Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Gereja Katolik Roma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini berisi tentang Gereja yang dipimpin olehPaus. Untuk Gereja-gereja dengan tradisi dan keyakinan bersama, lihatKatolik. Untuk kegunaan lain, lihatGereja Katolik (disambiguasi).
Gereja Katolik
Ecclesia Catholicacode: la is deprecated
Basilika Mayor Santo Petrus
Basilika Santo Petrus, bangunan gereja Katolik terbesar di dunia
PenggolonganKatolik
Kitab suciKitab Suci (Alkitab)
TeologiTeologi Katolik
Bentuk
pemerintahan
Episkopal[1]
Badan
pemerintahan
Takhta Suci danKuria Roma
PausLeo XIV
Gereja partikular
sui iuris
Gereja Latin dan 23Gereja Katolik Timur
Keuskupan
Paroki221.700
WilayahSeluruh dunia
BahasaLatin Gerejawi danbahasa-bahasa asli setempat
LiturgiBarat dan Timur
Kantor pusatVatikan
PendiriYesus, menurutTradisi Suci
DidirikanAbad ke-1 M
Yudea,Kekaisaran Romawi[2][3]
Umat1,5 miliar (2025)[4]
Klerus
Rumah sakit5.500[5]
Sekolah dasar95.200[6]
Sekolah menengah43.800
Situs web resmiwww.vatican.va
Bagian dariseri tentang
Gereja Katolik
St. Peter's Basilica
Ikhtisar

Allah

    Hukum Ilahi
    Akhirat
    Misteri Paskah
    Santa Perawan Maria
    Keselamatan
    Eklesiologi
    Lain-Lain
     PortalKatolik
    Bagian dariseri tentang
    Kekristenan
    Simbol utama Kekristenan
    Christian cross Portal Kristen

    Gereja Katolik (Latin:Ecclesia Catholicacode: la is deprecated)[note 1] merupakan Gereja Kristen terbesar di dunia, dengan jumlah umat terbaptis sedunia mencapai 1,5 miliar jiwa pada tahun 2025.[4] Sebagai lembaga internasional tertua dan terbesar di dunia hingga saat ini,[13] Gereja Katolik telah memainkan peranan penting dalam sejarah dan perkembanganperadaban Dunia Barat.[14] Gereja ini sejatinya merupakan suatupersekutuan penuh yang terdiri dari 24gereja partikularsui iuris, yaituGereja Latin dan 23Gereja Katolik Timur,[15] dan tersusun atas lebih dari 5.200keuskupan atauyurisdiksi gerejawi berjenis lainnya yang tersebar di seluruh dunia per tahun 2023.[16]Paus, yang adalahUskup Roma, merupakan pemimpin Gereja Katolik sekaligus kepalaDewan Uskup yang menjadi pemegang kekuasaan tertinggi Gereja universal,[17] yang pada saat ini sedang dalam masaLeo XIV. YurisdiksiKeuskupan Roma, yang juga disebutTakhta Suci, merupakan pusat otoritas pemerintahan Gereja. Sementara itu, suatu badan administratif Takhta Suci bentukan Paus, yang disebutKuria Roma,[18][19][20] berkantor pusat diVatikan, yakni suatunegara kotateokrasi yang terukurung di dalamKota Roma, dengan Sri Paus sebagaikepala negaranya.[21] Umat beriman Katolik sendiri terdiri ataskaum awam yang tidak ditahbiskan, dan jugahierarki yang berisikan golonganklerus (rohaniwan), yakniuskup,imam, dandiakon.[22]

    Ajaran inti darikeyakinan Katolik adalah rumusan-rumusan dalamSyahadat Nikea-Konstantinopel, atau dalamSyahadat Para Rasul sebagai bentuk singkatnya, yaituAllahTritunggal,Gereja danpara kudus,pengampunan dosa, sertakebangkitan danhidup kekal.[23] Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja yangsatu, kudus, katolik, dan apostolik ini didirikan olehYesus Kristus sendiri melaluiAmanat Agung,[24][25][26][27][note 2] bahwapara uskup merupakanpenerus daripara rasul bentukan Kristus, dan bahwaPaus merupakanpenerus dariSimon Petrus yang diberikeutamaan untuk menjadi "dasar Kristus mendirikan Gereja-Nya".[30][31] Gereja menyatakan bahwa Gereja Katolik menjalankan praktik iman Kristen yang asli yang diajarkan sendiri olehpara rasul dan memelihara keyakinan tersebut secara turun-temuruntanpa kemungkinan sesat (infalibilitas) melaluiKitab Suci danTradisi Suci, yang ditafsirkan secara autentik melalui pihakMagisterium Gereja.[32][33] Gereja mempraktikkanketujuh sakramen, denganEkaristi sebagai sakramen terutama yang selalu dirayakan secara liturgis dalamMisa (atauLiturgi Suci dalam beberapagereja partikular),[34] Gereja mengajarkan bahwa melaluikonsekrasi olehimam atauuskup dalam Ekaristi, kurbanhosti dananggur berubah secaratransubstansial menjadi sungguh-sungguhTubuh dan Darah Kristus.[35] Dengan tetap berakar pada iman akan Kristus dan sekaligus menjelaskan tentang iman akan Kristus,[36] Gereja memberi penghormatan khusus kepadaMaria dalamdogma dandevosi Katolik sebagaiPerawan Abadi,Bunda Allah, danRatu Surga.[37] Gereja juga memberi perhatian khusus akan keberagamanritus,liturgi, dan peribadatan dalam Gereja, sepertiRitus Romawi danritus-ritus Latin lainnya, dan juga ritus-ritus liturgi dalamGereja-Gereja Katolik Timur, serta berbagailembaga Katolik, sepertiordo-ordo mendikan,tarekat-tarekat tertutup, dan ordo-ordo ketiga (sekuler).[38][39]

    Gereja membentuk doktrin-doktrinnya melalui berbagaikonsili dansinode, mencontohKonsili Yerusalem yang diadakan olehpara rasul,[40] serta mengukuhkan dan mengundangkan doktrin-doktrin tersebut dengan kuasaSri Paus.[41] Gereja Katolik percaya bahwaRoh Kudus akan menuntun Gereja agarterhindar dari kesesatan (infalibilitas) ketika merumuskan doktrin-doktrinnya.[42][43][44] Penjabaran mengenai ajaran iman dan moral Katolik dapat ditemukan dalamKatekismus Gereja Katolik (KGK),[45] sedangkankodifikasihukum kanonik Katolik dapat ditemukan dalamKitab Hukum Kanonik 1983 (KHK) atauKitab Hukum Kanonik Gereja Timur.

    Gereja juga mengeluarkan berbagaiajaran sosial Gereja Katolik yang menekankan bantuan dan dukungan secara sukarela bagi orang-orang yang sakit, miskin, dan menderita melaluikarya belas kasih jasmaniah dan rohaniah.[46][47] Sebagai karya nyata, Gereja juga menjalankan berbagai program kemanusiaan, lembaga sosial, badan amal, dan lembaga kemanusaan yang tersebar di seluruh dunia, serta mendirikan dan mengelola hampir jutaan fasilitas umum di seluruh dunia, termasuk di antaranya adalah gedungsekolah,universitas,rumah sakit,panti asuhan, danpanti wreda di seluruh dunia,[48] sehingga menjadikan Gereja Katolik sebagai penyedia layananpendidikan dankemanusiaan terbesar di dunia.[49]

    Sepanjang sejarah, Gereja Katolik berpengaruh besar dan memilik peranan sangat penting dalamperadaban Dunia Barat, terutama dalam bidangfilsafat,budaya,seni,musik, danilmu pengetahuan, sekurang-kurangnya sejak abad ke-4.[50] Pada awalnya, Gereja berada dalam suatupersekutuan utuh, hingga terjadinyaskisma (perpecahan) gereja yang utamanya akibat perbedaanteologi dandoktrin. Akibat perbedaan dalamteologiKristologi, Gereja terpisah denganGereja Asiria setelahKonsili Efesus pada tahun 431 M dan denganGereja-Gereja Ortodoks Oriental setelahKonsili Kalsedon pada tahun 451.[51][52] Lalu karena perbedaan pendapat mengenaiotoritas Paus, Gereja terpisah denganGereja Ortodoks Timur dalam peristiwaSkisma Akbar pada tahun 1054.[53] Akhirnya sewaktu terjadinya peristiwaReformasi pada abad ke-16, gereja-gereja dan persekutuan-persekutuanProtestan memisahkan diri dari Gereja Katolik.[54]

    Gereja senantiasa menempatkan diri sebagai penerustakhta Petrus dan berada dalam satu-satunya "Gereja Kristus" yang satu,[55] sementara perpecahan dalam tubuh "Gereja yang satu", yang terkadang akibat kesalahan kedua belah pihak, adalah bagian daridosa manusia,[56] tetapi orang-orang lahir dan dibesarkan dalam persekutuan yang telah terpisah tersebut tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa.[57] Gereja memandang bahwa gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan gerejawi yang terpisah dari Gereja Katolik, sepanjang umatnya "beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah dan baik", tetap pantas menyandang nama "Kristen" dan masih berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak secara sempurna.[57][58][59] Gereja ini pun mengakui bahwa Roh Kudus dapat menggunakan persekutuan-persekutuan gerejawi tersebut sebagai sarana demikeselamatan, dengan premis bahwa "kekuatan Roh Kudus berasal dari kepenuhan rahmat dan kebenaran, yang Kristus percayakan kepada Gereja Katolik" dan hal tersebut "mendorong ke arah kesatuan Katolik".[60][61] Dengan kepercayaan pada karya Roh Kudus, Gereja mengupayakan kesatuan antar segenap umat Kristiani melalui gerakan yang disebutoikumenisme.[61]

    Perkembangan dunia yang semakin modern dansekuler, beberapa ajaran iman dan moral Katolik mendapatkritik dan bahkan pertentangan dari beberapa pihak, khususnya para penganutliberalisme danegalitarianisme.Beberapa ajaran seksualitas tertentu, seperti penolakankontrasepsi buatan,homoseksualitas,masturbasi, danhubungan seks pranikah, penolakan terhadapperceraian, penolakan terhadapeutanasia danaborsi, ketiadaantahbisan bagiperempuan, sertalangkah penanganan Gereja atas kasus pelecehan seksual oleh rohaniwan sangat umumnya menimbulkan perdebatan, bahkan di antara sesama umat Katolik.[62]

    Nama

    [sunting |sunting sumber]

    Istilah Katolik

    [sunting |sunting sumber]
    Artikel utama:Katolik

    Istilah "Katolik" diserap daribahasa Belanda, yaitu kataKatholiek, yang berasal dari kataCatholicus dalambahasa Latin, yang berakar dari kata dalambahasa Yunani Kuno, yaitu κᾰθολῐκός (katholikós), yang berarti "menyeluruh", "umum", atau "universal".[63] Istilah ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan Gereja ini setidaknya pada awal abad ke-2 M.[64][65] Penggunaan frasa "gereja katolik" (bahasa Yunani:καθολικὴ ἐκκλησίαcode: el is deprecated,translit. he katholike ekklesia) pertama kali tertuang dalamsebuah surat yang dituliskan olehSanto Ignatius dari Antiokhia pada tahun 110 M kepada jemaat diSmirna.

    Di mana pun uskup muncul maka di sanalah umat berkumpul, sama seperti di mana Yesus Kristus muncul maka di sanalah Gereja Katolik berada.

    Dalam salah satuKatēchēseis (Κατηχήσεις) yang dikemukakan olehSanto Sirilus dari Yerusalem, nama "Gereja Katolik" digunakan untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok lain yang juga menyebut identitas mereka sebagai "gereja".[66][67] Gagasan istilah "katolik" juga ditekankan lebih lanjut dalamMaklumat Tesalonika, yang juga diberi judulde fide Catolica ("dari iman Katolik"), yang dikeluarkan olehKaisar Theodosius I pada tahun 380 ketika ia menetapkanKekristenan Nikea aliran "ortodoksi katolik" dariGereja Raya sebagaiGereja negara Kekaisaran Romawi.[68] BeberapaBapa Gereja sepertiSanto Hieronimus danSanto Agustinus dari Hippo juga menggunakan istilah katolik untuk membedakan antara Gereja yang mempraktikkan iman yang sejati dengan kelompok-kelompok lain yang dianggap bidah.[69][70] Pada surat yang berjudulMenghadapi Surat Manichaeus yang Disebut Fundamental, Santo Agustinus mengemukakan perihal tersebut.[71]

    Dan demikan pula akhirnya nama Katolik, yang bukannya tanpa alasan digunakan oleh sejumlah besar bidah, tetap dipertahankan oleh Gereja, sehingga walaupun semua penganut bidah ingin dikenal sebagai "Katolik", ketika seorang asing bertanya di mana umat Gereja Katolik berkumpul, tidak ada satu pun penganut bidah yang berani menunjuk kapel atau rumah ibadatnya sendiri.

    SetelahSkisma Akbar tahun 1054,Gereja Timur (khususnyaGereja Ortodoks Timur) menggunakan nama "Ortodoks" sebagai identitas khas gereja tersebut, meskipun masih tetap menggunakan nama lengkapGereja Katolik Ortodoks.[72] Sementara itu,Gereja Barat yang berada dalam kesatuan denganTakhta Suci lebih menggunakan nama "Katolik" sebagai identitas Gereja.[73] Istilah "Gereja Katolik" semakin ditekankan setelah terjadinya peristiwaReformasi, yang membuat kelompok-kelompok yang disebut "Protestan" memisahkan diri dari persekutuan denganPaus.[74]

    Ragam nama

    [sunting |sunting sumber]

    Saat ini, nama "Gereja Katolik" telah digunakan secara resmi olehTakhta Suci dalam berbagai dokumen resmi Gereja.[75][76][77] Nama ini bahkan menjadi judul dari suatu buku pedoman yang menjelaskan secara ringkas dan jelas seluruh doktrin iman dan moral yang diajarkan oleh Gereja, yaituKatekismus Gereja Katolik (1990).[7] Nama Gereja Katolik juga disebutkan dalamKitab Hukum Kanonik (1983) serta dalam dokumen-dokumen yang dikeluarkan padaKonsili Trento (1545–1563),[78]Konsili Vatikan I (1869–1870),[79] danKonsili Vatikan II (1962–1965).[8][9][10] Di dalam pembicaraan internal, Gereja Katolik sering disingkat sebagai "Gereja" ketika Gereja yang dimaksud telah jelas.[80]

    Sepanjang sejarah, Gereja Katolik juga dipanggil dengan banyak nama lain.Gereja partikular yang menggunakanritus Latin, dan terkadang Gereja Katolik secara keseluruhan, sering disebut sebagai "Gereja Latin" atau "Gereja Barat".[81] Sementara itu, istilah "Gereja Roma", "Gereja Romawi", atau "Gereja Romawi Suci" umumnya merujuk padaKeuskupan Roma,[82][83] meskipun istilah tersebut juga terkadang merujuk pada Gereja Katolik keseluruhan dalam dialog-dialog oikumenis antargereja.[84][85]

    Istilah "Gereja Katolik Roma" atau "Katolik Roma" sendiri dipopulerkan dalam gereja-gerejaberbahasa Inggris, terutama oleh penganutGereja Inggris pada abad ke-17,[86] meskipun istilah tersebut hampir tidak digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik dan hanya digunakan dalam kapasitas yang sangat terbatas pada dokumen oikumenis atau dokumen perbandingan dengan gereja lain, baik merujuk pada Gereja Katolik keseluruhan maupun pada Gereja Latin,[87][88] atau digunakan sebagai istilahliturgi untuk merujuk padaRitus Romawi.[89] Lagi pula, nama "Gereja Katolik Roma" tidak disukai oleh beberapa kelompok di dalam Gereja yang menganggap bahwa label tersebut hanya membuat Gereja tampak seperti salah satu dari beberapa "gereja katolik".[12]

    Keyakinan

    [sunting |sunting sumber]
    Artikel utama:Teologi Katolik
    Nama Allah di atas citra Kristus yang tersalib dikelilingibala malaikat, bagian dari latar altar dalam sebuah gedung Gereja Katolik.

    Gereja Katolik meyakini bahwa hanya ada satu Allah saja, yang hadir dalam tiga pribadi:Allah Bapa; Yesus Sang Putera; dan Roh Kudus. Keyakinan-keyakinannya terangkum dalamKredo Nicea[90] dan dirinci dalamKatekismus Gereja Katolik.[91][92] Kredo Nicea juga merupakan pusat pernyataan keyakinan dari denominasi-denominasi Kristen lainnya.[93] Pertama-tama adalah umat KristenOrtodoks Timur, yang keyakinan-keyakinannya mirip dengan keyakinan-keyakinan umat Katolik, perbedaan utamanya terletak dalam halinfalibilitas kepausan,klausa filioque, danMaria dikandung tanpa noda.[94][95] Berbagaidenominasi Protestan bervariasi dalam keyakinan-keyakinannya, tetapi pada umumnya mereka berbeda dari umat Katolik dalam hal Sri Paus, Tradisi Gereja, Ekaristi, penghormatan orang-orang kudus, serta dalam isu-isu yang berkaitan dengananugerah, perbuatan baik, dankeselamatan.[96]

    Konsili Yerusalem, yang diselenggarakan olehpara Rasul sekitar tahun 50 untuk memperjelas ajaran-ajaran Gereja, menjadi tolok ukur bagikonsili-konsili Gereja selanjutnya yang diselenggarakan oleh para pimpinan Gereja sepanjang sejarah.[40] Konsili terakhir dalam Gereja ini adalahKonsili Vatikan kedua, yang berakhir pada 1965.[97]

    Otoritas pengajaran, tujuh sakramen

    [sunting |sunting sumber]

    Berdasarkan janji Yesus di dalamInjil, Gereja Katolik percaya bahwa ia dibimbing secara berkesinambungan olehRoh Kudus, dan oleh sebab itu terhindar dari kemungkinan kekeliruan doktrin.[18][98] Gereja Katolik mengajarkan bahwa Roh Kudus menyingkapkan kebenaran Allah melaluiKitab Suci,Tradisi Suci, danMagisterium.[99] Kitab Suci, atauAlkitab Katolik, terdiri atas kitab-kitab yang sama dengan yang terdapat dalamPerjanjian Lama versiYunani—disebut pulaSeptuaginta[100]—beserta ke-27 tulisanPerjanjian Baru yang terdapat dalamCodex Vaticanus dan terdaftar dalamSurat Hari Raya yang ke-39 yang ditulisAthanasius.[101] Seluruh kitab tersebut merupakan ke-73 Kitab Suci Katolik, berbeda dengan banyak gereja Protestan yang menggunakan 66 kitab saja.[100] Kitab-kitab dan tulisan-tulisan yang dianggapkanonik oleh Gereja Katolik tetapi tidak dianggap kanonik oleh beberapa kelompok lainnya disebut juga kitab-kitabDeuterokanonika. Tradisi Suci terdiri atas ajaran-ajaran yang menurut keyakinan Gereja telah diwarisi dari zaman para Rasul.[98] Kitab Suci beserta Tradisi Suci bersama-sama disebut "deposit iman" (Bahasa Latin:depositum fidei). Deposit iman ini nantinya ditafsirkan olehMagisterium (dari katamagister dalam bahasa Latin yang artinya "guru"), otoritas pengajaran Gereja Katolik, yang—melaluisuksesi apostolik—dilaksanakan oleh Sri Paus danuskup-uskup yang berada dalam kesatuan dengan Sri Paus.[102]

    MenurutKonsili Trente, Yesus melembagakantujuh sakramen dan mempercayakannya kepada Gereja.[103] Ketujuh sakramen tersebut adalahPembaptisan,Krisma,Ekaristi, Rekonsiliasi (Sakramen Pengakuan Dosa),Minyak Suci (atau sakramen "Pengurapan Orang Sakit"),Imamat, danPernikahan. Sakramen-sakramen adalah ritual-ritual kasatmata yang penting artinya, dan yang oleh umat Katolik dipandang sebagai tanda-tanda kehadiran Allah serta saluran-saluran yang efektif darianugerah Allah kepada orang-orang yang menerima sakramen-sakramen tersebut dengan disposisi yang sesuai (ex opere operato).[104][105]

    Hakikat Allah

    [sunting |sunting sumber]

    Katolisisme itumonoteistik: percaya bahwa Allah itu esa, abadi, maha kuasa (Omnipoten), maha tahu (Omniscien), maha baik (Omnibenevolen), dan ada di mana-mana (Omnipresen). Allah eksis secara berbeda dan mendahului ciptaan-Nya (yakni, segala sesuatu yang bukan Allah, dan yang eksistensinya bergantung pada Allah) dan meskipun demikian tetap hadir secara intim dalam ciptaan-Nya. DalamKonsili Vatikan Pertama Gereja Katolik mengajarkan bahwa, meskipun dengan akal budi alami manusiawi, Allah dapat dikenal dalam karya-Nya sebagai asal mula dan akhir segala ciptaan,[106] Allah telah memilih untuk mewahyukan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya secara supernatural dalam cara-cara yang tertera dalam Surat kepada umat Ibrani 1:1-2.

    Katolisisme itu jugaTrinitarian: percaya bahwa, meskipun Allah itu esa dalam hakikat, esensi, dan keberadaan, Allah yang esa ini eksis dalam tiga pribadi illahi, yang masing-masing identik dengan satu esensi, yang perbedaannya cuma dalam hubungan mereka satu sama lain: hubunganBapa terhadapPutera, hubungan Putera terhadap Bapa, dan hubungan keduanya denganRoh Kudus, menjadikan Allah yang esa sebagaiTrinitas.

    Umat Katolik dibaptis dalam nama (bentuk tunggal) Bapa dan Putera dan Roh Kudus — bukan tiga Allah, melainkan satu Allah yang menetap dalam tiga Pribadi. Sekalipun satu esensi keillahianNya, Bapa, Putera, dan Roh Kudus itu berbeda, bukan sekadar tiga "topeng" atau manifestasi dari satu Pribadi. Iman Gereja dan tiap individu Kristiani didasarkan atas hubungan dengan ketiga Pribadi dari satu Allah tersebut.

    Gereja Katolik percaya bahwa Allah mewahyukan diri-Nya sendiri kepada umat manusia sebagai Bapa bagi Putera tunggal-Nya, yang berada dalam persekutuan abadi dengan Sang Bapa (Matius 11:27).

    Umat Katolik percaya bahwa Allah Putera, Sang Logos Illahi, Pribadi Allah yang kedua, berinkarnasi sebagaiYesus Kristus, seorang manusia, lahir dariPerawan Maria. Dia tetap sungguh-sungguh illahi dan pada saat yang sama sungguh-sungguh manusia. Dalam perkataan dan cara hidupnya, dia mengajar semua orang bagaimana untuk hidup, dan mewahyukan Allah sebagai Kasih, pemberi anugerah atau rahmat secara cuma-cuma.

    Sesudahpenyaliban dankebangkitan Yesus, para pengikutnya, terutama kedua belas rasul, semakin ekstensif menyebarkan imannya dengan semangat yang menurut mereka berasal dariRoh Kudus, Pribadi Allah yang ketiga, yang diutus ke atas mereka oleh Yesus.

    Dalam keyakinan Katolik, manusia mula-mula diciptakan untuk hidup dalam persatuan dengan Allah. Karena ketidaktaatan manusia pertama, hubungan itu putus dan dosa serta maut datang ke dunia.[107] Kejatuhan tersebut menjadikan manusia berada dalam suatu status yang disebutdosa asal, yakni, keterpisahan dari status aslinya yang intim dengan Allah yang membawa maut melalui gagasan bahwa tiap jiwa manusia itu abadi. Namun ketika Yesus datang ke dunia, menjadi Allah sekaligus manusia, Dia mampu melalui pengorbananNya untuk mendamaikan umat manusia dengan Allah. Dengan bersatu dalam Kristus, melalui Gereja, umat manusia sekali lagi mampu untuk menjalin keintiman dengan Allah tetapi juga menawarkan suatu karunia yang lebih menakjubkan lagi: partisipasi dalam Hidup Ilahi di Bumi, yang kelak mencapai kepenuhannya di surga dalamvisiun beatifis (beatific vision) —yaitu bertatapan muka langsung dengan Allah (1 Korintus 13:12,1 Yohanes 3:2). SakramenPembaptisan adalah satu-satunya sarana untuk memperoleh pengampunan atas dosa asal.

    Alkitab Gutenberg cetakan1455. Menjelang akhir era 1400-an, orang-orang Katolik sepertiJohann Gutenberg mengoperasikan 250 usaha percetakan di seluruhEropa.

