Friedrich Wilhelm Nietzsche (Jerman:[ˈfʁiːdʁɪçˈvɪlhɛlmˈniːtʃə]ⓘ;[10][11] 15 Oktober 1844 – 25 Agustus 1900) adalah seorang filsuf,penulis prosa,kritikus budaya, danfilolog Jerman yang karyanya memberikan pengaruh yang sangat besar padafilsafat kontemporer. Ia memulai kariernya sebagai seorangfilolog klasik sebelum beralih ke bidang filsafat. Ia menjadi orang termuda yang menjabat sebagai Professor Filologi Klasik diUniversitas Basel di usia 24 tahun pada tahun 1869. Namun, ia mengundurkan diri pada tahun 1879 karena masalah kesehatan yang terus mengganggu hidupnya. Pada tahun 1889, pada usia 44 tahun, ia mengalami keruntuhan fisik dan mental, yang kemudian diikuti oleh hilangnya seluruh kemampuan mentalnya disertaikelumpuhan dandemensia vaskular. Sejak saat itu, ia menjalani sisa hidupnya selama 11 tahun di bawah perawatan keluarganya hingga meninggal dunia. Karya-karya serta filsafatnya tidak hanya mempengaruhi kajian akademik yang luas, tetapi juga menarik minat besar dari masyarakat umum.
Setelah kematiannya, saudara perempuan Nietzsche,Elisabeth, menjadi kurator dan editor manuskrip-manuskripnya. Dia mengedit tulisan-tulisan Nietzsche yang belum diterbitkan agar sesuai dengan ideologiultranasionalis Jerman. Elisabeth sering kali mengaburkan dan memutarbalikkan pendapat Nietzsche, yang secara eksplisitmenentang antisemitisme dan nasionalisme. Oleh karena itu, karya-karya Nietzsche kemudian dianggap sebagai landasanfasisme danNazisme. Para sarjana seperti Walter Kaufmann, RJ Hollingdale, danGeorges Bataille membela Nietzsche dan mengoreksi penerbitan-penerbitan karyanya yang sebelumnya. Pemikiran Nietzsche mempunyai dampak besar pada para pemikir filsafat abad ke-20 dan awal abad ke-21—terutama pada aliranfilsafat kontinental sepertieksistensialisme,postmodernisme, danpasca-strukturalisme — serta seni, sastra, puisi, politik, dan budaya populer.
Nietzsche dibesarkan di kotaRöcken (sekarang bagian dariLützen), dekatLeipzig, diProvinsi Saxony, Prusia.[12] Ia diberi nama seperti nama RajaFriedrich Wilhelm IV dari Prusia (di masa hidupnya, Nietzsche kemudian menghilangkan nama tengahnya, Wilhelm).[13] Ayah Nietzsche, Carl Ludwig Nietzsche (1813–1849), adalah seorang pendetaLutheran[14] dan mantan guru; Ayahnya menikah dengan ibunya, Franziska Nietzsche (née Oehler) (1826–1897), pada tahun 1843, setahun sebelum kelahiran putra mereka. Orang tua Nietzsche mempunyai dua anak lain selain Nietzsche: seorang putri,Elisabeth Förster-Nietzsche, lahir pada tahun 1846; dan putra kedua, Ludwig Joseph, lahir pada tahun 1848. Ayah Nietzsche meninggal karena penyakit otak pada tahun 1849; Adik Nietzsche, Ludwig Joseph, meninggal enam bulan kemudian pada usia dua tahun.[15] Keluarganya kemudian pindah keNaumburg, tempat mereka tinggal bersama nenek dari pihak ibu Nietzsche dan dua saudara perempuan ayahnya yang belum menikah. Setelah kematian nenek Nietzsche pada tahun 1856, keluarga tersebut pindah ke rumah mereka sendiri, yang sekarang dikenal sebagaiNietzsche-Haus, sebuah museum dan pusat studi Nietzsche.
Nietzsche bersekolah di sekolah khusus laki-laki dan kemudian melanjutkan studi di sekolah swasta, tempat ia bertemu dan berteman dengan Gustav Krug dan Wilhelm Pinder. Mereka bertiga berasal dari keluarga yang sangat dihormati. Catatan akademis dari salah satu sekolahnya menunjukkan bahwa performa akademis Nietzsche sangat baik dalam bidangteologi Kristen.[16]
Pada tahun 1854, dia mulai melakukan studi di Domgymnasium di Naumburg. Karena ayahnya pernah bekerja untuk pemerintah (sebagai pendeta), Nietzsche ditawari beasiswa untuk belajar diSchulpforta, sebuah sekolah yang reputasinya diakui secara internasional (klaim bahwa Nietzsche diterima berdasarkan kompetensi akademisnya telah dibantah: nilainya tidak dekat dengan peringkat teratas di kelas).[17] Dia belajar di Schulpforta dari tahun 1858 hingga 1864. Di sana, ia berteman dengan Paul Deussen dan Carl von Gersdorff. Ia juga menyempatkan diri untuk menulis puisi dan komposisi musik. Nietzsche menjadi ketua "Germania", sebuah klub musik dan sastra selama musim panas di Naumburg.[15] Di Schulpforta, Nietzsche mendapat pelajaran penting dalam bidang bahasa, antara lain bahasaYunani,Latin,Ibrani, dan Prancis—yang dimaksudkan agar ia dapat membacasumber-sumber primer yang penting.[18]
Nietzsche muda
Nietzsche juga merupakan seorang komposer amatir.[19] Dia membuat beberapa komposisi suara, piano, dan biola sejak tahun 1858 di Schulpforta. Komposer JermanRichard Wagner menganggap rendah musik Nietzsche; ia diduga mengejek komposisi piano yang dikirim oleh Nietzsche sebagai hadiah ulang tahun kepada istri Wagner,Cosima pada tahun 1871. Konduktor dan pianis JermanHans von Bülow juga menilai karya Nietzsche yang lain sebagai "draf musik paling tidak menyenangkan dan paling antimusik yang pernah saya dengar dalam waktu yang lama".[20]
Setelah lulus pada bulan September 1864,[21] Nietzsche melanjutkan studi ke perguruan tinggi untuk mempelajari teologi dan filologi klasik diUniversitas Bonn dengan tujuan untuk menjadi seorangpendeta. Dalam beberapa waktu, dia dan Deussen ikut menjadi anggota dalam perhimpunan mahasiswaBurschenschaft diFranken. Setelah satu semester berjalan, dia menghentikan studi teologinya dan kehilangan keyakinan keagamaannya.[22] Pada awal esainya yang berjudul "Fate and History" pada tahun 1862, Nietzsche berpendapat bahwa penelitian sejarah telah mendiskreditkan ajaran utama agama Kristen.[23] Salah satu karya sejarah yang mempunyai pengaruh yang besar pada pemikiran Nietzsche pada waktu itu adalahKehidupan Yesus, Kajian Secara Kritis karyaDavid Strauss.[22] Dalam karyanya itu, Strauss tidak menyangkal keberadaan Yesus; akan tetapi Strauss berpendapat bahwa mukjizat dalam Perjanjian Baru hanyalah tambahan mitos yang tidak mempunyai dasar faktual yang nyata.[24][25][26] Selain itu,Esensi Kekristenan karyaLudwig Feuerbach juga mempengaruhi Nietzsche muda dengan argumennya bahwa manusialah yang telah menciptakan Tuhan, dan bukan sebaliknya.[27] Pada bulan Juni 1865, di usia 20 tahun, Nietzsche menulis surat kepada saudara perempuannya yang sangat religius, Elisabeth, mengenai hilangnya keyakinannya. Surat ini berisi pernyataan berikut:
Oleh karena itu, jalan-jalan manusia terbelah. Jika kamu ingin mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan, maka berimanlah; jika kamu ingin menjadi pengikut kebenaran, maka selidikilah."[28]
FilsufArthur Schopenhauer sangat mempengaruhi pemikiran filosofis Nietzsche.
Nietzsche kemudian berkonsentrasi melanjutkan studi filologi di bawah bimbingan Profesor Friedrich Wilhelm Ritschl diUniversitas Leipzig.[29] Di sana ia berteman dekat dengan sesama mahasiswa Erwin Rohde. Publikasi filologi pertama Nietzsche muncul segera setelah pertemanan mereka.
Arthur Schopenhauer adalah filsuf yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap pemikiran Nietzsche. Nietzsche mengatakan bahwa Schopenhauerlah yang mengubahnya menjadi seorang filsuf. Nietzsche pertama kali mengenal Schopenhauer pada tahun 1865, ketika dia secara tidak sengaja menemukan buku Schopenhauer,The World as Will and Representation, di sebuah toko buku bekas di Leipzig. Ia kemudian membeli buku itu dan mempelajarinya secara menyeluruh. Dampaknya langsung terasa, seperti yang diakui Nietzsche:
Saya termasuk pembaca Schopenhauer yang tahu dengan pasti bahwa setelah membaca halaman pertama, akan membaca setiap halaman, dan akan mendengarkan setiap kata yang diucapkannya... Saya memahami Schopenhauer seolah-olah dia menulis khusus diperuntukkan bagi saya.[30]
Pada tahun 1866, ia juga mempelajari karyaFriedrich Albert Lange,History of Materialism. Deskripsi Lange tentang filsafat anti-materialismeKant, kebangkitanMaterialisme Eropa, meningkatnya kepedulian orang-orang Eropa terhadap sains, teorievolusiCharles Darwin, dan pemberontakan umum terhadap tradisi dan otoritas sangat menarik minat Nietzsche. Karya Lange dan juga pemikir-pemikirneo-Kantianisme lain yang menekankan hubungan antara filsafat Kant dengan ilmu-ilmu alam pada waktu itu mempengaruhi perspekfifnaturalisme Nietzsche.[31]
Pada tahun 1867, Nietzsche sempat mengikutidinas militer didivisi artileri Prusia di Naumburg selama setahun. Dia dianggap sebagai salah satupengendara kuda terbaik di antara rekan-rekannya. Namun, pada bulan Maret 1868, saat hendakmelompat ke atas pelana kudanya, Nietzsche terjatuh danmerobek dua otot di tubuh bagian kirinya. Hal ini membuatnya tidak dapat berjalan selama berbulan-bulan.[32][33] Oleh karena itu, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada studinya yang ia selesaikan pada tahun 1868. Di tahun yang sama, Nietzsche bertemuRichard Wagner, seorang komposer yang juga mengagumi Schopenhauer, untuk pertama kalinya.[34]
Kiri ke kanan: Erwin Rohde, Karl von Gersdorff dan Nietzsche, Oktober 1871
Pada tahun 1869, dengan dukungan Ritschl, Nietzsche menerima tawaran untuk menjadi profesorfilologi klasik diUniversitas Basel di Swiss. Pada waktu itu, ia baru berusia 24 tahun dan belum menyelesaikan gelar doktor dan mendapatkan sertifikat mengajar (“habilitasi”). Ia dianugerahi gelar doktor kehormatan olehUniversitas Leipzig pada bulan Maret 1869.[35] Hingga saat ini, Nietzsche tercatat salah satu profesor tetap termuda di bidang Sastra Klasik.[36]
Penelitiandoktoral Nietzsche pada tahun 1870 berjudul "Kontribusi terhadap Studi dan Kritik terhadap Sumber Diogenes Laertius" ("Beiträge zur Quellenkunde und Kritik des Laertius Diogenes"), yang meneliti asal-usul gagasanDiogenes Laërtius.[37] Meskipun tidak pernah dikirimkan, tesis itu kemudian diterbitkan sebagai 'publikasi yang disertai dengan ucapan selamat' diBasel.[38]
Namun demikian, Nietzsche sempat bertugas di pasukan Prusia sebagaipetugas medis selamaPerang Prancis-Prusia (1870–1871). Dalam waktu singkatnya di militer, ia mengalami banyak hal dan menyaksikan dampak traumatis dari pertempuran. Ia juga terjangkitdifteri dandisentri.[41] FilsufWalter Kaufmann berspekulasi bahwa pada masa inilah Nietzsche tertularsifilis di rumah bordil bersama dengan infeksi lainnya.[42][43] Sekembalinya ke Basel, Nietzsche menyaksikan berdirinyaKekaisaran Jerman dan diangkatnyaOtto von Bismarck sebagai kanselir Jerman yang pertemu. Nietzsche juga bertemu dengan Franz Overbeck, seorang profesor teologi yang tetap menjadi temannya sepanjang hidupnya. Seorang filsuf Rusia yang kurang begitu dikenal,Afrikan Spir, yang menulisPemikiran dan Realitas tahun 1873 dan rekan Nietzsche, sejarawan terkenalJacob Burckhardt, yang kuliahnya sering dihadiri Nietzsche, mulai memberikan pengaruh yang signifikan terhadapnya.[44]
Nietzsche bertemu komposerRichard Wagner dan istrinya,Cosima di Leipzig pada tahun 1868. Nietzsche sangat mengagumi keduanya. Selama tinggal di Basel, ia sering mengunjungi rumah Wagner di Tribschen diLucerne sehingga mereka mempunyai hubungan pertemanan yang sangat baik. Karena itulah, Nietzsche juga mengenal komposerFranz Liszt.[45] Pada tahun 1870, ia memberi Cosima Wagner sebuah naskah "The Genesis of the Tragic Idea" sebagai hadiah ulang tahun. Pada tahun 1872, Nietzsche menerbitkan buku pertamanya,The Birth of Tragedy. Namun, rekan-rekannya di bidang filologi, termasuk Ritschl, tidak menunjukkan antusiasme terhadap karya Nietzsche yang dianggap menghindari metode filologi klasik dan memilih pendekatan yang lebih spekulatif. DalampolemiknyaPhilology of the Future,Ulrich von Wilamowitz-Moellendorff mengkritik buku Nietzsche. Sebagai tanggapan, Rohde (saat itu menjadi profesor diKiel) dan Wagner membela Nietzsche. Nietzsche berkomentar bahwa ia merasa terasingkan dalam komunitas filologi dan berkeinginan untuk berpindah posisi sebagai akademisi filsafat di Basel, meskipun gagal.[butuh rujukan]
Nietzsche, tahun 1872
Pada tahun 1873, Nietzsche mulai mengumpulkan catatan-catatannya yang kemudian diterbitkan secara anumerta sebagaiFilsafat di Zaman Tragis Yunani. Antara tahun 1873 dan 1876, ia menerbitkan empat esai panjang secara terpisah: "David Strauss: Sang Pemberi Pengakuan dan Penulis", "Tentang Penggunaan dan Penyalahgunaan Sejarah dalam Kehidupan", "Schopenhauer sebagai Pendidik", dan "Richard Wagner di Bayreuth". Keempat esai itu kemudian muncul dalam sebuah edisi buku dengan judulUntimely Meditations. Esai-esai tersebut mempunyai tema dengan orientasi kritik budaya, menentang perkembangan budaya Jerman yang direkomendasikan oleh Schopenhauer dan Wagner. Selama berada di lingkaran pertemanan dengan keluarga Wagner, dia bertemuMalwida von Meysenbug dan Hans von Bülow. Ia juga memulai persahabatan denganPaul Rée yang mempengaruhinya untuk menghilangkanpesimisme dalam tulisan-tulisan awalnya pada tahun 1876. Di sisi lain, ia juga menjadi sangat kecewa denganFestival Bayreuth tahun 1876, karena ia menganggap pertunjukan Wagner menjadi dangkal dan membuatnya muak. Ia juga tidak setuju dengan pembelaan Wagner terhadap "budaya Jerman", serta perayaan ketenaran Wagner di kalangan masyarakat Jerman. Semua ini berkontribusi pada keputusannya untuk menjauhkan diri dari Wagner.[butuh rujukan]
Dengan diterbitkannyaHuman, All Too Human pada tahun 1878 (sebuah buku berisiaforisme dengan tema tentang metafisika hingga moralitas dan agama), pendirian Nietzsche, yang pada waktu itu sangat dipengaruhi olehPemikiran dan Realitas karyaAfrikan Spir,[46] menjadi jelas: ia merespon filsafat pesimisme Wagner dan Schopenhauer. Pada tahun 1879, karena kesehatannya yang menurun secara signifikan, Nietzsche harus mengundurkan diri sebagai akademisi di Basel dan pensiun dini.[47]
Lou Salomé,Paul Rée dan Nietzsche melakukan perjalanan melalui Italia pada tahun 1882. Mereka berencana untuk mendirikan komune pendidikan bersama, tetapi persahabatan tersebut berakhir pada akhir tahun 1882 karena ketertarikan romantis Rée dan Nietzsche pada Lou Andreas-Salomé.
