Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Saduki

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kaum Saduki dan Farisi bersama Yesus

Saduki adalah nama dari kelompok aristokratikYahudi yang berkuasa diYerusalem hinggaBait Suci dihancurkan pada tahun 70 M.[1] Kaum Saduki juga bertanggung jawab terhadapibadah yang dilakukan di Bait Suci sebagai kaumimam, di mana hampir seluruh imam-imam dapat digolongkan sebagai kaum ini.[1] JabatanImam Besar Yahudi pada umumnya diduduki oleh orang Saduki, tetapi tidak semua orang Saduki adalah imam.[2] Ada kemungkinan bahwa orang-orang Saduki juga terdiri dari orang awam yang kaya dan tuan-tuan tanah.[2]

Kaum Saduki tidak meninggalkan bukti tertulis tentang diri mereka, sehingga keterangan mengenai kaum ini didapat dari kelompok-kelompok yang menentang mereka, sehingga kebanyakan pandangan terhadap mereka adalah negatif.[2] Di dalam kisah-kisahInjil dariPerjanjian Baru, kaum Saduki sering digambarkan sebagai lawanYesus.[2] Kemudian sumber tertulis lainnya mengenai kaum Saduki berasal dariFlavius Yosefus.[3]

Latar Belakang

[sunting |sunting sumber]

Nama “Saduki” diduga berasal dariZadok yang merupakan nama imam agung yang hidup pada masa rajaDaud.[2] Aktivitas mereka dalam bidangpolitik, sebenarnya telah dimulai sejak masa pemerintahanKekaisaran Persia, di mana mereka berkontak dengan penguasa asing dan cenderung menerima Helenisasi.[3] Orang-orang Saduki berkuasa pada masaYohanes Hirkanus,Aristobulus, danAlexander Yaneus.[3] Pada masa pemberontakan dan pemerintahanMakabe, dominasi imam berkurang dan kaumFarisi lebih berkuasa (tahun 76-67 SM).[3] Setelah itu, pada masa pemerintahan Romawi, kaum Saduki kembali mendapatkan posisi penting di bidang politik.[3]

Ciri-ciri

[sunting |sunting sumber]

Kaum Saduki berlaku sebagaiaristokrat di tengah masyarakat Yahudi yang dijajah olehRomawi, karena itu mereka memiliki hubungan dengan pemerintah Romawi.[1] Posisi Imam Besar, yang merupakan posisi tertinggi di Bait Suci, menjadi perantara antara rakyat Yahudi dengan gubernur Romawi.[1] Dengan demikian, sikap politis kaum Saduki mendua, sebab sebagai orang Yahudi sejati seharusnya mereka tidak menerima adanya penguasa-penguasa asing di negeri Yahudi, tetapi di sisi lain, mereka bersikap realistis terhadap kenyataan bahwa Romawi lebih kuat dan Yahudi tidak berdaya.[4]

Kebudayaan

[sunting |sunting sumber]

Terhadap perluasan budaya Yunani atauHelenisme yang sejak masa pemerintahan dinastiSeleukid mulai dilakukan di tanah Yahudi, mereka juga bersikap mendua.[5] Mereka bersikap simpati dan condong terhadap Helenisme, serta bermaksud menyerap sebanyak mungkin, tetapi sekaligus mereka ingin mempertahankan identitas Yahudi.[5] Hal itu berarti mereka harus menetapkan apa yang paling hakiki dariagama Yahudi sedemikian rupa, sehingga tersedia bidang-bidang lain yang dapat menyerap Helenisme.[5] Dengan demikian, di dalam kehidupan sehari-hari, kaum Saduki condong menyesuaikan diri dengan kehidupan Yunani, sedangkan dalam bidang keagamaan mereka memegang teguh agama Yahudi seturutTauratMusa.[5] Hal tersebut dimungkinkan karena mereka tidak seperti kaum Farisi yang memegang pelbagai tafsiran dan hukum tambahan dariTauratMusa.[4]

Hanya mengakui Taurat Musa

[sunting |sunting sumber]

MenurutYosefus, kaum Saduki menolak konsep takdir, kekekalan jiwa, dan ganjaran kekal setelah kematian, serta mereka menerima adanyakehendak bebas.[4] Ia juga mencatat bahwa kaum Farisi memberi aturan-aturan tertentu kepada orang banyak yang tidak dicatat oleh Musa, dan orang-orang Saduki menolaknya.[3] Dengan demikian, kaum Saduki hanya mengakui kewibawaan lima kitab Taurat Musa dan menolak tradisi-tradisi lisan yang merupakan tafsiran terhadap Taurat Musa, dan banyak umum diterima oleh rakyat banyak.[4] Selain itu, kaum Saduki menolak konsepkebangkitan orang mati, adanyamalaikat danroh.[4] Ditambah lagi, mereka juga curiga terhadap kepercayaan populer masyarakat Yahudi tentangMesias yang datang dari Allah untuk membebaskan tanah Yahudi dari penjajahan.[5]

Ritual Keagamaan

[sunting |sunting sumber]

Karena penekanan yang amat kuat terhadap kitab Taurat Musa, kaum Saduki amatlah memandang penting penyembahan Allah melalui kultus Bait Suci di Yerusalem.[1] Kaum Saduki cenderung percaya bahwa selama mezbah-mezbah masih mengepulkan asap di Bait Suci, dan bila kultus-kultus masih dijalankan dengan setia, maka tuntutan-tuntutan agama akan dipenuhi, dan Tuhan ada beserta mereka.[5] Karena itulah, setelah Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M, otomatis kelompok Saduki menghilang karena tidak ada ritual yang dapat dijalankan lagi.[5]

Referensi

[sunting |sunting sumber]
  1. 12345(Inggris)Bart D. Ehrman. 2004.The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings. New York, Oxford: Oxford University Press. P. 39.
  2. 12345S. Wismoady Wahono.1986.Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 325-326
  3. 123456(Indonesia)John Stambaugh, David Balch. 1997.Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 111-114.
  4. 12345C. Groenen. 1984.Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
  5. 1234567(Indonesia)Lawrence E. Toombs. 1978.Di Ambang Fajar Kekristenan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 56-59
Nasional
Lain-lain
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Saduki&oldid=28458096"
Kategori:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp