Hingga saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi modern belum dapat menjelaskan fenomena aneh yang terjadi dalam tubuh sang pemeditasi ketika melakukan samadhi.[16] Meski demikian, sebenarnya para ilmuwan Hindu telah bertahun-tahun lamanya berusaha menjelaskan fenomena samadhi.[16] Para ilmuwan dan agamawan yang berkontribusi dalam hal ini adalah:
Shiv Puran
Shiv Puran adalah salah satu tokoh dariIndia yang menjelaskan mengenai fenomena Samadhi dalam diri seseorang.[17] Menurutnya, segala kesadaran secara keseluruhan kembali ke dalam tubuh sang pemeditasi hingga dalam jumlah terkecil, lalu kesadaran ini terkurung di dalam dirinya, meskipun pada saat itu Ia terlihat tenang, tidak bergerak.[17] Selain itu, pada saat bersamadhi, seseorang tidak dapat memikirkan tentang hal lain ataupun memercayai sesuatau, dan mereka kehilangan fungsi indranya: kulit tidak merasakan sentuhan, telinga tak dapat mendengar apapun, hidung tidak dapat mencium bau, lidah tidak dapat merasa.[17] Tubuh orang tersebut kaku layaknya pohon, dan ketika mereka berhasil menyatukan diri dengan sang Brahma (dewa alam semesta) maka Ia telah berada dalam zona samadhi.[17]
Hath Yog Pradipika
Teks Yog Hath Pradipika menjelaskan bahwa orang yang melakukan samadhi melampaui alam sadar dan segala macam rasa,mental danfisik.[18] Seorang yogi yang dalam keadaan samadhi kesadaran di dalam dan di luar dirinya ternatrilisir menjadi nol, berubah menjadi ketenangan absolut.[18] Ketenangan absolut ini sama seperti tubuh yang tak bernyawa.[18]
Patanjali Yogdarshanam dan Mahopanishad
Mahopanishad berpendapat bahwa ketika fase samadhi muncul seluruh pikiran dan ambisi lenyap tak ada bekas.[19] Seorang yogi menjadi tidak menyadari apakah dirinya sedang tertidur, bermimpi, ataupun sadar diri karena mereka telah berada dalam kondisi sempurna.[19] Lalu menurutYogdarshanam, ketika seluruh tubuh dan eksistensi alam tampak tenang, maka seseorang telah mencapai fase samadhi.[19]
Penelitian ilmiah
Dalam sebuh penelitian, dengan mengggunakan elektrogram, menemukan bahwa detak jantung dan aliran listrik biologis di dalam tubuh sang yogi ketika berada dalam fase samadhi benar-benar lemah dan cenderung untuk berhenti berdetak.[20] Hal ini dibuktikan dalam risetnya kepada seorang pria berumur 60 tahun yang pernah melakukan samadhi di bawah tanah selama delapan hari.[20] Sebuah benda bernama elektrogram, disingkat ECG, diletakkan bersamanya dan melakukan pengawasan pada jantungya sebelum dan setelah melakukan yoga.[20]
Pada hari pertama yoga, grafik indikator detak jantung masih menunjukkan keadaan normal, detak jantung masih terdeteksi.[20] Di hari kedua, setelah seorang yogi berada di dalam lubang selama 29 jam, garis grafik melemah pertanda tak ada aliran listrik biologis dari dalam tubuh; jantung sang yogi berhenti.[20] Kejadian ini berlangsung hingga berhari-hari.[20]
Baru lah pada hari ketujuh, elektrograf kembali mendeteksi aktivitas detak jantung sang yogi, hal ini dikarenakan sang yogi telah mengetahui terlebih dahulu bahwa mendekati hari ke delapan pintu lubang akan dibuka.[20] Setelah penelitian tersebut dilakukan, sayangnya hingga saat ini para peneliti tersebut belum bisa memberikan kesimpulan mengenai penelitian tersebut.[20]