D.T. Suzuki | |
---|---|
![]() kira-kira 1953 | |
Lahir | Teitarō Suzuki 18 Oktober1870 Honda-machi |
Meninggal | 12 Juli1966 Tokyo |
Penghargaan
| |
![]() ![]() ![]() ![]() |
Daisetz Teitaro Suzuki (鈴木 大拙 Suzuki Daisetz, 18 Oktober 1870 – 12 Juli 1966) (Nama Buddhist “Daisetz” yang berarti "Kesederhanaan Agung" / "Great Simplicity", diberikan padanya oleh guruZennya,Soyen Shaku) adalah seorang penulis buku terkenal diJepang dan risalah-risalah mengenaiBuddhisme,Zen danShin, yang mempunyai pengaruh akan penyebaranZen danShin (dan juga filosofi Timur pada umumnya) kepada dunia Barat. Suzuki juga merupakan seorang penerjemah literaturTionghoa,Jepang danSanskerta. Suzuki menghabiskan waktu merentangkan pengajaran dan ceramah panjang di universitas di negara barat, dan mengabdi selama beberapa tahun sebagai seorangguru besar di sebuah universitas Buddhist Jepang,Otani.
D. T. Suzuki lahir dengan nama Teitarō Suzuki diHonda-machi,Kanazawa,Ishikawa, termuda dari lima bersaudara, anak seorang dokter Ryojun Suzuki. Walaupun tempat kelahirannya sudah tidak ada, sebuah monument menandai lokasi tersebut. Suzuki terlahir dalam golonganSamurai yang mengalami kemunduran bersamaan dengan jatuhnya pemerintahanfeodal. Sepeninggalan ayahnya, Ibunda Suzuki (Masu - nama lengkap tidak diketahui), seorang penganut BuddhisJodo Shinshu, terpaksa membesarkannya dalam keadaan miskin.Ketika ia mencapai usia dewasa, ia membayangkan nasibnya untuk terlahir pada situasi tersebut, ia kemudian mulai untuk mencari jawaban pada berbagai ragam kepercayaan. Kecerdasan alami yang tajam dan filosofis menemukan kesulitan untuk menerima sebagian darikosmologi akan apa yang ia hadapi.
Suzuki belajar diUniversitas Tokyo dan secara bersamaan mulai berlatihZen diEngaku-ji di daerahKamakura bersama dengan Soyen Shaku. Dibawah pengawasanSoyen Shaku, pelajaran yang didapat Suzuki pada dasarnya mengenai hal bathin dan nonverbal, termasuk didalamnya duduk meditasi dalam waktu yang lama (zazen). Tugas-tugas mencakup, seperti yang digambarkan oleh Suzuki sebagai pergumulanmental,fisik,moral dan kecerdasan selama empat tahun.
Selama periode pelatihan diEngaku-ji, Suzuki menjalani kehidupan layaknya seorangbiksu. Ia menggambarkan kehidupannya ini dan pengalamannya diKamakura dalam bukunya Pelatihan Biksu Buddhist Zen –The Training of the Zen Buddhist Monk. Pada tahun1890, Suzuki diundang olehSoyen Shaku untuk berkunjung keAmerica. Suzuki berperan sebagai penerjemahbahasa Inggris dari buku yang ia tulis sendiri (1906). Walaupun sampai dengan saat itu Suzuki telah menterjemahkan beberapa naskah berbahasa Asia kuno kedalam bahasa Inggris (contoh: Kebangkitan KepercayaanMahayana –Awakening of Faith in the Mahayana), peran-nya dalam menerjemahkan dan aspek sebagai penulis-bayangan terhadap buku ini merupakan permulaan karier Suzuki sebagai penulis dalambahasa Inggris.
Pada usia muda, Suzuki telah menetapkan diri untuk mendapatkan pengetahuan dalambahasa Tionghoa,Sanskerta,Pali dan beberapa bahasaEropa. Soyen Shaku merupakan salah satu pembicara undangan pada Parlemen Dunia akan Keagamaan (World Parliament of Religions) yang diadakan di Chicago pada tahun1893. Ketika seorang Ilmiawan Jerman yang bertempat tinggal diLaSalle –Illinois, Dr.Paul Carus, mendekati Soyen Shaku untuk meminta bantuan guna menterjemahkan dan mempersiapkan literature spiritual dunia Timur yang akan dipublikasikan di dunia Barat, yang kemudian alih-alih merekomendasikan pengikutnya Suzuki untuk tugas tersebut. Suzuki menetap di rumah Dr. Carus,Hegeler Carus Mansion, dan bekerja dengannya, yang pada awalnya menterjemahkan naskah klasikTao Te Ching dari Tionigkok kuno. Di Illinois, Suzuki memulai pekerjaan awalnya dalam Garis Besar BuddhismeMahayana –Outline of Mahayana Buddhism.
Dr.Paul Carus sendiri telah menulis sebuah buku yang memberikan pengertian, dan pandangan akan, Buddhisme, berjudulThe Gospel of Buddha. Soyen Shaku menuliskan pengenalan akan buku tersebut, dan Suzuki menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang. Pada saat itu, sekitaran abad tersebut, beberapa orang Barat dan orang Asia (Carus, Soen, dan Suzuki juga termasuk) terlibat pada pemulihan Buddhist secara mendunia yang telah mulai secara perlahan sekitar tahun1880-an.
Selain tinggal diAmerika, Suzuki juga melakukan perjalanan ke beberapa daerah diEropa sebelum menerima tugas sebagai guru besar diJepang. Suzuki menikahi Beatrice Erskine Lane, seorangteosofi, yang memiliki banyak kontak dengankepercayaan Bahá'í baik di Amerika dan di Jepang, dan seorang lulusanRadcliffe, pada tahun1911. Kemudian Suzuki sendiri bergabung denganPerkumpulan Ilmu Tasauf Adyar dan merupakan seorang teosofi yang aktif. Mereka mengabdikan diri mereka untuk penyebaran suatu pengertian akan Buddhisme Mahayana, mereka tinggal di sebuah pondok di wilayah Engaku-ji hingga tahun1919, kemudian pindah keKyoto, dimana Suzuki memulai tugasnya sebagai guru besar diUniversitas Otani pada tahun1921. Ketika ia berada diKyoto, ia mengunjungi Dr. Hoseki Shinichi Hisamatsu, ilmiawan Buddhist Zen yang terkenal, dan membicarakan perihal Buddhisme Zen bersama-sama diKuil Shunkoin di lingkungan kuilMyoshinji.
Pada tahun dimana ia bergabung dengan Universitas Otani, ia dan istrinya, Beatrice, mendirikanPerkumpulan Buddhist Negara Timur (the Eastern Buddhist Society); Perkumpulan terpusatkan pada BuddhismeMahayana dan menawarkan ceramah dan seminar, dan menerbitkan catatan ilmiah,The Eastern BuddhistDiarsipkan 2008-12-18 diWayback Machine.. Suzuki mempertahankan hubungan dengan Negara Barat dan, sebagai contoh, menyampaikan tulisan ke Kongres Dunia akan Kepercayaan pada tahun1936, diUniversitas London (Pada tahun tersebut, ia ikut serta dalam program pertukaran guru besar).
Disamping mengajarkan budaya Buddhisme Zen dan Sejarah Zen (atauChan), Suzuki adalah seorang ilmiawan ahli dalam hal filosofi yang berhubungan, atau dalam bahasa Jepang,Kegon – yang ia anggap sebagai penguraian cermat akan pengalaman Zen.
Masih menjabat sebagai seorang guru besar dalam bidang filosofi Buddhist dalam pertengahan abad ke duapuluh, Suzuki menuliskan beberapa pengenalan yang mendapatkan pujian dan penilaian keseluruhan akan Buddhisme, dan terutama pada sekolah Chan (walaupun ia sering kali menghubungkan sekte ini dengan istilah “Zen”, yang mana merupakan pelafalan dalam bahasa Jepang untuk nama tersebut). Pada tahun 1951, ia mengelilingi universitas-universitas di Amerika, dan mengajar diUniversitas Columbia dari tahun1952 sampai1957.
Suzuki tertarik khususnya pada abad pembentukan tradisi dari Buddhist ini, di China. Banyak tulisan berbahasa Inggris yang dibuat oleh Suzuki dicemaskan penterjemahan dan bahasannya sedikit menyerupai naskah Chan sepertiBiyan Lu (Blue Cliff Record) danWumenguan (Gateless Passage), yang mencatat gaya pengajaran dan kata-kata yang digunakan para guru China klasik. Ia juga tertarik pada bagaimana tradisi ini, yang suatu waktu dimasukkan ke Jepang, telah memengaruhi karakter rakyat Jepang dan juga sejarahnya, dan menuliskannya dalam bahasa Inggris dalamZen and Japanese Culture (Zen dan Kebudyaan Jepang). Reputasi Suzuki terjamin di Inggris belum di Amerika.
Sebagai tambahan dari hasil karyanya yang terkenal, Suzuki menuliskan sebuah terjemahan dariLankavatara Sutra dan penjelasan dalam terminologi Sanskerta. Pada usia-nya yang lanjut, ia menjadi seorang guru besar undangan pada Universitas Columbia. Ia memantau upaya yang dilakukan olehSaburō Hasegawa,Judith Tyberg,Alan Watts dan mereka yang bekerja di California Academy of Asian Studies (yang dikenal sekarang ini dengan sebutanCalifornia Institute of Integral Studies), di San Francisco pada tahun1950-an.
Suzuki sering kali dihubungkan denganSekolah Filsafat Kyoto, tetapi ia tidak dianggap sebagai anggota resmi. Suzuki tertarik dengan tradisi lain selain Zen. BukunyaZen and Japanese Buddhism menggali sejarah dan ruang lingkup daya tarik dari sekte Buddhist Jepang yang utama.
Pada usianya yang lanjut, ia kembali menyelidiki kepercayaanJodo Shinsu yang dianut ibu-nya, dan menjadi penceramah tamu pada BuddhismeJodo Shinsu diBuddhist Churches of America. D.T. Suzuki juga menghasilkan suatu terjemahan yang belum selesai mengenai Kyogyoshinsho. Sebuah magnum opus dari Shinran, pendiri sekolah Jodo Shinsu. Adapun, Suzuki tidak berupaya untuk memperkenalkan doktrin Shin di Negara Barat, karena ia mempercayai bahwa Zen lebih sesuai dengan preferensi Negara Barat untuk kepercayaan Adat Timur, walaupun ia mengutip bahwa Buddhisme Jodo Shinshu merupakan hal “perkembangan luar biasa dari Buddhisme Mahayana yang pernah di raih di Asia Timur”. Kepercayaan Kristiani juga dipelajari oleh Suzuki, dan beberapa kepercayaan Barat lainnya, seperti, Meister Eckhart, yang ia bandingkan dengan pengikutJodo Shinshu yang disebutMyokonin. Suzuki merupakan pencetus yang membawa penelitian akan Myokonin ke publik di luarJepang.
Buku yang ditulis oleh D.T. Suzuki tersebar secara luas dan banyak dikomentari. Sebuah contoh yang terlihat adalahAn Introduction to Zen Buddhism dengan kata pengantar ditulis olehCarl Jung, seorang psikologis analitik, sebanyak tiga puluh halaman. Karya lainnya termasuk Essays in Zen Buddhism (3 jilid),Studies in Zen Buddhism, danManual of Zen Buddhism. Sebagai tambahan,William Barret telah mengkompilasi banyak artikel dan risalah tentang Zen yang dibuat oleh Suzuki menjadi sebuah buku berjudulStudies in Zen.
Pada saat peluncurannya, risalah-risalah yang berpengaruh sekali ini, membuat Zen dikenal pertama kalinya di dunia barat:
Trilogi kedua diterbitkan segera setelah penerbitan buku-buku di atas:
Sebuah penerjemahan baru setelahPerang Dunia II: