Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Kecerdasan emosional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Salah satu contoh pengungkapan emosi seseorang. Tubuh manusia akan mengalami reaksi ketika dihadapkan dengan suatu peristiwa tertentu. Kemudian tubuh akan membuat persepsi terhadap reaksi tersebut. Hal tersebut dinamakan emosi. Emosi tersebut dapat terlihat dariwajah, baik senang atausedih.[1]

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris:emotional quotient, disingkat EQcode: en is deprecated) adalahkemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrolemosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[2] Dalam hal ini, emosi mengacu padaperasaan terhadapinformasi akan suatuhubungan. Sedangkan, kecerdasan mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.[3] Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasanintelektual (IQ). Satu studi menemukan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting. Dalam buku Daniel Goleman "Kecerdasan Emosional" dijelaskan bahwa kecerdasan emosional bertanggung jawab atas keberhasilan sebesar 80%, dan 20% ditentukan oleh IQ.[4]

MenurutHoward Gardner (1983) terdapat lima pokok utama darikecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagaialat untuk memotivasidiri.[5] Selain itu, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, lebih mudah dipercaya, bisa beradaptasi dengan baik, bisa bergaul dan bekerjasama dalam tim, memiliki rasa tahu yang tinggi, serta memiliki motivasi yang tinggi.[6]

Sejarah

[sunting |sunting sumber]

Konsep mengenai kekuatan emosional pertama kali diperkenalkan olehAbraham Maslow pada tahun 1950-an.[7] Istilah "kecerdasan emosional" kemudian muncul pertama kali dalam makalah tahun 1964 oleh Michael Beldoch[8] dan dalam makalah tahun 1966 oleh B. Leuner berjudulEmotional intelligence and emancipation yang muncul pada jurnalpsikoterapi yang bernamaPractice of child psychology and child psychiatry.[9] Pada tahun1983,Howard Gardner dalam bukunya yang berjudulFrames of Mind:The Theory of Multiple Intelligences[10] memperkenalkan sebuah gagasan bahwa jenis kecerdasan yang umum digunakan seperti IQ, gagal dalam menjelaskan keseluruhan kemampuan kognitif. Dia kemudian memperkenalkangagasan kecerdasan ganda yang mencakup kecerdasan interpersonal (kapasitas untuk memahami niat, motivasi dan keinginan orang lain) dan kecerdasan intrapersonal (kapasitas untuk memahami diri sendiri, untuk menghargai perasaan, ketakutan, dan motivasi seseorang).[11]

Penggunaan istilah "EQ" (Emotional Quotient) atau kecerdasan sosial yang ada pada karya cetak yang tersebar secara publik baru pertama kali ada pada tahun 1987 dalam sebuah artikel oleh Keith Beasley di majalah British Mensa.[12] Meski begitu, istilah kecerdasan emosional baru dipopulerkan pada tahun 1995 olehpsikolog danjurnalisilmu perilaku Dr. Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudulEmotional Intelligence – Why it can matter more than IQ.[13] Buku tersebut selanjutnya mendapatkan popularitas yang kemudian berakibat pada kepopuleran Daniel Goleman itu sendiri.[14] Akhir tahun 1998, artikel Goleman diHarvard Business Review berjudul "What Makes a Leader?"[15] menarik perhatian manajemen senior diJohnson & Johnson's Consumer Companies (JJCC). Artikel tersebut berbicara tentang pentingnya Kecerdasan Emosional (EI atauEmotional Intelligence) untuk kesuksesan dalam hal kepemimpinan. Daniel mengutip beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa EI sering menjadi faktor pembeda antara pemimpin hebat dan pemimpin yang cenderung biasa saja. JJCC mendanai sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat antara pemimpin berkinerja unggul dengan kompetensi emosional. Hal ini mendukung pendapat dari sebuah teori bahwa dalam kompetensi sosial, kemampuan emosional dan relasional yang biasa disebut sebagai Kecerdasan Emosional, merupakan faktor pembeda dalam kinerja kepemimpinan.[16] Tes pengukuran EI masih belum dapat menggantikan tes IQ sebagai standar metrik dari kecerdasan yang lebih umum di masyarakat[17] dan Kecerdasan Emosional juga mendapatkankritik mengenai peranan kecerdasan tersebut dalamkepemimpinan dan kesuksesanbisnis.[18]

Definisi

[sunting |sunting sumber]

Kecerdasan emosional didefinisikan oleh Peter Salovey dan John Mayer, sebagai "kemampuan untuk mengatur emosi diri sendiri dan orang lain yang mana kecerdasan ini bertujuan untuk membedakan antara emosi yang beragam dan memberi label secara tepat, serta menggunakan informasi emosional untuk mengatur pikiran dan perilaku".[19] Definisi ini kemudian diperdalam, disempurnakan, dan kemudian diusulkan untuk dibagi menjadi empat kemampuan, yaitu memahami, menggunakan, memahami, dan mengelola emosi.[20] Kemampuan ini sebenarnya berbeda-beda tetapi saling terkait.