    Gereja, sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci, adalah "tubuh Kristus,"[108] dan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja merupakan satu kesatuan tubuh dari umat beriman di dalam surga dan di atas bumi. Oleh karena itu hanya ada satu Gereja yang sejati, yang tampak dan yang bersifat fisik, bukannya beberapa Gereja. Dan bagi Gereja yang satu ini, yang awalnya didirikan oleh Yesus di atas Petrus dan para rasul, Yesus memberikan suatu mandat untuk menjadi pengajar dan penjaga yang berwenang dari iman. Untuk mentransmisikan wahyu ilahiah Kristus, para rasul diberi mandat untuk "memberitakan injil," yang mereka laksanakan baik secara lisan maupun tulisan, dan yang mereka lestarikan dengan meninggalkan para uskup sebagai penerus mereka.Katekismus menyatakan bahwa "pemberitaan rasuli, yang diekspresikan secara khusus dalam kitab-kitab yang terilhami, yang dilestarikan dalam rantai suksesi yang berkesinambungan hingga akhir zaman. Transmisi hidup ini, terselenggara dalam Roh Kudus, disebut Tradisi, karena berbeda dengan Kitab Suci, meskipun terkait erat dengannya." Gereja juga merupakan sumber rahmat ilahi yang diberikan melalui sakramen-sakramen (lihat di bawah). Gereja menyatakan diri tidak dapat keliru (Infalibilitas Gereja) dalam mengajarkan iman, berdasarkan janji-janji Yesus yang alkitabiah bahwa Ia akan senantiasa menyertai Gereja-Nya, dan memeliharanya dalam kebenaran melaluiRoh Kudus. Selanjutnya, Yesus menjanjikan perlindungan ilahi bagi ajaran-ajaran dan penilaian-penilaian para rasul, serta mereka yang menjadi penerus para rasul dalam jabatan mereka sebagai pengajar (yaitu para uskup). Lagi pula, Yesus menetapkan Gereja sebagai mahkamah tertinggi bagi seluruh umat beriman: "dan jika dia menolak untuk mendengarkan mereka, sampaikanlah kepada Gereja; dan jika dia menolak pula untuk mendengarkan Gereja, biarlah dia menjadi bagimu seperti seorang asing dan seorang pemungut cukai." Dalam ayat alkitab ini, tampak bahwa Gereja mendasarkan doktrin-doktrinnya pada peninggalan apostolik yang tertulis, yaituPerjanjian Baru, dan pada tradisi lisan yang diwariskan dari para rasul bagi para penerus mereka (para uskup) melalui kesaksian Gereja yang berkesinambungan.

    Basilika Santo Yohanes Lateran, Katedral KeuskupanRoma, yakni Katedral Sri Paus.

    Bagian ke-8 dari dekretKonsili Vatikan II mengenai Gereja,Lumen Gentium menyatakan bahwa "Gereja Kristus yang tunggal yang dalam kredo diikrarkan sebagai satu, kudus, katolik dan apostolik" berada "dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh penerus Petrus dan para uskup yang berada dalam persekutuan dengannya." (Istilah penerus Petrus bermakna Uskup Roma, Sri Paus).

    Katekismus Gereja Katolik, 85 menyatakan bahwa interpretasi otentik dari Firman Allah dipercayakan kepdaMagisterium Gereja yang hidup, yakni para uskup dalam persekutuan dengan penerusSanto Petrus. Teologi Katolik menempatkan wewenang interpretasi Kitab Suci pada tangan-tangan penilaian yang konsisten dari Gereja dari abad ke abad (hal yang senantiasa dan di mana saja diajarkan) bukannya pada penilaian pribadi perseorangan. Meskipun demikian, magisterium mendorong umat gembalaannya untuk membaca Kitab Suci.

    MenurutKatekismus Gereja Katolik, "maksud utama Gereja adalah untuk menjadi sakramen persatuan batiniah antara manusia dengan Allah." Dengan demikian "struktur Gereja secara keseluruhan di diarahkan kepada kesucian anggota-anggota tubuh Kristus."

    Keselamatan

    [sunting |sunting sumber]

    Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan untuk kehidupan kekal adalah kehendak Allah bagi semua orang, dan bahwa Allah menganugerahkannya bagi para pendosa sebagai suatu anugerah yang cuma-cuma, suatu rahmat, melalui pengorbanan Kristus. "Sehubungan dengan Allah, sama sekali tidak ada hak atas kelayakan apapun di pihak manusia. Antara Allah dan kita terentang kesenjangan yang tak terkira, karena kita telah menerima segala sesuatu dari-Nya, Pencipta kita. Allahlah yang membenarkan, yakni, yang membebaskan daridosa dengan karunia kekudusan yang cuma-cuma (rahmat pengudusan, yang disebut juga sebagai rahmat habitual atau rahmat pengilahian). Manusia dapat menerima anugerah yang dikaruniakan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus dan melalui pembaptisan, ataupun menolaknya. Peran serta manusia diperlukan, sejalan dengan kemampuan baru untuk berpegang teguh pada kehendak ilahi yang disediakan Allah. Iman seorang Kristiani bukannya tanpa perbuatan, karena tanpa perbuatan iman itu akan mati. Dalam pengertian ini, "dengan perbuatan manusia dibenarkan, dan bukan dengan iman semata-mata,"dan kehidupan kekal adalah, pada satu saat yang sama, rahmat dan upah dianugerahkan oleh Allah atas perbuatan baik dan kelayakan. Iman, dan oleh karenanya perbuatan, merupakan hasil dari rahmat Allah - oleh karena itu, hanya karena rahmat maka orang beriman dapat dipandang "layak memperoleh" keselamatan.

    Ilustrasi Yesus menyerahkan diri untuk disalib

    Menurut Gereja Katolik, melalui rahmat-rahmat yang diperoleh Yesus bagi umat manusia dengan mengorbankan dirinya sendiri di kayu salib, keselamatan dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang berada di luar batas-batas yang tampak dari Gereja. Umat Kristiani dan bahkan non-Kristiani, jika dalam hidupnya secara positif tanggap terhadap rahmat dan kebenaran yang disingkapkan Allah kepada mereka melalui belas kasihan Kristus, dapat diselamatkan (suatu sikap yang kerap disebut, dalam kasus umat non-Kristiani, sebagai "baptisan kerinduan"). Hal ini kadang kala mencakup pula kesadaran akan kewajiban untuk menjadi bagian dari Gereja Katolik. Dalam kasus-kasus semacam itu — menurut pandangan Gereja Katolik — barang siapa menyadari dalam hatinya bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Allah melaluiYesus Kristus sebagai upaya yang perlu untuk keselamatannya, menolak untuk masuk atau tetap di dalamnya, tidak dapat diselamatkan (interpretasiExtra Ecclesiam nulla salus).

    Hidup manusia

    [sunting |sunting sumber]
    Penciptaan Adam karyaMichelangelo

    Gereja Katolik menegaskan kesucian seluruh hidup manusia, sejak dalam kandungan hingga kematian secara alami. Gereja Katolik percaya bahwa tiap pribadi diciptakan menurut "gambar dan rupa Allah," (Kitab Kejadian, 1:26) dan bahwa hidup manusia tidak boleh diukur berdasarkan nilai-nilai lain seperti ekonomi, kenyamanan, preferensi pribadi, atau teknik sosial. Oleh karena itu, Gereja menentang aktivitas-aktivitas yang diyakininya menghancurkan atau menistakan hidup yang diciptakan suci itu, termasukeuthanasia,eugeniks danaborsi.

    Seksualitas

    [sunting |sunting sumber]

    Gereja Katolik mengajarkan bahwa hidup manusia dan seksualitas manusia kedua-duanya tak terpisahkan dan suci.[109]Gereja mengajarkan bahwaManikeisme, keyakinan bahwa roh bersifat baik sedangkan tubuh bersifat jahat, adalahbidaah. Oleh karena itu, Gereja tidak mengajarkan bahwa seks itu dosa atau merusak hidup yang penuh rahmat. Karena Allah menciptakan tubuh manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, dan karena Dia melihat bahwa segala sesuatu yang telah diciptakannya itu "sungguh baik," (Kejadian 1:31) maka demikian pula tubuh manusia dan seks itu baik adanya. Dalam Katekismus diajarkan bahwa "tubuh adalah alat keselamatan."[110] Sesungguhnya, Gereja menganggap ekspresi cinta antara suami istri sebagai aktivitas manusia yang paling luhur, yang mempersatukan, suami istri dalam penyerahan-diri yang seutuhnya satu sama lain, dan membuka hubungan mereka kepada kehidupan baru. “Aktivitas seksual, yang di dalamnya suami istri secara intim dan murni saling bersatu, dan yang melaluinya hidup manusia diturunkan, adalah, sebagaimana yang dikatakan oleh Konsili terakhir, ‘mulia dan layak.’”[111] Hanya dalam hal ekspresi seksual yang terjadi di luar pernikahan sakramental, atau dalam hal fungsi prokreasi dari ekspresi seksual dalam pernikahan secara sengaja dihalang-halangi, maka Gereja Katolik mengungkapkan keprihatinan moralnya.

    Asal-usul dan sejarah

    [sunting |sunting sumber]
    Untuk panduan kronologis, lihatGaris waktu Gereja Katolik.

    Gereja Katolik didirikan olehYesus danKeduabelas Rasul, dilanjutkan oleh para uskup sebagai penerus para rasul umumnya, dan Sri Paus sebagai penerus Santo Petrus khususnya.[112] Istilah "Gereja Katolik" diketahui pertama kali digunakan dalam surat dariIgnatius dari Antiokhia pada tahun 107, yang menulis bahwa: "Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ."[113]

    Selain itu, para penulis Katolik memberikan daftar sejumlah kutipan dari para Bapa Gereja terdahulu yang mendukung bahwasanya Tahta Keuskupan Roma memiliki otoritas yurisdiksional atau primasi atas gereja-gereja lain,[114] di lain pihak para penulis Ortodoks menolak klaim tersebut yang merupakan salah satu dari pokok permasalahan di balikskisma Timur-Barat, dengan secara historis memandang Sri Paus sebagaiprimus inter pares (yang pertama di antara yang sederajat).[115]

    Di pusat doktrin-doktrin Gereja Katolik adaSuksesi Apostolik, yakni keyakinan bahwa para uskup adalah para penerus spiritual dari Keduabelas Rasul mula-mula, melalui rantai konsekrasi yang tak terputus secara historis.Perjanjian Baru berisi peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran yang sekadar bertopengkan Kekristenan,[116] dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan untuk memutuskan manakah yang merupakan ajaran yang benar.[117] Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik adalah keberlanjutan dari orang-orang tetap setia pada kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menolak ajaran-ajaran palsu.

    Pra Abad-Pertengahan

    [sunting |sunting sumber]

    Sesudah melewati suatu periode awal yang diwarnaipenganiayaan secara sporadik namun intens, Kekristenan menjadi legal pada abad ke-4, ketika Kaisar Konstantinus I mengeluarkanEdicta Milano (Maklumat Milan) pada tahun 313. Konstantinus berperan penting dalam penyelenggaraan Konsili Nicea Pertama yang merupakan konsili para uskup Gereja Katolik pada tahun 325, yang ditujukan untuk melawan bidaah Arianisme dan merumuskanKredo Nicea yang digunakan oleh Gereja Katolik, Ortodoksi Timur, dan berbagai Gereja Protestan. Pada tanggal27 Februari380, Kaisar Teodosius I memberlakukan sebuah hukum yang menetapkan Kekristenan Katolik sebagaiagama resmi Kekaisaran Romawi dan memerintahkan untuk menyebut yang lain daripada itu sebagai bidaah.[118]

    Halaman bergambar dariBook of Kells yang termasyhur itu, 800.

    Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, Gereja Katolik melewati suatu masa kegiatan dan ekspansi misi. Selama Abad Pertengahan Katolisisme menyebar di antara bangsa Jerman (pada awalnya bersaing dengan Arianisme),Viking,Polandia,Kroasia,Ceko,Slowakia,Hungaria,Lithuania,Latvia,Finlandia danEstonia. Keberhasilan kehidupan monastik menumbuhkan berbagai pusat pembelajaran, teristimewa yang paling masyhur diIrlandia danGallia, serta berkontribusi bagi Abad Pencerahan Dinasti Carolingian (Carolingian Renaissance). Di kemudian hari yakni pada kurun waktuAbad Pertengahan, Sekolah-sekolah Katedral berkembang menjadi universitas-universitas (Universitas Paris,Universitas Oxford, danUniversitas Bologna), cikal bakal dari lembaga-lembaga pembelajaran Barat modern.

