Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Kerajaan Janggala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dariJanggala)
Artikel ini sudah memilikidaftar referensi, bacaan terkait, ataupranala luar, tetapisumbernya belum jelas karena belum menyertakankutipan pada kalimat. Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetailbila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Untuk kegunaan lain, lihatjenggala.
Kerajaan Janggala

1042–1135
Letak wilayah Janggala (ibukota Kahuripan) dan Panjalu (ibukota Daha) kemudian bersatu menjadi Kerajaan Panjalu/Kadiri
Letak wilayah Janggala (ibukotaKahuripan) dan Panjalu (ibukotaDaha) kemudian bersatu menjadi KerajaanPanjalu/Kadiri
Ibu kotaKahuripan
(1042 - 1135)
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno,Sansekerta
Agama
Hinduisme,Buddhisme,Animisme
PemerintahanMonarki
Sri/Maharaja 
• 1042 - 1052
Mapanji Garasakan
• 1052 - 1059
Alanjung Ahyes
• 1059 - ?
Samarotsaha
Sejarah 
• Didirikan
1042
• Dibagi olehAirlangga dariMedang Kahuripan
1042
• Ditaklukkan olehJayabaya dan menjadi bagiankerajaan Kadiri
1135
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
krjKerajaan
Kahuripan
krjKerajaan
Kadiri
Sekarang bagian dari Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info •Lihat •Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dariseri mengenai
SejarahIndonesia
Kerajaan Kutai 400–1635
Kerajaan Kalingga 424–782
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–sekarang
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarangBrunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Kemerdekaan
Revolusi Nasional Indonesia 1945–1949
Masa Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Garis waktu
 Portal Indonesia

Kerajaan Janggala atauJenggala (bahasa Jawa:ꦏꦼꦫꦗꦄꦤ꧀ꦗꦁꦒꦭ,translit. jaṅgala) adalah sebuahkerajaanHindu-Buddha yang terdapat diJawaTimur,Indonesia, antara tahun1042 dan berakhir disekitar tahun1135-an. Wilayah Jenggala membentang dari Tamwlang (Tembelang),Jombang hinggaBanyuwangi, yang saat ini menjadi pusat wilayah kebudayaan wetanan. Janggala Merupakan salah satu kerajaan hasil pembelahan yang juga didirikan olehAirlangga. Kerajaan ini diperintah olehwangsa Isyana. Lokasi pusat kerajaan diperkirakan sekarang berada di wilayahPorong, Sidoarjo.[1]

Etimologi

[sunting |sunting sumber]

Pada isi kalimat dalamprasasti Mula Malurung terdapat frasa yang tertulis pada lempeng VI-B :

"..sira śrī harṣawijaya, parṇnaḥ pahulunan dai nira narārrya sminingrāt, inandĕlakĕn muṅgweng ratnakanaka siṅhāsana, ṅkāneŋ bhūmi jaṅgala..."

"... 4) patih ira narapati kṛtānagara. saŋ inanugrahan anusuka sīma swatantra. ṅkāneŋ bhūmi jaṅgala. makanāmaŋ harija 5) ya. saṅ apañji siṅanambat. apatih i wurawan. amaṅku kaprabhū ni raji jayakatyöŋ (73). saŋ wineh anusuka dharmma sīma swatantra. ṅkaneŋ bhūmi kaḍiri (74). ataganikaŋ wahuta rāma triṇitaṇḍa. maka saŋ jñākṛṣṇāsana (75). tlas karuhun saŋ prāṇarāja ..."

Katajenggala berasal daribahasa Sanskertajaṅgala (Sanskerta:जङ्गलcode: sa is deprecated) yang berarti kasar dan gersang.[2][3][butuh rujukan]Meskipun kata Sanskerta itu merujuk pada tanah kering, telah dikemukakan bahwa penafsiran Inggris-India menyebabkan konotasinya menjadi "sekumpulan belukar berbelit-belit" yang lebat.[4]

Artikel utama:Prasasti Kamalagyan

Nama Janggala juga diperkirakan berasal kata "Hujung Galuh", atau disebut "Jung-ya-lu" berdasarkan catatan China tahun 1225, bukuZhu fan zhi yang ditulis olehZhao Rugua.[5] Pada masa Kerajaan Medang, dan Kahuripan, Hujung Galuh dikenal sebagai pelabuhan, kemungkinan terletak di daerahCanggu, Jetis, Mojokerto. Sumber otentik yang dapat dipakai sebagai dasar acuan. YakniPrasasti Kamalagyan. Prasasti Kamalagyan adalah sebuah prasasti yang dibuat Airlangga pada tahun 959 Saka atau 1037 M.

Dengan berjalannya waktu, hingga Raja Airlangga membagi dua kerajaannya, sebutan daerah Hujung Galuh yang terletak di daerah aliranSungai Brantas meluas, mencakup wilayahMojokerto,Lamongan,Surabaya,Sidoarjo hinggaPasuruan, hingga bagian timur kerajaan Kahuripan, yang kemudian disebut wilayah "Jenggala", dengan menjadikanKali Mas danKali Porong sebagai pintu gerbang Kerajaan pada saat itu.

Pada masa kerajaan Kadiri, Singhasari dan Majapahit, daerah kali porong, Sidoarjo, kembali disebut Kahuripan dan pelabuhan yang berada di Kali Mas, Surabaya, tetap bernama Hujung Galuh. Pelabuhan di daerah Surabaya ini akhirnya menjadi pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Singhasari, Majapahit hingga Hindia Belanda.

Berdirinya kerajaan Janggala

[sunting |sunting sumber]

Pusat pemerintahan Janggala terletak diKahuripan. Menurutprasasti Terep, kotaKahuripan (kahuripan i bhumi janggala) didirikan olehAirlangga tahun 1032, karena pada satu tahun sebelumnya 1031, ibu kota lama yaitu "Watan Mas" (Wotanmas Jedong, Ngoro, Mojokerto) dihancurkan seorang musuh wanita, yaitu Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja kerajaan Lodoyong (sekarang wilayahTulungagung,Jawa Timur).

Pembagian kerajaan oleh Airlangga

[sunting |sunting sumber]

Pada akhir November 1042,Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya untuk putranya.Sri Samarawijaya menjadi Raja wilayahPanjalu, di sebelah barat, yang berpusat di ibukota baru, yaituDaha. SedangkanMapanji Garasakan menjadi Raja wilayah Janggala di sebelah timur, yang berpusat di ibukota lama, yaituKahuripan.

DalamNagarakretagama, disebutkan sebelum dibelah menjadi dua (kerajaan Janggala dan Panjalu),Airlangga telah berpindah ibukota keDaha di wilayahPanjalu. Sebelum pembelahan kerajaan, kerajaan pimpinan Airlangga bernamaMedang Kahuripan atau disebut jugaKerajaan Kahuripan.[6]

... 1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ...

... 1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ...
— (Kakawin Nagarakretagama,Pupuh 68).

Menurutprasasti Turun Hyang (1044 M). Di akhir masa pemerintahannya tahun 1042Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya, raja yang sebenarnya merupakan putri Airlangga. Nama asli dari putri tersebut dimuat dalamprasasti Cane (1021 M) sampai denganprasasti Pasar Legi (1043 M) adalahSanggramawijaya Tunggadewi yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istanaKahuripan. Namun ia memilih untuk mengundurkan diri dan menjalani kehidupan suci sebagai pertapabiksuni atau pendeta wanitaBuddha, di dalam cerita rakyat ia kemudian dikenal bergelarDewi Kili Suci. Sedangkan dalamprasasti Pucangan (1041 M) memuat nama baru dan memunculkanSri Samarawijaya sebagai putra mahkota ataurakryan mahamantri i hino dan diduga adalah putraAirlangga dan merupakan adik dari Sanggramawijaya Tunggadewi, berselang tahun kemudian berdasarkan berita padaprasasti Pamwatan (1042 M) danSerat Calon Arang, Airlangga telah memindahkan ibu kotanya dan mendirikan kotaDahana.[6]

MenurutSerat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih penggantinya mengingat dirinya juga putra dari rajaBali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernamaMpu Bharada berangkat ke Bali untuk mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkanUdayana digantikan putra keduanya yang bernamaMarakata Pangkaja sebagai raja Bali, dan Marakata selanjutnya digantikan adiknya yaituAnak Wungsu.

Sebelum turun takhta, pada akhir November 1042, atas saran penasihat kerajaan sekaligus gurunyaMpu Bharada,Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribukota diDaha diberikan kepadaSri Samarawijaya, kemudian wilayah bagian timur yaitu Janggala beribukota diKahuripan diberikan kepadaMapanji Garasakan. Batas pemisah wilayah antara keduanya dibatasi oleh gunungKawi dansungai Brantas.

2. Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, paham tentang tiga zaman.

3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.

(Nagarakertagama, Pupuh 68)

Prasasti Wurare yang dipahatkan di alas sandarArca Mahaksobhya pada masaSinghasari, menceritakan tentang dua wilayah baru yang telah terbagi yang dilakukan oleh pendeta Aryya Bharad.

5-6. Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – oleh karena itu kuatlah Janggala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).

(Prasasti Wurare)

Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelarResi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurutBabad Tanah Jawi ia bergelarResi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalahprasasti Gandhakuti (1042 M) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalahResi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurutprasasti Pasar Legi, baikAirlangga maupunSanggramawijaya masih aktif menjalankan pemerintahan, mengikuti penyebutan gelar kependetaan Airlangga yaituResi Aji yang juga berarti sebagai pendeta raja. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Airlangga dan putrinya masih memegang kekuasaan tertinggi sekalipun hidupnya sudah terbagi dengan kegiatan non-duniawi.

Perkembangan kerajaan

[sunting |sunting sumber]

Perkembangan kerajaan Janggala sepeninggal rajaAirlangga dipenuhi oleh perang saudara, antara Janggala melawanPanjalu. Mula-mula kemenangan berada di pihak Janggala.

Pada tahun 1044, berdasarkanPrasasti Turun Hyang, Mapanji Garasakan memenangkan pertempuran melawan Panjalu, karena para pemuka desa Turun Hyang setia membantu Janggala melawan Panjalu.

Pada tahun 1050, berdasarkanPrasasti Kambang Putih, Raja Sri Mapanji Garasakan mempertahankan istana dari pasukan Kambang Putih yang menyerang istana kerajaan Janggala. Kambang Putih (sekarang daerahTuban) merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Panjalu.

Pada tahun 1052, berdasarkanPrasasti Malenga, Mapanji Garasakan telah mengalahkanAji Linggajaya raja Tanjung. Aji Linggajaya ini merupakan raja bawahan Panjalu.

Pada tahun 1052, berdasarkanPrasasti Banjaran, Janggala di serang oleh musuh dariKadiri yang berhasil menyingkirkanMapanji Garasakan dan keluarganya keluar dari ibukota Janggala. Raja Janggala kedua,Alanjung Ahyes melarikan diri ke hutan "Marsma" untuk menyusun kekuatan, ia kemudian berhasil merebut kembali ibukota Janggala berkat bantuan para pemuka desa Banjaran.[7]

Pada tahun 1053, berdasarkanPrasasti Garaman, Mapanji Garasakan mengalahkanAji Panjalu dariKadiri dibantu oleh pasukan dari desa Garaman.[8]

Pada tahun 1059, berdasarkanPrasasti Sumengka, Raja ketiga Janggala,Samarotsaha, dibantu para pemuka desa Sumengka, memperbaiki saluran air peninggalanAirlangga yang dimakamkan ditirtha atau pemandian (Petirtaan Belahan).

Daftar penguasa

[sunting |sunting sumber]

Pada awal berdirinya, kerajaan Janggala merupakan pecahan dari kerajaanMedang Kahuripan yang dipimpinAirlangga raja-raja yang diketahui pernah memerintah Janggala yaitu:

