Suku Bamar (Myanmar: ဗမာလူမျိုး ; ejaan:ba. ma lu myui; dibaca:bəmà lùmjó); secara histori juga dikenal denganBurma dan Orang Burma) adalah suku mayoritas dan warga negara asli di negaraMyanmar (Burma) yang masih satu kelompok dengansuku Sino-Tibet.[2] Umumnya mereka berasal dari sekitarSungai Irrawaddy dan mereka memiliki bahasa sendiri yakniBahasa Burma, yang juga merupakan bahasa resmi dariMyanmar.[2] Mereka menjadi suku mayoritas di divisi Magwe, Sagaing,Mandalay, Bago,Yangon, danAyeyarwady (Irrawaddy).[3]
Penggunaan nama Burma, merupakan bahasa Sino Tibet. Menurut orang Burma, asal mula mereka adalah dariYunnan,Tiongkok, bermigrasi ke kawasan sungai Irrawaddy pada abad ke-7 silam. Lambat laun, bahasa suku Bamar, terpengaruh denganSuku Mon danSuku Pyu yang mendiami kawasan Irrawaddy, yang pertama kali bermukim di kawasan tersebut.[4][5]
Suku Bamar secara bertahap menetap di lembah sungai Irrawaddy dan Salween yang subur yang merupakan rumah bagi negara-kota Pyu, tempat mereka mendirikan Kerajaan Pagan. Antara tahun 1050-an hingga 1060-an, Raja Anawrahta mendirikan Kekaisaran Pagan, untuk pertama kalinya menyatukan lembah Irrawaddy dan wilayah sekitarnya di bawah satu pemerintahan. Pada tahun 1100-an, bahasa dan budaya Burma telah menjadi dominan di bagian atas lembah Irrawaddy, melampaui norma-norma Pyu (sebelumnya disebut Tircul) dan Pali. Kronik konvensional Burma menyatakan bahwa Pyu berasimilasi dengan populasi Bamar.
Pada tahun 1200-an, pemukiman Bamar ditemukan di selatan Mergui (Myeik) dan Tenasserim (Taninthayi), yang penduduknya masih menggunakan dialek Burma kuno. Mulai tahun 900an, penutur bahasa Burma mulai bermigrasi ke arah barat, melintasi Pegunungan Arakan dan menetap di tempat yang sekarang disebut Negara Bagian Rakhine. Pada tahun 1100-an, mereka mengkonsolidasikan kendali atas wilayah tersebut, menjadi negara bagian dari Kekaisaran Pagan hingga abad ke-13. Seiring waktu, para migran Bamar ini membentuk identitas budaya yang berbeda, menjadi orang Rakhine (juga dikenal sebagai orang Arakan).
Menurut analisis DNA tahun 2014, suku Bamar memiliki tipikal orangAsia Tenggara danIndia; maka secara keseluruhan, suku Bamar cukup beragam dalam bentuk kulit, seperti halnyaSuku Karen. Tapi orang Bamar lebih dekat denganSuku Mon danSuku Yi dibandingSuku Karen.[4]
Pada abad ke sembilanorang Tiongkok menemukan indikasi bahwa bahasa Sino Tibet memiliki ragam dialek dengan yang ada di kawasan Sungai Irrawaddy.[6][7]
Bahasa Burma adalah bahasa resmi yang digunakan suku Bamar, yang juga digunakan oleh Beberap suku minoritas lainnya di Myanmar, karena merupakan bahasa resmi negara. Dialek daj pengucapan kata-katanya juga sangat mirip dengan bahasa dan dialek orang Sino Tibet.[8]
Secara keseluruhan, sekitar 30 juta jiwa suku Bamar ada diMyanmar. Seiring perkembangan zaman, mereka melakukandiaspora ke berbagai negara di dunia. Jumlah terbanyak diaspora suku Bamar ada diThailand yang merupakan negara tetanggaMyanmar, yang jumlahnya mencapai 2,6 juta jiwa, tersebar di berbagai provinsi di Thailand.[1]
Selain di Thailand, jumlah mereka cukup banyak diSingapura sekitar 74.000 jiwa. Umumnya sebagai pekerja untuk perusahaan atau pabrik, sama seperti halnya warga Indonesia dan negara lainnya yang ada di Singapura. Selebihnya ada diBritania Raya,malaysia,Hongkong,Korea Selatan,Australia danJepang.[1]
Pakaian tradisional orang Bamar cenderung mengenakan sarung. Sarung untuk kaum laki-laki disebutlongyi dan untuk kaum perempuan disebuthtamain. Kaum perempuan akan mengenakan perhiasan emas, syal sutera, dan jaket merah khasMandarin, pada acara-acara tertentu.[3] Demikian juga, masih banyak wargaMyanmar saat ini yang masih mengenakan pakaian tradisional ini, meski pengaruh pakaian danmake-up gaya barat mulai memengaruhi cara berpaian mereka.[3]