Menurut penelitian, University of Iowa yang diterbitkan dalamJournal of the American College of Cardiology dijelaskan bahwa sarapan secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian terkaitkardiovaskular, terutama kematian akibat jantung dan strok. Penelitian ini melibatkan beberapa kriteria seperti usia seseorang, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pola makan, gaya hidup, indeks massa tubuh, dan status penyakit. Setelah menganalisis, para peneliti menemukan bahwa mereka yang tidak pernah sarapan memiliki risiko 87 persen lebih tinggi terhadap kematian karena kardiovaskular dibandingkan dengan orang yang sarapan setiap hari. Ada beberapa faktor risiko kardiovaskular, misalnya diabetes, hipertensi, dan kelainan lipid. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang secara konsisten menunjukkan bahwa melewatkan sarapan terkait dengan faktor-faktor risiko kuat untuk kematian kardiovaskular.
Orang yang tidak sarapan cenderung lebih mudah tersinggung. Kajian yang diterbitkan dalam Journal of Physiological Behavior pada 1999 menemukan, seseorang yang rutin sarapan cenderung memiliki suasana hati yang lebih positif dan lebih tenang menjalani kegiatan sehari-hari.
Kajian lain dari Harvard juga menemukan, bahwa wanita yang secara teratur tidak sarapan memiliki peningkatan risiko 20% terkena diabetes tipe 2. Dengan kosongnya perut lalu tiba-tiba makan banyak, tubuh mengalami resistensi insulin.
Gizi yang tidak memadai memengaruhi perkembangan intelektual bayi dan anak-anak. Sebuah kajian kecil tahun 2005 yang diterbitkan dalamjurnal Psychology and Behavior, dilansir dari Business Insider menemukan bahwa anak-anak sekolah dasar yang rutin sarapanhaver memiliki ingatan jangka pendek yang lebih baik daripada siswa yang tidak sarapan. Dilansir dari Live Strong,The University of Maryland Medical Center menunjukkan bahwa seorang anak yang tidak sarapan akan lebih cepat lelah saat di sekolah, tidak mampu berkonsentrasi, dan kehilangan banyak kesempatan mendapatkan stimulasi kognitif. Kekurangan zat besi, yodium, dan protein dalam diet anak mengacu pada IQ yang lebih rendah, menurut laporan dari Iowa State University. Selain itu, gizi buruk mengarah pada penurunan rentang perhatian, gangguan memori, kecenderungan untuk terdistraksi, dan memperlambat kecepatan belajar.