Mudrā[muːˈdrɑː](bantuan·info) (Dewanagari: मुद्रा, dalam bahasa Sanskerta artinya: "lambang" atau "segel") adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalamHinduisme danBuddhisme. Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari. Mudrā adalah gestur spiritual dan penanda energi dan keaslian dalamikonografi dan praktik spiritual dalam tradisi agamaDharma sertaTaoisme.
Dalamyoga, mudrā dilakukan bersamaan denganpranayama (latihan pernapasan yoga), umumnya dilakukan sambil bersila dalam poseWajrasana, dilakukan untuk merangsang berbagai bagian tubuh yang berkaitan dengan latihan pernapasan dan memengaruhi aliranprana dalam tubuh.
Mudrā kerap digunakan dalamikonografi kesenianHindu danBuddha di India dan disebutkan dalam beberapa naskah, sepertiNatya Shastra, yang mencantumkan 24asaṁyuta ("terpisah", artinya "satu-tangan") dan 13saṁyuta ("bersama", artinya "dua-tangan") mudrā. Posisi mudrā biasanya terbentuk dari tangan dan jemari. Bersama denganasana ("postur duduk"), dan dilakukan baik secara statis dalammeditasi maupun secara dinamis dalamNatya Yoga yang dipraktikan dalam ajaranHinduisme. Masing-masing mudrā memiliki dampak tertentu bagi pelakunya. Beberapa sikap tangan dapat ditemukan baik dalam ikonografi Hindu maupun Buddha. Di beberapa kawasan seperti Thailad dan Laos terdapat penafsiran dan bentuk tersendiri.
Menurut Jamgon Kongtrul dalam komentarnya tentangHevajra Tantra, ornamen tulang simbolis the (Skt:aṣṭhiamudrā; Tib: rus pa'i rgyanl phyag rgya) juga dikenal sebagai "mudra" atau "segel".[1]
Mudrā adalah bentuk dasar praktikyoga, sebagai contoh, buku paling populer yang diterbitkan sekolah yoga di Bihar disebut Asana, Pranayama, Mudrā, Bandha.
Borobudur dirancang membentukmandala besar yang melambangkan kosmologi buddhis, suatu konsep alam semesta dalam buddhisme. Aslinya terdapat 504 arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaranMahayana yang diwakili oleh masing-masingDhyani Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, di mana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.[2]
Mengikuti urutanPradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:
^Kongtrul, Jamgön (author); (English translators: Guarisco, Elio; McLeod, Ingrid) (2005).The Treasury of Knowledge (shes bya kun la khyab pa’i mdzod). Book Six, Part Four: Systems of Buddhist Tantra, The Indestructibe Way of Secret Mantra. Bolder, Colorado, USA: Snow Lion Publications.ISBN 1-55939-210-X (alk.paper) p.493
^Roderick S. Bucknell and Martin Stuart-Fox (1995).The Twilight Language: Explorations in Buddhist Meditation and Symbolism. UK: Routledge.ISBN0700702342.