    Skisma akbar

    [sunting |sunting sumber]

    Dalam abad ke-11, melalui serentetan proses selama beberapa abad, Gereja mengalamiskisma akbar di mana Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur terbelah akibat isu-isu administrasi, liturgi, dan doktrin, khususnya masalah klausaFilioque dan primasi jurisdiksi kepausan. Secara konvensional skisma ini berpenanggalan tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel dan Sri Paus mengeluarkan pernyataan saling mengucilkan. BaikKonsili Lyons II tahun 1274 maupunKonsili Basel tahun 1439 berusaha menyatukan kembali kedua Gereja, tetapi pihak Ortodoks menolak kedua konsili itu. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur masih dalam keadaan skisma hingga hari ini, meskipun demikian dalam deklarasi bersama Katolik-Ortodoks tahun 1965 pernyataan pengucilan tersebut ditarik kembali baik oleh Roma maupun Konstantinopel, dan upaya-upaya mengakhiri skisma terus berlanjut. BeberapaGereja Timur telah bersatu kembali dengan Gereja Katolik dengan menerima primasi kepausan, dan beberapa Gereja Timur lainnya mengaku tidak pernah keluar dari persekutuan dengan Sri Paus.

    Perang Salib

    [sunting |sunting sumber]

    Perang Salib adalah serangkaian perang militer sejak tahun 1092 diTanah Suci dan tempat-tempat lain, direstui oleh kepausan, dimulai pada masa kepausanUrbanus II sebagai tanggapan terhadap permintaan bantuan dari KaisarByzantium melawan ekspansi Turki. Perang Salib ini serta perang-perang Salib selanjutnya akhirnya gagal meredakan agresi orang-orang Turki dan bahkan menimbulkan rasa benci antar umat Kristiani akibat penjarahan dan pendudukan kotaKonstantinopel selama Perang Salib ke-4.

    Sejak sekitar tahun 1184, dan berlanjut selamaReformasi Protestan, terjadi sejumlah kegiatan historis yang melibatkan Gereja Katolik, dan yang dikenal luas sebagaiInkuisisi, ditujukan untuk menyelamatkan kesatuan religius dan doktrinal dalam Kekristenan melalui pentobatan, dan kadang kala penganiayaan, orang-orang yang didakwa bidaah. Terbukti bidaah, yang dipandang sebagai pengkhianatan terhadap dunia Kristen, dapat mengakibatkan penerimaan hukuman yang berkisar dari hukuman ringan sampai hukuman mati (antara lain dibakar hidup-hidup) yang dilaksanakan oleh negara. Contoh dari langkanya pelaksanaan hukuman mati tersebut adalah, sejak tahun 1540 sampai 1700 dari semua perkara yang diajukan kepada Inkuisisi Spanyol hanya 2-3% yang berakhir dengan eksekusi mati, lebih rendah daripada peradilan sekuler manapun secara virtual pada masa itu.[119] Menurut para sejarawan, InkuisisiAbad Pertengahan,Inkuisisi Spanyol, Inkuisisi Roma, dan Inkuisisi Portugis adalah peristiwa-peristiwa historis yang berbeda. Cakupan dari aktivitas Inkuisisi, dan khususnya angka kematian yang tepat, telah menjadi bahan propaganda di kemudian hari.

    Keretakan kedua dalam sejarah Kekristenan terjadi saatReformasi Protestan, yang dimulai diJerman pada abad ke-16. Selama kurun waktu tersebut pelbagai kelompok masyarakat, sering kali dengan dukungan pemerintah lokal, menolak primasi Sri Paus, kewajiban selibat bagi para imam, serta berbagai doktrin dan praktik Katolik lainnya, sekaligus penyelewengan-penyelewengan (semisal praktiksimoni/praktik pembelian jabatan gerejawi) yang umum terjadi pada masa itu. Para reformator dalam Gereja Katolik meluncurkanKontra-Reformasi atau Reformasi Katolik, suatu periode klarifikasi doktrin, perbaikan imamat dan liturgi, dan re-evangelisasi yang dimulai denganKonsili Trento.

    Konsili Trento dan perbaikan-perbaikannya menghasilkan tema sentral untuk 300 tahun ke depan dari sejarah Katolik. Periode tersebut menitikberatkan karyakatekese dan misi, bidang yang menjadi keunggulan bagi ordoYesuit danFransiskan. Katolisisme menyebar ke seluruh dunia, seiring dengan kolonialisme bangsa Eropa: keAmerika,Asia,Afrika, danOseania.

    Zaman Modern

    [sunting |sunting sumber]

    Gereja pada abad ke-18 dan ke-19 tidak hanya harus berhadapan dengan ajaran-ajaran Protestantisme, namun juga dengan ajaran-ajaran Pencerahan dan Modernisme mengenai hakikat pribadi manusia, negara, dan moralitas. Dengan terjadinyaRevolusi Industri, dan meningkatnya keprihatinan akan kondisi-kondisi para buruh urban, Paus-Paus abad ke-19 dan ke-20 mengeluarkan ensiklik-ensiklik (teristimewaRerum Novarum) yang memaparkanAjaran Sosial Katolik.

    Konsili Vatikan Pertama (1869–1870) menegaskan doktrin infabilitas kepausan yang diyakini umat Katolik sebagai kontinuitas dengan sejarahSupremasi Petrus dalam Gereja.

    Reformasi Konsili Vatikan Kedua

    [sunting |sunting sumber]
    Artikel utama:Konsili Vatikan II
    Konsili Vatikan II

    Gereja Katolik melakukan salah satu dari perubahan-perubahan paling menyeluruh dalam sejarahnya selamaKonsili Vatikan II (1962-1965) dan dasawarsa sesudahnya. Gereja Katolik, lebih daripada sebelumnya, menekankan apa yang dipandangnya positif ketimbang apa yang dipandangnya negatif dalam komunitas-komunitas Kristiani lain, dalam agama-agama lain, dan dalam aspirasi-aspirasi umat manusia pada umumnya. Gereja mendorong pembaharuan yang mutakhir atas kehidupan religius. Dan Gereja memberi wewenang kepada konferensi-konferensi waligereja untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam disiplin-disiplin misalnya berpantang daging pada hari Jumat.

    Konsili Vatikan II (1962–1965) yang diperhimpunkan olehPaus Yohanes XXIII, terutama sebagai suatu konsili pastoral namun otoritatif,[120] untuk membuat ajaran-ajaran historis Gereja Katolik menjadi jelas bagi dunia modern. Konsili ini mengeluarkan dokumen-dokumen mengenai sejumlah topik, termasuk hakikat Gereja, misi awam, dan kebebasan beragama. Konsili ini juga mengeluarkan pengarahan-pengarahan bagi revisi liturgi, termasuk izin bagiritus liturgi Latin untuk menggunakan bahasa setempat di sampingBahasa Latin dalam Misa dan sakramen-sakramen lainnya.[121]

    Liturgi

    [sunting |sunting sumber]

    Gereja Katolik secara mendasar bersifat liturgis dalam peribadatannya. Liturgi berasal dari kata Yunani yang artinya "pekerjaan masyarakat."Konsili Vatikan II menyatakan "karena liturgi, yang melaluinya karya penebusan kita terselesaikan,' terutama dalam kurban ilahi Ekaristi, merupakan sarana-sarana terbaik bagi umat beriman untuk dapat mengekspresikan dalam kehidupannya, dan memanifestasikan bagi sesama, misteri Kristus dan hakikat sejati dari Gereja yang benar."[122]

    Katekismus Gereja Katolik, 1131Diarsipkan 2008-04-11 diWayback Machine. mengajarkan: "Sakramen-sakramen adalah tanda-tanda yang berfaedah dari rahmat, yang dilembagakan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja, yang dengannya kehidupan ilahi disalurkan bagi kita. Ritus-ritus yang terlihat yang dengannya sakramen-sakramen dirayakan menandai dan menghadirkan rahmat-rahmat sesuai dengan tiap sakramen. Sakramen-sakramen berbuah dalam diri mereka yang menerimanya dalam keadaan yang seharusnya."

    Ketujuh sakramen adalah:

    1. Pembaptisan
    2. Pengakuan dosa[123]
    3. Ekaristi
    4. Krisma
    5. Imamat
    6. Pernikahan
    7. Pengurapan orang sakit
    Yohanes 3:5:"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah."

    Tujuh sakramen dalam Gereja Katolik dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:

    Sakramen pembaptisan dalam Gereja Katolik adalah dasar kehidupan umat Kristiani dan merupakan tahap inisiasi ke dalam kehidupan rohani. Sakramen ini dianggap sebagai syarat utama untuk menerima sakramen-sakramen lain dalam tradisi Katolik, seperti Ekaristi dan Penguatan. Sebagai pintu masuk ke dalam hidup rahmat, sakramen pembaptisan menjadi tanda dan sarana yang menyampaikan rahmat Allah kepada umat beriman. Melalui pembaptisan, seseorang dilahirkan kembali sebagai anak Allah, menjadi anggota penuh Gereja, serta memperoleh meterai rohani yang tidak dapat dihapuskan, yang menandai keanggotaan kekal dalam komunitas umat Kristiani.

    Kehidupan devosional Gereja Katolik

    [sunting |sunting sumber]

    Selain sakramen-sakramen, yang dilembagakan oleh Yesus, terdapat pula saranasakramentali, yaitu tanda-tanda suci (upacara-upacara atau benda-benda) yang beroleh kuasa dari doa Gereja. Sakramentali melibatkan doa dengan tanda salib atau tanda-tanda lainnya. Contoh-contoh penting adalah pemberkatan-pemberkatan (yang di dalamnya diangkat pujian bagi Allah dan memohon karunia-karunia-Nya),konsekrasi orang-orang, dan penyucian benda-benda yang digunakan untuk menyembah Allah.Devosi-devosi populer bukan bagian dari liturgi, tetapi jika dinilai otentik, maka didukung oleh Gereja. Devosi-devosi mencakup penghormatanrelikwi-relikwi orang-orang kudus, kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat suci, ziarah-ziarah, perarakan-perarakan (termasuk perarakan Sakramen Maha Kudus), ibadatjalan salib,ibadat harian, Penyembahan Sakramen Maha Kudus, Pemberkatan Sakramen Maha Kudus, danDoa Rosario.

    Doa pribadi

    [sunting |sunting sumber]

    Selain itu, banyaknya variasi darispiritualitas Katolik memungkinkan umat Katolik untuk berdoa sendiri dengan berbagai macam cara. Bagian ke-4 dan terakhir dari Katekismus meringkas tanggapan Katolik terhadap misteri iman: "Oleh sebab itu, misteri ini, mengharuskan supaya umat beriman meyakininya, supaya mereka merayakannya, dan supaya mereka hidup darinya dalam suatu hubungan yang bersifat vital dan pribadi dengan Allah yang hidup dan sejati. Hubungan itu adalahdoa."[124]

    Gereja partikular dalam Gereja Katolik

    [sunting |sunting sumber]
    St. Efrem dari Syria, dihormati oleh umatMaronit, yang senantiasa berada dalampersekutuan dengan Roma.
    Artikel utama:Gereja Partikular

    Tidak seperti "persekutuan" atau "serikat" Gereja-Gereja yang terbentuk oleh saling pengakuan antar badan-badan gerejawi yang berbeda-beda, Gereja Katolik menganggap dirinya sebagai sebuah Gereja tunggal ("satu Tubuh") yang terbentuk dari sejumlah besarGereja-Gereja partikular, yang masing-masing merupakan perwujudan dari Gereja Katolik yang esa. Gereja universal, diyakini merupakan "suatu realita yang secara ontologis dan temporal mendahului setiap Gereja Partikular secara individu."[125]

    Meskipun demikian, Gereja Katolik menekankan pentingnya Gereja-Gereja partikular di dalamnya, yang arti signifikansi teologisnya diulas dalam Konsili Vatikan Kedua. Dibedakan dua penggunaan istilahGereja partikular.