Untuk lebih jelasnya Solovey menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama:[21]

  • Mengenali emosi diri. Mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan dalam mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan.engelo
  • Mengelola emosi. Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk dalam keterampilan ini akan terus-menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.
  • Memotivasi diri sendiri. Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Orang-orang yang memiliki kemampuan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.
  • Mengenali emosi orang lain. Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
  • Membina hubungan. Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apa pun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain.


Kelompok Emosi

[sunting |sunting sumber]
Gangguankepribadian ambang adalah gangguan ketidakstabilan emosi. Sebagai cirinya sering mengalami rasacemas,sedih,takut, dan mengalami tingkat kemarahan yang tinggi.[22]

Marah adalah ekspresi emosi yang bersifat agresif. Marah bisa dipicu akibatfrustasi, merasa kecewa, dan rasa kesal terhadap suatu hal. Dampak positif dari marah, bisa meredakan rasa kesal dan bisa membuat emosi tenang. Selain itu, marah juga bisa berdampak buruk apabila tidak bisa mengendalikan emosi marah tersebut.[23] Emosi marah bisa diekspresikan dengan amukan, rasa benci dan marah yang besar, merasa jengkel terhadap suatu hal, merasa kesal dan terganggu, muncul karena singgungan, hingga menyebabkankekerasan dan rasabenci secarapatologis.[24]

Kesedihan merupakan reaksiemosi yang timbul karena suatu hal, bisa karena peristiwa, pengalaman, dan keadaan yang menyakitkan dan rasa kecewa.[25] Rasa sedih bisa dipicu oleh rasa kecewa terhadap suatu hal, dan merasa tidak berdaya hingga tidak muncul rasa minat untuk melakukan hal apapun. Rasa sedih yang berlarut-larut bisa mengakibatkandepresi.[26]

Rasa takut

[sunting |sunting sumber]
Rasa takut bisa menyebabkan stres gangguan emosional. Stres tersebut timbul karena adanya ancaman dan tekanan dan perubahan. Dampaknya akan menyebabkan respon tubuh, seperti napas dan detak jantung yang semakin cepat. Selain itu otot menjadi kaku, serta tekanan darah menjadi tinggi.[27]

Rasatakut bisa disebabkan olehancaman karena merasa diri dalam bahaya. Ancaman tersebut bisa ditimbulkan dengan ancaman fisik, psikologis, hal yang imajiner, serta emosional. Rasa takut dikategorikan sebagai emosi negatif, tetapi rasa takut juga berdampak positif karena bisa menjaga diri dari potensi yang menyebabkan bahaya.[28] Rasa takut bisa diekspresikan dengan kondisi gugup, cemas, merasa khawatir, rasa waspada terhadap suatu hal, dan tidak merasa tenang.[24]

Kenikmatan

[sunting |sunting sumber]

Kenikmatan bisa diekspresikan dengan rasa bahagia dan gembira. Selain itu, kenikmatan menunjukkan rasa senangm terpesona, hingga rasa takjub akan suatu hal.[24] Kenikmatan pertama yaitu berupa nikmat sehat, yang diperoleh denga rasa kecukupan terhadap kebutuhan dasar, seperti makanan dan minum. Kenikmatan kedua yaitu kenikmatan sosial, yang bisa dipenuhi dengan rasa kebutuhan untuk hidup bersama dengan keluarga dankelompok sosial. Kenikmatan ketiga yaitu kenikmatanspiritual, yaitu pemenuhanrohani akan kebutuhan untuk menenangkanhati danpikiran.[29]

Cinta merupakan salah satu jenisemosi yang timbul karena rasa intim, menyebabkan gairah, dan komitmen. Cinta juga juga merupakan emosi yang dipengaruhi oleh kedekatan, rasa tertarik, juga rasa percaya terhadap satu sama lain. Selain itu, cinta juga bisa timbul karena reaksi biologis yang timbul pada dirimanusia.[30] Rasa cinta bisa diekspresikan dengan bentuk persahabatan, rasa percaya, rasa hormat terhadap seseorang, hingga rasa kasih sayang antar manusia.[24]

Terkejut merupakan salah satu emosi yang bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Rasa terkejut bisa muncul karena menemukan sesuatu hal yang baru.[31] Emosi terkejut bisa diekspresikan dengan rasa takjub, kejutan, muak, terpanam hingga rasamual inginmuntah.[24]

