Artikel inimemberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Gangguan jiwa
Ilustrasi yang berupa lukisan para penderita gangguan jiwa yang dimasukkan kerumah sakit jiwa
Fatih Instres atau kelainan jiwa yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normalmanusia.[1] Gangguan tersebut didefinisikan sebagai kombinasiafektif,perilaku, komponenkognitif ataupersepsi yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerahotak atausistem saraf yang menjalankan fungsi sosial manusia. Penemuan danpengetahuan tentang kondisikesehatan jiwa telah berubah sepanjang perubahan waktu dan perubahanbudaya, dan saat ini masih terdapat perbedaan tentangdefinisi, penilaian danklasifikasi, meskipun kriteria pedoman standar telah digunakan secara luas. Lebih dari sepertiga orang di sebagian besarnegara-negara melaporkanmasalah pada satu waktu padahidup mereka yang memenuhi kriteria salah satu atau beberapa tipe umum dari kelainan jiwa.
Penyebab gangguan jiwa berkaitan dengan kondisi psikososialindividu maupun kondisitubuh manusia. Gangguan jiwa terjadi ketika psikososial individu dalam keadaan tidak stabil. Gangguan jiwa yang terjadi akibat kondisi tubuh manusia umumnya disebabkan olehorgan atausel saraf tertentu yang berhenti berfungsi.[2]
Faktor yang menjadi penyebab gangguan jiwa bersifat beragam dan banyak.[3] Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan gangguan jiwa pada individu, yaitu faktororganobiologi, psikoedukasi dan sosiokultural. Faktor organobiologi berkaitan dengan kelainan padaotak. Kelainan ini dapat ditinjau secarabiokimia,fisiologi maupunanatomi. Faktor psikoedukasi berkiatan dengan adanya hambatan perkembangankepribadian. Sedangkan faktor sosiokultural berkaitan dengan kegagalan dalam menyelesaikankonflik yang terjadi di dalammasyarakat.[4]
Ketidakpastian kondisiekonomi danpolitik cenderung meningkatkan jumlah penderita gangguan jiwa. Prevalensi gangguan jiwa dialami olehkelas menengah ke bawah maupun kelas menengah ke atas. Gangguan jiwa dalam hal ini disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh ketidakmampuan individu dalam beradaptasi denganperubahan sosial yang terus berubah.[5]
Gangguan jiwa dapat terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan individu dalam mengendalikanstres. Penyebab timbulnya stres ini berkaitan dengan persoalan kehidupan yang sulit sepertiekonomi rendah,kekerasan,bencana alam, konflik di masyarakat dan ketidakmampuan beradaptasi denganteknologi.[6]
Gejala: batuk-batuk. Suka robi.Gangguan jiwa memiliki beberapa gejala awal. Gejala-gejala ini berkaitan dengan ketenangan batin dan kesesuaian struktur kepribadian. Beberapa gejala gangguan jiwa yaitu rasa cemas,ketakutan, sikapapatis,kemarahan,kecemburuan,keirian, dan sikapasosial.[7] Penderita gangguan jiwa umumnya tidak menyadari bahwa ia telah mengalami gangguan jiwa. Gejala gangguan jiwa baru disadari setelah tingkatpengendalian diri dari penderitanya sudah sangat berkurang atau telah melakukanperilaku menyimpang.[8]
Gangguan jiwa dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitupsikosis danneurosis. Gangguan jiwa psikosis merupakan gangguan jiwa yang terjadi akibat penyakit syaraf. Tingkatan gangguan jiwa psikosis termasuk gangguan jiwa berat. Sedangkan gangguan jiwa neurosis merupakan jenis gangguan jiwa ringan. Gangguan jiwa neurosis juga disebut gangguan jiwa psikoneurosis.[9]
Indikasi seseorang mengalami gangguan jiwa berat adalah gangguan dalam melakukan penilaian ataskenyataan atau pengartian mendalam yang buruk. Gangguan jiwa berat memiliki indikasi yang meliputihalusinasi,ilusi, waham, gangguanpola pikir danperilaku aneh seperti agresif ataukatatonia.[10] Salah satu jenis gangguan jiwa berat adalahskizofrenia.[11]
Skizofrenia termasuk salah satu jenis gangguan jiwa yang berat.[12] Penyebab utamanya adalah disfungsi otak.[13] Penderita skizofrenia tidak dapat membedakan antara suatu hal yang berrsifat khayalan dan sesuatu hal yang merupakan kenyataan.[14] Gejala skizofrenia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gejala nyata dan gejala samar. Gejala nyata meliputi waham, halusinasi, disorganisasipikiran, serta berbicara dan berperilaku secara tidak teratur. Sedangkan gejala samar meliputi sikap tidak berkeinginan melakukan tindakan apapun, merasa tidak nyaman dilingkunganmasyarakat dan menjauhkan diri dari lingkungan tersebut.[15]
Depresi merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang umum terjadi.[16] Gejala depresi adalah adanya kesedihan dengan kondisipsikopatologi. Kondisi perasaan dari penderita depresi adalah tidak berdaya dan kehilanganharga diri. Penderita depresi juga mengalami perasaan putus asa, tercela, penolakan,pesimisme dankebosanan.[17]
Gangguan jiwa dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik karenakesehatan jiwa dalam keadaan terganggu. Kondisi demikian memberikan kemungkin timbulnyapenyakit penyerta pada penderita gangguan jiwa.[18] Pasien gangguan jiwa yang memiliki penyakit fisik dapat memperlihatkan beberapa perilaku setelah mendapatkan tindakan perawatan di ruangrawat inap. Perilaku-perilaku ini antara lain memukul, menggigit, menendang, mencakar, menarik, mendorong dan merusak barang. Pelecehan seksual juga sering terjadi pada perawat wanita selama maupun setelah proses perawatan. Bentuk pelecehan seksual ini berupa tindakan maupun tutur kata yang menyatakanancaman.[19]
Gangguan jiwa diakibatkan oleh gangguan padaotak. Adanya gangguan pada otak menyebabkanemosi, perilaku danpersepsi dariindra juga mengalami gangguan. Akibatnya, penderita gangguan jiwa mengalami stres danpenderitaan. Penderita gangguan jiwa menjadi tidak mampu melakukan penilaian terhadap kenyataan. Pengendalian dirinya juga mengalami penurunan sehingga dapat menimbulkan tindakan yang menyakiti dirinya sendiri atau menyakiti orang lain.[20]
Beberapa jenis gangguan jiwa dapat menyebabkan ketergantungan zat. Ketergantungan ini dapat terjadi akibat menderita gangguan jiwa yang disertai denganpenyakit penyerta. Kondisi ketergantungan zat menjadi salah satu perhatian dalam penanganan pasien yang menderita gangguan jiwa atau pasien yang menderita ketergantungan zat saja.[21]
Penderita gangguan jiwa dapat mempengaruhi para anggota keluarganya karena mereka merupakan orang terdekat dengannya. Keluarga dari pasien penderita gangguan jiwa dapat mengalamistres. Stres ini dapat diakibatkan karena adanya gangguan tugas dan fungsi keluarga yang disebabkan oleh penderita gangguan jiwa.[22]
Disfungsi keluarga dapat terjadi karena penderita gangguan jiwa mengalami penurunan pengendalian emosi daninteraksi sosial. Kondisi ini mempengaruhi keintiman dari pasangan suami-istri. Pernikahan dengan pasangan yang mengalami gangguan jiwa dapat mengakibatkan perceraian antara suami-istri dan depresi dengan tingkatan yang tinggi.[23] Pada kondisi pasien gangguan jiwa yang mengamuk, timbul risiko terjadinya penganiayaan dan penyiksaan.[24]
Gangguan jiwa menimbulkan anggapan negatif karena perilaku penderitanya bersifat merugikan.[25] Di dalam masyarakat tetap ada pemikiran bahwa penderita gangguan jiwa harus dijauhi karena dapat memberikanancaman kepada orang lain. Kondisi ini memperburuk keadaan penderita gangguan jiwa akibat kurangnya dukungan perawatan. Akibatnya penyakit gangguan jiwa pada pasien dapat kambuh.[26] Pemikiran tersebut disebut dengan stigma. Adanya pandangan demikian membuat masyarakat tidak dapat sepenuhnya menerima keberadaan penderita gangguan jiwa. Masyarakat dengan pemikiran ini akan cenderung melakukan diskredit dandiskriminasi kepada penderita gangguan jiwa.[27]
Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa biasanya memberikanekspresi emosi. Ekspresi emosi ini disampaikan secara verbal maupun non-verbal. Bentuk ekspresinya terbagi menjadi dua macam, yaitu komentar kritis dan keterlibatan emosional secara berlebihan. Komentar kritis dapat dinyatakan melalui sikap memarahi, mengkritik mencela dan menghina penderita gangguan jiwa. Sedangkan keterlibatan emosional secara berlebihan dinyatakan dengan tindakan melindungi, mengatur dan membatasi perilaku penderita gangguan jiwa. Kedua jenis ekspresi emosi ini memperburuk keadaan disabilitas pada penderita gangguan jiwa atau menyebabkan kekambuhan pada penyakitnya.[28]
Penangananpasien gangguan jiwa tidak sama dengan penanganan pasien dengan penyakit fisik. Pada rentang waktu yang sama,dokter hanya dapat menangani pasien gangguan jiwa dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan penanganan pasien dengan penyakit fisik. Dokter harus memiliki waktu yang intensif dalam penanganan pasien gangguan jiwa. Tujuannya agar tidak timbulbias selama prosesdiagnosis dari gejala penyakit gangguan jiwa.[29] Penanganan pasien gangguan jiwa dirumah sakit untuk penyembuhan dilakukan sejak dini. Hal-hal positif harus diberikan kepada pasien sehinggaproduktivitas hidupnya meningkat.[30]
Komunikasi terapeutik merupakan salah satu langkah awal dalam penanganan pasien gangguan jiwa. Kegiatankomunikasi ini melibatkan komunikasi antaraperawat dengan pasien. Tujuan komunikasi adalah untuk memperjelas dan mengurangi beban pada perasaan dan pikiran pasien. Komunikasi terapeutik berlangsung selama perawat mengadakan komunikasi dengan pasien. Dalam bidangkeperawatan, komunikasi terapeutik menjadi salah satu teknik penyembuhan bagi pasien. Pelaksanaannya memerlukan kepercayaan di antara pasien dan perawatan selama asuhan keperawatan. Landasan kepercayaan ini meliputi keterbukaan, saling memahami, pengertian akan kebutuhan, serta harapan dan kepentingan dari pasien dan perawat. Keterangan yang benar sebagai hasil dari komunikasi terpeutik ini dapat membantu meningkatkan keakuratan diagnosis penyakit, penanganan danpengobatan oleh dokter.[31]
Setelah pasien sembuh melalui penanganan dirumah sakit jiwa, kemampuan interaksi sosialnnya telah pulih. Pasien ini sudah mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Kemandirian dari orang dengan gangguan jiwa diakui ketika dirinya telah memiliki inisiatif untuk melakukan semua aktivitas hariannya secara mandiri. Dirinya juga harus melakukan aktivitas sehari-harinya tanpa bantuan dari pihak keluarga.[32]
Penanganan pasien gangguan jiwa juga memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan kegiatan harian. Ini disebabkan adanya kondisi disabilitas yang kompleks. Keterbatasan hidup ini disebabkan oleh perubahan pola pikir, pola perilaku dan emosi. Penurunan produktivitas dari penderita gangguan jiwa menjadi beban bagipemerintah, masyarakat dankeluarga. Penanganannya memerlukan biaya yang mahal. Kondisi gangguan jiwa akan semakin memburuk jika penanganan dilakukan secara tidak efektif.[33]
Penderita gangguan jiwa yang telah memperoleh perawatan di rumah sakit akan melanjutkan perawatan dirumah. Peran keluarga dalam perawatan menjadi hal utama karenaterapi berlangsung lama. Keluarga penderita gangguan jiwa harus memiliki kesabaran dan kerja sama dalam merawatnya. Kewajiban keluarga dalam perawatan penderita gangguan jiwa adalah memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga ketenangan jiwanya.[34]
Keluarga merupakan orang terdekat yang memberikan penanganan langsung kepada penderita gangguan jiwa. Semangat keluarga dalam melakukan perawatan terhadap penderita gangguan jiwa dapat diberikan dengan melakukanpemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan ini dapat memulihkan keadaan penderita gangguan jiwa sekaligus meningkatkan dan mengembangkan kemampuan keluarga dalam penanganan masalah gangguan jiwa.[35]
Suatumasyarakat dapat memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat lain mengenai gangguan jiwa. Penyebabnya adalah adanya kecenderungan dalam meyakini sistem kepercayaan lokal sebagai dasar bagi kepercayaan atas gangguan jiwa. Keputusan individu untuk mencari dan mengadakan tindak lanjut untuk pengobatan gangguan jiwa dipengaruhi olehnorma-norma danbudaya yang berlaku di dalam masyarakat. Perbedaan pandangan ini memberikan dampak buruk khususnya terhadap kepatuhan pencarian pengobatan dan keperawatan gangguan jiwa.[36]
Gangguan jiwa merupakan salah satu permasalahanglobal yang serius menurutOrganisasi Kesehatan Dunia.[37] Di berbagai wilayah di dunia mengalami peningkatan penderita gangguan jiwa tiap tahunnya.[38] Pada tahun 2009, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa sekitar 450 juta orang di dunia akan mengalami gangguan jiwa.Persentase penderita gangguan jiwa dengan usia dewasa diperkirakan sebesar 10%. Sedangkan 25% lainnya diperkirakan mengalami gangguan jiwa pada usia awalkedewasaan. Rentang usianya antara usia 18–21 tahun.[39] Lalu pada tahun 2014, Organisasi Kesehatan Dunia menyampaikan bahwa terjadi peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa khususnya penderita depresi.[40] Pada tahun 2016, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa gangguan jiwa menjadi masalah paling serius di dunia. Gangguan jiwa diderita oleh seperempat dari jumlah orang di dunia.[41] Pada tahun 2016, Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa depresi dialami olehpenduduk dunia dengan jumlah sekitar 35 juta orang.Gangguan bipolar diderita oleh 60 juta.Demensia diderita oleh 47,5 juta orang dan skizofrenia diderita oleh 21 juta orang.[42]
Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa hingga tahun 2017, jumlah penderita gangguan jiwa telah mencapai 450 juta orang. Jumlah ini sudah termasuk penderitaskizofrenia.[43] Pada tahun 2017, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa jenis gangguan jiwa yang paling umum dan paling tinggiprevalensinya adalah depresi dan kecemasan. Sedikitnya 200 juta jiwa manusia di dunia menderitakecemasan. Persentasenya sebesar 3,6% dari total populasi dunia. Sementara itu, jumlah penderita depresi sebanyak 322 juta orang di seluruh dunia. Jumlah ini setara dengan 4,4% dari populasi dunia. Hampir separuh pasien gangguan jiwa berasal dari wilayahAsia Tenggara danAsia-Pasifik. Penyakit depresi menjadi penyumbangkematian utama dengan kasusbunuh diri. Rata-rata jumlah kasus bunuh diri akibat depresi tiap tahunnya adalah 800.000 kejadian.[44] Pada tahun 2017, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa akan meningkat khususnya dinegara-negara dengan tingkatpendapatan yang rendah denganpertumbuhan penduduk yang tinggi.[45] Sedangkan dinegara maju, gangguan jiwa menjadi salah satu masalah kesehatan utama selainpenyakit degeneratif,kanker dankecelakaan.[46]
^Nuryati dan Kresnowati, L. (2018).Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah Terkait III: Anatomi, Fisiologi, Patologi, Terminologi Medis dan Tindakan pada Sistem Panca Indra, Saraf, dan Mental. Jakarta Selatan: Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan. hlm. 4.Parameter|url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
^Effendy, Elmeida (2021). Amin, M. M., dkk., ed.Gejala dan Tanda Gangguan Psikiatri(PDF). Medan: Yayasan Al-Hayat. hlm. 112–113.Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal 2022-10-04. Diakses tanggal2022-03-06.Parameter|url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
^Lesmana, Cokorda Bagus Jaya (2017). Sudira, P. G., dan Saraswati, M. R., ed.Buku Panduan Belajar Koas: Ilmu Kedokteran Jiwa(PDF). Denpasar: Udayana University Press. hlm. 11.ISBN978-602-294-182-8.Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal 2022-08-14. Diakses tanggal2022-03-05.Parameter|url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
^Rokayah, C., dan Rima, P. M. (2020)."Relaps pada Pasien Skizofrenia".Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa.3 (4): 461.ISSN2621-2978.Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-10-07. Diakses tanggal2022-03-06.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
^Indrayani, Y. A., dan Wahyudi, T. (2019).Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia(PDF). Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. hlm. 2.ISSN2442-7659.Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal 2022-07-17. Diakses tanggal2022-03-05.Parameter|url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)