    Hubungan dengan umat Kristiani lainnya

    [sunting |sunting sumber]

    Meskipun mengaku sebagai Gereja yang didirikan oleh Yesus, Gereja Katolik mengakui bahwa banyak unsur-unsur keselamatan dalam Injil terdapat pula di dalam Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas gerejawi lainnya. DokumenKonsili Vatikan II,Lumen Gentium mengajarkan bahwa "Gereja Kristus yang esa yang dalam kredo dimaklumkan sebagai "yang satu, kudus, katolik dan apostolik..." terdapat dalam (Lumen Gentium menggunakan kata Latin "Subsistit in") Gereja Katolik, yang dipimpin oleh penerus Petrus dan oleh para uskup dalam persekutuan dengan dia, meskipun banyak unsur-unsur pengudusan dan kebenaran terdapat di luar dari strukturnya yang tampak.[126] Dengan demikian, dokumen tersebut meneguhkan doktrinExtra Ecclesiam Nulla Salus[127] (tidak ada keselamatan di luar Gereja).

    Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah menjangkau badan-badan Kristiani, mengusahakan rekonsiliasi yang semaksimal mungkin. Kesepakatan-kesepakatan penting telah dicapai mengenai Pembaptisan, Pelayanan, dan Ekaristi bersama para teolog Anglikan. Dengan badan-badan Lutheran telah dicapai kesepakatan serupa mengenai teologi pembenaran (justifikasi). Dokumen-dokumen penting ini telah makin mempererat ikatan persaudaraan dengan komunitas-komunitas gerejawi tersebut. Meskipun demikian, perkembangan-perkembangan terbaru, semisal pentahbisan wanita dan penerimaan terhadap pasangan homoseksual, menghadirkan hambatan-hambatan baru bagi rekonsiliasi denganGereja Lutheran, Gereja-Gereja Reformasi, dan khususnyaGereja Anglikan.

    Konsekuensinya, pada beberapa tahun terakhir, Gereja katolik memusatkan upayanya pada rekonsiliasi denganGereja-Gereja Ortodoks Timur, yang perbedaan teologisnya dengan Gereja Katolik tidaklah sedemikian besar. Hubungan-hubungan dengan Gereja-Gereja Ortodoks Rusia mengalami keretakan pada tahun 1990-an sehubungan dengan masalah-masalah properti di negara-negara bekas Uni soviet, masalah-masalah tersebut belum terselesaikan (khususnya paroki-paroki milikGereja Katolik-Yunani Ukraina), sekalipun hubungan-hubungan persaudaraan dengan Gereja-Gereja Timur lainnya terus mengalami kemajuan.

    Struktur hirarkis Gereja Katolik

    [sunting |sunting sumber]

    Gereja Katolik memiliki sebuah struktur hierarkis, yang artinya sebuah urutan suci (bertolak belakang dengan struktur karismatis). Sifat hierarkis ini diterapkan dalam keseluruhan Gereja Katolik, meskipun sering dikaitkan hanya dengan para pelayan Gereja yang tertahbis, yang tergabung dalam salah satu dari tiga jenjang imamat suci:episkopat (para uskup),presbiterat (para imam), ataudiakonat (para diakon).

    Episkopal (jabatan uskup)

    [sunting |sunting sumber]

    Para uskup, yang memiliki kepenuhan imamat Kristiani, merupakan sebuah badan Dewan Uskup, para penerus paraRasul[128] dan merupakan "para Gembala yang ditugaskan dalam Gereja, untuk menjadi para pengajar doktrin, para imam dalam peribadatan suci dan para pengurus dalam pemerintahan."[129]

    Sri Paus, para kardinal, patriark, primat,uskup agung dan metropolitan semuanya adalah uskup dan anggota dari episkopat atau kolega para uskup Gereja Katolik.

    Presbiterat (jabatan presbiter/imam)

    [sunting |sunting sumber]
    St. Yohanes Maria Vianney, seorang imam praja yang masyhur karena hidupnya yang suci dan pelayanannya sebagai seorang konfesor (pendengar pengakuan dosa)

    Para uskup dibantu oleh paraimam dandiakon.Paroki-paroki, baik yang berbasis teritorial maupun orang, dalam sebuah keuskupan biasanya dipimpin oleh seorang imam yang dikenal sebagai imam paroki ataupastor.

    Para imam dapat menjalankan banyak fungsi yang tidak langsung berkaitan dengan aktivitas pastoral biasa, seperti studi, penelitian, mengajar atau pekerjaan kantor. Mereka juga dapat menjadirektor kapelan (imam pada lembaga tertentu misalnya dalam kemiliteran atau universitas), konfesor, kepalabiara, atau dekan Katedral.

    Dalam peraturanRitus Latin, hanya pria selibat yang ditahbiskan menjadi imam, sedangkan dalam peraturanRitus Timur, pria yang sudah menikah dapat pula ditahbiskan. Di antara Gereja-Gereja partikular Ritus Timur,Gereja Katolik Ethiopia hanya menahbiskan pria yang hidup selibat, tetapi juga memiliki imam-imam yang telah menikah yang dulunya ditahbiskan dalan Gereja Ortodoks. Gereja-Gereja Katolik Timur lainnya, yang menahbiskan pria yang sudah menikah, di beberapa negara misalnya diAmerika Serikat, tidak memiliki imam yang menikah. Ritus Barat atau Latin kadang-kadang, tetapi sangat jarang, menahbiskan pria-pria yang sudah menikah, biasanya mereka adalah klerus Protestan yang beralih menjadi Katolik. Semuaritus Gereja Katolik memelihara tradisi kuno yakni tidak mengizinkan pernikahan setelah pentahbisan. Bahkan jika isteri seorang imam yang menikah meninggal dunia, maka imam tersebut tidak boleh menikah lagi.

    Diakonat (jabatan diakon)

    [sunting |sunting sumber]
    Artikel utama:Diakon

    SejakKonsili Vatikan Kedua, Gereja Latin kembali menerima pria dewasa yang beristri untuk ditahbiskan menjadi Diakon. "Para diakon ditahbiskan sebagai suatu tanda sakramental bagi Gereja dan bagi dunia milik Kristus, yang datang 'untuk melayani dan bukan untuk dilayani.' Seluruh Gereja dipanggil oleh Kristus untuk melayani, dan diakon, karena tahbisan sakramentalnya dan melalui berbagai pelayanannya, menjadi seorang pelayan dalam Gereja-pelayan. Sebagai pelayan Sabda, para diakon memberitakan Injil, berkhotbah, dan mengajar dalam nama Gereja. Sebagai pelayan Sakramen, diakon membaptis, memimpin umat beriman dalam doa, menjadi saksi pernikahan, melaksanakan ibadat kematian dan pemakaman. Sebagai pelayan amal-kasih, diakon merupakan pemimpin dalam hal mengenali kebutuhan-kebutuhan orang lain, kemudian menggunakan sumber-sumber daya Gereja untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Para diakon juga dibaktikan bagi penghapusan ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang menimbulkan kebutuhan-kebutuhan tersebut."[130]

    Para kandidat untuk diakonat menjalani suatu program formasi diakonal yang dirancang berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mutakhir keuskupan mereka tetapi harus mencapai standar-standar minimum yang ditetapkan oleh konferensi waligereja di negara asal mereka. Setelah menyelesaikan program formasi mereka dan memperoleh persetujuan dari uskup setempat, para kandidat menerima sakramen imamat melalui pentahbisan. Umumnya, setelah ditahbiskan, seorang diakon ditempatkan oleh uskupnya pada sebuah paroki lokal di mana dia akan menjalankan pelayanannya dan melayani Gereja dan komunitas lokal tersebut.

    Keanggotaan Gereja Katolik

    [sunting |sunting sumber]

    MenurutHukum Kanon, seseorang menjadi anggota Gereja Katolik dengan cara dibaptis dalam Gereja Katolik atau dengan cara diterima ke dalam Gereja Katolik (dengan membuat suatu pernyataan iman, jika yang bersangkutan telah dibaptis).[131]

    Apabila atas kemauan sendiri seseorang hendak memutuskan ikatan yuridis dengan Gereja Katolik, maka disyaratkan adanya suatu tindakan formal secara tertulis di hadapan Pejabat Gereja setempat atau imam paroki dari yang bersangkutan, yang akan menilai apakah tindakan tersebut tergolong murtad, bidaah atau skisma; tanpa tindakan keluar secara resmi ini, "bidaah (baik formal maupun material), skisma dan murtad tidak dengan sendirinya merupakan suatu tindakan keluar secara resmi, jika tidak secara eksternal diwujudnyatakan dan dimanifestasikan kepada otoritas gerejawi dengan cara-cara yang disyaratkan."[132]

    Mereka yang tidak melakukan tindakan ini dianggap masih terikat dengan Gereja Katolik dan "terus terikat oleh hukum-hukum gerejawi belaka." Seseorang yang keluar dari keanggotaan Gereja Katolik dapat diterima kembali di kemudian hari, setelah yang bersangkutan membuat suatu pernyataan iman.

    Peranan Gereja Katolik dalam peradaban

    [sunting |sunting sumber]

    Doktrin Gereja Dan ilmu pengetahuan

    [sunting |sunting sumber]

    Para ahli sejarah ilmu pengetahuan, termasuk yang bukan beragama Katolik seperti J.L. Heilbron,[133] Alistair Cameron Crombie, David C Lindberg,[134] Edward Grant, Thomas Goldstein,[135] dan Ted Davis, berpendapat bahwa Gereja Katolik memiliki pengaruh positif yang penting terhadap perkembangan peradaban. Mereka yakin bahwa, bukan saja para biarawanlah yang menyelamatkan dan membudidayakan sisa-sisa dari peradaban kuno selama invasi-invasi kaum barbar, melainkan juga bahwasanya Gereja Katoliklah yang mendorong pembelajaran dan ilmu pengetahuan melalui dukungannya terhadap banyakuniversitas yang, di bawah kepemimpinannya, bertumbuh cepat di Eropa pada abad ke-11 dan ke-12. St. Thomas Aquinas, "teolog model" Gereja Katolik, tidak saja berpendapat bahwa akal budi itu bersesuaian dengan iman, dia bahkan mengakui bahwa akal budi dapat berkontribusi bagi pemahaman wahyu Illahi, dan dengan demikian mendorong perkembangan intelektual.[136] Para imam-ilmuwan Gereja Katolik, yang kebanyakan adalah para Yesuit, dan yang merupakan para pelopor dalam ilmuastronomi,genetika, geomagnetisme,meteorologi,seismologi, and fisika matahari, menjadi "bapak-bapak" ilmu-ilmu pengetahuan tersebut. Perlu kiranya untuk disebutkan di sini, nama-nama para rohaniwan Katolik semisal Abbas Ordo St. AgustinusGregor Mendel (pelopor dalam studi genetika) dan pastur Belgia Georges Lemaître (orang pertama yang mengedepankan teoriBig Bang).

    Sebuah petauniversitas-universitas abad pertengahan memperlihatkan universitas-universitas yang didirikan Gereja Katolik di Eropa.

    Kenyataan ini merupakan suatu kebalikan dari pandangan yang dipertahankan oleh beberapafilsufabad pencerahan, bahwa doktrin-doktrin Gereja Katolik bersifat tahayul dan menghalang-halangi kemajuan peradaban.

    Salah satu contoh terkenal yang diajukan oleh para kritikus tersebut adalahGalileo Galilei, yang pada tahun 1633, dikutuk karena berpegang teguh pada ajaran jagad raya yang heliosentris (jagad raya berpusat pada matahari), teori yang pertama kali dicetuskan olehNicolaus Copernicus, seorang imam Katolik. Setelah bertahun-tahun diinvestigasi, berkonsultasi dengan Paus, berjanji kemudian dilanggar oleh Galileo sendiri, dan akhirnya suatu pengadilan oleh Tribunal Inkuisisi Romawi dan Universal, Galileo didapati "dituduh sebagai bidaah" - bukan bidaah, sebagaimana yang sering kali secara keliru disebut-sebut. Meskipun ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa dua dari empat thesis ilmiah yang dikedepankan oleh Galileo sebenarnya keliru, yakni bahwasanya Matahari adalah pusatjagad raya, dan bahwasanyaBumi mengitariMatahari dalamorbit berbentuklingkaran sempurna,Paus Yohanes Paulus II secara terbuka mengungkapkan penyesalan atas tindakan-tindakan orang-orang Katolik yang memperlakukan Galileo dengan buruk dalam pengadilan pada tanggal31 Oktober1992.[137] Sebuah abstraksi dari tindakan-tindakan dalam proses pengadilan terhadap Galileo dapat dijumpai diArsip Rahasia Vatikan (Vatican Secret Archives), yang mereproduksi sebahagian arsip tersebut dalam situsweb-nya. Kardinal John Henry Newman, pada abad ke-19, berkata bahwa orang-orang yang menyerang Gereja Katolik hanya mampu menunjukkan kasus Galileo, yang bagi banyak sejarawan tidaklah membuktikan adanya oposisi Gereja terhadapilmu pengetahuan karena justru banyak rohaniwan Katolik pada masa itu yang didorong oleh Gereja untuk meneruskan penelitian mereka.[138]

    Saat ini, Gereja Katolik telah dikritik karena ajarannya bahwa penelitiansel indukembrio manusia (embryonic stem cell research) merupakan suatu bentuk dari eksperimentasi pada manusia, dan mengakibatkan pembunuhan seorang manusia, dengan alasan bahwa ajaran ini menghalangi penelitian ilmiah. Gereja Katolik sebaliknya berpendapat bahwa kemajuan dalam ilmu pengobatan dapat terjadi tanpa perlu ada penghancuran manusia (yang masih dalam tahap kehidupan embrio); misalnya, dengan menggunakan sel induk dewasa (adult stem cell) atau sel induk tali pusat (umbilical stem cell) sebagai ganti sel induk embrio.

    Gereja, seni, dan karya sastra

    [sunting |sunting sumber]
    Mona Lisa karyaLeonardo da Vinci, yang menurut beberapa penulis, merupakan suatu ilustrasi dari suka cita Kristiani.

    Beberapa ahli sejarah menilai Gereja Katolik berjasa atas kegemilangan dan keagungan seni Barat. Mereka mengacu pada perlawanan gereja terhadap ikonoklasme (suatu gerakan yang menentang penggambaran visual dari yang ilahi), kegigihan Gereja dalam membangun gedung-gedung yang mendukung peribadatan, kutipan ayat Alkitab olehAgustinus dari Hippo - dariKitab Kebijaksanaan 11:20 (Allah "menyuruh segala sesuatu diukur, dihitung, dan ditimbang") yang menuntun kepada konstruksi-konstruksi geometris dari arsitekturGothik, sistem-sistem ilmiah yang koheren dari kaum Skolastik yang disebutSumma Theologiae yang memengaruhi tulisan-tulisan yang konsisten secara ilmiah dariDante Alighieri, teologi penciptaan dan sakramental Gereja yang telah mengembangkan suatu imajinasi Katolik yang memengaruhi para penulis sepertiJ. R. R. Tolkien,[139]C.S. Lewis, danWilliam Shakespeare,[140] dan akhirnya, perlindungan yang diberikan para paus pada masa Renaissance bagi karya-karya agung para seniman Katolik sepertiMichelangelo,Raphael,Bernini, Borromini, danLeonardo da Vinci.

    Gereja dan perkembangan ekonomi

    [sunting |sunting sumber]

    Francisco de Vitoria, seorang murid dariThomas Aquinas dan seorang pemikir Katolik yang mempelajari hal-hal seputar hak-hak asasi manusia dari rakyat pribumi jajahan, diakuiPerserikatan Bangsa-Bangsa sebagai seorang Bapak hukum internasional, dan kini juga diakui oleh para ahli sejarah ekonomi dan demokrasi sebagai cahaya terdepan bagi demokrasi Barat dan percepatan ekonomi.[141]

    Joseph Schumpeter, seorang ahli ekonomi dari abad ke-20, menunjuk pada kaum skolastik, ketika menulis bahwa, "merekalah yang paling layak lebih dari kelompok manapun juga untuk disebut sebagai ‘pendiri’ ilmu ekonomi yang ilmiah."[142] Ahli-ahli ekonomi dan sejarah lainnya, seperti Raymond de Roover, Marjorie Grice-Hutchinson, dan Alejandro Chafuen, juga telah mengeluarkan pernyataan serupa. Sejarawan Paul Legutko dariUniversitas Stanford mengatakan bahwa Gereja Katolik "berada pada pusat perkembangan nilai-nilai, gagasan-gagasan, ilmu pengetahuan, hukum, dan lembaga-lembaga yang membentuk apa yang kita sebut peradaban Barat."[143]

    Keadilan sosial, keperawatan, dan sistem rumah sakit

    [sunting |sunting sumber]
    Ahli sejarah rumah sakit, Guenter Risse, berujar bahwa Gereja Katolik mempelopori perkembangan suatu sistem rumah sakit yang ditujukan bagi kaum tersisih.

    Menurut ahli sejarah rumah sakit, Guenter Risse, Gereja Katolik telah memberi sumbangsih bagi masyarakat melalui doktrin sosialnya (ajaran sosial Gereja) yang telah menuntun para pemimpin untuk mempromosikan keadilan sosial dan dengan membentuk sistem rumah sakit di Eropa abad pertengahan, yakni suatu sistem yang berbeda dengan keramah-tamahan dari masyarakat Yunani dan kewajiban-kewajiban berasaskan keluarga dari masyarakat Romawi. Rumah-rumah sakit tersebut didirikan untuk menyediakan pelayanan bagi kelompok masyarakat tertentu yang tersisihkan akibat kemiskinan, penyakit, dan usia lanjut."[144]

    James Joseph Walsh menulis tentang kontribusi Gereja Katolik bagi sistem rumah sakit, sebagai berikut:

    Selama abad ke-13 sejumlah besar rumah-rumah sakit [ini] didirikan. Kota-kota Italia merupakan pemimpin-pemimpin dari gerakan itu. Milan memiliki tidak kurang dari selusin rumah sakit dan Florence sebelum akhir abad ke-14 memiliki sekitar 30 rumah sakit. Beberapa diantaranya merupakan bangunan-bangunan yang sangat indah. Di Milan sebagian dari bangunan rumah sakit umum dirancang oleh Donato Bramante dan sebagiannya lagi dirancang olehMichelangelo.Rumah sakit kaum tak berdosa di Florence untuk menampung anak-anak terlantar merupakan sebuah permata arsitektur. Rumah sakit di Sienna, yang didirikan sebagai penghormatan kepadaSanta Katarina dari Siena, sejak semula sudah tersohor. Di seluruh Eropa gerakan rumah sakit ini menyebar di mana-mana.Virchow, Pathologis besar dari Jerman, dalam sebuah artikel mengenai rumah-rumah sakit, menunjukkan bahwa tiap kota di Jerman yang berpenduduk 5000 jiwa memiliki rumah sakit. Ia menelusuri gerakan rumah sakit ini sampai kepadaPaus Innosentius III, dan meskipun bukan seorang pendukung kepausan, Virchow tanpa ragu-ragu memberikan pujian tertinggi bagi Paus tersebut untuk segala sesuatu yang telah dilakukannya demi kebaikan anak-anak dan umat manusia yang menderita.[145]

    Keindahan dan efisiensi rumah-rumah sakit Italia bahkan mengilhami sebagian orang yang justru mengkritik Gereja Katolik. Sejarawan JermanLudwig von Pastor mengutip kembali kata-kataMartin Luther yang, tatkala melakukan perjalanan ke Roma saat musim dingin tahun 1510-1511, berkesempatan mengunjungi beberapa dari rumah-rumah sakit tersebut:

    Di Italia, menurutnya, rumah-rumah sakit didirikan dengan megah, dan sungguh mengagumkan bahwa rumah-rumah sakit itu diperlengkapi dengan makanan dan minuman yang sangat baik, perhatian yang saksama dan tabib-tabib yang terpelajar. Tempat-tempat tidur dan perlengkapan tempat tidurnya bersih, dan dinding-dinding ditutupi dengan lukisan-lukisan. Bilamana seorang pasien dibawa masuk, pakaian-pakaiannya dilepaskan di hadapan seorang notaris yang menginventarisirnya dengan cermat, kemudian pakaian-pakaian itu disimpan dengan aman. Sehelaismock (jubah pasien) putih dikenakan padanya dan ia dibaringkan di atas sebuah dipan yang nyaman, dialasi linen yang bersih. Ada dua orang dokter yang mendatanginya, dan para pelayan membawakannya makanan dan minuman dalam gelas-gelas yang bersih, yang memperlihatkan padanya segala perhatian yang dapat diberikan.[146]

    Gereja Katolik sebagaiopus proprium, sebut Benediktus XVI dalamDeus Caritas Est, telah melaksanakan selama berabad-abad sejak awal mulanya dan terus melaksanakan berbagai pelayanan kasih — antara lain, rumah-rumah-sakit, sekolah-sekolah, dan program-program pemberantasan kemiskinan.

    Kritik terhadap Gereja Katolik

    [sunting |sunting sumber]

    Skandal pelecehan seksual

    [sunting |sunting sumber]

    Pada tahun 2002,Amerika Serikat dihebohkan oleh suatu skandal besar ketika serangkaian tuntutan, disertai bukti-bukti pendukung, ditujukan kepada para imam yang melakukan tindakan pelecehan secara seksual terhadap anak-anak sepanjang beberapa dasawarsa. Yang makin memparah keadaan adalah terungkapnya kenyataan bahwa Gereja mengetahui beberapa dari imam-imam pelaku pelecehan tersebut, dan pada mulanya memperlakukan mereka dengan cara menyangkal mengetahui kejahatan yang mereka lakukan dan memindahtugaskan mereka dari satu jemaat ke jemaat lain daripada menindaki mereka. Skandal yang menjadi penyebab pengunduran diri Kardinal Bernard Law dari Keuskupan Agung Boston itu, merupakan pukulan yang menghancurkan citra Gereja di mata publik — Dalam salah satusurvey sesudah mencuatnya skandal tersebut 64% dari responden setuju bahwa kebanyakan imam Katolik "kerap melakukan pelecehan terhadap anak-anak" (data mengindikasikan bahwa hanya 1,5-1,8% imam Katolik yang benar-benar telah dituntut karena melakukan pelecehan terhadap anak-anak.[147]).

    Catholic News Service melaporkan:

    Sekitar 4 persen dari para imam A.S. yang bekerja sejak tahun 1950 sampai 2002 dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, menurut studi nasional komprehensif menyangkut isu tersebut.

    Studi tersebut mengatakan bahwa 4.392 rohaniwan—hampir semuanya imam—dituduh melakukan pelecehan terhadap 10.667 orang. 75 persen dari insiden-insiden tersebut terjadi antara tahun 1960 dan 1984.

    Menurut studi tersebut, dalam kurun waktu yang sama terdapat 109.694 imam.Menurut studi yang telah dilakukanJohn Jay College of Criminal Justice diNew York, biaya-biaya (cost) sehubungan dengan pelecehan seksual berjumlah total $573 juta. $219 juta dari jumlah itu ditalangi oleh perusahaan-perusahaan asuransi.

    Studi tersebut menyusun daftar karakteristik-karakteristik utama dari insiden-insiden pelecehan seksual yang telah dilaporkan. Termasuk di dalamnya:

    -- Sebagian besar korban, yakni 81 persen, berjenis kelamin laki-laki. Korban paling lemah adalah anak-anak lelaki berusia 11 sampai 14 tahun, mewakili lebih dari 40 persen dari jumlah korban. Kenyataan ini melawantrend dalam masyarakat A.S. secara umum di mana masalah utama adalah pria dewasa mencabuli anak-anak perempuan.[148]

    Kasus-kasus serupa telah muncul di negara-negara lain. Di Irlandia, sejumlah kasus pelecehan seksual yang mencuat pada anak-anak yang dilakukan oleh para imam dan biarawan Katolik, seperti yang dialami Andrew Madden, telah sangat memperlemah pengaruh Gereja pada beberapa tahun terakhir.

    Sejak tahun 2001, kewenangan atas penyelesaian masalah pelecehan seksual yang dilakukan oleh klerus tidak lagi berada dalam kompetensi dari uskup setempat, akan tetapi diambil alih olehKongregasi Ajaran Iman di Roma, sesuai dengan isi Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus IISacramentorum sanctitatis tutelaDiarsipkan 2010-08-13 diWayback Machine. sertaaturan-aturan pelengkapnyaDiarsipkan 2010-07-26 diWayback Machine. (kedua dokumen dalam Bahasa Latin). Di bawahHukum Kanonik Gereja tahun 1983 klerus yang melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak di bawah umur dapat dikenai hukuman pencopotan status klerus ("laisisasi").[149]

    Lihat pula

    [sunting |sunting sumber]

    Catatan

    [sunting |sunting sumber]
    1. Nama resmi yang digunakan dalam publikasi Gereja ini adalah "Gereja Katolik", seperti yang digunakan dalam dokumen-dokumen Paus modern, pada judul dariKatekismus Gereja Katolik,[7] serta pada dokumen-dokumenKonsili Vatikan II yang ditandatangani olehPaus Paulus VI.[8][9][10] Istilah "Gereja Katolik Roma" hanya digunakan untuk membedakan Gereja ini dengan institusi-institusi di luar Gereja yang masih menyatakan identitasnya dengan nama "Katolik". Gereja sendiri hanya menggunakan istilah "Gereja Katolik Roma" pada kesempatan-kesempatan yang sangat langka, misalnya pada dokumen-dokumen yang mengangkat hubungan oikumenis dengan Gereja-Gereja lain.[11] Nama "Gereja Katolik Roma" tidak disukai oleh beberapa kelompok di dalam Gereja yang menganggap bahwa label tersebut hanya membuat Gereja tampak seperti salah satu dari beberapa "gereja katolik" .[12]
    2. Meskipun tetap dengan pendirian bahwa Gereja Katolik merupakan kelanjutan dari persekutuan Kristiani yang tak terputus sejak didirikan oleh Yesus Kristus, Gereja juga mengajarkan bahwa gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan gerejawi lain berada dalam persekutuan/kesatuan yang tidak sempurna dengan Gereja Katolik.[28][29]

    Referensi

    [sunting |sunting sumber]
    1. Marshall, Thomas William (1844).Notes of the Episcopal Polity of the Holy Catholic Church. London: Levey, Rossen and Franklin.ASIN 1163912190.
    2. Stanford, Peter."Roman Catholic Church".BBC Religions. BBC. Diakses tanggal1 February 2017.
    3. Bokenkotter 2004, hlm. 18.
    4. 123"New Church statistics reveal growing Catholic population, fewer pastoral workers". Vatican News. 20 March 2025. Diakses tanggal21 March 2025.
    5. Calderisi, Robert.Earthly Mission - The Catholic Church and World Development; TJ International Ltd; 2013; p.40
    6. "Laudato Si".Vermont Catholic.8 (4,2016–2017, Winter): 73. Diakses tanggal19 December 2016.
    7. 12Libreria Editrice Vaticana (2003)."Katekismus Gereja Katolik." Diakses pada: 2009-05-01.
    8. 12Vatikan.Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Diakses pada: 2009-05-04. Perhatian: Tanda tangan Paus tampak dalam cersi Latinnya.
    9. 12Declaration on Christian Formation, diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Amerika Serikat, Washington DC 1965, halaman 13
    10. 12Whitehead, Kenneth (1996). ""How Did the Catholic Church Get Her Name?" Eternal Word Television Network. Diakses pada 9 Mei 2008.
    11. Contoh:1977 Persetujuan dengan Uskup Agung Donald Coggan dari CanterburyDiarsipkan 2011-07-20 diWayback Machine.
    12. 12Walsh, Michael (2005).Roman Catholicism. Routledge. hal. 19. Versi online tersedia disini
    13. O'Collins, hal. v (pengantar).
    14. Mark A. Noll. The New Shape of World Christianity (Downers Grove, IL: IVP Academic, 2009), 191.
    15. "Eastern Catholic Churches".Catholics & Cultures (dalam bahasa Inggris). 2009-10-14. Diakses tanggal2023-06-18.
    16. "Dioceses by Type".www.gcatholic.org. Diakses tanggal2023-06-18.
    17. Schreck, hal. 158–159.
    18. 12Paulus VI, Paus (1964)."Lumen Gentium bab 3, bagian 22". Vatikan. Diakses tanggal9 Maret 2008.
    19. Hukum Kanon, kanon331 dan336
    20. Teaching with Authority, oleh Richard R. Gaillardetz, hal. 57
    21. katolisitas.org."Tahta Suci, Kuria Roma dan Negara Kota Vatikan – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-18.
    22. katolisitas.org."Apakah Hirarki dalam Gereja Sudah Ada Sejak Awal? – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-22.
    23. "Iman Katolik .....Media Informasi dan Sarana Katekese".www.imankatolik.or.id. Diakses tanggal2023-06-20.
    24. Konsili Vatikan, Kedua (1964)."Lumen Gentium paragraf 14". Vatikan. Diakses tanggal17 December 2008.
    25. Paragraf nomor 846 (1994)."Katekismus Gereja Katolik". Libreria Editrice Vaticana. Diakses tanggal27 Desember 2008.Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
    26. "Vatican congregation reaffirms truth, oneness of Catholic Church". Catholic News Service. Diarsipkan dariasli tanggal 10 July 2007. Diakses tanggal17 March 2012.
    27. Bokenkotter 2004, hlm. 7.
    28. Kesalahan pengutipan: Tanda<ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamanote1cite1
    29. Kesalahan pengutipan: Tanda<ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamanote1cite2
    30. Matius 16:18
    31. Wilken, hal. 281, kutipan: "Beberapa (Komunitas Kristiani) didirikan oleh Petrus, murid yang ditetapkan Yesus sebagai pendiri GerejaNya. ... Begitu kedudukan tersebut terlembagakan, para sejarawan meninjau kembali dan mengakui Petrus sebagai paus pertama Gereja Kristen di Roma"
    32. "Katekismus Gereja Katolik #846".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-22.
    33. "Katekismus Gereja Katolik No. 890".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    34. "Katekismus Gereja Katolik No. 1322-1327".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    35. "Katekismus Gereja Katolik No. 1375".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    36. "Katekismus Gereja Katolik No. 487".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    37. "The Four Marian Dogmas". Catholic News Agency. Diakses tanggal25 March 2017.
    38. Schreck, hal. 153.
    39. "Katekismus Gereja Katolik No. 835".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    40. 12Schreck, hal. 152.
    41. "Katekismus Gereja Katolik No. 341".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-20.
    42. Barry, hal. 37, hal. 43–44.
    43. (Mat. 16:18–19)
    44. (Yoh. 16:12–13)
    45. katolisitas.org."Apakah Katekismus Gereja Katolik? – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-20.
    46. katolisitas.org."Apakah itu Ajaran Sosial Gereja? – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-20.
    47. Barry, hal. 50–51.
    48. Barry, hal. 98–99.
    49. Agnew, John (12 February 2010). "Deus Vult: The Geopolitics of Catholic Church".Geopolitics.15 (1):39–61.doi:10.1080/14650040903420388.ISSN 1465-0045.S2CID 144793259.
    50. Orlandis, pengantar
    51. katolisitas.org."Apakah Nestorianisme dan bagaimana Bapa Gereja meluruskan ajaran sesat tersebut? – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-20.
    52. katolisitas.org."Perbedaan utama gereja Orthodox dengan Gereja Katolik – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-20.
    53. katolisitas.org."Apakah yang disebut Skisma Timur dan Skisma Barat? – katolisitas.org" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal2023-06-20.
    54. Media, Kompas Cyber (2018-11-07)."Biografi Tokoh Dunia: Martin Luther, Tokoh Reformasi Protestan Halaman all".KOMPAS.com. Diakses tanggal2023-06-20.
    55. "Katekismus Gereja Katolik #870".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    56. "Katekismus Gereja Katolik #817".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    57. 12"Katekismus Gereja Katolik #818".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    58. "Katekismus Gereja Katolik #838".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    59. "Katekismus Gereja Katolik #1271".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    60. "Katekismus Gereja Katolik #819".Iman Katolik. Diakses tanggal2023-06-23.
    61. 12Kreeft, hal. 110–112.
    62. Shorto, Russel (8 April 2007)."Keeping the Faith".The New York Times. Diakses tanggal29 Maret 2008.
    63. "Concise Oxford English Dictionary"(online version). Oxford University Press. 2005. Diakses tanggal10 April 2009.[pranala nonaktif permanen]
    64. MacCulloch,Christianity, p. 127.
    65. Marthaler, Berard (1993)."The Creed". Twenty-Third Publications. Diakses tanggal9 May 2008. hal. 303
    66. Thurston, Herbert (1908)."Catholic". DalamKnight, Kevin (ed.).The Catholic Encyclopedia. Vol. 3. New York: Robert Appleton Company. Diakses tanggal17 August 2012.
    67. "Cyril of Jerusalem, Lecture XVIII, 26". Tertullian.org. 6 August 2004. Diakses tanggal17 August 2012.
    68. "Edictum de fide catholica". Diarsipkan dariasli tanggal 8 February 2012. Diakses tanggal9 October 2017.
    69. TeSelle, Eugene (1970).Augustine the Theologian. London. hlm. 343.ISBN 978-0-223-97728-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Maret 2002 edisi:ISBN1-57910-918-7.
    70. "Chapter 5.—Against the Title of the Epistle of Manichæus". Christian Classics Ethereal Library. Diarsipkan dariasli tanggal 2019-07-31. Diakses tanggal21 November 2008.
    71. "Chapter 5.—Against the Title of the Epistle of Manichæus". Christian Classics Ethereal Library. Diakses tanggal21 November 2008.
    72. "Eastern Orthodoxy",Encyclopædia Britannica online.
    73. McBrien, Richard (2008).The Church. Harper Collins. hal. xvii. Versi online tersedia disiniDiarsipkan 2009-08-27 diWayback Machine.. Kutipan:Penggunaan adjektiva "Katolik" sebagai tambahan pada kata "Gereja" bersifat divisif hanya sesudah Skisma Timur-Barat ... dan Reformasi Protestan ... Dalam kasus pertama, pihak Barat mengklaim untuk dirinya gelar Gereja Katolik, sedangkan pihak Timur menggunakan nama Gereja Ortodoks yang Kudus. Dalam kasus kedua, pihak yang berada dalam persekutuan dengan Uskup Roma mempertahankan adjektiva "Katolik", sedangkan gereja-gereja yang memutuskan hubungan dengan Kepausan disebut Protestan.
    74. McBrien, Richard (2008).The Church. Harper Collins. p. xvii. Online version availableBrowseinside.harpercollins.comDiarsipkan 27 August 2009 diWayback Machine.. Quote: "[T]he use of the adjective 'Catholic' as a modifier of 'Church' became divisive only after the East–West Schism... and the Protestant Reformation. ... In the former case, the Western Church claimed for itself the titleCatholic Church, while the East appropriated the nameOrthodox Church. In the latter case, those in communion with the Bishop of Rome retained the adjective "Catholic", while the churches that broke with the Papacy were calledProtestant."
    75. The Vatican.Documents of the II Vatican CouncilDiarsipkan 5 June 2004 diWayback Machine.. Retrieved 4 May 2009. Note: The pope's signature appears in the Latin version.
    76. "CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: Roman Catholic".newadvent.org.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-04-01. Diakses tanggal2009-08-16.
    77. "Kenneth D. Whitehead".ewtn.com.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-07-05. Diakses tanggal2018-07-31.
    78. "Trent: Complete".Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-07-30. Diakses tanggal2018-07-31.
    79. "Decrees of the First Vatican Council". 1868-06-29.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-07-30. Diakses tanggal2018-07-31.
    80. DalamKatekismus Gereja Katolik, nama "Gereja" digunakan ratusan kali, sedangkan nama "Gereja Katolik" hanya digunakan 24 kali.
    81. Fortescue, Adrian (1910)."Latin Church"".Catholic Encyclopedia.no doubt, by a further extension Roman Church may be used as equivalent to Latin Church for the patriarchate
    82. Beal, John (2002)."New Commentary on the Code of Canon Law". Paulist Press. Diakses tanggal13 May 2008. hal. 468
    83. TheNew Catholic Encyclopedia menyatakan: "Ada sebuah aspek yang lebih jauh mengenai istilah Katolik Roma yang perlu dipahami. Gereja Roma dapat digunakan untuk menyebut, bukan Gereja universal yang memiliki seorang primat yakniUskup Roma, melainkan untuk menyebut Gereja lokal di Roma, yang memiliki keistimewaan karena uskupnya juga menjabat sebagai primat bagi seluruh Gereja."
    84. Salvation outside Church. Boston, Massachusetts (USA): Brill; Lam. 2016-10-07. hlm. 116.ISBN 978-9004326842.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-15. Diakses tanggal2021-04-18.
    85. Pacheco, John."Ultra-Traditionalism".catholic-legate.com. The Catholic Legate.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal23 December 2016.
    86. "Roman Catholic"Diarsipkan 2019-04-01 diWayback Machine. atCatholic Encyclopedia online.
    87. Paul Turner, 2007,When other Christians become Catholic. Liturgical Press.ISBN0-8146-6216-1, p. 141.
    88. Contoh:1977 Persetujuan dengan Uskup Agung Donald Coggan dari CanterburyDiarsipkan 2011-07-20 diWayback Machine.
    89. James White 2003,Roman Catholic Worship: Trent to Today, Liturgical Press,ISBN0-8146-6194-7 page xv
    90. Kreeft, hal. 17.
    91. Marthaler, kata pengantar
    92. Yohanes Paulus II, Paus (1997)."Laetamur Magnopere". Vatikan. Diarsipkan dariasli tanggal 2013-03-02. Diakses tanggal9 Maret 2008.;
    93. Richardson, hal. 132.
    94. Langan, hal. 118.
    95. Parry, hal. 292.
    96. Collinson, hal. 254–260.
    97. Duffy, hal. 275, hal. 281.
    98. 12Schreck, hal. 15–19.
    99. Brodd, Jefferey (2003).World Religions. Winona, MN: Saint Mary's Press.ISBN 978-0-88489-725-5.
    100. 12Schreck, hal. 21.
    101. Schreck, hal. 23.
    102. Schreck, hal. 30.
    103. Paragraf nnomor 1131 (1994)."Katekismus Gereja Katolik". Libreria Editrice Vaticana. Diarsipkan dariasli tanggal 2007-10-14. Diakses tanggal8 Februari 2008.;Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
    104. Kreeft, hal. 298–299.
    105. Mongoven, hal. 68.
    106. Roma 1:20
    107. Roma 5:12
    108. Efesus 1:22-23; cf.Roma 12:4-5
    109. Katekismus Gereja Katolik,2331–2400Diarsipkan 2008-01-01 diWayback Machine.
    110. Katekismus Gereja Katolik,1015Diarsipkan 2008-08-21 diWayback Machine.
    111. ""Humanae Vitae, no. 11"". Diarsipkan dariasli tanggal 2011-03-03. Diakses tanggal2007-07-21.
    112. "Catechism of the Catholic Church". Diarsipkan dariasli tanggal 2011-04-29. Diakses tanggal1 Januari 2007.881. Tuhan hanya mengangkat Simon, yang dinamainya Petrus, "batu karang" Gereja-Nya. Ia memberikan kepadanya kunci Gereja-Nya dan menjadikannya gembala dari seluruh kawanan dombanya. 'Jabatan untuk mengikat dan melepaskan yang diberikan kepada Petrus juga diberikan kepada kumpulan para rasul yang dipersatukan dalam kepemimpinannya.' Jabatan pastoral Petrus adn para rasul lainnya ini merupakan dasar Gereja dan dilanjutkan oleh para uskup di bawah keutamaan Paus.
    113. Ignatius dari Antiokhia."Letter to the Smyrnaeans". Diarsipkan dariasli tanggal 2022-07-13. Diakses tanggal2007-01-18. para. 8.
    114. "The Authority of the Pope: Part I".Catholic Answers. Diarsipkan dariasli tanggal 2011-09-03. Diakses tanggal2009-07-18.
      Primacy of the Apostolic SeeDiarsipkan 2015-10-15 diWayback Machine., Corunum Catholic Apologetic Web Page, diakses 30 Nov. 2006
    115. Ware, Kallistos."The Great Schism".The Orthodox Church. Diarsipkan dariasli tanggal 2010-04-12. Diakses tanggal2006-12-02.Gereja Timur mengakui Paus sebagai uskup yang pertama di dalam Gereja, tetapi menganggapnya sebagai yang pertama di antara yang sederajat.
    116. 2 Korintus 11:13-15; 2 Petrus 2:1-17; 2 Yohanes 7-11; Yudas 4-13
    117. Kisah 15:1-2
    118. "It is our desire that all the various nations which are subject to our clemency and moderation should continue to the profession of that religion which was delivered to the Romans by the divine Apostle Peter, as it has been preserved by faithful tradition and which is now professed by the Pontiff Damasus and by Peter, Bishop of Alexandria, a man of apostolic holiness. ... We authorize the followers of this law to assume the title Catholic Christians; but as for the others, since in our judgment they are foolish madmen, we decree that they shall be branded with the ignominious name of heretics, and shall not presume to give their conventicles the name of churches."Halsall, Paul (1997)."Theodosian Code XVI.i.2".Medieval Sourcebook: Banning of Other Religions. Fordham University. Diarsipkan dariasli tanggal 2007-02-27. Diakses tanggal2007-01-19.;
    119. MacCulloch, Diarmaid (2003).The Reformation: A History. Penguin Group. hlm. 412.ISBN 978-0-7139-9370-7.; MacCulloch adds "admittedly, that might not have been much consolation to those burned at the stake."; see alsoKamen, Henry (1999).The Spanish Inquisition: A Historical Revision. Yale University Press. hlm. 59-60,189–90, 203, 301.ISBN 0-300-07880-3.
    120. "In view of the pastoral nature of the Council, it avoided any extraordinary statement of dogmas that would be endowed with the note of infallibility, but it still provided its teaching with the authority of the supreme ordinary Magisterium. This ordinary Magisterium, which is so obviously official, has to be accepted with docility, and sincerity by all the faithful, in accordance with the mind of the Council on the nature and aims of the individual documents" (Paus Paulus VI, atDiarsipkan 2013-03-03 diWayback Machine. General Audience of12 Januari1966
    121. "The use of the Latin language, with due respect of particular law, is to be preserved in the Latin rites. But since the use of the vernacular, whether in the Mass, the administration of the sacraments, or in other parts of the liturgy, may fequently be of great advantage to the people, a wider use may be made of it, especially in ... It is for the competent territorial ecclesiastical authority ... to decide whether, and to what extent, the vernacular language is to be used" (Sacrosanctum Concilium, 36Diarsipkan 2008-02-21 diWayback Machine.).
    122. Pope Paul VI (1963)."Sacrosanctum Concilium, 2". Vatican. Diarsipkan dariasli tanggal 2008-02-21. Diakses tanggal2006-09-15.;;Catechism of the Catholic Church1068-69Diarsipkan 2007-01-13 diWayback Machine.
    123. Catechism of the Catholic Church,1423-1424Diarsipkan 2007-12-12 diWayback Machine.
    124. Catechism of the Catholic Church2558Diarsipkan 2008-06-18 diWayback Machine.
    125. Joseph Card. Ratzinger, Alberto Bovone (1992)."Surat kepada para uskup Gereja Katolik mengenai beberapa aspek dari Gereja yang difahami sebagai Komuni, 9". Vatican. Diarsipkan dariasli tanggal 2010-12-15. Diakses tanggal2006-09-15.;
    126. Lumen GentiumDiarsipkan 2014-09-06 diWayback Machine. §8
    127. Lumen GentiumDiarsipkan 2014-09-06 diWayback Machine. §26
    128. "Kanon 42".Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur. Diarsipkan dariasli tanggal 2017-07-01. Diakses tanggal2007-04-22.
    129. "Kanon 375".1983Kitab Hukum Kanonik. Vatican. Diarsipkan dariasli tanggal 2008-02-19. Diakses tanggal2007-04-22.
    130. Committee on the Diaconate."Frequently Asked Questions About Deacons". United States Conference of Catholic Bishops. Diarsipkan dariasli tanggal 2008-02-24. Diakses tanggal2007-06-02.
    131. cf. Code of Canon Law,canon 11Diarsipkan 2010-08-13 diWayback Machine.
    132. Circular Letter 10279/2006 of 13 March 2006 from the Pontifical Council for Legislative Texts to Presidents of Episcopal Conferences (Canon Law Society of AmericaDiarsipkan 2008-03-09 diWayback Machine.)
    133. "J.L. Heilbron". London Review of Books. Diarsipkan dariasli tanggal 2007-06-08. Diakses tanggal2006-09-15.
    134. Lindberg, David (2003).When Science and Christianity Meet. University of Chicago Press.ISBN 0-226-48214-6.;
    135. Goldstein, Thomas (1995).Dawn of Modern Science: From the Ancient Greeks to the Renaissance. Da Capo Press.ISBN 0-306-80637-1.
    136. Pope John Paul II (1998)."Fides et Ratio (Faith and Reason), IV". Diarsipkan dariasli tanggal 2018-07-01. Diakses tanggal2006-09-15.;
    137. Choupin,Valeur des Decisions Doctrinales du Saint Siege
    138. "How the Catholic Church Built Western Civilization". Catholic Education Resource Center. 2005. Diarsipkan dariasli tanggal 2017-07-12. Diakses tanggal2007-01-13.;
    139. Boffetti, Jason (2001)."Tolkien's Catholic Imagination".Crisis Magazine. Morley Publishing Group. Diarsipkan dariasli tanggal 2006-08-21. Diakses tanggal2007-01-06.;
    140. Voss, Paul J. (2002)."Assurances of faith: How Catholic Was Shakespeare? How Catholic Are His Plays?".Crisis Magazine. Morley Publishing Group. Diarsipkan dariasli tanggal 2011-02-22. Diakses tanggal2007-01-06.;
    141. de Torre, Fr. Joseph M. (1997)."A Philosophical and Historical Analysis of Modern Democracy, Equality, and Freedom Under the Influence of Christianity". Catholic Education Resource Center. Diarsipkan dariasli tanggal 2017-04-20. Diakses tanggal2007-01-06.
    142. Schumpeter, Joseph (1954).History of Economic Analysis. London: Allen & Unwin.
    143. "Review ofHow the Catholic Church Built Western Civilization by Thomas Woods, Jr".National Review Book Service. Diarsipkan dariasli tanggal 2006-08-22. Diakses tanggal2006-09-16.
    144. Risse, Guenter B (1999).Mending Bodies, Saving Souls: A History of Hospitals. Oxford University Press. hlm. 59.ISBN 0-19-505523-3.
    145. Walsh, James Joseph (1924).The world's debt to the Catholic Church. The Stratford Company. hlm. 244.
    146. von Pastor, Ludwig (1891).The History of the Popes from the Close of the Middle Ages (Volume V). B. Herder. hlm. 65. Diarsipkan dariasli tanggal 2023-08-01. Diakses tanggal2007-01-08. cf. Luther, Martin. (1967).Luther's Works, American Edition, 55 vols. Helmut T. Lehmann, Theodore G. Tappert, editors,Concordia Publishing House and Fortress Press,Table Talk, vol. 54, p.296, No. 3930, ( recorded by Anthony Lauterbach, August 1, 1538 ).ISBN 0-8006-0354-0
    147. Catholic League for Religious and Civil Rights (2004)."Sexual Abuse in Social Context: Catholic Clergy and Other Professionals". Diarsipkan dariasli tanggal 2007-06-07. Diakses tanggal2006-09-16.;
    148. Bono, Agostino."John Jay Study Reveals Extent of Abuse Problem". Catholic News Service. Diarsipkan dariasli tanggal 2009-11-23. Diakses tanggal2007-01-20.
    149. "Canon 1395".Code of Canon Law. Vatican. Diarsipkan dariasli tanggal 2021-03-08. Diakses tanggal2007-01-20.

    Daftar pustaka

    [sunting |sunting sumber]

    Pranala luar

    [sunting |sunting sumber]
    Sejarah
    (Linimasa
    Gerejawi
    Kehakiman)
    Gereja Perdana
    Gereja Raya
    Abad Pertengahan
    Zaman Modern
    Teologi
    (Alkitab
    Tradisi
    Katekismus)
    Umum
    Eklesiologi
    Sakramen
    Mariologi
    Filsafat
    Para Kudus
    Organisasi
    (Hierarki
    Hukum Kanon
    Umat Awam
    Jenjang Kehormatan
    Menurut Negara)
    Takhta Suci
    (Daftar Paus)
    Kota Vatikan
    Politas (Imamat)
    Hidup Bakti
    Gereja Partikular
    Sui Iuris
    Liturgi Katolik
    Budaya
    Media
    Tarekat,
    Institut,
    Serikat Religius
    Serikat
    Umat Beriman
    Amal Kasih
    Doa dalamMisa
    Kanak-kanak Samuel sedang berdoa
    Doa Maria
    Doa lainnya
    Catatan: Doa-doa yang dicetak miring dapat mendatangkanindulgensi
    Internasional
    Nasional
    Akademik
    Seniman
    Lain-lain
    Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gereja_Katolik_Roma&oldid=28720837"
    Kategori:
    Kategori tersembunyi:

    [8]ページ先頭

    ©2009-2026 Movatter.jp