Jawa Tengah (atau juga diakronimkan sebagaiJateng) adalah sebuah wilayahprovinsi diIndonesia yang terletak di bagian tengahPulau Jawa.Ibu kota Provinsi Jawa Tengah berada diKota Semarang. Penduduk Provinsi Jawa Tengah berdasarkanBadan Pusat Statistik tahun 2021 berjumlah 37.516.035 jiwa, dan sebanyak 38.280.887 jiwa pada pertengahan 2024.[2][3]
PengertianJawa Tengah secara geografis dan budaya juga mencakup wilayahDaerah Istimewa Yogyakarta secarade facto, yang masih satu teritorial dengan Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah bagian tengah dikenal sebagai pusatbudaya Jawa. Meskipun demikian di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa sepertisuku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat, sebagian kecil masyarakatBrebes danCilacap. Selain itu ada pula wargaTionghoa-Indonesia,Arab-Indonesia danIndia-Indonesia sebagai pendatang yang tersebar di seluruh provinsi ini. Sejak tahun 2008, provinsi Jawa Tengah memiliki hubungan kembar denganProvinsi Fujian diTiongkok.
Sejak tahun1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan Provinsi (Provinciale Raad). Provinsi terdiri atas beberapakaresidenan (residentie), yang meliputi beberapa kabupaten (regentschap), dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan (district). Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu Pekalongan, Pati, Semarang, Banyumas, dan Kedu.
Menyusul kemerdekaan Indonesia, pada tahun1945 Pemerintah membentuk daerah swaprajaKasunanan danMangkunegaran; dan dijadikan karesidenan. Pada tahun 1950 melalui undang-undang ditetapkan pembentukan kabupaten dan kota madya di Jawa Tengah yang meliputi 29 kabupaten dan 6 kota madya. Penetapan undang-undang tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, yakni tanggal15 Agustus1950.
Tahun1965, seiring dengan gagalnyakudeta olehG30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, Jawa Tengah dan banyak daerah lainnya, terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisanPartai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian pada masa awalOrde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[7]
Menurut tingkat kemiringan lahan di Jawa Tengah, 38% lahan memiliki kemiringan 0–2%, 31% lahan memiliki kemiringan 2–15%, 19% lahan memiliki kemiringan 15–40%, dan sisanya 12% lahan memiliki kemiringan lebih dari 40%.
Kawasan pantai utara Provinsi Jawa Tengah memiliki dataran rendah yang sempit. Di kawasanBrebes selebar 40 km dari pantai, dan diKota Semarang hanya selebar 4 km. Dataran ini bersambung dengan depresi Semarang-Rembang di timur.Gunung Muria pada akhirZaman Es (sekitar 10.000 tahun SM) adalah pulau terpisah dari Jawa, yang akhirnya menyatu karena terjadi endapan aluvial dari sungai-sungai yang mengalir. Kota Demak semasaKesultanan Demak (abad ke-16 Masehi) berada di tepi laut dan menjadi tempat berlabuhnya kapal. Proses sedimentasi ini sampai sekarang masih berlangsung di pantai Semarang.
Rangkaian utama pegunungan di Jawa Tengah adalahPegunungan Serayu Utara danSerayu Selatan. Rangkaian Pegunungan Serayu Utara membentuk rantai pegunungan yang menghubungkan rangkaian Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di timur. Lebar rangkaian pegunungan ini sekitar 30–50 km; di ujung baratnya terdapatGunung Slamet dan bagian timur merupakanDataran Tinggi Dieng dengan puncak-puncaknyaGunung Parahu danGunung Ungaran. Antara rangkaian Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan Serayu Selatan dipisahkan oleh Depresi Serayu yang membentang dariMajenang (Kabupaten Cilacap), Purwokerto, hingga Wonosobo. Sebelah timur depresi ini terdapat gunung berapiSindoro danSumbing, dan sebelah timurnya lagi (kawasan Magelang dan Temanggung) adalah lanjutan depresi yang membatasiGunung Merapi danGunung Merbabu.
Pegunungan Serayu Selatan merupakan bagian dari Cekungan Jawa Tengah Selatan yang berada di bagian selatan provinsi Jawa Tengah. Mandala ini merupakan geoantiklin yang membentang dari barat ke timur sepanjang 100 kilometer dan terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh lembah Jatilawang yaitu bagian barat dan timur. Bagian barat dibentuk oleh Gunung Kabanaran (360 m) dan bisa dideskripsikan mempunyai elevasi yang sama dengan Zona Depresi Bandung diProvinsi Jawa Barat ataupun sebagai elemen struktural baru di Jawa Tengah. Bagian ini dipisahkan dari Zona Bogor oleh Depresi Majenang.
Bagian timur dibangun oleh antiklin Ajibarang (narrow anticline) yang dipotong oleh aliran Sungai Serayu. Pada timur Banyumas, antiklin tersebut berkembang menjadi antiklinorium dengan lebar mencapai 30 km pada daerah Lukulo (selatan Banjarnegara-Midangan 1043 m) atau sering disebut tinggian Kebumen (Kebumen High). Pada bagian paling ujung timur Mandala Pegunungan Serayu Selatan dibentuk oleh kubah Pegunungan Kulonprogo (1022 m), yang terletak di antaraPurworejo danKali Progo.
Kawasan pantai selatan Provinsi Jawa Tengah juga memiliki dataran rendah yang sempit, dengan lebar 10–25 km. Selain itu terdapatKawasan Karst Gombong Selatan. Perbukitan yang landai membentang sejajar dengan pantai, dari Yogyakarta hingga Cilacap. Sebelah timur Yogyakarta merupakan daerah pegunungan kapur yang membentang hingga pantai selatan Jawa Timur.
Menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1969, jenis tanah wilayah Provinsi Jawa Tengah didominasi oleh tanahlatosol,aluvial, dangrumusol; sehingga hamparan tanah di provinsi ini termasuk tanah yang mempunyai tingkat kesuburan yang relatif subur.
Provinsi Jawa Tengah memilikiiklimtropis, dengancurah hujan tahunan rata-rata 2.000 meter, dan suhu rata-rata 21–32oC. Daerah dengan curah hujan tinggi terutama terdapat di Nusakambangan bagian barat, dan sepanjang Pegunungan Serayu Utara. Daerah dengan curah hujan rendah dan sering terjadi kekeringan di musim kemarau berada di daerah Blora dan sekitarnya serta di bagian selatan Wonogiri.
DPRD Jawa Tengah beranggotakan 120 orang yang dipilih melaluipemilihan umum setiap lima tahun sekali.Pimpinan DPRD Jawa Tengah terdiri dari 1 Ketua dan 4 Wakil Ketua yang berasal daripartai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Jawa Tengah yang sedang menjabat saat ini adalah hasilPemilu 2024 yang dilantik pada 3 September 2024 di Aula Lantai IV Gedung Berlian,Semarang. Komposisi anggota DPRD Jawa Tengah periode 2024-2029 terdiri dari 10partai politik di manaPDI Perjuangan adalahpartai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 33 kursi.[8] Tugas utama DPRD Jawa Tengah adalah menjadi mitrakerjaPemerintah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi pengawasan, penetapan anggaran belanja, dan penetapan peraturan-peraturan daerah.[9][10][11][12][13]Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dalam lima periode terakhir.[14][15][8]
Secara administratif, Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 29kabupaten dan 6kota. Administrasi pemerintahan kabupaten dan kota ini terdiri atas 545kecamatan dan 8.490desa/kelurahan.
Sebelum tahun2003,Pemerintahan Daerah Jawa Tengah juga terdiri atas 3 kota administratif, yaituKota Purwokerto,Kota Cilacap, danKota Klaten. Namun sejak diberlakukannya otonomi daerah, kota-kota administratif tersebut dihapus dan menjadi bagian dalam wilayah kabupaten.
Jumlah total penduduk Provinsi Jawa Tengah berdasarkan dataBadan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah pada tahun2021 adalah 36.516.035 jiwa. Tigakabupaten dengan jumlah penduduk terbesar adalahBrebes (1.978.759 jiwa),Cilacap (1.944.857 jiwa), danBanyumas (1.776.918 jiwa). Sementara tigakota dengan jumlah penduudk paling banyak ialahKota Semarang (1.653.524 jiwa),Kota Surakarta (522.364 jiwa) danKota Pekalongan (307.150 jiwa).[3]
Sebaran penduduk umumnya terkonsentrasi di pusat-pusat kota, baik kabupaten ataupun kota. Kawasan permukiman yang cukup padat berada di daerah Semarang Raya (termasuk Ungaran dan sebagian wilayah Demak dan Kendal), daerah Salatiga Raya (termasuk wilayah Kabupaten Semarang bagian selatan seperti Ambarawa, Bringin, Kopeng, Tengaran dan Suruh),Solo Raya (termasuk sebagian wilayah Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali).
Pertumbuhan penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,67% per tahun. Pertumbuhan penduduk tertinggi berada di Kabupaten Demak (1,45% per tahun), sedang yang terendah adalah Kota Pekalongan (0,09% per tahun).
Dari jumlah penduduk ini, 47% di antaranya merupakan angkatan kerja. Mata pencaharian paling banyak adalah di sektorpertanian (42,34%), diikuti denganperdagangan (20,91%),industri (15,71%), danjasa (10,98%).
Mayoritas penduduk Provinsi Jawa Tengah adalahSuku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat budaya Jawa, di mana di kotaSurakarta terdapat pusat istana kerajaan Jawa yang masih berdiri hingga kini. Suku minoritas yang cukup signifikan adalahTionghoa, terutama di kawasan perkotaan meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya, mereka bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan Suku Jawa, dan banyak di antara mereka yang menggunakan bahasa Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya. Pengaruh kental bisa kita rasakan saat berada di kotaSemarang serta kotaLasem yang berada di ujung timur laut Jawa Tengah, bahkanLasem dijulukiLe Petit Chinois atau Kota Tiongkok Kecil.
Di daerah perbatasan antara Jawa Tengah denganJawa Barat juga terdapat banyak orang beretnisSunda. Mereka mendiami wilayahBrebes bagian selatan,Cilacap bagian barat dan utara serta sebagian kecil wilayahBanyumas tepatnya di Dusun Cijurig,Desa Dermaji,Kecamatan Lumbir. Jawa Tengah bagian barat seperti Cilacap bagian barat , Brebes bagian barat sungai pemali dan sebagian Banyumas dahulu dalam sejarahnya termasuk kedalam wilayahKerajaan Sunda Galuh menyebabkan banyak unsurbudaya Sunda yang tersisa didalamnya, termasuk dalam penamaan daerah, bahasa, dan adat istiadat lainnya.
Di pedalamanBlora (perbatasan denganProvinsi Jawa Timur) terdapat komunitasSamin yang terisolasi, masyarakat ini adalah keturunan para pengikutSamin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Selain itu, di beberapa kota-kota besar di Jawa Tengah ditemukan pula komunitasArab-Indonesia. Mirip dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa.
Tari Jaranan Kolosal di Stadion Sriwedari,Kota Surakarta.
Sebagian besar masyarakat menggunakanbahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa dialek Solo-Jogja atau Mataram dianggap sebagai bahasa Jawa yang lazim dijumpai di sebagian besar wilayah Jawa Tengah bagian timur.[19] Di samping itu, terdapat sejumlah dialek bahasa Jawa, namun secara umum terdiri dari dua, yaknikulonan dantimuran.Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri atas Dialek Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa Standar. SedangTimuran dituturkan di bagian timur Jawa Tengah, di antaranya terdiri atas Dialek Mataram (Solo-Jogja), DialekSemarang, dan DialekBlora. Di antara perbatasan kedua dialek tersebut, dituturkan bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut di antaranya adalah Pekalongan dan Kedu.
Dialek Mataram memiliki keunikan tersendiri. Dialek ini menerapkan dialek ragam Bahasa Jawakrama inggil (tingkat paling atas dalam Bahasa Jawa). Hal tersebut dipengaruhi dari adanya kerajaan Mataram dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Solo) yang menyebabkan dialek disana sangat sopan. Wilayah karesidenan dari dua kerajaan tersebut juga terpengaruh tutur kata dan dialeknya untuk wajib menggunakan kromo.[20] Etnografi masyarakat karesidenen wilayah kerajaan memiliki konsepmiturut marang Rama (Patuh atau tunduk kepada bapak, dalam hal ini Raja secara spesifik). Lambang bapak sebagai raja juga memengaruhi adat masyarakat patrilineal. Kehidupan kerajaan yang luhur diadaptasikan oleh masyarakat dalam bergaul dan berbahasa atau bertutur.[21][22]
Di wilayah-wilayah berpopulasi Sunda, yaitu diBrebes bagian selatan, dan Cilacap bagian utara dan barat sekitarKecamatan Dayeuhluhur, orang Sunda masih menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-harinya.[23] Kelahiran dialek ini dipengaruhi salah satunya jalur perdagangan.[24] Perdagangan secara morfologi menghadirkan komunikasi dua arah antara pedagang dengan pembeli.[25]
Berbagai macam dialekBahasa Jawa yang terdapat di Jawa Tengah:
Secara umum pendidikan yang ada di Jawa Tengah terutama pendidikan bahasa daerah mengajarkan Pendidikan Bahasa Daerah Bahasa Jawa (Bahasa Jawa Baku dialek Surakarta-Yogyakarta) untuk seluruh Kabupaten / Kota di Provinsi Jawa Tengah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sesuai dengan SK Gubernur Nomor 895.5/01/2005, namun beberapa tahun terakhir terutama periode 2000-an, beberapa kabupaten/kota terutama di wilayah barat menginginkan untuk mengajarkan bahasa Jawa dengan dialek mereka sendiri, misalnya bahasa Jawa dialek Brebes-Tegal. Hal tersebut dilakukan karena menurut mereka bahasa Jawa Baku (dialek Surakarta-Yogyakarta) tidak mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari terlebih tujuan dari pengajaran bahasa daerah adalah untuk mengembangkan sekaligus melindungi bahasa daerah berikut dialeknya dari kepunahan.
Mayoritas penduduk Jawa Tengah beragamaIslam yang umumnya dikategorikan ke dalam dua golongan, yaitu kaumSantri danAbangan. Kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat.
Persentasi penduduk menurut agama yang dianut di provinsi Jawa Tengah, berdasarkan dataBadan Pusat Statistik tahun2021, yakniIslam sebanyak 97,26%. KemudianKekristenan sebanyak 2,54%, dengan rincianProtestan sebanyak 1,60% danKatolik sebanyak 0,94%. Selebihnya menganut agamaBuddha sebanyak 0,14%, kemudianHindu sebanyak 0,04%, Penghayat kepercayaan sebanyak 0,02% danKonghucu sebanyak 0,01%.[3]
City branding Provinsi Jawa Tengah, "Jateng Gayeng"
Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa Tengah, di mana mata pencaharian di bidang ini digeluti hampir separuh dari angkatan kerja terserap.
Kawasanhutan meliputi 20% wilayah provinsi, terutama di bagian utara dan selatan. DaerahRembang,Blora,Grobogan adalah penghasil kayu jati. Jawa Tengah juga terdapat sejumlah industri besar dan menengah. Daerah Semarang–Ungaran–Demak–Kudus merupakan kawasan industri utama di Jawa Tengah.Kudus dikenal sebagai pusat industrirokok. Di Cilacap terdapat industrisemen.Solo,Pekalongan, Juwana, danLasem dikenal sebagai kotaBatik yang kental dengan nuansa klasik.
Blok Cepu di pinggiranKabupaten Blora (perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah) terdapat cadanganminyak bumi yang cukup signifikan, dan kawasan ini sejak zamanHindia Belanda telah lama dikenal sebagai daerah tambang minyak.[6]
Selain itu juga terdapat Akademi Militer (Akmil) dan SMA Taruna Nusantara di Magelang sertaAkademi Kepolisian di Semarang.LPLP Tutuko adalah lembaga pendidikanaviasi dan maintenancepenerbangan (mekanik) diSurakarta (Jalan Merapi, Surakarta) danYogyakarta (Jalan Sorosutan, Yogyakarta).
Jawa Tengah merupakan provinsi yang pertama kali mengoperasikan jalurkereta api, yakni pada tahun 1867 diSemarang dengan rute Semarang–Tanggung yang berjarak 26 km, atas permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang maupun hasil bumi ke Gudang Semarang.[37] Saat inijalur kereta api yang melintasi Jawa Tengah adalah lintas utara (Jakarta–Cirebon–Semarang–Surabaya), lintas selatan (Jakarta–Purwokerto–Yogyakarta–Surabaya), Semarang–Surakarta–Yogyakarta, Bandung–Kroya, Tegal–Slawi–Prupuk, dan Maos–Cilacap. Jalur Kereta Solo–Wonogiri yang telah lama mati dihidupkan kembali pada tahun2005. Jalur lain yang diaktifkan kembali adalah jalur rel Kedungjati–Ambarawa yang menghubungkanStasiun Bringin,Stasiun Tuntang dan berakhir diStasiun Ambarawa serta Kutoarjo–Purworejo dan jalur percabanganSemarang Tawang–Pelabuhan Tanjung Emas. Dari Stasiun Ambarawa dapat berlanjut sampaiStasiun Bedono pada tahun 2015 mendatang. Namun jalur percabangan Kutoarjo–Purworejo akan diaktifkan lagi pada akhir tahun 2023 diikuti dengan reaktivasiStasiun Purworejo yang sempat punah pada tahun 2010.[38][39]
^'Bali', in Robert Cribb, ed.,The Indonesian killings of 1965-1966: studies from Java and Bali (Clayton, Vic.: Monash University Centre of Southeast Asian Studies, Monash Papers on Southeast Asia no 21, 1990), pp. 241-248