Beberapa sikap jengkel antara lain: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.[32]

Malu merupakan rasa yang tidak nyaman yang muncul karena kondisisosial dalam menghadapi orang baru, yang terjadi karena kondisiinteraksisosial yang buruk. Rasa malu merupakan hal yang normal, karena dapat terjadi dalam beberapa kondisi saja. Rasa malu bisa berdampak negatif apabila disertai dengan rasa sepi, cemas, hingga frustrasi.[33] Rasa malu bisa diekspresikan dengan rasa bersalah, rasa hancur, kesal, hingga timbul karena adanya aib.[24]

Aspek

[sunting |sunting sumber]

Salovey dan Mayer

[sunting |sunting sumber]

Salovey dan Mayer mengungkapkan aspek-aspek yang ada di dalam kecerdasan emosional yaitu mampu merasakan empati, berani mengungkapkan dan memahami perasaan, bisa mengendalikan amarah, mampu beradaptasi, mandiri, setia terhadap pertemanan, ramah, dan hormat kepada yang lain.[34]

Menurut Goleman, seseorang yang memiliki kecerdasan emosi memiliki aspek untuk memotivasi diri sendiri, apabila frustrasi lebih siap untuk bertahan, bisa menghadapi sesuatu yang sulit dan tetap percaya diri, serta memiliki empati yang tinggi.[34]

W.T Grant Consortium

[sunting |sunting sumber]

Menurut W.T Grant Consortium kecerdasan emosional bisa dilihat dari cara mengungkapkan perasaan dan bisa mengidentifikasi perasaan tersebut. Perasaan tersebut selain bisa diungkapkan, juga bisa dikelola juga dikendalika, serta bisa membedakan dan menyeimbangkan antara perasaan dan tindakan.[34]

Memaksimalkan Kecerdasan Emosional

[sunting |sunting sumber]

Dalam Kecerdasan Emosional karya Daniel Goleman, pendidikan emosi merupakan bagian penting untuk memaksimalkan kecerdasan emosional (EQ). Goleman menekankan pentingnya belajar mengelola emosi sejak dini dan secara berkelanjutan untuk mencapai keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan. Pokok bahasannya, pada dasarnya menuntut guru dan murid mau memusatkan perhatian pada jalinan emosi kehidupan seorang anak. Nama bagi pelajaran semacam ini beragam, mulai darisocial development (pengembangan sosial),life skill (keterampilan hidup), sampaisocial and emotional learning (pembelajaran sosial dan emosi).

Konsorsium W.T Grant tentang promosi kompetensi berbasis sekolah mengidentifikasi beberapa unsur aktif keterampilan emosional dalam program pencegahannya, yang dirancang untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan kompetensi sosial pada siswa. Komponen utama tersebut meliput:[35]

  • Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan: Kemampuan untuk mengenali dan memberi label pada emosi seorang adalah keterampilan dasar dalam kecerdasan emosional. ini membantu individu untuk menyadari keadaan emosinya yang penting untuk regulasi emosi lebih lanjut.
  • Mengungkapkan perasaan: ini melibatkan pembelajaran tentang bagaimana mengomunikasikan emosi secara tepat dan efektif kepada orang lain. Mengajarkan individu untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara yang sehat.
  • Menilai intensitas perasaan: memahami intensitas atau kekuatan emosi seseorang sangat penting untuk mengelolanya. Dengan menilai apakah emosi itu ringan, sedang, atau kutat, individu dapat lebih baik menilai respons yang tepat untuk situasi yang dihadapi.
  • Mengelola perasaan: Ini merujuk pada pengembangan strategi pada pengembangan strateguntuk mengontrol atau menyesuaikan emosi agar sesuai dengan konteks, terutama ketika emosi yang kuat dapat menyebabkan reaksi yang tidak membantu. Keterampilan ini membantu individu tetap tenang dalam situasi sulit sekalipun.
  • Menunda pemuasan: Kemampuan untuk menunda kepuasan segera demi tujuan jangka panjang adalah keterampilan regulasi diri yang penting. Keterampilan ini berkaitan dengan kecerdasan emosional karena memerlukan pengelolaan dorongan dan pengendalian emosi untk manfaat di masa depan.
  • Mengendalikan dorongan hati: Berkaitan erat dengan menunda pemuasaan, mengendalikan dorongan hati melibatkan kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak, terutama dalam situasi emosional. Ini membantu individu menghindari tindakan impulsif yang dapat memiliki konsekuensi negatif.
  • Mengurangi stres:Teknik untuk mengelola dan mengurangi stres, seperti latihan relaksasi,mindfulness, dan pemecahan masalah, sangat penting untuk menjag keseimbangan emosional dan kesehatan mental. Belajar mengelola stres berkontribusi pada kesejahteraan emosional dan mental yang lebih baik.
  • Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan: Pemahaman penting ini membantu individu menyadari bahwa merasakan emosi tidak berarti harus bertindak berdasarkan emosi tersebut. dengan mengenali pemisahan ini, individu dapat memilih tindakan yang lebih bijaksana dan konstruktif, daripada bereaksi secara impulsif berdasarkan emosi mereka.

Unsur-unsur ini membentuk dasar kompetensi emosional dalam program pencegahan yang dikebangkan oleh konsorsium W.T.Grant, membantu siswa dan individu mengembangkan dan memaksimalkan kecerdasan emosional yang lebih kuat dan fungsi sosial yang lebih baik.

Mengenali emosi diri

[sunting |sunting sumber]

Mengenali emosi diri sendiri merupakan salah satu faktor untuk memaksimalkan kecerdasan emosi. Mengenali emosi adalah kemampuan dasar untuk mengetahui perasaan apa yang akan dan sedang terjadi. Kemampuan emosi diri adalah kemampuan dasar untuk menyadari akan emosinya sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terhadap keadaan suasana hati dan pikiran. Apabila tidak bisa mengetahui perasaan dan emosi sendiri akan terbawa akan emosi yang bisa menguasai diri.[36]

Mengelola emosi

[sunting |sunting sumber]

Mengelola emosi merupakan manajeman untuk mengendalikan emosi. Dengan mengelola emosi diharapkan mampu untuk memahami, menerima, serta memberikan kontrol ketika mengekspresikan emosi.[37] Emosi harus diekspresikan sesuai tujuan yang jelas, agar tercipta hubungan yang harmonis secara interpersonal. Selain mengelola emosi diri sendiri, juga belajar untuk memahami emosi yang ada pada diri orang lain.[38]

Narsistik bisa timbul karena kurang empati terhadap keadaan orang lain. Narsistik adalah keadaan mental seseorang yang selalu merasa ingin mementingkan diri sendiri. Kepribadian narsistik bisa dihubungkan dengan keadaan lingkungan, bisa juga disebabkan karena kondisi keluarga yang selalu memuji atau mengkritik sesuatu dengan cara berlebihan.[39]

Empati merupakan salah satu bentuk kecerdasan emosional. Empati merupakan suatu sikap untuk mendalami perasaan orang lain, meskipun tidak mengalami secara langsung apa yang dirasakan orang tersebut.[40] Ciri dari pengaplikasian sikap empati mampu memahami diri sendiri, sebelum kita memahami diri orang lain. Selain itu, orang yang memiliki rasa empati yang tinggi bisa memahami bahasa isyarat.[41]

Menjalin hubungan

[sunting |sunting sumber]

Kecerdasan emosional untum membangun hubungan dengan orang lain merupakan seni untuk menunjang popularitas, dan melatih untuk meminpin diri. Hal tersebut ditunjang oleh kemampuan komunikasi untuk menjalin hubungan dengan orang lain, hingga bisa bekerjasama dalam suatu tim.[42]

Komunikasi

[sunting |sunting sumber]

Dengan berkomunikasi belajar untuk menyelesaikan masalah agar tidak timbul salah paham, juga berlatih membaca situasi sekitar agar lebih peka.[43]

Kecerdasan Emosional di Era Digital

[sunting |sunting sumber]

Di era digital yang berkembang pesat, teknologi memungkinkan komunikasi tanpa batas dan memudahkan berbagai aktivitas melalui internet. Namun, kemudahan ini juga disertai tantangan, terutama dalam berkomunikasi dimedia sosial. Media sosial berpengaruh signifikan terhadapinteraksi sosial. Penggunaan media sosial yang moderat dapat mendukung komunikasi dan memperluas jaringan sosial, meskipun dalam bentuk virtual. Namun demikian, apabila penggunaannya berlebihan, media sosial juga berpotensi mengurangi frekuensi interaksi langsung secara tatap muka.[44] Dampak ini dapat berakibat pada turunnya kualitas hubungan interpersonal, karena komunikasi digital sering kali tidak sepenuhnya dapat menggantikan kedalaman emosi dan ekspresi non verbal dalam dunia nyata. Selain itu intensitas yang tinggi pada penggunaan dunia digital terutama media sosial, mampu menimbulkan ketergantungan, memengaruhi kesehatan mental, serta memperkuat isolasi sosial pada kehidupan nyata. Kecerdasan emosional menjadi hal penting untuk mengelola emosi dan interaksi secara sehat. Menurut Salovey dan Mayer (2016) dalam kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami dan mengelola emosi diri sendiri serta orang lain.[45] Dalam konteks digital, kecerdasan emosional berperan sebagai pengendali diri dan dapat memengaruhi sikap seseorang dalam berinteraksi secara daring.[46]

Faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan emosional

[sunting |sunting sumber]
  • Usia dan Tahap Perkembangan

Kelompok dewasa dan lansia cenderung memiliki kemampuan digital yang lebih rendah, termasuk dalam penggunaan aplikasi dan evaluasi informasi. Sementara itu, remaja sering menggunakan teknologi untuk mengatur emosi, tetapi strategi ini dapat meningkatkan risiko kecemasan dan kesepian di kemudian hari. Dalam konteks regulasi digital, remaja menghadapi tantangan dalam memilih strategi yang tepat antara sarana digital dan non-digital untuk mengelola emosi.[47]

  • Literasi Digital dan Literasi Emosional

Literasi digital dan kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap performa profesional, terutama pada guru, denganliterasi digital sebagai faktor dominan.[48]

  • Perbedaan Budaya dalam Ekspresi Emosi Online

Remaja dari kelompok budaya non-dominan memanfaatkan literasi digital kritis untuk menavigasi identitas budaya, meningkatkan interaksi sosial, dan membangun well-being psikologis melalui penyesuaian budaya dalam ruang digital.[49]

  • Peran Algoritma dan Filter Bubble

Meskipun belum banyak studi langsung, temuan awal menunjukkan bahwa algoritma yang menyajikan konten emosional secara berulang dapat memperkuat ketergantungan pada ekspresi emosional digital, membuka peluang untuk penelitian lanjutan.[50]

Akibat Kurangnya Kecerdasan Emosional di Sosial Media

[sunting |sunting sumber]

Rasa rendah diri bisa disebabkan oleh kecerdasan emosional yang rendah karena rasa rendah diri diartikan dengan kondisi psychologis yang berakar dari pengalaman masa kecil dan diwujudkan dalam kehidupan dewasa jika kondisi ini tidak cepat diatasi sejak awal (Erlina, 2016; Sari, 2016).[51] Kurangnya empati juga disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosional yang rendah karena berhubungan dengan sifat alexithymia, empati rendah akan mengganggu sosialisasi anak pada lingkungan yang tentunya akan berdampak buruk pada perkembangan anak (Erlina, 2016; Sari, 2016).[51]

Dampak

[sunting |sunting sumber]

Dampak kecerdasan emosional yang terlalu tinggi, pertama sulit memberi dan menerima kritik yang negatif. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi memiliki empati yang tinggi pula. Oleh karena itu, ketika akan memberikan kritik yang tajam, mereka selalu memikirkan dampak terhadap orang lain, hingga enggan memberikan kritik. Begitu pun saat menerima kritik negatif, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi tidak akan merasa sedang dikritik. Dampak kedua, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi memiliki tingkat kreativitas yang rendah. Hal ini dikarenakan, mereka cenderung menyukai kerja secara kelompok dan tidak ingin menonjolkan diri. Dampak ketiga yaitu, selalu menghidari risiko. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi mereka memiliki kendali diri yang kuat, dan selalu menimbang dengan cermat atas apa yang mereka lakukan.[52]

Dampak negatif dari rendahnya kecerdasan emosional bisa memengaruhi kesehatan fisik. Hal ini dikarenakan ujung dari gangguan emosional salah satunya stres. Dampaknya bisa menjadi penyakit kurangnya imun, jantung, hingga tekanan darah tinggi. Selain kesehatan fisik, juga memengaruhi kesehatan mental. Misalnya bisa membuat depresi, hingga susah bersosialisasi dengan orang lain.[53]

Kritik

[sunting |sunting sumber]

Korelasi dengan kepribadian

[sunting |sunting sumber]

Beberapa peneliti pernah mengangkat korelasi antara pengukuran kecerdasan emosional dengan dimensi kepribadian yang sesungguhnya. Umumnya, pengukuran kecerdasan emosional dan aspek-aspek kepribadian dianggap sebagai satu hal yang sama karena keduanya memiliki tujuan untuk mengukur sifat dari suatu kepribadian.[54] Secara spesifik, pengukuran kecerdasan emosional sering kali menonjolkan aspek neurotisisme dan ekstraversi darikepribadianBig Five. Khususnya pada neurotisisme, ia dikatakan berhubungan dengan emosi negatif dan kecemasan. Secara konsisten, individu yang mencapai skor tinggi pada pengukuran neurotisisme cenderung memiliki skor rendah pada pengukuran kecerdasan emosional.

Interpretasi terhadap korelasi antara kuesioner kecerdasan emosional dengan kepribadian sering kali masih bervariasi. Akan tetapi, pandangan yang menonjol dalam literatur ilmiah merupakan pandangan mengenai Sifat Kecerdasan Emosional. Pandangan tersebut umumnya menafsirkan ulang Kecerdasan Emosional sebagai kumpulan dari berbagai sifat yang ada pada kepribadian.[55]

Sebuah meta-analisis 2017 dari 142 sumber data menemukan adanya tumpang tindih yang sangat besar antara faktor umum kepribadian dengan sifat yang ada pada kecerdasan emosional. Karena besarnya tumpang tindih antara dua hal tersebut, peneliti dalam meta-analisis tersebut kemudian menyimpulkan bahwa "Temuan menunjukkan kalau faktor umum kepribadian sangat mirip dengan sifat kecerdasan emosional."[56] Namun, tumpang tindih antara faktor umum kepribadian dengan kemampuan yang ada pada kecerdasan emosional cenderung lebih moderat, dengan korelasi sekitar 0,28.[56]

Referensi

[sunting |sunting sumber]
  1. Hasanat, Nida UI (2016)."Anda Sedang Bersedih? Cobalah Tersenyum atau Tertawa... (Suatu Bukti dari Facial Feedback Hypothesis".Buletin Psikologi.5 (2): 26.ISSN 2528-5858.
  2. Fadhil, Sahabat (2021)."Quantum Quotient (Kecerdasan Emosional) Pada Manusia".PMII Pakuan. Diakses tanggal2022-03-07.
  3. Purnama, Indah Mayang (2016)."Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika di SMAN Jakarta Selatan".Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA.6 (3): 237.doi:10.30998/formatif.v6i3.995.ISSN 2502-5457.
  4. Selviana (2021)."Skala Kecerdasan Emosional"(PDF).Mahasiswa YAI. hlm. 2.
  5. Baktio, Hari (2013)."Kecerdasan Emosi"(PDF).Pusdikmin. hlm. 19.
  6. Misbach, Ifa Hanifah (2008)."Antara IQ, EQ, dan SQ"(PDF).File UPI. hlm. 5-6.
  7. Priyam Dhani, Tanu Sharma (Juli 2016)."Emotional Intelligence; History, Models and Measures".International Journal of Science Technology and Management.5 (7):189–201.
  8. Argyle.Social Encounters (dalam bahasa Inggris). Transaction Publishers. hlm. 121.ISBN 978-0-202-36897-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Edara, Inna Reddy (2021)."Exploring the Relation between Emotional Intelligence, Subjective Wellness, and Psychological Distress: A Case Study of University Students in Taiwan".Behaviorial Sciences.11 (124):1–20.
  10. "Gardner's Theory of Multiple Intelligences".Verywell Mind (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2022-03-18.
  11. "Howard Gardner, multiple intelligences and education".web.archive.org. 2005-11-02. Diarsipkan dariasli tanggal 2005-11-02. Diakses tanggal2022-03-18.
  12. Beasley K (May 1987)."The Emotional Quotient"(PDF).Mensa: 25.
  13. "What is emotional intelligence (EI)? - Definition from WhatIs.com".SearchCIO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2022-03-18.
  14. "Daniel Goleman on Leadership and The Power of Emotional Intelligence - Forbes".web.archive.org. 2012-11-04. Diarsipkan dariasli tanggal 2012-11-04. Diakses tanggal2022-03-18.
  15. Goleman, Daniel (1998)."What Makes a Leader?"(PDF).Harvard Business Review:82–91.
  16. "Emotional Competence and Leadership Excellence at Johnson & Johnson: The Emotional Intelligence and Leadership Study".www.eiconsortium.org. Diakses tanggal2022-03-18.
  17. "What is Emotional Intelligence? +23 Ways To Improve It".PositivePsychology.com (dalam bahasa American English). 2018-11-14. Diakses tanggal2022-03-18.
  18. "Why emotional intelligence is just a fad - CBS News".web.archive.org. 2012-11-28. Diarsipkan dariasli tanggal 2012-11-28. Diakses tanggal2022-03-18.
  19. "Emotional Intelligence".Noba (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2022-03-18.
  20. Salovey, Peter; Grewal, Daisy (2005)."The Science of Emotional Intelligence".Current Directions in Psychological Science.14 (6):281–285.ISSN 0963-7214.
