Orang barbar (bahasa Latin:Barbaruscode: la is deprecated,bahasa Belanda:Barbaarcode: nl is deprecated,bahasa Inggris:Barbariancode: en is deprecated) adalahmanusia yang dianggapbiadab atauprimitif. Istilah ini lazim digunakan sebagai suatugeneralisasi (penyamarataan) berdasarkanstereotip (pemahaman berasaskan prasangka subjektif) yang beredar luas di tengah masyarakat. Orang barbar dapat saja merupakan warga sebuahbangsa yang oleh sebagian pihak dinilai kurang beradab atau kurang tertata (misalnyamasyarakat kesukuan), tetapi dapat pula merupakan anggota darikelompok budaya "primitif" tertentu (misalnyakaum Nomad) ataukelas sosial tertentu (misalnyagerombolan bandit), baik di dalam maupun di luar bangsa si penilai. Orang barbar malah dapat pula dikagumi dan diromantisasi menjadiorang liar budiman. Sebagai ungkapan atau kiasan, istilah "orang barbar" dapat saja digunakan untuk menyebut orang yang kasar, kejam, beringas, dan kurang peka menurut penilaian si pengguna sebutan.[1]
Menurut KBBI, barbar merupakan perilaku tidak beradab (sifatnya kasar dan kejam). Dapat diartikan bahwa orang barbar adalah orang yang memiliki perilaku kasar dan kejam.
Orang Yunani menggunakan istilah "orang barbar" sebagai sebutan bagi semua suku bangsa yang tidak berbahasa Yunani, termasukorang Mesir,orang Persia,orang Media, danorang Fenisia, untuk menonjolkan keasingan mereka. Bagi orang Yunani, bahasa yang dituturkan suku-suku bangsa asing ini terdengar seperti ceracau yang diwakili bunyi "bar..bar.."; bunyi ceracau inilah yang merupakan cikal bakal dari kataβάρβαρος, sebuah kata ekomimetis atau kataonomatopeis (tiruan bunyi) dalam kosakatabahasa Yunani. Meskipun demikian, dalam berbagai kesempatan, istilah ini juga digunakan oleh orang Yunani, khususnyaorang Athena, untuk mencemooh suku-suku dan polis-polis Yunani lainnya (misalnyaorang Epiros,orang Elis,orang Makedonia,orang Boiotia, dan para penutur dialek YunaniAiolis), bahkan untuk mencemooh sesama warga Athena sendiri demi kepentingan politik.[7][8][9][10] Tentu saja istilah ini juga memuat dimensi budaya sehubungan dengan makna gandanya itu.[11][12] Kata kerjaβαρβαρίζωcode: el is deprecated,barbarízō, dalambahasa Yunani Kuno berarti bertingkah atau bertutur seperti orang barbar, atau menyerupai orang barbar.[13]
Plato (dalamPolitikos 262de) menolak dikotomi Yunani–barbar sebagai suatu absurditas logika dengan alasan bahwasanya penggolongan warga dunia menjadi orang Yunani dan orang bukan Yunani tidak menerangkan apa-apa mengenai orang bukan Yunani. Meskipun demikian, Plato sendiri berkali-kali menggunakan istilah "orang barbar" dalam suratnya yang ketujuh.[14] Dalam karya-karya tulisHomeros, istilah ini muncul hanya satu kali (Ilias 2.867) dalam bentukβαρβαρόφωνοςcode: el is deprecated,barbarofonos, ("yang omongannya tak terpahami"). Kata ini disandangkan padaorang Kar yang berperang di pihakTroya sewaktuPerang Troya berkobar. Pada umumnya konsepbarbaros tidak banyak dijabarkan dalam khazanah sastra kuno sebelum abad ke-5Tarikh Masehi.[15] Istilah "barbarofonoi" dalam wiracaritaIlias diduga bukan mengacu pada para penutur sebuah bahasa non-Yunani, melainkan pada orang-orang yang kurang fasih berbahasa Yunani.[16]