Raja-raja di Bhumi Janggala

[sunting |sunting sumber]
Masa pemerintahanNama pribadiNama abhisekaPrasasti dan berita
Pembagian wilayah kerajaan.
1042-1052GarasakanŚrī Mahārāja Rakai Halu Śrī Mapañji Garasakan Uttuṅgadewa
(Mapanji Garasakan)
Disebutkan di prasastiTurun Hyang II (1044),Kambang Putih (1050),Malenga (1052) dan prasastiGaraman (1053), adalah putra kandung dari rajaAirlangga.
1052-1059Alañjung AhyêsŚrī Mahārāja Mapañji Alañjung Ahyês Makoputadhanu Śrī Ajñajabharitamawakana Pasukala Nawanamaninddhita Sasatrahetajñadewati
(Alanjung Ahyes)
Disebutkan dalam prasastiBanjaran (1052).
1059-?SamarotsāhaŚrī Mahārāja Rakai Halu Pu Juru Śrī Samarotsāha Karṇnakeśana Ratnaśangkha Kirttisingha Jayāntaka Uttuṅgadewa
(Samarotsaha)
Disebutkan dalam prasastiSumengka (1059), diduga merupakan putra kandung atau menantu dari raja Airlangga.

Akhir kerajaan Janggala

[sunting |sunting sumber]

Pada tahun 1135, menurutprasasti Ngantang, Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan olehSri Jayabhaya rajaKadiri, dengan semboyannya yang terkenal, yaituPanjalu Jayati, atauKadiri Menang. Sejak saat itu wilayah Janggala dipersatukan dengan Panjalu oleh Jayabhaya, dan menjadi wilayahKerajaan Kadiri.

Janggala sebagai bawahan Majapahit

[sunting |sunting sumber]

SetelahKadiri ditaklukkanSinghasari tahun1222, dan selanjutnya diteruskan olehMajapahit tahun1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai Majapahit.

Pada zamanMajapahit namaKahuripan lebih populer daripada Janggala, sebagaimana namaDaha lebih populer daripadaPanjalu. Meskipun demikian, padaprasasti Trailokyapuri (1486),Girindrawardhana Dyah Ranawijaya rajaMajapahit saat itu menyebut dirinya sebagai penguasaWilwatiktapura Janggala Kaḍiri.

Dalam sistem pemerintahankerajaan Majapahit terdapat istilah Bhre yang merupakan perwujudan penguasa suatu wilayah bawahan dari kerajaan Majapahit yang biasanya dijabat oleh kerabat atau saudara dari raja. Contoh wilayah-wilayah bawahan kekuasaan Bhre pada masa Kerajaan Majapahit ialahBhre Kahuripan,Bhre Daha,Bhre Tumapel,Bhre Mataram,Bhre Matahun,Bhre Pandansalas,Bhre Wengker,Bhre Kertabhumi dan lain sebagainya.

Bhre Kahuripan

[sunting |sunting sumber]
  1. Tribhuwana Wijayatunggadewi1309-1328,1350-1375Pararaton.27:18,19; 29:32negarakertagama.2:2
  2. Hayam Wuruk1334-1350 Prasasti Tribhuwana
  3. Wikramawardhana1375-1389Suma Oriental(?)
  4. Surawardhani1389-1400Pararaton.29:23,26; 30:37
  5. Ratnapangkaja1400-1446 Pararaton .30:5,6; 31:35
  6. Rajasawardhana1447-1451 Pararaton.32:11; Prasasti Waringin Pitu
  7. Samarawijaya1451-1478 Pararaton .32:23

Situs budaya Janggala

[sunting |sunting sumber]

Situs bangunan

[sunting |sunting sumber]
  • Candi Prada, Dusun Reno Pencil,Kabupaten Sidoarjo. (Candi Prada berada di dusun Reno Pencil kabupaten Sidoarjo, namun sayang sekali candi tersebut telah dirusak oleh penduduk di tahun 1965. Sangat disayangkan peninggalan candi Prada ini sudah tidak ada karena rusak)
  • Situs tumpukan batu bata,Urang Agung,Kabupaten Sidoarjo. (situs bersejarah di area persawahan desa Urang Agung, Sidoarjo yang di duga peninggalan kerajaan jenggala. Situs bersejarah yang ditemukan berupa tumpukan batu bata yang menyerupai tangga dengan luas sekitar 4 m2. Situs bersejarah peninggalan kerajaan jenggala tersebut pertamakali ditemukan oleh salah seorang penduduk desa di area sawah saat sedang menggali)
  • Situs sumur kuno,Pepe Tambak,Kabupaten Sidoarjo.

Prasasti

[sunting |sunting sumber]

Peninggalan kerajaan Jenggala memang sangat terbatas, malah hampir tidak dikenali. Dengan terbatasnya peninggalan dari kerajaan jenggala, informasi mengenai kerajaan ini pun masih belum bisa menyeluruh.

Janggala dalam karya sastra

[sunting |sunting sumber]

MenurutKakawin Smaradahana, rajaKadiri yang bernamaSri Kameswara, yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri dariJanggala bernama Sri Kirana.

Adanya Kerajaan Janggala juga muncul dalamNagarakretagama yang ditulis tahun 1365. Kemudian muncul pula dalam naskah-naskah sastra yang berkembang pada zamankesultananIslam diJawa, misalnyaBabad Tanah Jawi danSerat Pranitiradya.

Dalam naskah-naskah tersebut, raja pertama Janggala bernama Lembu Amiluhur, putra Resi Gentayu aliasAirlangga. Lembu Amiluhur ini juga bergelar Jayanegara. Ia digantikan putranya yang bernamaPanji Asmarabangun, yang bergelar Prabu Suryawisesa.

Panji Asmarabangun inilah yang sangat terkenal dalam kisah-kisah Panji. Istrinya bernama Galuh Candrakirana dari Kadiri. Dalam pementasanKetoprak, tokoh Panji setelah menjadi raja Janggala juga sering disebut Sri Kameswara. Hal ini jelas berlawanan dengan berita dalam Smaradahana yang menyebut Sri Kameswara adalah raja Kadiri, dan Kirana adalah putri Janggala.

Selanjutnya, Panji Asmarabangun digantikan putranya yang bernama Kuda Laleyan, bergelar Prabu Surya Amiluhur. Baru dua tahun bertakhta, Kerajaan Janggala tenggelam oleh bencana banjir. Surya Amiluhur terpaksa pindah ke barat mendirikanKerajaan Pajajaran.

Tokoh Surya Amiluhur inilah yang kemudian menurunkan Jaka Sesuruh, pendiriMajapahit versi dongeng. Itulah sedikit kisah tentang Kerajaan Janggala versi babad dan serat yang kebenarannya sulit dibuktikan dengan fakta sejarah.

Daftar pustaka

[sunting |sunting sumber]
  • Andjar Any. 1989.Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990.Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Slamet Muljana. 1979.Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Prasasti Sukun Malang

Referensi

[sunting |sunting sumber]
Sebelum 600 M
(Hindu-Buddha pra-Mataram)
600–1500 (Hindu-Buddha)
1500–sekarang (Islam)
  1. ^https://www.britannica.com/place/Janggala
  2. ^"Meaning of jungle in English".Lexico. Oxford University Press/Dictionary.com. 2020. Diarsipkan dariversi asli tanggal 11 Juni 2020. Diakses tanggal11 Juni 2020.Origin: Late 18th century from Sanskrit jāṅgala ‘rough and arid (terrain)’. Parameter|url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
  3. ^"Home : Oxford English Dictionary"Perlu langganan berbayar.www.oed.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1-4-2019. Periksa nilai tanggal di:|access-date= (bantuan)(perlu berlangganan)
  4. ^Francis Zimmermann (1999).The jungle and the aroma of meats: an ecological theme in Hindu medicine. Volume 4. Motilal Banarsidass.ISBN 81-208-1618-8. 
  5. ^F. Hirth and W.W. Rockhill, Chau Ju-kua, St Petersburg, 1911
  6. ^abWignjosoebroto, Wiranto.MENCARI JEJAK KAHURIPAN; Kerajaan Hindu Tertua dan Terlama di Tanah Jawa. Penerbit K-Media.ISBN 978-602-6287-19-9. 
  7. ^"Jayati Seni ing Tlatah Jenggala | beritajatim.com".beritajatim.com (dalam bahasa Inggris). 2021-04-09. Diakses tanggal2021-12-29. 
  8. ^http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20156408.pdf
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kerajaan_Janggala&oldid=27086148"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2025 Movatter.jp