Hidup dari uang pensiunnya dari Universitas Basel dan bantuan dari teman-temannya, Nietzsche sering bepergian untuk mencari iklim yang lebih kondusif bagi kesehatannya. Hingga tahun 1889, ia menjadi penulis independen di berbagai kota. Nietzsche banyak menghabiskan waktu musim panasnya diSils Maria dekatSt. Moritz di Swiss, dan musim dingin di kotaGenoa,Rapallo, danTurin di Italia, serta kotaNice di Prancis. Pada tahun 1881, ketikaPrancis menduduki Tunisia, ia berencana melakukan perjalanan keTunis tetapi kemudian membatalkan gagasan tersebut kemungkinan karena alasan kesehatan.[48] Nietzsche kadang-kadang kembali ke Naumburg untuk mengunjungi keluarganya. Pada masa ini, ia dan saudara perempuannya,Elisabeth berulang kali terlibat dalam pertengkaran.
Saat tinggal diGenoa, penglihatan Nietzsche yang menurun mendorongnya untuk menggunakanmesin tik sebagai sarana untuk terus menulis. Pada akhirnya, salah satu mantan muridnya,Peter Gast, menjadi sekretaris pribadi Nietzsche. Pada tahun 1876, Gast mentranskripsikan tulisan tangan Nietzsche yang hampir tidak terbaca bersama dengan Richard Wagner di Bayreuth.[49] Gast kemudian menyalin dan mengoreksi hampir seluruh karya Nietzsche. Pada Februari 1880, Gast menerima 200 mark dari teman Nietzsche, Paul Rée.[50] Sampai akhir hidup Nietzsche, Gast dan Overbeck tetap menjadi teman setianya.Malwida von Meysenbug juga tetap menjadi teman yang berperan layaknya seorang ibu bagi Nietzshce.
Pada tahun 1882, Nietzsche menerbitkan bagian pertamaThe Gay Science. Di tahun yang sama, ia juga bertemu denganLou Andreas-Salomé,[51] yang dikenalnya melalui Malwida von Meysenbug dan Paul Rée.
Lou Salomé pindah bersama ibunya ke Roma ketika ia berusia 21 tahun. Di salon sastra di kota itu, Salomé berkenalan denganPaul Rée. Rée kemudian melamarnya, tetapi Salomé mengusulkan agar mereka tinggal dan belajar bersama sebagai "saudara laki-laki dan saudara perempuan", bersama dengan pria lain dengan tujuan agar mereka dapat mendirikan sebuah komunitas akademis.[52] Rée menerima gagasan itu dan menyarankan agar Nietzsche bergabung. Keduanya bertemu Nietzsche di Roma pada bulan April 1882. Nietzsche diyakini langsung jatuh cinta pada Salomé, sama halnya seperti Rée. Nietzsche meminta Rée untuk melamar Salomé untuk Nietzsche, tetapi ditolak oleh Salomé. Salomé hanya tertarik kepada Nietzsche sebagai teman, bukan sebagai calon suami.[52]
Meski demikian, Nietzsche senang bergabung dengan Rée dan Salomé. Mereka bertiga selajutnya melakukan perjalanan bersama ibu Salomé melewati Italia dan mempertimbangkan tempat komunitas akademik yang akan mereka dirikan. Mereka bermaksud mendirikan komunitas mereka di sebuah biara yang telah ditinggalkan, tetapi tidak ditemukan lokasi yang cocok. Pada tanggal 13 Mei, di Lucerne, ketika Nietzsche sedang sendirian bersama Salomé, Nietzsche dengan sungguh-sungguh melamarnya lagi, tetapi ditolaknya.[52] Setelah mengetahui adanya perasaan Nietzsche terhadap Salomé, saudara perempuan Nietzsche, Elisabeth, bertekad untuk menjauhkan Nietzsche dari Salomé yang dianggapnya "wanita tidak bermoral".[53] Nietzsche dan Salomé menghabiskan musim panas bersama di Tautenburg di Thuringia bersama dengan saudara perempuan Nietzsche, Elisabeth. Salomé menulis bahwa Nietzche memintanya untuk menikah dengannya pada tiga kesempatan terpisah dan dia selalu menolak, meskipun kebenaran lamaran yang ketiga kalinya ini dipertanyakan.[54]
Pada bulan November 1882, Rée dan Salomé meninggalkan Nietzsche menuju Stibbe (sekarang Zdbowo di Polandia)[55] tanpa rencana untuk bertemu lagi. Nietzsche kemudian mengalami depresi. Ia terus menulis kepada Rée, "Kita akan bertemu lagi dari waktu ke waktu, bukan?"[56] Dalam kesempatan lain, Nietzsche menulis kegagalannya dalam merayu Salomé disebabkan oleh hubungan Salomé dan Rée, serta intrik saudara perempuannya (yang telah menulis surat kepada keluarga Salomé dan Rée untuk mengganggu rencana pernikahannya). Pada tahun 1883, Nietzsche menulis bahwa dia merasakan kebencian yang mendalam terhadap saudara perempuannya.[56]
Dengan penyakit baru yang dideritanya, dan hidup terisolasi setelah perselisihan dengan ibu dan saudara perempuannya mengenai Salomé, Nietzsche pergi ke Rapallo, tempat dia menulis bagian pertamaThus Spoke Zarathustra dalam sepuluh hari.
Foto Nietzsche oleh Gustav-Adolf Schultze, 1882
Pada tahun 1882, Nietzsche mengonsumsiopium dalam dosis yang besar, tetapi dia masih mengalami kesulitan tidur.[57] Pada tahun 1883, saat tinggal di Nice, dia menulis resep untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan obat penenangkloral hidrat, dan menandatanganinya dengan "Dr. Nietzsche".[58]
Dia telah berpaling dari pengaruh filsafatSchopenhauer. Setelah dia memutuskan hubungan pertemanan dengan Wagner, Nietzsche hanya mempunyai sedikit teman. Dengan karyanya,Zarathustra, ia menjadi semakin terasing karena karyanya itu tidak begitu laku di pasar. Nietzsche menyadari hal ini dan bertahan dalam kesendiriannya, meski ia sering mengeluh. Buku-bukunya sebagian besar masih belum terjual. Pada tahun 1885, ia hanya mencetak 40 eksemplar bagian keempatZarathustra dan membagikan sebagian kepada teman-teman dekatnya, termasuk Helene von Druskowitz.
Pada tahun 1883, Nietzsche mencoba untuk menjadi akademisi lagi diUniversitas Leipzig, namun ditolak oleh universitas. Menurut surat yang ditulisnya kepada Peter Gast, hal ini disebabkan oleh "sikapnya terhadap agama Kristen dan konsep Tuhan".[59]
Pada tahun 1886, Nietzsche memutuskan hubungan dengan penerbitnya, Ernst Schmeitzner, karena muak denganantisemitismenya. Nietzsche kemudian mempublikasikanBeyond Good and Evil dengan biaya sendiri. Di tahun berikutnya, ia menerbitkan edisi keduaThe Birth of Tragedy,Human, All Too Human,Daybreak, danThe Gay Science. Setelah itu, ia beristirahat untuk sementara waktu dan berharap jumlah pembacanya akan segera bertambah. Selama tahun-tahun ini Nietzsche bertemu denganMeta von Salis,Carl Spitteler, danGottfried Keller.
Pada tahun 1886, saudara perempuannya, Elisabeth menikah denganBernhard Förster, seorang penganut antisemitisme. Mereka kemudian melakukan perjalanan ke Paraguay untuk mendirikanNueva Germania, sebuah koloni "Jerman".[60][61] Melalui korespondensi, hubungan Nietzsche dengan Elisabeth berlanjut meski disertai dengan banyak pertengkaran. Nietzsche dan Elisabeth baru bertemu kembali setelah ia mengalami penyakit mental.
Pada tahun 1887, Nietzsche menulis sebuah karya polemikTentang Genealogi Moralitas. Di tahun yang sama, dia menemukan karyaFyodor Dostoyevsky. Nietzsche merasakan kedekatan dengan Dostoyevsky setelah membaca karya-karyanya.[62] Dia juga bertukar surat denganHippolyte Taine danGeorg Brandes. Brandes, yang merupakan pengajar filsafatSøren Kierkegaard pada tahun 1870-an, menulis kepada Nietzsche untuk memintanya membaca karya Kierkegaard. Nietzsche merespons bahwa dia akan datang keKopenhagen dan mempelajari karya Kierkegaard. Namun, sebelum memenuhi janjinya, Nietzsche terjatuh dan mengalami penyakit mental yang parah. Pada awal tahun 1888, Brandes menyampaikan salah satu kuliah pertama tentang filsafat Nietzsche di Kopenhagen.
Meskipun Nietzsche telah mengumumkan di akhir bukuOn the Genealogy of Morality, bahwa sebuah karya baru dengan judulThe Will to Power: Attempt at aRevaluation of All Values, ia tampaknya telah meninggalkan gagasan ini. Sebagai gantinya, ia menggunakan beberapa bagian drafnya untuk menulisTwilight of the Idols danThe Antichrist pada tahun 1888.[63]
Pada tahun 1888, setelah menyelesaikanTwilight of the Idols danThe Antichrist, Nietzsche memutuskan untuk menulis sebuah otobiografi,Ecce Homo. Dalam kata pengantarnya, Nietzsche menulis bahwa ia sangat menyadari kesulitan penafsiran yang kemungkinan akan dihasilkan oleh karya-karyanya.[64] Pada bulan Desember 1888, Nietzsche memulai korespondensi denganAugust Strindberg. Ia mempertimbangkan jika tidak ada terobosan internasional, maka ia akan berusaha membeli kembali tulisan-tulisannya yang lama dari penerbitnya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya. Selain itu, ia merencanakan penerbitan kompilasiNietzsche contra Wagner dan puisi-puisi yang menjadi koleksinyaDionysian-Dithyrambs.
Gambar oleh Hans Olde dari serial fotografiThe Nietzsche III, akhir tahun 1899
Pada tanggal 3 Januari 1889, Nietzsche mengalamigangguan mental.[65] Dua polisi mendatanginya karena dia menyebabkan keributan publik di sebuah jalan diTurin. Apa yang sebenarnya terjadi tidak diketahui. Namun, kisah yang sering diceritakan tak lama setelah kematiannya menunjukkan bahwa Nietzsche melihat pencambukan seekor kuda di dekat Piazza Carlo Alberto. Ia kemudian berlari ke arah kuda tersebut, merangkul leher kuda tersebut untuk melindunginya, lalu terjatuh ke tanah.[66][67] Dalam beberapa hari berikutnya, Nietzsche mengirimkan tulisan pendek—dikenal sebagaiWahnzettel atauWahnbriefe (secara harfiah berarti "Catatan Delusi" atau "surat")—ke sejumlah temannya termasukCosima Wagner danJacob Burckhardt. Surat tersebut ditandatangani dengan nama "Dionysus", beberapa surat lain dikirim dengan tertanda "der Gekreuzigte" yang berarti "yang disalib".[68]
Selain itu, dalam surat-suratnya, Nietzsche juga memerintahkan kaisar Jerman untuk pergi ke Roma untuk ditembak mati serta meminta penguasa Eropa untuk mengambil tindakan militer terhadap Jerman.[69] Dia juga menulis bahwa paus harus dipenjara, bahwa Nietzsche telah menciptakan dunia, dan bahwa ia sedang dalam proses untuk menembak mati semua orang yang anti-Semit.[70]
Pada bulan Januari 1889, Burckhardt menunjukkan surat yang diterima dari Nietzsche kepada Overbeck. Keesokan harinya, Overbeck menerima surat serupa. Ia menyarankan agar teman-teman Nietzsche membawanya kembali ke Basel. Overbeck kemudian pergi ke Turin dan membawa Nietzsche ke sebuah klinik psikiatri di Basel. Pada waktu itu, Nietzsche benar-benar telah mengalami penyakit mental yang serius.[71] Ibunya, Franziska memutuskan untuk memindahkannya ke sebuah klinik diJena di bawah arahan Otto Binswanger.[72] Pada bulan November 1889 hingga Februari 1890, sejarawan dan budayawan Julius Langbehn berusaha menyembuhkan Nietzsche. Ia mengklaim bahwa metode para dokter tidak efektif dalam mengobati kondisi Nietzsche.[73] Pada bulan Mei 1890, Franziska memutuskan membawa Nietzsche pulang ke rumahnya di Naumburg.[71] Di masa ini, Overbeck dan Gast memikirkan apa yang harus dilakukan dengan karya Nietzsche yang tidak diterbitkan. Pada bulan Februari, mereka berencana untuk mencetak lima puluh eksemplar edisi pribadiNietzsche contra Wagner, tetapi penerbit CG Naumann mencetak seratus eksemplar. Overbeck dan Gast memutuskan untuk menahan penerbitanThe Antichrist danEcce Homo karena kontennya yang dianggap lebih radikal.[74][75]
Pada tahun 1893, saudara perempuan Nietzsche, Elisabeth, kembali dariNueva Germania di Paraguay setelah suaminya bunuh diri. Dia mempelajari karya-karya Nietzsche sedikit demi sedikit dan mulai mengambil kendali atas penerbitannya. Elisabeth meminta agar Overbeck dan Gast tidak lagi mengurus karya Nietzsche. Setelah kematian ibu Nietzsche, Franziska, pada tahun 1897, Nietzsche tinggal diWeimar bersama Elisabeth yang merawatnya. Elisabeth sering menerima pengunjung, termasukRudolf Steiner (yang pada tahun 1895 telah menulisFriedrich Nietzsche: Pejuang Melawan Zaman, salah satu buku pertama yang memuji Nietzsche).[76] Elisabeth mempekerjakan Steiner sebagai tutor untuk membantunya memahami filosofi kakaknya. Steiner mengundurkan diri setelah beberapa bulan dengan alasan tidak mungkin mengajari Elisabeth apa pun tentang filsafat.[77]
Setelah kerusakan tersebut, Peter Gast "mengoreksi" tulisan Nietzsche tanpa persetujuannya.
Kegilaan Nietzsche awalnya didiagnosis sebagai penyakitsifilis tersier, sesuai dengan paradigma medis yang berlaku pada waktu itu. PenulisGeorges Bataille berpendapat bahwa "Manusia yang 'berinkarnasi' juga harus menjadi gila."[78] Psikoanalisis postmortemRené Girard mengemukakan bahwa persaingan dan perselisihan Nietzsche denganRichard Wagner sebagai penyebab kejatuhan Nietzsche.[79] Terdapat penentangan terhadap diagnosis sifilis. Studi-studi yang dilakukan oleh Cybulska dan Schain menunjukkan bahwa Nietzsche lebih tepat didiagnosis denganpenyakit manik-depresif denganpsikosis periodik yang diikuti olehdemensia vaskular.[80][81] Psikolog Leonard Sax menyatakan bahwa lambatnya pertumbuhanmeningioma retro-orbital sisi kanan Nietzsche sebagai penjelasan demensia yang dialaminya;[42] Orth dan Trimble berpendapat bahwa Nietzsche terkenademensia frontotemporal,[82] sedangkan peneliti lain berpendapat Nietzsche mengalami stroke berdasarkan keturunan yang disebutCADASIL.[83] Akibat-akibat lain seperti keracunanraksa, dan pengobatan sifilis[84] juga dianggap sebagai penyebab penyakit mental Nietzsche.[85]
Makam Nietzsche di Röcken di Jerman, dengan patungDas Röckener Bacchanal oleh Klaus Friedrich Messerschmidt (2000)
Pada tahun 1898 dan 1899, Nietzsche menderita stroke dua kali. Penyakit stroke yang dideritanya menyebabkan sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan, tidak dapat berbicara dan berjalan. Kemungkinan besar ia menderitahemiparesis klinis atau hemiplegia di sisi kiri tubuhnya pada tahun 1899. Setelah tertularpneumonia pada pertengahan Agustus 1900, ia kembali terserang stroke pada malam tanggal 24-25 Agustus dan meninggal pada siang hari pada tanggal 25 Agustus.[86] Elisabeth menguburkannya di samping makam ayahnya di dekat gereja diRöcken dekatLützen. Teman dan sekretaris Nietzsche, Gast, memberikan orasi pemakamannya. Ia menyatakan: "Sucilah namamu untuk semua generasi mendatang!"[87]
Elisabeth Förster-Nietzsche kemudian menyusunThe Will to Power dari buku catatan Nietzsche yang tidak diterbitkan. Ia menerbitkan karya itu secara anumerta pada tahun 1901. Terdapat konsensus di kalangan akademisi yang mempelajari filsafat Nietzsche bahwa buku yang diterbitkan oleh Elisabeth tidak mencerminkan pemikiran Nietzsche. Bahkan, akademisi Mazzino Montinari, editorNachlass karya Nietzsche, menyebut upaya Elisabeth sebagai sebuah pemalsuan.[88]
Para sarjana dan komentator umumnya menyebut Nietzsche sebagai "filsuf Jerman".[89][90][29][91] Beberapa sarjana tidak memberinya kategori kebangsaan tertentu.[92][93][94] Meskipun pada waktu itu, Jerman belum bersatu menjadi sebuah negara-bangsa, Nietzsche dilahirkan sebagai warga negaraPrusia, yang sebagian besar merupakan bagian dariKonfederasi Jerman.[95] Tempat kelahirannya,Röcken, berada di negara bagianSaxony-Anhalt, Jerman modern. Ketika ia menjadi profesor di Basel, Nietzsche mengajukan permohonan pembatalan kewarganegaraan Prusia-nya.[96] Pencabutan resmi kewarganegaraannya tercantum dalam dokumen tertanggal 17 April 1869,[97] dan selama sisa hidupnya ia tetaptidak memiliki kewarganegaraan.
Menjelang akhir hidupnya, Nietzsche percaya bahwa nenek moyangnya adalahorang Polandia.[98] Dia mengenakancincin meterai berlambang Radwan yang berasal daribangsawan Polandia pada abad pertengahan[99] dan nama keluarga "Nicki" dari keluarga bangsawan Polandia (szlachta).[100][101] Gotard Nietzsche, anggota keluarga Nicki, meninggalkan Polandia menujuPrusia. Keturunannya kemudian menetap diElektorat Sachsen sekitar tahun 1700.[102] Nietzsche menulis pada tahun 1888, "Nenek moyang saya adalah bangsawan Polandia (Nietzky)."[103] Pada satu waktu, Nietzsche bersikeras tentang identitas Polandianya, "Saya murni seorang bangsawan Polandia, tanpa setetes pun darah buruk, dan yang pasti bukan darah Jerman."[104] Pada kesempatan lain, Nietzsche menyatakan, “Jerman menjadi bangsa yang besar hanya karena rakyatnya memiliki begitu banyak darah Polandia di dalam nadi mereka... Saya bangga dengan keturunan Polandia saya."[105] Nietzsche percaya bahwa namanya mungkin telah mengalamiJermanisasi. Dalam satu suratnya ia menulis, "Saya diajari untuk menganggap asal-usul darah dan nama saya berasal dari bangsawan Polandia yang dipanggil Niëtzky dan meninggalkan rumah dan kebangsawanan mereka sekitar seratus tahun yang lalu; akhirnya harus menyerah pada penindasan yang tak tertahankan karena merekaProtestan."[106]
Kebanyakan sarjana membantah keterangan Nietzsche tentang asal-usul keluarganya. Hans von Müller membantah silsilah yang dikemukakan oleh saudara perempuan Nietzsche yang menganggap sebagai keturunan bangsawan Polandia.[107] Max Oehler, sepupu Nietzsche dan kurator Arsip Nietzsche diWeimar, berpendapat bahwa semua nenek moyang Nietzsche memiliki nama Jerman, termasuk keluarga istri.[103] Oehler mengklaim bahwa Nietzsche memiliki silsilah panjang pendetaLutheran Jerman pada kedua sisi keluarganya, dan para sarjana modern menganggap klaim keturunan Polandia Nietzsche sebagai "rekaan semata-mata".[108] Colli dan Montinari, editor kumpulan surat Nietzsche, menganggap klaim Nietzsche sebagai "keyakinan yang salah" dan "tanpa dasar".[109][110] NamaNietzsche sendiri bukanlah nama Polandia, tetapi nama yang sangat umum di seluruh Jerman bagian tengah (serumpun dengan nama-nama sepertiNitsche danNitzke). Nama tersebut berasal dari nama depanNikolaus, disingkatNick; berasimilasi dengan SlaviaNitz; pertama menjadiNitsche dan kemudianNietzsche.[103]
Tidak diketahui mengapa Nietzsche ingin dianggap sebagai bangsawan Polandia. Menurut penulis biografinya, RJ Hollingdale, penyebaran mitos leluhur Polandia oleh Nietzsche mungkin merupakan bagian dari "kampanye melawan Jerman".[103] Nicholas D. More menyatakan bahwa klaim Nietzsche bahwa ia memiliki garis keturunan termasyhur adalah parodi. Ia juga mencurigai subjudul-subjudul yang memuji diri sendiri di karya Nietzsche,Ecce Homo, seperti "Mengapa Saya Begitu Bijaksana", sebagai sebuah sindiran.[111] Ia menyimpulkan bahwa silsilah Polandia yang dikemukakan Nietzsche hanyalah sebuah lelucon.[111]
Nietzsche tidak pernah menikah. Dia melamarLou Salomé tiga kali dan selalu ditolak.[112] Sebuah teori menjelaskan bahwa penolakan itu disebabkan pandangan Salomé tentang seksualitas. Seperti yang diutarakan dalam novelnya,Fenitschka, tahun 1898, Salomé memandang hubungan seksual sebagai sesuatu yang terlarang dan pernikahan sebagai sebuah pelanggaran, dengan beberapa orang berpendapat bahwa hal tersebut mengindikasikanpenindasan seksual danneurosis.[113]
Deussen berpendapat untuk memahami cara berpikir Nietzsche tentang perempuan, perlu menelaah kunjungannya ke rumah bordil diCologne pada bulan Februari 1865. Pada waktu itu, Nietzsche diam-diam pergi rumah bordil dan dengan kikuk ia memutuskan untuk pergi setelah melihat "setengah lusin perempuan mengenakan payet dan kerudung." Menurut Deussen, Nietzsche "tidak pernah memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Baginya, perempuan harus mengorbankan diri demi kepentingan laki-laki."[114] Akademisi Joachim Köhler mengklaim bahwa Nietzsche adalah seorang homoseksual. Köhler juga berpendapat bahwa dugaan sifilis Nietzsche sebagai akibat dari perjumpaannya dengan seorang pelacur di rumah bordil diKöln atauLeipzig kemungkinan besar juga benar. Beberapa pihak berpendapat bahwa Nietzsche tertular penyakit di rumah bordil pria diGenoa."[115] Penularan infeksi dari rumah bordil homoseksual adalah teori yang diyakini olehSigmund Freud, yang mengutip Otto Binswanger sebagai sumbernya.[116] Köhler juga menyatakan bahwa Nietzsche memiliki hubungan romantis dan persahabatan denganPaul Rée.[117] Terdapat klaim bahwa homoseksualitas Nietzsche dikenal luas di Vienna Psychoanalytic Society, dengan teman Nietzsche, Paul Deussen, mengklaim bahwa "dia adalah pria yang belum pernah menyentuh seorang wanita."[118][119]
Pandangan Köhler tidak diterima secara luas di kalangan sarjana dan komentator Nietzsche. Sebaliknya, Nietzsche dikabarkan sering mengunjungi rumah bordilheteroseksual.[116] Penulis Nigel Rodgers dan Mel Thompson berpendapat bahwa penyakit dan sakit kepala yang terus-menerus menghalangi Nietzsche untuk mendekati wanita. Namun mereka memberikan contoh lain ketika Nietzsche mengungkapkan rasa cintanya kepada wanita, termasuk istri Wagner,Cosima Wagner.[120]
Sarjana lain berpendapat bahwa penafsiran berbasis seksualitas Köhler tidak membantu dalam memahami filsafat Nietzsche.[121][122] Terdapat juga sarjana yang menekankan bahwa, jika Nietzsche lebih menyukai laki-laki—dengan preferensi yang membentuk sifat psiko-seksualnya—tetapi tidak bisa mengakui keinginannya sendiri, itu berarti tindakannya bertentangan dengan filsafatnya.[123]
Karena gaya menggugah dan ide-ide provokatif Nietzsche, filosofinya menimbulkan reaksi yang luar biasa. Dalam filsafat Barat, tulisan-tulisan Nietzsche dideskripsikan sebagai sebuah pemikiran revolusioner bebas, yaitu, bersifat revolusioner dalam struktur dan permasalahannya, meskipun tidak terikat pada proyek revolusioner apa pun.[124] Sebagian orang memandang bahwa tulisan-tulisannya merupakan karya yang visioner karena filosofinya dianggap telah menjadi landasan kelahiran kembali budaya Eropa.[125][126]
Apollonian dan Dionysian adalah konsep filosofis yang didasarkan pada dua tokoh dalam mitologi Yunani kuno,Apollo danDionisos. Hubungan dari keduanya berbentukdialektika.[127] Meskipun konsep tersebut dibahas dalam karya Nietzsche,Kelahiran Tragedi, penyairHölderlin telah terlebih dahulu membicarakannya. Sama halnya,Winckelmann juga telah mendiskusikan karakterBacchus dalam karyanya.
Dalam dramatragedi Yunani, Nietzsche menemukan sebuah bentuk seni yangmelampaui suatu pesimisme yang dikenal dengankebijaksanaan Silenus. Penonton Yunani Kuno, dengan melihat ke dalam jurang penderitaan manusia yang digambarkan oleh karakter di atas panggung, dengan penuh semangat dan kegembiraan mengafirmasi kehidupan dan tetap menganggap bahwa kehidupan adalah sesuatu yang layak untuk dijalani. Tema utama dalamThe Birth of Tragedy adalah perpaduanKunsttriebe ("impuls artistik") Dionysian dan Apollonian yang membentuk seni dramatis atau tragedi. Apollo melambangkan harmoni, kemajuan, kejelasan, logika, danprinsip individuasi, sedangkan Dionisos melambangkan ketidakteraturan, keracunan, emosi, ekstasi, dan kesatuan (karenanya prinsip individuasi dihilangkan). Nietzsche menggunakan dua kekuatan ini karena, baginya, dunia pikiran dan keteraturan di satu sisi, serta gairah dan kekacauan di sisi lain, membentuk prinsip-prinsip yang mendasar bagikebudayaan Yunani:[128][129] Apolonia adalah keadaan bermimpi, penuh ilusi; dan Dionysian adalah keadaan mabuk, mewakili pembebasan naluri dan penghilangan batas.[130]
Karakter Apollonian dan Dionysian muncul dalam tragedi Yunani: pahlawan dalam drama tersebut, seorang protagonis utama, berjuang untuk membentuk tatanan (Apollonian) di tengah nasib kehidupannya sendiri yang tidak adil dan kacau (Dionysian); pada akhirnya ia meninggal dan gagal mencapai tujuannya. Dalam konteks ini, dengan merujuk kepada konsepHamlet sebagai seorang intelektual yang tidak dapat mengambil keputusan, Nietzsche berpendapat bahwa tokoh Dionysian memiliki pemahaman bahwa tindakannya tidak dapat mengubah keseimbangan segala sesuatu, tetapi adalah memuakkan bagi tokoh Dionysian untuk tidak bertindak sama sekali.
Di samping itu, Nietzsche bersikukuh bahwa karyaAeschylus danSophocles merepresentasikan puncak karya artistik, suatu realisasi sebenarnya dari tragedi; denganEuripides, dimulailah kemunduran dan kehancuran yang ditunjukkan dalam tragedi itu. Nietzsche menentang penggunaanrasionalisme danmoralitas Socrates oleh Euripides dalam tragedi-tragedinya. Ia mengklaim bahwa masuknya etika dan rasionalisme telah merampas fondasi tragedi itu, yaitu keseimbangan yang rapuh antara Dionysian dan Apollonian. Menurut Nietzsche,Socrates menekankan akal budi sedemikian rupa sehingga ia menyebarkan mitos dan penderitaan ke dalam pengetahuan manusia. Niezsche juga menolak penekanan rasionalitas yang juga dilakukanPlato dalam dialognya, yang pada akhirnya juga mempengaruhi dunia modern. Nietzsche menulis bahwa tanpa Apollonian, Dionysian tidak memiliki bentuk dan struktur untuk membuat sebuah karya seni yang koheren, dan tanpa Dionysian, Apollonian tidak memiliki vitalitas dan gairah yang diperlukan. Hanya penggabungan antara kedua kekuatan ini dalam sebuah senilah yang dapat mewakili tragedi Yunani yang terbaik.[131]
Para sarjana yang mempelajari Nietzsche mengemukakan bahwa penderitaan mempunyai nilai yang sangat penting bagi Nietzsche. Pentingnya arti penderitaan telah dibahas di karya awalnya,Lahirnya Tragedi, dan kemudian berlanjut pada reevaluasi nilai-nilai moralitas di karya-karyanya yang selanjutnya.[132] Tujuan utama dari reevaluasi nilai-nilai moralitas adalah untuk menentukan peran dan signifikansi dari penderitaan bagi kehidupan manusia. Salah satu nilai moralitas yang dikritik keras oleh Nietzsche adalah moralitas belas kasih. Menurutnya, moralitas belas kasih adalah tidak baik bagi orang yang menjadi objek belas kasihan, dan tidak baik pula bagi orang yang berlaku belas kasih. Nietzsche menolak belas kasih karena ia menilai hal ini mengabaikan pentingnya penderitaan bagi orang yang mengalaminya. Sejalan dengan itu, ia khawatir bahwa belas kasih juga dapat melemahkan kemampuan seseorang untuk menjadi hebat. Nietzsche percaya bahwa tidak mungkin orang akan menjadi hebat tanpa mengalami penderitaan dan usaha keras yang dilakukannya secara terus menerus. Oleh karena itu, moralitas belas kasih yang berusaha menghilangkan semua penderitaan tanpa pandang bulu pasti akan melemahkan prospek kemajuan manusia.[133]
Selain itu, Nietzsche juga mengkritik etikautilitarianisme yang menyatakan bahwa tujuan moralitas yang objektif adalah untuk menghilangkan penderitaan dan meningkatkan kebahagiaan bagi sebanyak-banyaknya orang. Nietzsche menyatakan bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan itu sendiri.[134] Ia mencerca kebahagiaan yang menjadi tujuan utama filsafat utilitarianisme dengan mengatakan, "kebahagiaan adalah suatu keadaan yang segera membuat manusia menjadi konyol dan rendah".[135] Dalam karyanya, (Beyond Good and Evil 225), ia menulis:
Penderitaan yang disiplin, penderitaan yang luar biasa – tahukah kamu bahwa hanya jenis disiplin inilah yang telah menciptakan segala kemajuan manusia selama ini?
Pemikiran penting Nietzsche adalah bahwa dalam suatu budaya yang berkomitmen untuk meningkatkan kebahagiaan dan menghapus penderitaan sebagai tujuannya, orang-orang hebat sepertiBeethoven,Goethe dan Nietzsche tidak akan ada karena orang-orang yang mempunyai potensi besar akan mengejar dua tujuan tersebut, alih-alih mengembangkan diri dan menciptakan karya kreatif mereka. Menurut Nietzsche, keunggulan dan kemajuan manusia tidak kompatibel dengan upaya untuk mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan.[136]
Nietzsche mengklaim bahwakematian Tuhan akan berujung pada pemahaman bahwa tidak akan pernah ada perspektif universal mengenai segala sesuatu, dan bahwa gagasan tradisional tentangkebenaran obyektif menjadi tidak koheren.[137][138] Nietzsche menolak gagasan tentang kebenaran objektif, dengan alasan bahwa pengetahuan bersifatkontingen dan kondisional, relatif terhadap berbagai perspektif atau kepentingan yang berubah-ubah.[139] Hal ini berujung pada penilaian ulang secara terus-menerus terhadap aturan-aturan (yaitu aturan-aturan filsafat, metode ilmiah, dll.) sesuai dengan keadaan sudut pandang individu yang bersangkutan.[140] Pandangan ini diberi namaperspektivisme.
Di antara kritiknya terhadap filsafat konvensionalKant,Descartes, danPlato, dalamBeyond Good and Evil, Nietzsche menyerangbenda dalam dirinya sendiri dancogito ergo sum ("Saya berpikir, maka saya ada"). Ia menganggap gagasan-gagasan itu sebagai keyakinan yang didasarkan pada penerimaan naif terhadapkekeliruan gagasan-gagasan yang mendahuluinya dan keyakinanyang tidak dapat diflasifikasi.[141] FilsufAlasdair MacIntyre menempatkan Nietzsche pada posisi yang tinggi dalam sejarah pemikiran filsafat. Meskipun mengkritik nihilisme dan Nietzsche serta menganggapnya sebagai pertanda kerusakan,[142] MacIntyre tetap memuji Nietzsche karena dapat mengenali motif psikologis di balik filsafat moral Kant danHume:[143]
Pencapaian historis Nietzsche adalah memahami dengan lebih jelas dibandingkan semua filsuf lainnya... tidak hanya bahwa apa yang dianggap sebagai daya tarikobjektivitas sebenarnya adalah ekspresi dari kehendak subjektif, tetapi juga sifat masalah yang ditimbulkannya bagi filsafat.[144]
DalamBeyond Good and Evil danOn the Genealogy of Morality, Niezsche menunjukkangenealogi perkembangan sistem moral modern. Baginya, pergeseran mendasar terjadi sepanjang sejarah manusia adalah dari pemikiran "baik dan buruk" menuju "baik dan jahat".
Menurut Nietzsche, pada mulanya, sistem moralitas ditetapkan oleh paraaristokrat dan penguasa peradaban kuno lainnya. Nilai-nilai aristokrat tentang baik dan buruk mencerminkan hubungan mereka dengankasta yang lebih rendah seperti budak. Nietzsche menampilkan "moralitas utama" ini sebagai sistem moralitas asli yang dikaitkan dengan masa YunaniHomeros.[145] Pada waktu itu, menjadi "baik" berarti menjadi bahagia dan mempunyai hal-hal yang berhubungan dengan kebahagiaan: kekayaan, kekuatan, kesehatan, kekuasaan, dll. Menjadi "buruk" berarti menjadi seperti budak yang dikuasai oleh para aristokrat: miskin, lemah, sakit, menyedihkan—yang menjadi objek rasa kasihan atau rasa jijik, bukan kebencian.[146]
"Moralitas budak" berkembang sebagai reaksi terhadap moralitas tuan. Nilai-nilai yang muncul kemudian mempertentangkan antara yang baik dengan yang jahat: kebaikan dikaitkan dengan dunia yang akan datang, kasih, kesalehan, pengendalian diri, kelembutan hati, dan ketundukan; sedangkan kejahatan dikaitkan dengan hal-hal duniawi, kejam, egois, kaya, dan agresif. Nietzsche melihat moralitas budak sebagai hal yang pesimis dan menakutkan: nilai-nilainya muncul untuk meningkatkan persepsi diri para budak. Dia mengaitkan moralitas budak dengan tradisi Yahudi dan Kristen, karena moralitas itu lahir darikebencian para budak. Nietzsche berpendapat bahwa gagasan tentang kesetaraan memungkinkan para budak untuk menolak ketidaksetaraan yang ia anggaap sebagai sesuatu yang alami pada manusia. Dengan menyangkal ketidaksetaraan yang melekat pada manusia—dalam hal kesuksesan, kekuatan, kecantikan, dan kecerdasan—para budak memperoleh sebuah metode untuk memberontak, yaitu dengan menghasilkan nilai-nilai baru sebagai dasar untuk menolak sistem moralitas aristokrat yang membuat mereka frustrasi. Hal ini dilakukan dengan menjadikan kelemahan seorang budak, misalnya, dengan memberinya label ulang sebagai “kelemahlembutan”. Menurut Nietzsche, dalam moralitas budak, "orang baik" dari sistem moralitas aristokrat kemudian dianggap sebagai "orang jahat", sedangkan definisi "orang buruk" diubah menjadi "orang baik".[147]
Nietzsche melihat sistem moralitas budak sebagai salah satu sumber nihilisme yang melanda Eropa. Ia menyerukan agar orang-orang yang luar biasa tidak merasa malu dalam menghadapi sistem moralitas yang dianggapnya berbahaya bagi kemajuan orang-orang yang luar biasa. Namun, Nietzsche juga mengingatkan bahwa moralitas pada hakikatnya tidaklah buruk; ia baik untuk masyarakat umum dan harus diserahkan kepada mereka. Sebaliknya, orang-orang yang luar biasa harus mengikuti "hukum batin" mereka sendiri.[148] Motto favorit Nietzsche, diambil dariPindar, berbunyi: "Jadilah dirimu yang sebenarnya."[149]
Asumsi umum tentang Nietzsche adalah bahwa ia lebih memilih moralitas tuan daripada moralitas budak. Namun, sarjana terkemuka tentang Nietzsche, Walter Kaufmann, menolak interpretasi ini. Ia menulis bahwa analisis Nietzsche terhadap dua jenis moralitas ini hanya digunakan dalam pengertiandeskriptif dan historis; ini tidak dimaksudkan sebagai penerimaan atau glorifikasi apa pun.[150] Di sisi lain, Nietzsche menyebut moralitas tuan memiliki "tingkat yang lebih tinggi, nilai-nilai mulia, nilai-nilai yang mengatakan YA terhadap kehidupan, nilai-nilai yang menjamin masa depan."[151] Seperti halnya “ada tingkatan kelas antar manusia”, ada juga tingkatan kelas “antar moralitas”.[152] Nietzsche menyatakan perang filosofis melawan moralitas budak dalam agama Kristen dengan konsepnya "reevaluasi semua nilai." Ia bermaksud untuk mengutamakan moralitas tuan yang ia sebut "filsafat masa depan" (Beyond Good and Evil diberisubjudul Prelude to a Philosophy of the Future).[153]
Dalam karyanya,Daybreak, Nietzsche memulai "Kampanye Melawan Moralitas".[154] Ia menyebut dirinya seorang "imoralis" dan mengkritik keras filsafat moral terkemuka pada zamannya: moralitas Kristen,Kantianisme, danutilitarianisme. Konsep Nietzsche "Tuhan telah mati" berlaku untuk doktrin-doktrinKristen, meskipun tidak untuk semua agama lain: ia mengklaim bahwaagama Buddha adalah agama yang sukses dan ia memujinya karena menumbuhkan pemikiran kritis.[155] Nietzsche juga melihat filsafatnya sebagai gerakan yang melawan nihilisme melalui apresiasi seni.[156]
Dalam karyanya,Ecce Homo, Nietzsche menyebut pembentukan sistem moral berdasarkan dikotomibaik dan jahat sebagai "kesalahan yang mendatangkan bencana",[157] dan ia ingin memulaievaluasi ulangnilai-nilai dunia Kristen.[158] Ia menunjukkan keinginannya untuk menghadirkan sumber nilai baru yang lebih naturalistik dengan dorongan kuat dari kehidupan itu sendiri.
Meskipun Nietzsche menyerang prinsip-prinsip Yudaisme, ia bukanlah seorangantisemit: dalam karyanyaOn the Genealogy of Morality, ia secara eksplisit mengutuk antisemitisme dan menunjukkan bahwa serangannya terhadap Yudaisme bukanlah serangan terhadap orang-orang Yahudi kontemporer, tetapi secara khusus merupakan serangan terhadap orang-orang Yahudi kuno.[159] Seorang sejarawan yang melakukan analisis statistik terhadap semua yang ditulis Nietzsche tentang Yahudi mengklaim bahwa referensi dan konteks yang memperjelas menunjukkan bahwa 85% komentar negatif adalah serangan terhadap doktrin Kristen atau, secara sarkastik, terhadap Richard Wagner.[butuh rujukan]
Nietzsche beranggapan bahwa antisemitisme modern adalah sesuatu yang tercela dan bertentangan dengan cita-cita ideal Eropa.[160] Penyebab antisemitisme, menurutnya, adalah karena tumbuhnya nasionalisme Eropa dan "kecemburuan dan kebencian" yang mewabah terhadap kesuksesan orang-orang Yahudi.[160] Ia menulis bahwa orang-orang Yahudi patut diberi ucapan terima kasih karena membantu menjunjung tinggi filsafat Yunani kuno,[160] karena telah melahirkan "manusia paling mulia (Kristus), filsuf paling murni (Baruch Spinoza), dan buku terkuat dan hukum moral paling efektif di dunia".[161]
Pernyataan "Tuhan telah mati" muncul dalam beberapa karya Nietzsche (terutama dalamThe Gay Science) dan telah menjadi salah satu pernyataannya yang paling terkenal. Karena itu, banyak komentator yang menganggap Nietzsche adalah seorangateis.[162] Menurut Nietzsche, perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatnyasekularisasi di Eropa telah secara efektif 'membunuh' TuhanIbrahim, yang sebelumnya telah menjadi basis nilai danarti kehidupan di Barat selama lebih dari seribu tahun. Kematian Tuhan dapat mendorong orang untuk beralih padanihilisme, suatu pandangan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang bermakna, dan bahwa hidup tidak memiliki tujuan. Meskipun Nietzsche menolak moralitas dan teologi Kristen tradisional, ia juga menolak nihilisme.
Nietzsche meyakini bahwa doktrin moral Kristen pada awalnya dibangun untuk melawan nihilisme. Hal ini memberikan orang-orang dengan kepercayaan tradisionalnilai-nilai moral yang baik dan jahat, kepercayaan kepada Tuhan (yang keberadaannya dapat dijadikan alasan untukmembenarkan adanya kejahatan di dunia), dan suatu kerangka pemikiran sebagai dasar bagikebenaran objektif. Dalam membangun sebuah dunia di mana pengetahuan obyektif dianggap mungkin, Kekristenan mempunyai fungsi untuk menangkal nihilisme — suatu bentuk keputusasaan karena tidak adanya arti objektif dari kehidupan. Seperti yang dikemukakan olehHeidegger, “Jika Tuhan sebagai landasan supraindrawi dan tujuan dari seluruh realitas sudah mati, jika dunia supraindrawi telah kehilangan kekuatan yang memaksa di atasnya, kekuatan yang menghidupkan dan membangun, maka tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan, yang dapat dipegang teguh oleh manusia sebagai tujuan hidupnya.”[163]
Salah satu reaksi terhadap hilangnya makna kehidupan adalah apa yang disebut Nietzsche sebagainihilisme pasif, yang ia anggap mewakilifilsafat pesimismeSchopenhauer. Ajaran Schopenhauer, yang juga disebut Nietzsche sebagaiBuddhisme Barat, adalah mengadvokasi pengunduran diri dari kehendak dan keinginan dengan tujuan untuk bebas dari penderitaan. Nietzsche menganggap sikapasketis ini sebagai "keinginan menuju ketiadaan". Menurutnya, keinginan menuju ketiadaan ini merupakan ciri khas kaum nihilis, meskipun dalam hal ini orang-orang nihilis tampak tidak konsisten; "keinginan menuju ketiadaan" ini masih merupakan suatu bentuk keinginan.[164]
Seorang nihilis adalah orang yang menilai bahwa dunia nyata ini, bahkan seluruh dunia seharusnya tidak ada. Menurut pandangan ini, keberadaan kita (tindakan,penderitaan, kemauan, perasaan) tidak ada artinya: kesia-siaan inilah yang mempunyaidaya tarik bagi para nihilis—sebuah ketidakkonsistenan bagi orang-orang nihilis.
—Friedrich Nietzsche, Complete Works: Critical study edition 12:9 [60], diambil dariThe Will to Power, bagian 585, diterjemahkan oleh Walter Kaufmann
Nietzsche melihat masalah nihilisme sebagai masalah yang sangat pribadi. Ia menyatakan bahwa dunia modern ini telah sadar dengan masalah ini.[165] Lebih lanjut, ia menekankan bahaya nihilisme dan kemungkinan akibatnya, seperti terlihat dalam pernyataannya, "Saya memuji, saya tidak mencela, kedatangan [nihilisme]. Saya percaya ini adalah salah satu krisis terbesar, sebuah momen dari refleksi kemanusiaan yang terdalam. Apakah manusia dapat pulih dari krisis ini, apakah ia mampu mengatasi krisis ini, adalah pertanyaan tentang kekuatannya!"[166] Menurut Nietzsche, hanya ketika nihilismediatasi maka suatu budaya dapat memiliki landasan yang kuat untuk berkembang dan maju. Nietzsche ingin mempercepat kedatangannya agar ia juga bisa mempercepat kepergiannya. Heidegger menafsirkan kematian Tuhan sebagai kematianmetafisika. Ia menyimpulkan bahwa metafisika telah mencapai puncaknya, dan bahwa nasib akhir dan kehancuran metafisika diproklamirkan dengan pernyataan “Tuhan sudah mati.”[167]
Para sarjana seperti Nishitani dan Parkes berpendapat bahwa pemikiran keagamaan Nietzsche selaras dengan para filsufBuddha, khususnya yang berasal dari tradisiMahayana.[168] Kadang-kadang, pemikiran keagamaan Nietzsche juga dianggap terkait dengan mistik Katolik sepertiMeister Eckhart.[169] Namun, peneliti Andrew Milne menentang interpretasi tersebut dengan alasan bahwa para pemikir dari tradisi agama Barat dan Timur sangat menekankan pembatasan keinginan dan penghilangan ego, sedangkan Nietzsche melakukan pembelaan yang kuat terhadap egoisme.[170] Milne berpendapat bahwa pemikiran Nietzsche dapat dipahami lebih baik dengan mengaitkannya dengan para pemikir yang dikagumi Nietzsche sendiri: “Heraclitus,Empedocles,Spinoza,Goethe".[171]
Salah satu elemen dalam filsafat Nietzsche adalah “kehendak untuk berkuasa” (der Wille zur Machtcode: de is deprecated), yang menurutnya memberikan dasar untuk memahami perilaku manusia—lebih dari penjelasan lain, seperti penjelasan tentang tekanan untuk beradaptasi atau bertahan hidup.[172] Oleh karena itu, menurut Nietzsche, dorongan untuk konservasi muncul sebagai motivator utama perilaku manusia atau hewan hanya dalam beberapa pengecualian, karena kondisi umum kehidupan bukanlah 'perjuangan untuk eksistensi'.[173] Seringkali, mempertahankan diri merupakan sebuah konsekuensi dari keinginan entitas yang hidup untuk mengerahkan kekuatannya di dunia luar.
Terkait dengan teorinya tentang kehendak untuk berkuasa adalah spekulasinya, yang ia anggap belum final,[174] mengenai realitas dunia fisik, termasuk materi anorganik — seperti afeksi dan dorongan manusia, bahwa dunia material juga diatur oleh suatu bentuk kehendak untuk berkuasa yang dinamik. Ia tampaknya menolakatomisme — suatu gagasan bahwa materi terdiri dari unit-unit (atom) yang stabil dan tidak dapat dibagi-bagi. Sebaliknya, ia tampaknya menerima kesimpulanRuđer Bošković yang berargumen bahwa kualitas materi adalah hasil interaksi antar kekuatan.[i][175] Salah satu studi tentang Nietzsche mendefinisikan konsepnya tentang kehendak untuk berkuasa sebagai "elemen yang menghasilkan perbedaan kuantitatif dari kekuatan-kekuatan yang terkait dan kualitas yang berpindah ke setiap kekuatan dalam hubungan ini"; ini menunjukkan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan "prinsip sintesis antar kekuatan".[176] Kekuatan seperti itu, menurut Nietzsche, mungkin dapat dipahami sebagai bentuk primitif dari kehendak. Demikian pula, ia menolak pandangan bahwa pergerakan benda diatur oleh hukum alam yang tidak dapat ditawar-tawar, dan sebaliknya menyatakan bahwa pergerakan diatur oleh hubungan kekuasaan antara benda dan kekuatan atau energi.[177]
Sebagian sarjana tidak setuju bahwa Nietzsche menganggap dunia material sebagai bentuk dari kehendak untuk berkuasa. Alasannya adalah Nietzsche sendiri mengkritik metafisika seluruhnya. Dengan memasukkan kehendak untuk berkuasa dalam dunia material, maka ia sama seperti membuat suatu sistem metafisika baru. Lebih lanjut, mereka menunjukkan bahwa selain terdapat dalam aforisme 36 dalamBeyond Good and Evil, yang menunjukkan Nietzsche mengajukan pertanyaan tentang kehendak untuk berkuasa dalam dunia material, ide tentang konsep kehendak untuk berkuasa hanya ada dalam catatan Nietzsche (yang tidak diterbitkan oleh dirinya). Sebagian sarjana juga mengklaim bahwa kehendak untuk berkuasa adalah konsep awal Nietzsche yang telah ia tinggalkan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya permintaan Nietzsche untuk membakar catatan-catatannya yang berisi konsep tersebut ketika dia meninggalkan Sils Maria pada tahun 1888.[178] Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun benar bahwa pada tahun 1888 Nietzsche ingin beberapa catatannya dibakar, hal ini tidak berarti bahwa Nietzsche telah meninggalkan proyek filsafatnya tentang kehendak untuk berkuasa karena catatan-catatan yang ia tinggalkan ini terutama berfokus pada topik-topik seperti kritik terhadap moralitas, bukan tentang perasaan berkuasa.[179]
"Kembalinya yang kekal" (juga dikenal sebagai "pengulangan abadi") adalah konsep hipotetis yang menyatakan bahwa alam semesta telah dan akan terus berulang secara terus menerus dalam ruang atau waktu yang tidak terhingga. Nietzsche pertama kali memperkenalkan gagasan kembalinya yang kekal dalam sebuah perumpamaan di Bagian 341 dariThe Gay Science, dan juga dalam bab "Of the Vision and the Riddle" diThus Spoke Zarathustra.[180] Nietzsche menganggap konsep ini berpotensi "mengerikan dan melumpuhkan", dan mengatakan bahwa bebannya adalah "beban terberat" yang dapat dibayangkan ("das schwerste Gewicht ").[181] Keinginan untuk kembalinya segala peristiwa secara abadi menandai penegasan afirmasi kehidupan, sebuah reaksi terhadap filsafatSchopenhauer yang menolak kehendak untuk hidup. Untuk memahami dan menerima pengulangan abadi, diperlukanamor fati, "cinta kepada takdir".[182] Seperti yang ditunjukkanHeidegger dalam kuliahnya tentang Nietzsche, Nietzsche pertama kali mempresentasikan konsep pengulangan abadi sebagaieksperimen pemikiran alih-alih menyatakannya sebagai fakta:[183]
Bagaimana jika suatu hari dalam kesendirianmu yang paling sepi, iblis datang mendekatimu dan berkata kepadamu, "Hidup ini, sebagaimana yang kamu jalani sekarang dan telah kamu alami, akan kamu jalani lagi berkali-kali tanpa henti; dan tidak akan ada yang baru di dalamnya, tetapi setiap rasa sakit dan setiap kegembiraan dan setiap pikiran dan keluh kesah serta segala hal yang tak terkatakan, entah kecil atau besar dalam hidupmu, akan terjadi lagi kepadamu, semua dalam rangkaian dan urutan yang sama"... Tidakkah kamu akan terjatuh dan mengutuk iblis yang berbicara demikian? Atau pernahkah kamu mengalami sesuatu yang begitu dahsyat sehingga kamu akan menjawab iblis tersebut: "Engkau adalah Tuhan dan aku tidak pernah mendengarkan kata-kata yang lebih ilahi daripada ini."[184]
DalamNietzsche: Life as Literature, filsuf Alexander Nehamas menulis bahwa terdapat tiga cara untuk memahami pengulangan abadi:
"Kehidupan saya akan terulang dengan cara yang persis sama:" ini mengungkapkan pendekatan yang sangatfatalistis terhadap gagasan tersebut;
“Kehidupan saya mungkin berulang dengan cara yang persis sama:” Pandangan kedua ini secara kondisional menegaskankosmologi, namun gagal menangkap apa yang dirujuk Nietzsche dalamThe Gay Science, hal.341;
"Jika hidup saya terulang kembali, maka hal itu hanya bisa terulang kembali dengan cara yang sama." Nehamas menunjukkan bahwa interpretasi ini sepenuhnya independen dari ilmu fisika dan tidak mengandaikan kebenaran kosmologi.
Pemikiran Nietzsche dianggap sebagai sebuah negasi terhadap gagasan keselamatan rohani.[185]
Konsep lain yang penting dalam filsafat Nietzsche adalahÜbermensch (manusia unggul atau adimanusia).[186][187][188][189] Dalam karyanya,Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche memperkenalkan konsep adimanusia. Menurut Laurence Lampert, "kematian Tuhan akan diikuti dengan meredupnya kesalehan beragama dan munculnya nihilisme (II.19; III.8). Pemberian Zarathustra kepada umat manusia yang tidak menyadari masalah tersebut adalah adimanusia sebagai solusinya."[190] Zarathustra mempresentasikan adimanusia sebagai pencipta nilai-nilai baru, dan ia tampil sebagai solusi terhadap masalah kematian Tuhan dan nihilisme. Adimanusia tidak mengikuti moralitas orang-orang kebanyakan yang mengutamakan keadaan yang biasa-biasa saja dan kenyamanan, tetapi ia melampaui gagasan tentangbaik dan jahat dan "naluri kawanan".[191] Dengan cara ini, Zarathustra menyatakan tujuan utamanya adalah mencapai keadaan adimanusia. Ia menginginkan semacam evolusi spiritual dalam kesadaran diri untuk melampaui pandangan tradisional tentang moralitas dan keadilan yang berasal dari kepercayaantakhayul yang telah mengakar kuat.[192]
Seperti yang tertulis dalamMaka Berbicaralah Zarathustra (Prolog Zarathustra; hal.9–11):
Aku mengajarimuÜbermensch. Manusia adalah sesuatu yang harus dilampaui. Apa yang sudah kamu lakukan untuk melampauinya? Semua makhluk sejauh ini telah menjadi sesuatu yang melampaui diri mereka sendiri: dan kamu ingin menjadi titik balik dari gelombang besar itu, dan lebih memilih kembali ke dunia binatang daripada melampaui manusia? Apa arti kera bagi manusia? Bahan tertawaan atau rasa malu yang menyakitkan. Demikian pula arti manusia bagi adimanusia: bahan tertawaan atau rasa malu yang menyakitkan... Lihatlah, aku mengajarkan adimanusia kepadamu. Adimanusia adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru: hendaknya adimanusia menjadi makna dunia ini.... Manusia adalah seutas tali yang direntangkan di antara binatang dan adimanusia — seutas tali di atas jurang yang dalam... Yang hebat dalam diri manusia adalah ia merupakan sebuah jembatan dan bukan sebuah tujuan.[193]
Koran yang diterbitkan Nazi pada tanggal 9 April 1939: "Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat."
Zarathustra mempertentangkan adimanusia denganmanusia terakhir modernitas egaliter (contoh paling jelas adalah dalam demokrasi), sebuah tujuan alternatif yang mungkin ditetapkan umat manusia untuk dirinya sendiri. Manusia terakhir hanya dapat terjadi jika umat manusia telah melahirkan makhlukapatis yang tidak memiliki ambisi atau komitmen besar, yang tidak mampu bermimpi, yang hanya mencari nafkah dan menghangatkan diri. Konsep ini muncul dalamMaka Berbicaralah Zarathustra, dan disajikan sebagai suatu kondisi yang membuat kelahiran adimanusia menjadi mustahil.[194]
Nazi berusaha memasukkan konsep tersebut ke dalam ideologi mereka dengan cara menciptakan supremasi ras atas ras-ras manusia lainnya. Setelah kematian Nietzsche,Elisabeth Förster-Nietzsche menjadi kurator dan editor manuskrip-manuskripnya. Dia selanjutnya mengolah kembali tulisan-tulisan Nietzsche yang tidak diterbitkan agar sejalan dengan ideologinasionalis Jerman, dan mengaburkan pendapat-pendapat Nietzsche yang secara eksplisit menentang antisemitisme dan nasionalisme. Melalui edisi yang diterbitkan oleh Elisabeth, karya Nietzsche dihubungkan denganfasisme danNazisme.[195] Para sarjana abad ke-20 menentang penafsiran ini dan mereka melakukan koreksi dalam karya-karya akademik mereka.
Nietzsche mempunyai pandangan yang pesimistis terhadap masyarakat dan budaya modern. Ia menganggap bahwa pers dan budaya massa terlalu menghargai konformitas, dan akibatnya, menghasilkan orang-orang yang medioker. Ia melihat sedikitnya kemajuan intelektual akan menyebabkan penurunan kualitas spesies manusia. Menurutnya, sebagian orang bisa menjadi manusia unggul jika mereka mempunyai kemauan yang keras. Dengan melampaui budaya massa, orang-orang tersebut akan menghasilkan manusia-manusia yang lebih unggul.[196]
Kediaman tiga tahun terakhir Nietzsche beserta arsipnya diWeimar, Jerman, yang menyimpan banyak makalah Nietzsche
Sebagai seorang ahlifilologi, Nietzsche memiliki pengetahuan yang luas tentangfilsafat Yunani Kuno. Selain itu, ia juga membaca filsafat-filsafat barat yang terkemuka di masanya seperti karya-karyaKant,Plato,Mill,Schopenhauer danSpir.[197] Banyak dari filsuf barat yang menjadi lawan utama dalam filsafatnya. Ia selanjutnya juga mempelajari pemikiranBaruch Spinoza, yang ia lihat sebagai "pendahulunya" dalam banyak hal,[198][199] meski ia juga menganggap Spinoza sebagai personifikasi dari "cita-cita asketisme". Nietzsche menyebut Kant sebagai seorang "fanatik moral"; menganggap Plato "membosankan", Mill sebagai "orang dungu."[200] Ia juga menyatakan kebenciannya terhadap penulis InggrisGeorge Eliot.[201]
Filsafat Nietzsche, meskipun inovatif dan revolusioner, terinspirasi dari banyak pendahulunya. Selama menjadi profesor di Basel, Nietzsche memberi kuliah tentang filsafat pra-Sokrates selama beberapa tahun, dan materi-materi dari kuliah ini sering dianggap sebagai "rantai yang hilang" dalam perkembangan pemikirannya. “Di dalamnya, konsep-konsep seperti kehendak untuk berkuasa, pengulangan abadi, manusia yang unggul, sains yang mengasyikan, mengatasi diri sendiri dan sebagainya terkadang dikaitkan dengan filsafat Yunani Kuno tertentu sebelum Plato dan Sokrates, seperti Heraclitus."[202] Pemikir filsafatpra-SocratesHeraclitus terkenal karena menolak konsepkeberadaan yang konstan dan abadi; sebaliknya ia menganut "fluks" dan perubahan yang tiada henti dalam kehidupan. Simbolismenya tentang dunia sebagai "permainan anak-anak" yang ditandai dengan spontanitas amoral dan kurangnya aturan yang pasti diapresiasi oleh Nietzsche.[203] Karena simpatinya terhadap pemikiran Heraclitus, Nietzsche juga merupakan seorang kritikus yang keras terhadapParmenides yang memandang dunia sebagai satu Wujud yang tidak berubah.[204]
Dalam bukunyaEgotism in German Philosophy, penulisGeorge Santayana menyatakan bahwa keseluruhan filsafat Nietzsche merupakan respons terhadap filsafat Schopenhauer. Santayana menulis bahwa karya Nietzsche adalah "sebuah revisi terhadap karya Schopenhauer. Kehendak untuk hidup berubah menjadi kehendak untuk berkuasa; pesimisme yang didasarkan pada proses refleksi berubah menjadi optimisme yang didasarkan pada keberanian; kegelisahan kehendak dalam kontemplasi akan menghasilkan penjelasan yang lebih biologis tentang kecerdasan dan rasa; akhirnya, untuk merespon perasaan belas kasih dan asketisme (dua prinsip moral Schopenhauer), Nietzsche menjadikan suatu kewajiban untuk menguatkan kehendak dengan segala cara dan menjadi kuat dengan kejam tetapi indah. Poin-poin perbedaan dari Schopenhauer ini mencakup keseluruhan filsafat Nietzsche."[205][206]
Pada tahun 1861, Nietzsche dengan antusias menulis esai tentang penyair favoritnya yang terlupakan pada waktu itu,Friedrich Hölderlin.[226] Ia juga menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadapIndian Summer karya Stifter,[227]Manfred karya Byron, danTwain karyaTom Sawyer.[228]
Karya-karya Nietzsche tidak mendapatkan penerimaan yang luas selama ia aktif menulis. Namun, pada tahun 1888, kritikus Denmark yang berpengaruh,Georg Brandes, membangkitkan minat yang besar kepada Nietzsche setelah ia memberikan kuliah tentang filsafat Nietzsche diUniversitas Kopenhagen. Beberapa tahun setelah kematiannya, karya-karya Nietzsche menjadi lebih dikenal, dan para pembacanya meresponsnya dengan cara yang kompleks dan terkadang kontroversial.[229] Banyak orang Jerman yang tertarik dengan seruan Nietzsche tentangindividualisme dan pengembangan karakter pribadi dalamThus Spoke Zarathustra. Nietzsche juga mempunyai beberapa pengikut di kalangan sayap kiri Jerman pada tahun 1890-an; pada tahun 1894–1895 kelompok konservatif Jerman ingin melarang peredaran karyanya karena dianggapsubversif. Pada akhir abad ke-19, gagasan Nietzscheumumnya dikaitkan dengan gerakan anarkisme dan tampaknya mempunyai pengaruh pada gerakan anarkisme, khususnya di Prancis dan Amerika Serikat.[230][231][232] PenulisHL Mencken menulis buku pertama tentang Nietzsche dalam bahasa Inggris pada tahun 1907,The Philosophy of Friedrich Nietzsche.[233]
PenyairWB Yeats dan Arthur Symons menganggap Nietzsche sebagai pewaris intelektualWilliam Blake.[237] Symons kemudian membandingkan gagasan kedua pemikir itu dalamThe Symbolist Movement in Literature, sedangkan Yeats berusaha untuk meningkatkan kesadaran umum tentang Nietzsche di Irlandia.[238][239][240] Gagasan serupa juga didukung oleh penyairWH Auden yang menulis tentang Nietzsche dalamNew Year Letter -nya (dirilis pada tahun 1941 dalamThe Double Man): "Wahaidebunker kekeliruan liberal... sepanjang hidup Anda, Anda menyerang, seperti pendahulu Inggris Anda, Blake."[241][242][243] Nietzsche juga memberikan pengaruh pada para komposer. Penulis Donald Mitchell memandang bahwa komposerGustav Mahler "tertarik pada api puitis Zarathustra, tetapi menolak esensi utama dari tulisannya". Dia menambahkan bahwa Mahler juga dipengaruhi oleh konsepsi Nietzsche dan pendekatan afirmatif terhadap alam, yang disajikan Mahler dalamThird Symphony-nya menggunakanroundelay Zarathustra. KomposerFrederick Delius memproduseri musik paduan suara,A Mass of Life, berdasarkan teksThus Spoke Zarathustra, sedangkanRichard Strauss (dengan mendasarkan padaThus Spoke Zarathustra), tertarik untuk menyelesaikan "bab lain dari simfoni autobiografi".[244] Penulis dan penyair lain yang dipengaruhi oleh Nietzsche antara lainAndré Gide,[245]August Strindberg,[246] Robinson Jeffers,[247] Pío Baroja,[248]DH Lawrence,[249] Edith Södergran[250] danYukio Mishima.[251]
Nietzsche mempunyai pengaruh awal pada puisi-puisi karyaRainer Maria Rilke.[252] Penulis romanKnut Hamsun menganggap Nietzsche,Strindberg dan Dostoyevsky, sebagai inspirasi utamanya.[253] PenulisJack London menulis bahwa dia lebih tertarik kepada Nietzsche dibandingkan penulis lainnya.[254] Kritikus berpendapat bahwa karakter David Grief dalamA Son of the Sun didasarkan pada Nietzsche.[255] Pengaruh Nietzsche terhadapMuhammad Iqbal terdapat dalam karyanya,Asrar-i-Khudi (Rahasia Diri).[256] Di Rusia, Nietzsche mempengaruhisimbolisme Rusia[257] dan tokoh-tokoh seperti Dmitry Merezhkovsky,[258]Andrei Bely,[259]Vyacheslav Ivanov danAlexander Scriabin. Mereka memasukkan atau mendiskusikan sebagian ide-ide filsafat Nietzsche dalam karya-karya mereka. NovelThomas Mann,Death in Venice,[260] menunjukkan penggunaan Apollonian dan Dionysian, dan dalamDoctor Faustus, Nietzsche adalah sumber utama dari karakter Adrian Leverkühn.[261][262] DalamNarcissus dan Goldmund, novelisHermann Hesse menampilkan dua karakter utama sebagai roh Apollonian dan Dionysian yang berlawanan tetapi saling berkaitan. Pelukis Giovanni Segantini terpesona olehMaka Berbicaralah Zarathustra, dan dia membuat ilustrasi untuk terjemahan pertama buku tersebut dalam bahasa Italia. Pelukis Rusia Lena Hades menciptakan siklus lukisan cat minyakMaka Berbicaralah Zarathustra yang didedikasikan untuk Nietzsche.[263]
MenjelangPerang Dunia I, Nietzsche telah mempunyai reputasi sebagai inspirasi bagimiliterisme sayap kanan Jerman dan politik kiri. Tentara Jerman menerima salinanThus Spoke Zarathustra sebagai hadiah selama Perang Dunia I.[264][265] Ketenaran Nietzsche yang meningkat membuatnya dikaitkan denganAdolf Hitler danNazi Jerman. Di kalangan sarjana, masih belum terdapat konsensus apakah Hitler benar-benar membaca Nietzsche; jika dia telah membaca karya Nietzsche, kemungkinan tidak secara ekstensif.[ii][iii][266][267] Hitler dikabarkan sering berkunjung ke museum Nietzsche di Weimar dan menggunakan ekspresi Nietzsche, seperti "penguasa bumi" dalam karyanya,Mein Kampf.[268] Partai Nazi secara selektif juga menggunakan filosofi Nietzsche untuk ideologinya.Alfred Baeumler merupakan pendukung pemikiran Nietzsche yang paling menonjol di Nazi Jerman. Pada tahun 1931, sebelum Nazi berkuasa, Baeumler telah menerbitkan bukunya "Nietzsche, Philosopher and Politician." Ia kemudian menerbitkan beberapa edisi karya Nietzsche selama pemerintahan Third Reich.[269][270]Mussolini,[271][272]Charles de Gaulle[273] danHuey P. Newton[274] dikabarkan juga telah membaca karya Nietzsche.Richard Nixon membaca Nietzsche karena adanya rasa keingintahuan. Bukunya,Beyond Peace, kemungkinan terinspirasi dari judul buku NietzscheBeyond Good and Evil yang dibaca Nixon sebelumnya.[275] FilsufBertrand Russell memandang bahwa Nietzsche telah memberikan pengaruh besar pada para filsuf dan para artis, budayawan dan sastrawan. Namun, Russell juga mengingatkan bahwa upaya untuk menerapkan filsafat aristokrasi Nietzsche hanya dapat dilakukan oleh organisasi yang mirip dengan partai Fasis atau Nazi.[276]
Filsuf Albert Camus menggambarkan Nietzsche sebagai "satu-satunya artis yang memperoleh konsekuensi ekstrem dari sistem estetika yangabsurd".[277] PsikologCarl Jung juga dipengaruhi oleh Nietzsche.[278] DalamMemories, Dreams, Reflections, sebuah biografi yang ditulis oleh sekretarisnya, ia menyebut Nietzsche sebagai inspirasi.[279] Aspek filsafat Nietzsche, terutama gagasannya tentang diri dan hubungannya dengan masyarakat, terdapat dalam banyak pemikiran pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.[280][281] Tulisan-tulisan Nietzsche tentang tradisi romantis-heroik abad kesembilan belas, sebagaimana diungkapkan dalam cita-cita "pejuang yang hebat" juga muncul dalam karya para pemikir mulai dariCornelius Castoriadis hinggaRoberto Mangabeira Unger.[282] Bagi Nietzsche, perjuangan besar diperlukan bagi seorang individu untuk mengatasi hambatan dan tantangan dalam hidup, terlibat dalam perjuangan epik, mengejar tujuan baru, merangkul hal-hal baru, dan melampaui struktur dan konteks yang ada.[280] Filsafat Nietzsche telah mempengaruhi para filsuf setelahnya sepertiMartin Heidegger,Jean-Paul Sartre,[283]Oswald Spengler,[284]Emil Cioran,[285]Ayn Rand,[286]Jacques Derrida,[287]Leo Strauss,[288]Max Scheler,Michel Foucault,[289] danBernard Williams.[290]
The Will to Power (berbagai manuskrip yang tidak diterbitkan telah diedit oleh saudara perempuannyaElisabeth; tidak diakui sebagai karya orisinal Nietzsche setelahca1960)
↑Nietzsche comments in many notes about the matter being a hypothesis drawn from the metaphysics of substance.Whitlock, G. (1996). "Roger Boscovich, Benedict de Spinoza and Friedrich Nietzsche: The Untold Story".Nietzsche-Studien.25: 207.doi:10.1515/9783110244441.200.
↑Trevor-Roper, Hugh. [1972] 2008. "Introductory essay for 'Hitler's Table Talk 1941–1944 Secret Conversations'." InThe Mind of Adolf Hitler. Enigma Books. p. xxxvii: "We know, from his [Hitler's] secretary, that he could quote Schopenhauer by the page, and the other German philosopher of willpower, Nietzsche, whose works he afterward presented toMussolini, was often on his lips."
↑Kershaw, Ian.Hitler: Hubris 1889–1936. W. W. Norton. hlm.240.'Landsberg,' Hitler toldHans Frank, was his 'university paid for by the state.' He read, he said, everything he could get hold of: Nietzsche,Houston Stewart Chamberlain,Ranke,Treitschke,Marx,Bismarck's Thoughts and Memories, and the war memoirs of German and allied generals and statesmen.... But Hitler's reading and reflection collection were anything but academic, doubtless, he did read much. However, as was noted in an earlier chapter, he made clear inMy Struggle that reading for him had purely an instrumental purpose. He read not for knowledge or enlightenment, but for confirmation of his own preconceptions. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
"Some interpreters of Nietzsche believe he embraced nihilism, rejected philosophical reasoning, and promoted a literary exploration of the human condition, while not being concerned with gaining truth and knowledge in the traditional sense of those terms. However, other interpreters of Nietzsche say that in attempting to counteract the predicted rise of nihilism, he was engaged in a positive program to reaffirm life, and so he called for a radical, naturalistic rethinking of the nature of human existence, knowledge, and morality."Wilkerson, Dale."Friedrich Nietzsche".Ensiklopedia Internet Filsafat.ISSN2161-0002..
"Nietzsche's increasing determination, however, in his later writings, to avoid philosophical nihilisms of every variety, leads him to wonder whether it might not be possible to achieve an understanding of what fuels the foregoing dialectic of a sort that would allow one to head in an altogether different philosophical direction."Conant, James F. (2005)."The Dialectic of Perspectivism, I"(PDF).Sats: Nordic Journal of Philosophy.6 (2). Philosophia Press:5–50.
↑Conway, Daniel (1999). "Beyond Truth and Appearance: Nietzsche's Emergent Realism". Dalam Babich, Babette E. (ed.).Nietzsche, Epistemology, and Philosophy of Science. Boston Studies in the Philosophy of Science. Vol.204. Dordrecht: Springer. hlm.109–122.doi:10.1007/978-94-017-2428-9_9.ISBN978-90-481-5234-6.
↑His "valedictorian paper" (Valediktionsarbeitcode: de is deprecated, graduation thesis for Pforta students) was titled "On Theognis of Megara" ("De Theognide Megarensi"); seeJensen& Heit 2014
12Schaberg, William (1996).The Nietzsche Canon. University of Chicago Press. hlm.32.
↑Salaquarda, Jörg (1996). "Nietzsche and the Judaeo-Christian tradition".The Cambridge Companion to Nietzsche.Cambridge University Press. hlm.99.
↑The Life of Jesus, Critically Examined by David Friedrich Strauss 2010ISBN1-61640-309-8 pages 39–43 and 87–91
↑The Making of the New Spirituality by James A. Herrick 2003ISBN0-8308-2398-0 pages 58–65
↑Familiar Stranger: An Introduction to Jesus of Nazareth by Michael J. McClymond (Mar 22, 2004)ISBN0802826806 page 82
↑Higgins, Kathleen (2000).What Nietzsche Really Said. New York:Random House. hlm.86.
↑Hecker, Hellmuth (1987). "Nietzsches Staatsangehörigkeit als Rechtsfrage"[Nietzsche's nationality as a legal question].Neue Juristische Wochenschrift (dalam bahasa Jerman).40:1388–1391.
↑His, Eduard. 1941. "Friedrich Nietzsches Heimatlosigkeit."Basler Zeitschrift für Geschichte und Altertumskunde 40:159–186. Note that some authors (incl. Deussen and Montinari) mistakenly claim that Nietzsche became a Swiss citizen to become a university professor.
↑Deussen, Paul (1901).Erinnerungen a Friedrich Nietzsche[Memoirs of Friedrich Nietzsche] (dalam bahasa Jerman). Leipzig: F. A. Brockhaus. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Green, M. S. (2002).Nietzsche and the Transcendental Tradition. University of Illinois Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)[perlu rujukan lengkap]
↑Safranski, Rüdiger (2003).Nietzsche: A Philosophical Biography. Diterjemahkan oleh Frisch, Shelley.W. W. Norton & Company. hlm.161.This work had long been consigned to oblivion, but it had a lasting impact on Nietzsche. Section 18 ofHuman, All Too Human cited Spir, not by name, but by presenting a 'proposition by an outstanding logician' (2,38; HH I §18). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Verrecchia, Anacleto (1988). "Nietzsche's Breakdown in Turin". Dalam Harrison, T. (ed.).Nietzsche in Italy. Stanford: ANMA Libri,Stanford University. hlm.105–112.
↑Simon, Gerald (January 1889)."Nietzsches Briefe. Ausgewählte Korrespondenz. Wahnbriefe"[Nietzsche's letters. Selected Correspondence. delusional letters.] (dalam bahasa Jerman). The Nietzsche Channel. Diakses tanggal24 August 2013.Ich habe Kaiphas in Ketten legen lassen; auch bin ich voriges Jahr von den deutschen Ärzten auf eine sehr langwierige Weise gekreuzigt worden. Wilhelm, Bismarck und alle Antisemiten abgeschafft.
↑Zweig, Stefan (1939).The Struggle with the Daimon: Hölderlin, Kleist and Nietzsche. Master Builders of the Spirit. Vol.2. Viking Press. hlm.524. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Steiner, Rudolf (1895).Friedrich Nietzsche, in Kämpfer seine Zeit[Friedrich Nietzsche, in Fighters of His Time] (dalam bahasa Jerman). Weimar. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
↑Bailey, Andrew (2002).First Philosophy: Fundamental Problems and Readings in Philosophy. Broadview Press. hlm.704. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Girard, René (1976). "Superman in the Underground: Strategies of Madness – Nietzsche, Wagner, and Dostoevsky".Modern Language Notes.91:1161–1185.doi:10.2307/2907130.JSTOR2907130.
↑Orth, M.; Trimble, M. R. (2006). "Friedrich Nietzsche's mental illness – general paralysis of the insane vs. frontotemporal dementia".Acta Psychiatrica Scandinavica.114 (6):439–444, discussion 445.doi:10.1111/j.1600-0447.2006.00827.x.PMID17087793.
↑Hemelsoet, D.; Hemelsoet, K.; Devreese, D. (March 2008). "The neurological illness of Friedrich Nietzsche".Acta Neurologica Belgica.108 (1):9–16.PMID18575181.
↑Concurring reports in Elisabeth Förster-Nietzsche's biography (1904) and a letter by Mathilde Schenk-Nietzsche to Meta von Salis, 30 August 1900, quoted in Janz (1981) p. 221. Cf. Volz (1990), p. 251.
↑Janz, Curt Paul (1978).Friedrich Nietzsche: Biographie[Friedrich Nietzsche: Biography] (dalam bahasa Jerman). Vol.1. Munich: Carl Hanser Verlag. hlm.263.Er beantragte also bei der preussischen Behörde seine Expatriierung. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Colli, Giorgio; Montinari, Mazzino (1993). "Entlassungsurkunde für den Professor Friedrich Wilhelm Nietzsche aus Naumburg"[Dismissal certificate for Professor Friedrich Wilhelm Nietzsche from Naumburg].Nietzsche Briefwechsel[Nietzsche Correspondence]. Kritische Gesamtausgabe (dalam bahasa Jerman). Vol.4. Berlin:Walter de Gruyter. hlm.566.ISBN978-3-11-012277-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Warberg, Ulla-Karin."Nietzsche's ring".auktionsverket.com. Östermalm, Stockholm: Stockholms Auktionsverk. Diarsipkan dariasli tanggal 24 June 2017. Diakses tanggal16 August 2018.Nietzsche's ring... it was worn by Friedrich Nietzsche and it represents the ancient Radwan coat of arms, which can be traced back to the Polish nobility of medieval times.
↑Niesiecki, Kasper; Bobrowicz, Jan Nepomucen (1841)."Radwan Herb"[Radwan Coat of Arms](Online book).Herbarz Polski Kaspra Niesieckiego S.J., powiększony dodatkami z poźniejszych autorów, rękopismów, dowodów urzędowych i wydany przez Jana Nep. Bobrowicza[Polish armorial of Kasper Niesiecki S.J., enlarged by additions from other authors, manuscripts, official proofs and published by Jan Nep. Bobrowicz.] (Noble/szlachta genealogical and heraldic reference) (dalam bahasa Polski). Vol.VIII. Leipzig, Germany: Breitkopf & Härtel. hlm.28.Herbowni ... Nicki, ... (Heraldic Family ... Nicki, ...) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Warberg, Ulla-Karin."Nietzsche's ring".auktionsverket.com. Östermalm, Stockholm: Stockholms Auktionsverk. Diarsipkan dariasli tanggal 24 June 2017. Diakses tanggal16 August 2018.In 1905, the Polish writer Bernhard Scharlitt in the spirit of Polish patriotism wrote an article about the Nietzsche family. In Herbarz Polski, a genealogy of Polish nobility, he had come across a note about a family named 'Nicki,' who could be traced back to Radwan. A member of this family named Gotard Nietzsche had left Poland for Prussia, and his descendants had eventually settled in Saxony around the year 1700.
↑Deussen, Paul (1901).Erinnerungen a Friedrich Nietzsche[Memoirs of Friedrich Nietzsche] (dalam bahasa Jerman). Leipzig: F.A. Brockhaus. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Yockey, Francis (2013).Imperium: The Philosophy of History and Politics. The Palingenesis Project (Wermod and Wermod Publishing Group).ISBN978-0-9561835-7-6.
↑Nietzsche, Friedrich; Lacewing, Michael."Nietzsche on master and slave morality"(PDF).Amazon Online Web Services.Routledge, Taylor & Francis Group. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 10 May 2016. Diakses tanggal29 September 2019.
↑Nietzsche, Friedrich; Lacewing, Michael."Nietzsche on master and slave morality"(PDF).Amazon Online Web Services.Routledge, Taylor & Francis Group. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 10 May 2016. Diakses tanggal29 September 2019.
↑Nietzsche, Friedrich; Lacewing, Michael."Nietzsche on master and slave morality"(PDF).Amazon Online Web Services.Routledge, Taylor & Francis Group. Diarsipkan dariasli(PDF) tanggal 10 May 2016. Diakses tanggal29 September 2019.
↑Leddy, Thomas (14 June 2006). "Project MUSE – Nietzsche's Mirror: The World as Will to Power (review)".The Journal of Nietzsche Studies.31 (1):66–68.doi:10.1353/nie.2006.0006.
↑Huang, Jing (19 March 2019). "Did Nietzsche want his notes burned? Some reflections on theNachlass problem".British Journal for the History of Philosophy.27 (6):1194–1214.doi:10.1080/09608788.2019.1570078.
↑Nietzsche, Friedrich (1954).The Portable Nietzsche. Diterjemahkan oleh Walter Kaufmann. New York: Penguin.
↑Nietzsche, Friedrich (2006). Adrian Del Caro; Robert Pippin (ed.).Nietzsche: Thus Spoke Zarathustra. Cambridge: Cambridge University Press.ISBN978-0-521-60261-7.
↑Martin, Clancy; Higgins, Kathleen M.; Solomon, Robert C.; Stade, George (2005).Thus Spoke Zarathustra. New York: Barnes & Noble Books. hlm.9–11.ISBN978-1-59308-384-7.
↑Golomb, Jacob; Wistrich, Robert S., ed. (2002).Nietzsche, Godfather of Fascism?: On the Uses and Abuses of a Philosophy. Princeton, NJ:Princeton University Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Jason Maurice Yonover: "Nietzsche, Spinoza, and Philosophical Etiology (On the Example of Free Will)", in:European Journal of Philosophy (forthcoming).
↑Le Rider, Jacques. 1999.Nietzsche en France. De la fin du XIXe siècle au temps présent. Paris: PUF. pp. 8–9, as cited in Grzelczyk, Johan. 2005. "Féré et Nietzsche: au sujet de la décadence"(dalambahasaPrancis).Error in webarchive template: Check|url= value. Empty.. viaHyperNietzsche.
↑Wahrig-Schmidt, B. (1988). "Irgendwie, jedenfalls physiologisch. Friedrich Nietzsche, Alexandre Herzen (fils) und Charles Féré 1888"[Somehow, at least physiologically. Friedrich Nietzsche, Alexandre Herzen (fils) and Charles Féré 1888.].Nietzsche Studien (dalam bahasa Jerman).17. Berlin:Walter de Gruyter: 439., as cited inGrzelczyk, Johan (2005)."Féré et Nietzsche: au sujet de la décadence"[Féré and Nietzsche: about decadence] (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dariasli tanggal 16 November 2006.
12Montinari, Mazzino (1996).La Volonté de puissance' n'existe pas[The Will to Power does not exist] (dalam bahasa Prancis). Éditions de l'Éclat. hlm.13. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Meyer-Sickendiek, Burkhard. 2004. "Nietzsche's Aesthetic Solution to the Problem of Epigonism in the Nineteenth Century." InNietzsche and Antiquity: His Reaction and Response to the Classical Tradition, edited by P. Bishop. Woodbridge, UK: Boydell & Brewer. p. 323.
↑Coste, Bénédicte (15 December 2016). "The Romantics of 1909: Arthur Symons, Pierre Lasserre and T.E. Hulme".E-rea.14 (1).doi:10.4000/erea.5609.ISSN1638-1718.
↑Mier-Cruz, Benjamin (5 February 2021). "Edith Södergran's Genderqueer Modernism".Humanities.10 (1): 28.doi:10.3390/h10010028.ISSN2076-0787. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
↑Aschheim, Steven E. (1992).The Nietzsche Legacy in Germany, 1890–1990. Berkeley and Los Angeles. hlm.135.[a]bout 150,000 copies of a specially durable wartimeZarathustra were distributed to the troops Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
↑Santaniello, Weaver (1994).Nietzsche, God, and the Jews. SUNY Press. hlm.41.Hitler probably never read a word of Nietzsche. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Shirer, William L. (1959).The Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany. Touchstone. hlm.100–101. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Baeumler, Alfred (1931).Nietzsche, der Philosoph und Politiker[Nietzsche, the philosophy and politics] (dalam bahasa Jerman). Leipzig: Reclam.
↑Falasca-Zamponi, Simonetta (2000).Fascist Spectacle: The Aesthetics of Power in Mussolini's Italy.University of California Press. hlm.44.In 1908 he presented his conception of the superman's role in modern society in a writing on Nietzsche titled "The Philosophy of Force"
↑Gaddis, J. L.; Gordon, P. H.; May, E. R.; Rosenberg, J. (1999).Cold War Statesmen Confront the Bomb.Oxford University Press. hlm.217.The son of a history teacher, de Gaulle read voraciously as a boy and young man—Jacques Bainville,Henri Bergson, Friederich[sic] Nietzsche,Maurice Barres—and was steeped in conservative French historical and philosophical traditions. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Crowley, Monica (1998).Nixon in Winter. I.B. Tauris. hlm.351.He read with curious interest the writings of Friedrich Nietzsche [...] Nixon asked to borrow my copy ofBeyond Good and Evil, a title that inspired the title of his final book,Beyond Peace. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Belliotti, Raymond A. (2013).Jesus or Nietzsche: How Should We Live Our Lives?. Rodopi. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Kuipers, Ronald A. (2011). "Turning Memory into Prophecy: Roberto Unger and Paul Ricoeur on the Human Condition Between Past and Future".The Heythrop Journal:1–10.
↑Rorty, Richard (1988). "Unger, Castoriadis, and the Romance of a National Future".Northwestern University Law Review.82: 39.