Konotasi kata ini mengalami perubahan selepasPerang Yunani-Persia pada paruh pertama abad ke-5 SM. Dalam perang ini, koalisi polis-polis Yunani yang dibentuk secara terburu-buru berjaya mengalahkanKekaisaran Persia yang begitu besar. Masyarakat Yunani kala itu kerap menggunakan istilah 'orang barbar' sebagai sebutan bagi orang Persia, yakni musuh Yunani di medan perang.[17]
Orang Romawi menggunakan istilahbarbarus sebagai sebutan bagi suku-suku bangsa yang belum beradab, kebalikan dari orang Yunani atau orang Romawi, dan pada kenyataannya istilah ini dijadikan sebutan umum bagi semua orang asing yang hidup di tengah-tengah masyarakat Romawi selepas masa pemerintahan Kaisar Agustus (sebagaimana orang Yunani menjadikan istilahbarbaros sebagai sebutan bagi orang Persia seusai Perang Yunani-Persia), antara lain orang Jermani, orang Persia, orang Galia, orang Fenisia, dan orang Kartago.[18]
Istilah Yunani,barbaros, adalah sumber etimologis dari banyak kata yang berarti "orang barbar", termasuk kata benda "barbaar" dalam kosakata bahasa Belanda yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata sifat "barbar",[19] dan kata benda "barbarian" dalam kosakata bahasa Inggris yang tercatat untuk pertama kalinya pada abad ke-16 dalambahasa Inggris Pertengahan.
Ada pula akar katabarbara- dalambahasa Sanskerta dari zaman India Kuno yang arti utamanya adalah "gagap", menyiratkan seorang penutur bahasa asing.[20][21][22] Kata Yunani "barbaros" masih berkerabat dengan kata Sanskertabarbaras (gagap).[23] Akar kata India-Eropa ini juga terdapat dalam bahasa Latin, yakni katabalbus yang berarti "gagap", dan dalam bahasa Ceko, yakni katablblati yang berarti "tergagap-gagap".[24]
Dalam konteks bahasa Aram, bahasa Persia Lama, dan bahasa Arab, kata "barbar" mengandung makna "meracau". Katabarbaria ataubarbarrie dalam bahasa Prancis Lama, diserap dari kata Arab,barbar atauberber, yakni sebutan Arab kuno bagi penduduk kawasan Afrika Utara di sebelah barat Mesir. Katabarbar dalam bahasa Arab ini mungkin saja diserap dari kata Yunani,barbaria.[25]
"Penggambaran prajuritJermani" (1616) dalam bukuGermania Antiqua yang ditulis olehPhilipp Clüver.
Oxford English Dictionary mendefinisikan lima arti dari kata bendabarbarian (orang barbar) sebagai berikut:
1.Etimologi, orang asing, orang yang bahasa dan adat istiadatnya berbeda dari si pembicara.
2.Sejarah,a. Orang bukan Yunani.b. Orang yang tinggal di luar wilayah dan peradaban Kekaisaran Romawi, khususnya suku-suku bangsa yang meruntuhkan kekaisaran itu.c. Orang di luar batasperadaban Kristen.d. Bagi orang Italia pada Abad Pembaharuan: Orang yang berkebangsaan selain Italia.
3. Orang yang kasar, buas, biadab.b. Kadang-kadang dibedakan darisavage (orang liar, berkaitan dengan nomor 2).c. Digunakan oleh orang Tionghoa sebagai penghinaan terhadap orang asing.
4. Orang yang tidak berbudaya, atau orang yang tidak meminati budaya sastra.
Lemabarbarous (barbar) dalamOxford English Dictionary merangkum sejarah semantiknya sebagai berikut: "Perkembangan maknanya pada Abad Kuno adalah (bagi orang Yunani) mula-mula 'asing, bukan Yunani,' di kemudian hari 'aneh, kasar, brutal'; (bagi orang Romawi) mula-mula 'bukan Latin atau Yunani,' kemudian menjadi 'berkaitan dengan orang-orang di luar Kekaisaran Romawi' dan oleh karena itu 'biadab, tidak berbudaya,' dan di kemudian hari 'bukan Kristen,' yakni 'Sarasen, penyembah berhala'; dan secara umum 'liar, kasar, kejam secara liar, tidak manusiawi.'"
Istilah "orang barbar" dalam konteks Yunani-Romawi
Budak-budak belian dirantai, relief yang ditemukan di Smirna (sekarangİzmir,Turki), 200 M
Sikap orang Yunani terhadap "orang-orang barbar" berkembang seiring sejalan dengan pertumbuhankepemilikan budak belian - teristimewa diAthena. Meskipun tindakan memperbudak orang Yunani sebagai jalan untuk melunasiutang masih berlanjut di sebagian besar negara kota Yunani, Athena melarang praktik semacam ini sewaktu berada di bawah pemerintahanSolon pada permulaan abad ke-6 SM. Pada zamandemokrasi Athena yang terbentuk padaca. 508 SM,perbudakan meningkat sampai pada skala yang belum pernah disaksikan sebelumnya oleh orang-orang Yunani. Sejumlah besar budak belian dikerahkan untuk menambang perak dalam kondisi kerja yang sangat buruk di tambang-tambang perakLaureion yang terletak di kawasan tenggaraAtike setelah sejalur besar urat bijih perak ditemukan di daerah itu pada 483 SM, sementara fenomena budak belian terampil yang dikaryakan untuk menghasilkan barang-barang kerajinan di pabrik-pabrik dan bengkel-bengkel kecil kian lama kian umum dijumpai.
Selain itu, kepemilikan budak belian tidak lagi menjadi keistimewaan orang kaya: semua rumah tangga di Athena, kecuali yang paling miskin, memiliki budak belian guna membantu pekerjaan para anggota rumah tangga yang berstatus merdeka. Budak-budak belian "barbar" di Athena berasal dari negeri-negeri di sekitarLaut Hitam sepertiTrakia danTaurika (Krimea), sementaraorang Lidia,orang Frigia danorang Kar berasal dariAsia Kecil.Aristoteles (dalamPolitika 1.2–7; 3.14) menggambarkan orang-orang barbar sebagai orang-orang yang fitrahnya adalah menjadi budak belian.
Semenjak kurun waktu ini, kata-kata sepertibarbarofonos, sebagaimana yang termaktub dalam karya tulis pujangga Homeros, mulai digunakan bukan hanya sebagai sebutan bagi bunyi bahasa asing melainkan juga sebagai sebutan bagi orang-orang asing yang kurang fasih bertutur dalam bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani, katalogos dapat bermakna "bahasa" maupun "akal budi", oleh karena itu sudah sejak semula masyarakat penutur bahasa Yunani menganggap ketidakfasihan dalam bertutur sebagai tanda kebodohan.
Perubahan lebih lanjut timbul dalam konotasi-konotasi katabarbari/barbaroi (orang-orang barbar) padaAkhir Abad Kuno,[27] manakala parauskup dankatolikos ditunjuk untuk mengepalai keuskupan-keuskupan di kota-kota yang terletak di wilayahgentes barbaricae (bangsa-bangsa barbar) yang "beradab" misalnya diArmenia atauPersia, tempat para uskup ditunjuk untuk mengawasi seluruh umat dari suku-suku bangsa yang belum menetap.
Akhirnya istilah ini menemukan sebuah makna tersembunyi melaluietimologi rakyat yang dikemukakan olehKasiodorus (ca. 485 –ca. 585). Menurut Kasiodorus, katabarbarus (orang barbar) "terbentuk dari gabungan katabarba (janggut) dan katarus (tanah lapang); karena orang-orang barbar tidak tinggal di kota-kota, tetapi mendirikan tempat-tempat tinggal mereka di padang-padang seperti satwa liar".[28]
Dari gagasan awal yang terbentuk pada Abad Kuno, stereotip barbarisme Yunani berevolusi: orang-orang barbar itu seperti kanak-kanak, tidak mampu berbicara atau berpikir dengan benar, pengecut, keperempuan-perempuanan, boros, kejam, tidak mampu menahan gelojoh dan hawa nafsu, secara politik tidak mampu memerintah sendiri. Para pujangga menyuarakan stereotip-stereotip semacam ini dengan nada yang lebih melengking -Isokrates pada abad ke-4 SM, misalnya, mengimbau agar Yunani memerangi dan menaklukkanPersia sebagaipanasea bagi permasalahan-permasalahan bangsa Yunani.
Meskipun demikian, stereotip Yunani mengenai orang barbar yang terkesan meremehkan tidak sepenuhnya mendominasi perilaku orang Yunani.Ksenofon (wafat 354 SM), misalnya, menulisKirou Paideia (Pendidikan Koresy), sebuah riwayat hidupKoresy Agung dalam bentuk novel yang mengagung-agungkan pendiriKekaisaran Persia itu, dan dengan demikian merupakan sebuah karya tulis yang bersifatutopia. Dalam karya tulis Ksenofon yang berjudulAnabasis, riwayat tokoh-tokoh Persia dan orang-orang bukan Yunani lainnya yang ia kenal atau pernah ia jumpai menunjukan sedikit sekali jejak stereotip-stereotip semacam ini.
Orator terkenal,Demostenes (384–322 SM), mengemukakan pernyataan-pernyataan menghina dalam orasi-orasinya dengan menggunakan frasa "orang barbar".
DalamAlkitabPerjanjian Baru,Santo Paulus (asalTarsus - hidup pada sekitar tahun 5 sampai kira-kira tahun 67 tarikh Masehi) menggunakan frasaorang barbar dalam lingkup makna Yunaninya sebagai sebutan bagi orang-orang bukan Yunani (Roma 1:14), dan juga sebagai sebutan bagi orang yang tidak fasih bertutur dalam bahasa tertentu (1 Korintus 14:11).
Sekitar seratus tahun sesudah masa hidup Paulus,Lukianos – orang asliSamosata, kota di bekas wilayah KerajaanKomagenes, yang telah dimasukkan ke dalam wilayahKekaisaran Romawi dan dijadikan bagian dariProvinsi Suriah – menyebut dirinya sendiri dengan menggunakan istilah "orang barbar". Karena Lukianos terkenal sebagai seorang satiris, sebutan yang mencela diri sendiri ini mungkin hanya sekadar majas Ironi. Sebutan ini mungkin pula menyiratkan bahwa Lukianos adalah keturunan warga pribumi Samosata yang tergolongbangsa Semit, yang agaknya disebut "orang-orang barbar oleh warga pendatangpenutur bahasa Yunani yang tergolong bangsa Yunani ", and might have eventually taken up this appellation themselves.[30][31]
Sisero (106-43 SM) menggambarkan daerah pegunungan di pedalamanSardinia sebagai "sebuah negeri orang barbar". Warganya pun diberi julukan yang sangat merendahkan, yaknilatrones mastrucati ("pencuri-pencuri berpakaian wol kasar"). Kawasan yang sampai sekarang masih disebut "Barbagia" (Barbàgia atauBarbàza dalambahasa Sardinia) ini tetap mempertahankan sebutan kuno "orang barbar" ini dalam namanya, tetapi tidak lagi secara sadar mempertahankan citra buruk yang dikait-kaitkan dengan istilah "orang barbar". Warga kawasan ini menggunakan nama tersebut secara wajar tanpa merasa tersinggung.
PatungOrang Galia Sekarat mengungkap beberapa hal terkait persepsi dan sikap orang Yunani terhadap "orang barbar".Atalus I dariPergamon (memerintah 241-197 SM) memerintahkan (pada era 220-an SM) pembuatan sebuat patung sebagai peringatan kemenangannya (ca. 232 SM) atas orangGalatia Kelt diAnatolia (patung asli yang terbuat dari perunggu sudah hilang, tetapi sebuah patung tiruan buatan Romawi berbahan dasarmarmer ditemukan pada abad ke-17).[32] Dengan realisme yang mengagumkan, patung ini menggambarkan sosok seorang pejuang Kelt yang sedang sekarat, lengkap dengan tatanan rambut dan kumis khas Kelt. Pejuang sekarat ini duduk di atas perisainya yang tergeletak di tanah sementara sebilah pedang dan benda-benda lain berserakan di dekatnya. Ia tampak seperti sedang berjuang melawan maut, menolak pasrah pada nasibnya.
Patung ini dibuat sebagai kenang-kenangan akan penaklukan suku bangsa Kelt itu, dan dengan demikian menunjukkan kehebatan bangsa penakluknya, maupun sebagai kenang-kenangan akan keberanian mereka selaku lawan yang sebanding. Sebagaimana yang dikemukakan olehH. W. Janson, patung ini menyampaikan pesan bahwa "mereka tahu cara mati yang bermartabat, sekalipun mereka adalah orang-orang barbar".[33]
Barbarisme mutlak, peradaban, dan orang liar mulia
Bangsa Yunani mengagumi orang-orangSkitia danGalatia sebagai orang-orang yang gagah berani – dan bahkan sebagai filsuf-filsuf (misalnyaAnakarsis) – namun budaya mereka tetap saja dianggap barbar.Bangsa Romawi menyifatkan tanpa membeda-bedakan berbagaisuku bangsa Jermani, suku bangsaGalia yang sudah hidup menetap, dan suku bangsaHun yang suka menjarah sebagai orang barbar, dan narasi-narasi sejarah beroriantasi klasik yang dihasilkan oleh bangsa Romawi menggambarkan migrasi-migrasi yang berkaitan dengan runtuhnyaKekaisaran Romawi Barat sebagai "invasi orang barbar".
Bangsa Romawi menggunakan istilah ini sebagai sebutan bagi segala sesuatu yang bukan Romawi. Sejarawan budaya Jerman, Silvio Vietta, menunjukkan bahwa makna dari kata "barbar" telah mengalami perubahan semantik di Zaman Modern, setelahMichel de Montaigne menggunakannya untuk menyifatkan kegiatan-kegiatan bangsa Spanyol di Dunia Baru – yang dianggap sebagai representasi budaya bangsa Eropa yang "lebih tinggi" – sebagai "barbar," dan sebuah esai satir yang terbit pada 1580.[34] Bukan suku-suku Indian "biadab" yang disebut "barbar", melainkan para penakluk berkebangsaan Spanyol. Michel de Montaigne berpendapat bahwa orang-orang Eropa mencermati sifat barbar dari budaya-budaya lain tetapi tidak mencermati tindakan-tindakan yang lebih kejam dan lebih brutal di dalam masyarakat mereka sendiri, khususnya (semasa hidupnya) pada masapeperangan agama di Eropa. Menurut pandangan Michel de Montaigne, bangsanya sendiri – bangsa Eropa – adalah "orang barbar" yang sesungguhnya. Dengan demikian, argumen yang bersifatEropa-sentris dibalikkan dan diterapkan kepada pihak-pihak pelaku invasi dari Eropa. Dengan pergeseran makna semacam ini, muncul karya-karya sastra di Eropa yang menyifatkan masyarakat Indian pribumi sebagai masyarakat yang masih polos dan lugu, sekaligus menyifatkan bangsa Eropa yang lebih digdaya secara militer sebagai para penyusup "barbar" yang menginvasi sebuah firdaus duniawi.[35][36]
Dalam budaya populer Zaman Modern, muncul tokoh-tokoh orang barbar khayalan semisalConan the Barbarian (Conan Si Orang Barbar).[37] Dalam kisah-kisah khayalan semacam ini, konotasi-konotasi negatif yang secara tradisional dikait-kaitkan dengan "orang barbar" sering kali dijungkirbalikkan. Sebagai contoh, alur ceritaThe Phoenix on the Sword (Feniks di Bilah Pedang) yang terbit pada 1932, buku pertama dari serial "Conan" karyaRobert E. Howard, bermula tak lama sesudah "orang Barbar" yang menjadi tokoh utama dalam buku ini berhasil merebut kekuasaan atasKerajaan Aquilonia dari Raja Numedides yang lalim. Raja Numedides tewas dicekik di atas singgasananya sendiri oleh si tokoh utama. Alur cerita dalam buku ini jelas-jelas diarahkan sedemikian rupa agar menciptakan kesan bahwa Kerajaan Aquilonia diuntungkan oleh peralihan kekuasaan dari seorang kepala monarki turun-temurun yang lalim dan sewenang-wenang ke tangan seorang barbar perebut takhta yang gagah perkasa.
↑Delante Bravo, Chrostopher (2012).Chirping like the swallows: Aristophanes' portrayals of the barbarian "other". ProQuest, UMI Dissertation Publishing. hlm.9.ISBN978-1-248-96599-3.
↑Baracchi, Claudia (2014).The Bloomsbury Companion to Aristotle. Bloomsbury Academic. hlm.292.ISBN978-1-4411-0873-9.
↑Siculus Diodorus, Ludwig August Dindorf, Diodori Bibliotheca historica – Jld. 1 – Hlm. 671
↑Plutarkos dalam karya tulisnya "Riwayat Piros" mencatat tentang kegelisahannya, tatkala melihat sepasukan tentara Romawi maju menghadapinya di medan pertempuran dalam barisan yang tertib dan tertata, dengan kalimat "mereka ini bukanlah orang-orang barbar."Foreigners and Barbarians (disadur dariDaily Life of the Ancient Greeks)Diarsipkan 29 June 2011 diWayback Machine., The American Forum for Global Education, 2000.
"Status selaku orang asing, yakni makna istilah ini sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Yunani, tidak memungkinkan pendefinisian yang sederhana. Istilah ini terutama dilekatkan pada suku-suku bangsa seperti Persia dan Mesir, yang bahasanya tidak dipahami orang Yunani, tetapi dapat pula dilekatkan pada orang-orang Yunani yang bertutur dalam dialek lain dan dengan aksen lain... Prasangka terhadap orang Yunani oleh sesama orang Yunani tidak hanya menimpa orang-orang Yunani yang hidup di sekitar tapal batas Alam Yunani saja. Orang Boiotia, penduduk kawasan tengah Negeri Yunani, yang riwayatnya tak bercela itu pun secara rutin dicemooh sebagai orang-orang yang dungu dan gelojoh. Suku adalah suatu konsep yang cair bahkan pada masa-masa damai. Bilamana selaras dengan kepentingan-kepentingan mereka, orang Yunani juga membeda-bedakan rekan-rekan sebangsanya sendiri menjadi dua kaum, yakni kaum Ionia dan kaum Doria. Perbedaan ini ditonjolkan selama Perang Peloponesos berkecamuk, manakala orang orang Athena Ionia bertempur melawan orang Sparta Doria. Brasidas, Panglima Perang Sparta, bahkan mencemooh orang Athena sebagai orang-orang yang bertabiat pengecut lantaran mewarisi darah Ionia. Pada kurun-kurun waktu lain dalam sejarah, perbedaan Ionia-Doria tidak begitu dipentingkan."
↑Sir Edward Bulwer Lytton.Athens: Its Rise and Fall. Kessinger Publishing, 2004.ISBN1-4191-0808-5, hlmn. 9–10.
"Mengenai apakah orang Pelasgi purbakala adalah suku asing atau suku pribumi Yunani, masih hangat diperdebatkan. Manakala menulis tentang sejumlah permukiman yang diyakini sebagai permukiman orang Pelasgi pada masa hidupnya, Herodotos mengemukakan anggapannya bahwa bahasa yang dituturkan warga permukiman-permukiman itu 'bercorak barbar'; tetapi Mueller, dengan argumen yang sama kurang memadainya, berpendapat bahwa istilah itu hanya digunakan sekadar untuk menggambarkan suatu dialek tertentu; hipotesis ini didukung oleh ayat lain dalam karya tulis Herodotos, yang juga menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan dialek-dialek Ionia. Bukti yang memperkuat pendapat Mueller ini adalah kenyataan bahwa 'berlidah-barbar' merupakan julukan yang dilekatkan Homeros pada orang Kar, dan yang dengan tepat ditafsirkan oleh para kritikus Abad Kuno menggambarkan suatu dialek yang campur aduk dan belum tertata, tetapi jelas bukan sebuah bahasa asing. Demikian pula riwayat Agamemnon dari Sofokles menegur Teukros karena 'lidah-barbarnya,' tidak membuat ilmuwan menduga bahwa Teukros ditegur karena tidak berbicara dalam bahasa Yunani, melainkan karena berbahasa Yunani secara kurang elok dan kurang santun. Jelas bahwa orang-orang yang masih menggunakan bentuk yang paling sedikit mengalami pergeseran makna dari suatu bahasa dalam bentuknya yang terdahulu, akan tampak seolah-olah mengeluarkan jargon yang aneh dan tidak akrab bagi telinga yang sudah terbiasa dengan bentuk modernnya."
↑βαρβαρίζω, Henry George Liddell, Robert Scott,An Intermediate Greek-English Lexicon, di situs Perseus
↑"Salinan arsip". Diarsipkan dariasli tanggal 2015-05-02. Diakses tanggal2018-07-10.
↑Hall, Jonathan.Hellenicity, hlm. 111,ISBN0-226-31329-8. "Sekurang-kurangnya pada peringkat elit, tidak ada tanda-tanda selama kurun waktu Abad Kuno yang memperlihatkan keberadaan dikotomi tajam antara orang Yunani dan orang barbar, ataupun representasi yang bernuansa penghinaan dan bersifat stereotip dari orang barbar yang muncul dengan begitu jelasnya pada abad ke-5."
↑Hall, Jonathan.Hellenicity, hlm. 111,ISBN0-226-31329-8. "Mengingat kedekatan orang Kar dengan orang Yunani, telah diduga diduga bahwasanya istilahbarbarofonoi dalam Ilias bukan mengacu pada para penutur sebuah bahasa non-Yunani melainkan orang-orang yang sekadar kurang fasih berbahasa Yunani."
↑Tsetskhladze, Gocha R.Ancient Greeks West and East, 1999, hlm. 60,ISBN90-04-10230-2. "orang barbar dari bangsa lain, sesuai dengan keadaan politik kala itu, agaknya berarti orang Persia."
↑barbarus, Charlton T. Lewis, Charles Short,A Latin Dictionary, di situs Perseus
↑Onions, C.T. (1966), disunting oleh, The Oxford Dictionary of English Etymology, hlm. 74,The Clarendon Press, Oxford.
↑Barbarian, Etymology Dictionary, Douglas Harper (2015)
↑Barbary, Etymology Dictionary, Douglas Harper (2015)
↑Oxford English Dictionary, 2009, ed. ke-2, jld. 4.0, Oxford University Press.
↑Lihat Ralph W. Mathison,Roman Aristocrats in Barbarian Gaul: Strategies for Survival in an Age of Transition (Austin) 1993, hlmn. 1–6, 39–49; Gerhart B. Ladner, "On Roman attitudes towards barbarians in late antiquity"Viator77 (1976), hlmn. 1–25.
↑Arno Borst.Medieval Worlds: Barbarians, Heretics and Artists in the Middle Ages. London: Polity, 1991, hlm. 3.
↑Keith Sidwell, introduction to Lucian:Chattering Courtesans and Other Sardonic Sketches (Penguin Classics, 2005) hlm.xii
↑Wolfgang Helbig,Führer durch die öffenlicher Sammlungen Klassischer altertümer in Rom (Tubingen 1963–71) jld. II, hlmn 240–42.
↑H. W. Janson, "History of Art: A survey of the major visual arts from the dawn of history to the present day", hlm. 141. H. N. Abrams, 1977.ISBN0-13-389296-4