  21. Goleman, Daniel (1995).EMOTIONAL INTELLIGENCE Kecerdasan Emosional Mengapa EI lebih penting daripada IQ (bahasa indonesia). Jakarta: Percetakan PT Gramedia. hlm. 55, 56.ISBN 978-602-03-2313-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. Sari, Ni Luh Krishna Ratna; Hamidah, Hamidah; Marheni, Adijanti (2020)."Dinamika Psikologis Individu dengan Gangguan Kepribadian Ambang".Jurnal Psikologi Udayana (dalam bahasa American English).7 (2): 17.doi:10.24843/JPU.2020.v07.i02.p02.ISSN 2654-4024.
  23. Samiadi, Lika Aprilia (2016)."Masalah Dalam Pengendalian Amarah, Ini Tanda-tandanya".Hello Sehat. Diakses tanggal2022-03-06.
  24. 123456Daud, Firdaus (2012)."Pengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa SMA 3 Negeri Kota Palopo".Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran (JPP) (dalam bahasa Inggris).19 (2):245–246.
  25. Handayani, Verury Verona (2020)."Pentingnya Memahami Perbedaan Sedih dan Depresi".Halodoc. Diakses tanggal2022-03-06.
  26. Trifiana, Azelia (2020)."Marah, Sedih, Bahagia: Apa Saja Emosi Dasar Manusia?".SehatQ. Diakses tanggal2022-03-06.
  27. Willy, Tjin (2019)."Stres".Alodokter. Diakses tanggal2022-03-07.
  28. Mardatila, Ani (2021)."Mengenal Rasa Takut dan Prosesnya dalam Tubuh".merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal2022-03-06.
  29. Ruslan, Heri (2012)."Inilah Tiga Tingkat Kenikmatan Manusia".Republika Online. Diakses tanggal2022-03-06.
  30. Murniaseh, Endah (2021)."Apa Itu Cinta dan Mengapa Perasaan Cinta Harus Diungkapkan?".tirto.id. Diakses tanggal2022-03-06.
  31. Nanda, Salsabila (2021)."Mengenal 6 Emosi Dasar Manusia Beserta Fungsi dan Cara Kerjanya".www.brainacademy.id. Diakses tanggal2022-03-06.
  32. Goleman, Daniel (Oktober 1996).EMOTIONAL INTELLIGENCE Kecerdasan Emosional (bahasa indonesia). Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama. hlm. 410.ISBN 978-602-03-2313-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  33. Afandi, Nur Aziz; Adhani, Dwi Nurhayati; Hasiana, Isabella (2014)."Perasaan Malu (Shyness) pada Mahasiswa Baru di Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura".Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi (dalam bahasa American English).5 (1):44–45.doi:10.21107/personifikasi.v5i1.6570.ISSN 2721-0626.
  34. 123Nasril; Ulfatmi (2018)."Melacak Konsep Dasar Kecerdasan Emosional".E-Journal UIN IB. hlm. 18-19.
  35. Goleman, Daniel (1996).EMOTIONAL INTELLIGENCE Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ (bahasa Indonesia). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 426.ISBN 978-602-03-2313-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  36. Hajeriati (2014)."Hubungan antara Kemampuan Mengenali Emosi Diri dan Kemampuan Mengelola Emosi dengan Perilaku Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah danKeguruan UIN Alauddin Makassar".Journal UIN Alauddin. hlm. 11.
  37. Adelia, Audra Levana (2021)."Manajemen Emosi: Cara Mengendalikan Emosi dalam Diri".Satu Persen. Diakses tanggal2022-03-06.
  38. kurniadi (2020-12-11)."Manajemen Emosi".Universitas Tanjungpura (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2022-03-06.
  39. Marella, Vania Dinda (2021)."Apa Itu Gangguan Kepribadian Narsistik? Pahami Pengertian Gejala dan Penyebabnya".liputan6.com. Diakses tanggal2022-03-07.
  40. Silfiasari, Silfiasari (2017)."Empati dan Pemaafab dalam Hubungan Pertemanan Siswa Regular kepada Siswa Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Inklusif".Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan (dalam bahasa Inggris).5 (1): 129.doi:10.22219/jipt.v5i1.3886.ISSN 2540-8291.
  41. Pamungkas, Igo Masaid; Muslikah, Muslikah (2019-12-31)."Hubungan antara Kecerdasan Emosi dan Empati dengan Altruisme pada Siswa Kelas XI MIPA SMAN 3 Demak".Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling.5 (2): 163.doi:10.22373/je.v5i2.5093.ISSN 2460-5794.
  42. Husni, Desma (2012)."Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Penerimaan Teman Sebaya pada Siswa Akselerasi SMA Negeri 8 Pekanbaru"(PDF).Repositori Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. hlm. 18.
  43. Sholichah, Fitria Nur (2015)."Pengaruh EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Plus Al-Kautsar Blimbing-Malang"(PDF).Etheses UIN Malang. hlm. 31.
  44. Pujiyana, Pujiyana; Sawitri, Sawitri; Setiawan, Iyan; Anggraeni, Lussy; Rosidi, Moh Imron (2025-07-30)."Pengaruh Media Sosial dan Game Online Terhadap Interaksi Sosial mahasiswa (Studi di Universitas Nasional Pasim)".Indonesian Journal of Social Science (dalam bahasa Inggris).3 (2):58–66.doi:10.58818/ijss.v3i2.127.ISSN 2988-3016.
  45. Mayer, John D.; Salovey, Peter (1993-10-01)."The intelligence of emotional intelligence".Intelligence.17 (4):433–442.doi:10.1016/0160-2896(93)90010-3.ISSN 0160-2896.
  46. Audrin, Catherine; Audrin, Bertrand (2023)."More than just emotional intelligence online: introducing "digital emotional intelligence"".Frontiers in Psychology.14: 1154355.doi:10.3389/fpsyg.2023.1154355.ISSN 1664-1078.PMC 10187756.PMID 37205063. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  47. Hollenstein, Tom; Faulkner, Katie (2024-12)."Adolescent digital emotion regulation".Journal of Research on Adolescence: The Official Journal of the Society for Research on Adolescence.34 (4):1341–1351.doi:10.1111/jora.13009.ISSN 1532-7795.PMC 11606268.PMID 39119778.
  48. Arifin, Arifin; Yusuf, Yusuf (2025-02-18)."The Influence Of Emotional Intelligence And Digital Literacy On Teacher Performance".Jurnal Multidisiplin Sahombu (dalam bahasa Inggris).5 (02):606–617.ISSN 2809-8587.
  49. Scott, Riley A.; Zimmer-Gembeck, Melanie J.; Gardner, Alex A.; Hawes, Tanya; Modecki, Kathryn L.; Duffy, Amanda L.; Farrell, Lara J.; Waters, Allison M. (2024-04)."Daily use of digital technologies to feel better: Adolescents' digital emotion regulation, emotions, loneliness, and recovery, considering prior emotional problems".Journal of Adolescence.96 (3):539–550.doi:10.1002/jad.12259.ISSN 1095-9254.PMID 37811912.
  50. Figà Talamanca, Giacomo; Arfini, Selene (2022)."Through the Newsfeed Glass: Rethinking Filter Bubbles and Echo Chambers".Philosophy & Technology.35 (1): 20.doi:10.1007/s13347-021-00494-z.ISSN 2210-5433.PMC 8923337.PMID 35308101.
  51. 12Erlina, Nova; Sari, Devi Novita (2016)."Pengaruh Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (Rebt) Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional Pada Peserta Didik Kelas VIII SMPN 6 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2015/2016".Konseli.3 (2):303–316.ISSN 2089-9955.
  52. Efendi, Ahmad (2020)."Dampak Negatif Kecerdasan Emosional yang Terlalu Tinggi".tirto.id. Diakses tanggal2022-03-07.
  53. Hary W, Yoseph (2019)."Dampak EQ Lemah, Rendahnya Kecerdasan Emosional Bisa Bikin Beberapa Hal Ini Berantakan".Tribunjogja.com. Diakses tanggal2022-03-07.
  54. Flora Kokkinaki, Ria Pita, Flora Kokkinaki (2007)."The location of trait emotional intelligence in personality factor space".British Journal of Psychology.98:273–289.doi:10.1348/000712606x120618. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  55. Austin EJ (2008)."A reaction time study of responses to trait and ability emotional intelligence test items"(PDF).Personality and Individual Differences.46 (3):381–383.doi:10.1016/j.paid.2008.10.025.hdl:20.500.11820/c3e59b2b-8367-4e8a-9d9c-9fb87c186fc1.
  56. 12van der Linden, Dimitri; Pekaar, Keri A.; Bakker, Arnold B.; Schermer, Julie Aitken; Vernon, Philip A.; Dunkel, Curtis S.; Petrides, K. V. (January 2017)."Overlap between the general factor of personality and emotional intelligence: A meta-analysis".Psychological Bulletin (dalam bahasa Inggris).143 (1):36–52.doi:10.1037/bul0000078.ISSN 1939-1455.PMID 27841449.S2CID 29455205.
Internasional
Nasional
Lain-lain
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kecerdasan_emosional&oldid=28682622"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp