest Douwes Dekker ·Fatmawati ·Ferdinand Lumban Tobing ·Frans Kaisiepo ·Gatot Mangkoepradja ·Hamengkubuwana IX ·Herman Johannes ·Idham Chalid ·Ida Anak Agung Gde Agung ·Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono ·I Gusti Ketut Pudja ·Iwa Koesoemasoemantri ·Izaak Huru Doko ·Johannes Leimena ·Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja ·Lambertus Nicodemus Palar ·Mahmud Syah III dari Johor ·Mangkunegara I ·Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja ·Mohammad Hatta ·Mohammad Husni Thamrin ·Moewardi ·Teuku Nyak Arif ·Nani Wartabone ·Oto Iskandar di Nata ·Radjiman Wedyodiningrat ·Rasuna Said ·Saharjo ·Samanhudi ·Soeharto ·Soekarni ·Soekarno ·Sukarjo Wiryopranoto ·Soepomo ·Soeroso ·Soerjopranoto ·Sutan Mohammad Amin Nasution ·Sutan Syahrir ·Syafruddin Prawiranegara ·Tan Malaka ·Tjipto Mangoenkoesoemo ·Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir ·Achmad Rifa'i ·Andi Depu ·Andi Mappanyukki ·Aji Muhammad Idris ·Aria Wangsakara ·Baabullah ·Bataha Santiago ·Cut Nyak Dhien ·Cut Nyak Meutia ·Depati Amir ·Hamengkubuwana I ·I Gusti Ketut Jelantik ·I Gusti Ngurah Made Agung ·Ida Dewa Agung Jambe ·Himayatuddin Muhammad Saidi ·Iskandar Muda dari Aceh ·Kiras Bangun ·La Madukelleng ·Machmud Singgirei Rumagesan ·Mahmud Badaruddin II dari Palembang ·Malahayati ·Marsinah ·Martha Christina Tiahahu ·Nuku Muhammad Amiruddin ·Nyai Ageng Serang ·Opu Daeng Risadju ·Paku Alam VIII ·Pakubuwana VI ·Pakubuwana X ·Pangeran Antasari ·Pangeran Diponegoro ·Pattimura ·Pong Tiku ·Raden Mattaher ·Radin Inten II ·Ranggong Daeng Romo ·Raja Haji Fisabilillah ·Ratu Kalinyamat ·Salahuddin bin Talabuddin ·Sisingamangaraja XII ·Sultan Agung dari Mataram ·Sultan Hasanuddin ·Teungku Chik di Tiro ·Tuanku Imam Bonjol ·Tuanku Tambusai ·Teuku Umar ·Tirtayasa dari Banten ·Thaha Saifuddin dari Jambi ·Tombolotutu ·Tuan Rondahaim Saragih ·Untung Suropati ·Zainal Mustafa

⧼Sisterprojects⧽

Internasional
Nasional
Akademik
Orang
Lain-lain
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soekarno&oldid=28892734"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp