Movatterモバイル変換


[0]ホーム

URL:


Lompat ke isi
WikipediaEnsiklopedia Bebas
Pencarian

Batu Rosetta

Artikel ini telah dimuat dalam jurnal WikiJournal of Humanities (2019) yang telah melewati proses ulasan sejawat. Klik untuk menampilkan versi yang telah diterbitkan.
Ini adalah artikel pilihan. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Batu Rosetta
Batu Rosetta
Bahan bakuGranodiorit
Ukuran1.123 mm x 757 mm x 284 mm
(45 in × 28.5 in × 11 in)
Sistem penulisanHieroglif Mesir kuno, aksara Demotik, dan Yunani
Dibuat196 SM
Ditemukan15 Juli 1799 di kotaRashid (Rosetta),Mesir
Lokasi sekarangMuseum Britania

Batu Rosetta (bahasa Inggris:Rosetta Stonecode: en is deprecated,bahasa Arab:حجر رشيدcode: ar is deprecated,translit. ḥajar rasyīd) adalah sebuahprasasti batugranodiorit yang ditemukan pada tahun 1799. Prasasti ini berukirkan tiga versi dari sebuahmaklumat yang dikeluarkan diMemfis,Mesir pada tahun 196 SM selamadinasti Ptolemaik tertulis nama RajaPtolemaios V. Teks informasi di bagian atas dan tengah prasasti ditulis dalambahasa Mesir Kuno dengan aksarahieroglif dandemotik, sementara bagian bawahnya ditulis dalambahasa Yunani Kuno. Karena redaksi maklumat ini hampir sama dalam ketiga versi bahasa dan tulisan, Batu Rosetta pun dimanfaatkan sebagai kuncipenerjemahan aksarahieroglif Mesir, yang pada akhirnya meluaskan wawasan mengenai sejarah kuno Mesir.

Diyakini bahwa prasasti yang dipahat padazaman Helenistik ini awalnya dipajang di dalam sebuahkuil, mungkin di sekitar kawasanSais. Prasasti ini kemudian dipindahkan padaAbad Kuno Akhir atau semasapemerintahan Mamluk, hingga akhirnya digunakan sebagai bahan bangunan dalam pendirian sebuah benteng (yang nantinya direnovasi menjadiFort Julien) di dekat kotaRashid (nama Prancis:Rosette atau Inggris:Rosetta) di wilayahDelta Nil. Prasasti ini ditemukan kembali pada bulan Juli 1799 oleh seorang tentara Prancis bernamaPierre-François Bouchard ketika ia sedang bertugas dalamkampanye militer Prancis di Mesir dan Suriah pada masaNapoleon. Batu Rosetta merupakan prasasti dwibahasaMesir Kuno pertama yang ditemukan kembali pada zaman modern. Penemuan ini mencetuskan kembali ketertarikan masyarakat umum padaEgiptologi karena dianggap berpotensi membantu penguraian aksara hieroglif yang hingga saat itu belum berhasil diterjemahkan.Salinan litografis dangips mulai beredar di museum-museum dan kalangan cendekiawan Eropa. Sementara itu,pasukan Inggris mengalahkan Prancis di Mesir pada tahun 1801, dan setelahPenyerahan Iskandariyah prasasti ini menjadi milik Inggris dan diboyong keLondon. Batu Rosetta mulai dipamerkan diBritish Museum sejak tahun 1802, dan kini menjadi koleksi yang paling banyak dikunjungi di sana.

Kajian mengenai maklumat yang terpahat di prasasti ini telah dimulai sejak terjemahan penuh teks Yunaninya pertama terbit pada tahun 1803. Perlu waktu 20 tahun sebelum alih aksara dari teks Mesirnya diumumkan olehJean-François Champollion di Paris pada 1822; dan perlu waktu lebih lama sebelum para cendekiawan mampu membaca prasasti dan literatur Mesir Kuno dengan yakin. Penguraian Batu Rosetta mengalami kemajuan besar ketika para peneliti menyadari bahwa prasasti tersebut nyatanya memuat tiga versi dari teks yang sama (1799); bahwa bagian teks demotik menggunakan lambang fonetis untuk mengeja nama-nama asing (1802); bahwa sistem serupa juga digunakan oleh bagian teks hieroglif, yang memiliki kesamaan denganaksara demotik (1814); dan bahwa, selain digunakan untuk nama asing, lambang fonetis juga digunakan untuk mengeja kata-kata Mesir asli (1822–1824).

Belakangan ditemukan dua salinan terpisah lainnya dari maklumat yang sama, serta beberapa prasasti dwibahasa atau tribahasa yang serupa, termasuk duamaklumat Ptolemaik yang bertanggal lebih awal (Maklumat Iskandariyah pada 243 SM,Maklumat Canopus pada 238 SM, danMaklumat Memfis atas nama Ptolemaois IV, 218 SM). Oleh karena itu, Batu Rosetta tidak lagi unik secara historis, walaupun perannya sebagai pembuka bagi kajian modernsastra dan peradaban Mesir Kuno tetap tidak berubah.

Deskripsi

Batu Rosetta terdaftar sebagai "batugranodiorit hitam, yang memuat tiga ukiran... ditemukan di Rosetta" dalam katalog artefak kontemporer yang ditemukan oleh ekspedisi Prancis dan diserahkan kepada pasukan Inggris pada tahun 1801.[1] Beberapa waktu setelah prasasti ini diboyong ke London, tulisannya diwarnai dengan kapur putih agar lebih mudah dibaca, dan sisa permukaannya ditutupi dengan lapisanlilin karnauba yang dirancang untuk melindungi Batu Rosetta dari jari-jari pengunjung.[2] Tindakan ini menimbulkan warna gelap pada prasasti sehingga materialnya keliru diidentifikasi sebagaibasal hitam.[3] Penambahan ini dipupuskan sewaktu prasasti ini dibersihkan pada tahun 1999, sehingga memperlihatkan warna abu-abu gelap aslinya, kilauan struktur kristal, dan lapisan merah muda di sudut kiri atas.[4] Perbandingan material prasasti ini dengan sampel batuan Mesir menunjukkan kemiripan dengan batuan dari tambang granodiorit diGebel Tingar di tepi baratSungai Nil, sebelah baratElephantine di wilayahAswan; granodiorit dari daerah ini umumnya juga memiliki lapisan berwarna merah muda.[5]

Batu Rosetta memiliki tinggi 1.123 mm, lebar 757 mm, dan tebal 284 mm. Bobotnya sekitar 760 kilogram.[6] Batu ini memuat tigainskripsi: tulisan teratas disajikan dalamhieroglif Mesir Kuno, yang kedua dalam aksarademotik Mesir, dan yang ketiga dalambahasa Yunani Kuno.[7] Permukaannya dihaluskan dan ukiran tulisannya tidak terlalu dalam. Sisi-sisi batunya dihaluskan, tetapi bagian belakangnya pengerjaannya kasar, mungkin karena tidak akan terlihat ketika batu ini didirikan.[5][8]

Prasasti asli

"Gambar Batu Rosetta sesuai rekonstruksi prasasti asli
Salah satu kemungkinan rekonstruksi prasasti asli

Batu Rosetta merupakan bagian dari prasasti yang lebih besar. Namun, bagian yang lain tidak ditemukan dalam pencarian berikutnya di situs Rosetta.[9] Akibat keadaannya yang sudah rusak, tidak ada satupun dari ketiga teks di batu ini yang benar-benar lengkap. Teks bagian atas yang ditulis dengan hieroglif Mesir mengalami kerusakan paling parah. Hanya 14 baris terakhir dari teks hieroglif yang dapat dibaca; di sisi kanan semuanya terpotong, sementara di sebelah kiri ada 12 baris yang terpotong. Teks demotik kondisinya masih lengkap dengan jumlah 32 baris, dengan 14 baris pertamanya sedikit rusak di sisi kanan. Sementara itu, teks Yunaninya terdiri dari 54 baris, dengan 27 baris pertama kondisinya masih utuh dan sisanya tidak lengkap akibat retakan diagonal di bagian kanan bawah batu ini.[10]Panjang teks hieroglif dan ukuran prasasti aslinya dapat diperkirakan berdasarkan perbandingan dengan prasasti serupa, terutama yang berisi salinan maklumat yang sama, sepertiMaklumat Canopus yang didirikan pada 238 SM semasa pemerintahanPtolemaios III. Maklumat ini memiliki tinggi 2.190 mm dengan lebar 820 mm, berisikan 36 baris teks hieroglif, 73 baris teks demotik, dan 74 baris teks bahasa Yunani. Teks-teks tersebut memiliki panjang yang sama.[11] Dari perbandingan tersebut, dapat diperkirakan bahwa ada 14 atau 15 baris teks hieroglif yang hilang dari tulisan teratas Batu Rosetta, yang berarti bahwa prasasti aslinya lebih tinggi sekitar 300 milimeter dari bentuk sekarang.[12] Selain tulisan prasasti, kemungkinan pula ada dekorasi bergambarkan raja yang dipersembahkan di hadapan para dewa yang dilingkupi cakram bersayap, seperti pada Prasasti Canopus. Berdasarkan perbandingan-perbandingan ini, serta lambang hieroglif untuk "prasasti" yang digunakan pada Batu Rosetta itu sendiri, yaitu

O26

dapat diperkirakan bahwa prasasti ini awalnya memiliki bagian atas yang melengkung.[7][13] Tinggi prasasti asli diperkirakan sekitar 149 cm.[2]

Maklumat Memfis beserta konteksnya

Artikel utama:Maklumat Batu Rosetta

Prasasti ini ditegakkan setelahpenobatan RajaPtolemaios V dan diukir dengan sebuah maklumat yang mengukuhkan pemujaan atas penguasa baru tersebut.[14] Maklumat ini dikeluarkan dalam pertemuan pendeta-pendeta yang berkumpul diMemfis. Maklumat ini bertanggalkan "4 Xandikos" dalamkalender Makedonia dan "18 Mekhir" dalamkalender Mesir, yang bertepatan dengan27 Maret196 SM. Tahun dikeluarkannya maklumat ini merupakan tahun kelima Ptolemaios V berkuasa (kira-kira setara dengan 197/196 SM), yang juga dikonfirmasi dengan nama keempat pendeta yang bertugas pada tahun itu: Pendeta pertama,Aetos putra Aetos, merupakan pendeta yang memimpin pemujaan terhadapAlexander Agung dan kelimaPtolemaios hingga masa Ptolemaios V; pendeta kedua memimipin pemujaan terhadapBerenike Euergetis (permaisuriPtolemaios III), pendeta ketiga terhadapArsinoe Filadelfos (istri dan saudara perempuan dariPtolemaios II), dan pendeta keempat terhadapArsinoe Filopator, ibu dari Ptolemaios V.[15] Tanggal kedua yang diberikan di dalam teks hieroglif dan Yunani bersesuaian dengan27 November 197 SM, yang juga merupakan hari ulang tahun resmi penobatan Ptolemaios.[16] Berlawanan dengan teks hieroglif dan Yunani, tanggal ulang tahun penobatan yang diberikan dalam teks demotik hanya berselang satu hari sebelum penerbitan maklumat ini pada bulan Maret.[16] Tidak diketahui secara jelas penyebab ketimpangan ini, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa maklumat ini dikeluarkan pada 196 SM dan dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaanraja-raja Ptolemaik atas Mesir.[17]

Maklumat ini dikeluarkan pada masa yang carut-marut dalam sejarah Mesir. Ptolemaios V Epifanis bertakhta dari 204 hingga 181 SM; ia adalah putra dariPtolemaios IV Filopator dan istri sekaligus saudarinya Arsinoe. Ia telah naik takhta pada usia lima tahun setelah kedua orang tuanya meninggal secara mendadak. Menurut sumber-sumber sezaman, kedua orang tuanya dibunuh oleh persekongkolan yang melibatkan selir Ptolemaios IVAgatoklea. Para anggota persekongkolan ini praktis menguasai Mesir sebagai wali dari Ptolemaios V[18][19] hingga terjadinya revolusi dua tahun kemudian yang dipimpin olehTlepolemos. Agatoklea dan keluarganya digantung oleh massa di Alexandria. Namun, pada 201 SM, posisi Tlepolemos sebagai wali negara digantikan pula olehAristomenes dari Alizia, yang kelak menjadi menteri utama pada masa dikeluarkannya maklumat Memfis.[20]

Campur tangan kekuatan politik dari luar Mesir semakin menambah ruwet masalah internal kerajaan Ptolemaik tersebut. RajaSeleukiaAntiokhos III Agung dan RajaMakedoniaFilipos V bahkan membuat pakta untuk membagi-bagi daerah jajahan Mesir. Filipos telah menguasai beberapa pulau dan kota diKaria danThrakia, sementaraPertempuran Panium (198 SM) mengakibatkan berpindahnya kekuasaan atas kawasanKoile Suriah, termasukYudea, dari dinasti Ptolemaik kepada Seleukia. Sementara itu, di selatan Mesir, sebuah pemberontakan berkepanjangan telah meletus semenjak masa kekuasaan Ptolemaios IV.[16] Pemberontakan ini dipimpin olehHorwennefer dan penggantinyaAnkhwennefer.[21] Baik perang melawan pihak luar maupun pemberontakan internal terus berlanjut hingga Ptolemaios V dinobatkan secara resmi menjadi raja pada usia 12 tahun (tujuh tahun semenjak ia mulai bertakhta) dan masih berlangsung satu tahun kemudian, ketika Maklumat Memfis dikeluarkan.[19]

"Batu kecil, kira-kira berbentuk persegi dan berwarna abu-abu muda, bertuliskan naskah hieroglif dari masa firaun Kerajaan Lama Mesir Pepi II"
Contoh kepingan "prasasti sumbangan", yang berisikanperintah pemberian imunitas pajak darifiraunKerajaan LamaPepi II bagi para pendeta kuil dewaMin

Prasasti seperti Rosetta, yang ditegakkan atas inisiatif dari kalangan kuil alih-alih dari raja, hanya ada pada zaman Ptolemaik di Mesir. Pada zaman Firaun-Firaun sebelumnya, tidak seorang pun yang dapat membuat maklumat nasional selain penguasa yang didewakan itu sendiri. Penghormatan terhadap penguasa dengan prasasti semacam ini merupakan ciri khas kota-kota Yunani. Daripada membuat pujasastra terhadap dirinya sendiri, seorang raja Yunani umumnya dipuja dan diagung-agungkan oleh rakyatnya, baik secara langsung atau melalui perantara.[22] Maklumat ini mencatat bahwa Ptolemaios V memberikan persembahan berupa perak dan biji padi-padian kepadakuil-kuil.[23] Maklumat ini juga mencatat bahwa sebuah banjir besar akibatmeluapnya Sungai Nil terjadi pada tahun kedelapan ia bertakhta, dan ia memerintahkan pembendungan luapan air tersebut untuk melindungi para petani.[23] Sebagai gantinya, para pendeta menjadikan hari ulang tahun dan penobatan sang raja sebagai hari raya, dan bahwa seluruh pendeta di Mesir akan mengabdi padanya sebagaimana mereka mengabdi pada para dewa. Maklumat ini ditutup dengan perintah untuk menempatkan salinannya di setiap kuil, tertulis dalam "bahasa para dewa" (hieroglif Mesir), "bahasa tulisan" (demotik), dan "bahasa orang-orang Yunani" yang digunakan oleh pemerintahan Ptolemaik.[24][25]

Bagi raja-raja Ptolemaik, mendapatkan dukungan para pendeta amat penting agar dapat mempertahankan kekuasaan yang berlaku atas rakyat mereka. ParaPendeta Tinggi di Memfis (tempat penobatan raja-raja) menempati posisi yang penting, sebab mereka merupakan otoritas keagamaan tertinggi pada masanya dan memiliki pengaruh di seluruh wilayah kerajaan.[26] Kenyataan bahwa maklumat ini dikeluarkan di Memfis, ibu kota lama Mesir, alih-alihIskandariyah, pusat pemerintahan dinasti Ptolemaik, menandakan bahwa sang raja muda amat menginginkan dukungan aktif dari mereka.[27] Berkaitan dengan itu, meskipun pemerintah Mesir telah menggunakan bahasa Yunani sejak wilayahnyaditaklukkan olehAleksander Agung, maklumat Memfis, sebagaimana tigamaklumat serupa sebelumnya, juga menambahkan teks dalam bahasa Mesir untuk menunjukkan keeratan terhadap masyarakat awam, melalui kependetaan Mesir yang melek huruf.[28]

Tidak ada terjemahan yang pasti untuk maklumat ini dalam bahasa modern, bukan hanya karena pemahaman modern akan bahasa-bahasa kuno yang masih berkembang, tetapi juga karena adanya perbedaan-perbedaan kecil antara ketiga teks asli. Terjemahan-terjemahan terdahulu dariE. A. Wallis Budge (1904, 1913)[29] danEdwyn R. Bevan (1927)[30] dapat dengan mudah didapatkan meskipun sekarang sudah usang, terutama jika dibandingkan dengan terjemahan lebih mutakhir oleh R. S. Simpson, yang didasarkan pada teks demotik dan tersedia secara daring,[31] atau, yang paling lengkap dari semuanya, dengan terjemahan modern dari keseluruhan teks, ditambah mukadimah serta salinan gambar, yang diterbitkan oleh Quirke dan Andrews pada 1989.[32]

Besar kemungkinan bahwa prasasti ini awalnya ditempatkan bukan di wilayahRashid (Rosetta), tetapi di sebuah pusat keagamaan yang terletak lebih jauh di pedalaman, mungkin di kotaSais.[33] Kuil tempat prasasti ini berasal kemungkinan ditutup pada tahun 392 M ketika kaisarRomawi TimurTheodosius I memerintahkan penutupan seluruh tempat ibadah non-Kristen.[34] Prasasti ini kemudian pecah pada suatu waktu, dan pecahan terbesarnya menjadi apa yang kini dikenal sebagai Batu Rosetta. Sisa kuil-kuil Mesir Kuno selanjutnya dipakai sebagai bahan bangunan bagi konstruksi baru, dan Batu Rosetta kemungkinan juga digunakan ulang dengan tujuan ini. Prasasti ini kemudian menjadi bagian dari fondasi sebuah benteng yang dibangun olehSultanMamlukQaitbay (kira-kira 1416/18–1496) untuk mempertahankan daerahmuara Bolbitin (salah satu cabang Sungai Nil) di Rashid. Prasasti ini bertahan di sana hingga setidaknya tiga abad sebelum ditemukan kembali.[35]

Tiga prasasti lain yang berkaitan dengan maklumat Memfis yang sama telah ditemukan sejak penemuan Batu Rosetta, yakniPrasasti Nubayrah yang ditemukan diElefantin dan Noub Taha, serta sebuah prasasti yang terpahat diKuil Filae (tepatnya diobelisk Filae).[36]

Penemuan kembali

Laporan ketibaan Batu Rosetta dalamThe Gentleman's Magazine diInggris tahun 1802

Ekspedisi militerNapoleon di Mesir pada tahun 1798 memicu gelombangEgiptomania di Eropa, khususnya di Prancis. Regu yang terdiri dari 167 tenaga ahli (savants) yang dikenal dengan sebutanCommission des Sciences et des Arts (Komisi Ilmu Pengetahuan dan Seni) menemaniPasukan Revolusioner Prancis di Mesir. Pada 15 Juli 1799, pasukan Prancis di bawah kepemimpinan Kolonel d'Hautpoul memperkuat pertahananFort Julien yang terletak beberapa kilometer di sebelah timur laut kota pelabuhan Rashid. LetnanPierre-François Bouchard melihat sebuah pecahan batu yang memuat inskripsi.[37] Ia dan d'Hautpoul langsung sadar bahwa batu tersebut mungkin punya nilai yang tinggi, dan melaporkannya kepada atasan mereka JenderalJacques-François Menou, yang saat itu kebetulan sedang berada di Rosetta.[A] Temuan tersebut diberitahukan kepada perkumpulan ilmiah yang baru didirikan Napoleon di Kairo,Institut d'Égypte, di dalam sebuah laporan yang disusun oleh anggota KomisiMichel Ange Lancret. Laporan tersebut menyatakan bahwa batu ini berisikan tiga inskripsi, yang pertama dalam bentuk hieroglif dan yang ketiga dalam aksara Yunani. Ia mengungkapkan dugaannya (yang terbukti benar) bahwa ketiga inskripsi tersebut memuat naskah yang sama. Laporan Lancret (yang bertanggal19 Juli 1799) dibacakan di pertemuan Institut tidak lama setelah25 Juli. Sementara itu, Bouchard membawa batu ini ke Kairo untuk diteliti. Napoleon sempat menyelidiki batu tersebut, yang saat itu telah dijulukila Pierre de Rosette atau "Batu Rosetta", tidak lama sebelum ia kembali ke Prancis pada Agustus 1799.[9]

Penemuan ini dilaporkan dalamCourrier de l'Égypte (koran resmi ekspedisi Prancis) pada bulan September. Seorang wartawan anonim mengungkapkan harapannya bahwa batu ini suatu hari dapat menjadi kunci dalam upaya untuk mengurai sistem hieroglif.[A][9] Pada tahun 1800, tiga tenaga ahli Komisi merancang metode untuk membuat salinan inskripsi yang tertulis di batu ini. Salah satu dari para ahli tersebut adalahJean-Joseph Marcel, seorang pencetak dan pakar bahasa yang berbakat. Ia merupakan orang pertama yang menyadari bahwa inskripsi yang kedua di bagian tengah ditulis dalam aksarademotik Mesir alih-alih aksaraSuryani, meskipun aksara demotik jarang digunakan dalam inskripsi batu dan juga jarang ditemukan oleh para ahli pada masa itu.[9] SenimanNicolas-Jacques Conté menemukan cara untuk menyalin teks inskripsi Batu Rosetta dengan menggunakannya sebagaiblok cetak.[38] Metode yang sedikit berbeda digunakan olehAntoine Galland. Cetakan yang dihasilkannya dibawa ke Paris oleh JenderalCharles Dugua. Dengan ini para ahli di Eropa dapat melihat inskripsi di batu tersebut dan mencoba mengurainya.[39]

Setelah kepergian Napoleon, pasukan Prancis menahan serangan Britania danUtsmaniyah selama 18 bulan. Pada Maret 1801, pasukan Britania mendarat diTeluk Abu Qir. Menou kemudian menjadi panglima ekspedisi Prancis. Pasukannya (yang juga diikuti oleh Commission des Sciences et des Arts) bergerak ke utara menuju pesisir Laut Tengah untuk berhadapan dengan musuh. Batu Rosetta dan barang-barang antik lainnya juga ikut dibawa. Menou kalah dalam pertempuran, dan sisa pasukannya mundur ke Iskandariyah. Di kota tersebut, mereka dikepung, sementara Batu Rosetta berada di kota tersebut. Menou akhirnya menyerah pada 30 Agustus.[40][41]

Menjadi kepemilikan Britania

Sisi kiri dan kanan Batu Rosetta, dengan inskripsi dalam bahasa Inggris yang menjelaskan bagaimana batu ini direbut oleh Inggris

Setelah Prancis menyerah, timbul pertanyaan mengenai temuan arkeologis dan ilmiah Prancis di Mesir, terutama artefak, spesimen biologi, catatan, rencana, dan gambar yang dikumpulkan oleh anggota Commission des Sciences et des Arts. Menou menolak menyerahkan temuan-temuan tersebut kepada Inggris dan menegaskan bahwa benda-benda tersebut dimiliki oleh Institut d'Égypte. Jenderal InggrisJohn Hely-Hutchinson menolak mengakhiri pengepungan kecuali jika Menou mau mengalah. CendekiawanEdward Daniel Clarke danWilliam Richard Hamilton yang baru tiba dari Inggris bersedia untuk memeriksa koleksi yang ada di Iskandariyah, dan mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan banyak artefak yang tidak ditemukan oleh Prancis. Di dalam sebuah surat yang dikirim ke rumah, Clarke berkata: "Kami menemukan jauh lebih banyak daripada yang disampaikan atau dibayangkan".[42]

Hutchinson mengklaim bahwa semua materi ini dimiliki oleh Kerajaan Britania Raya, tetapi cendekiawanÉtienne Geoffroy Saint-Hilaire memberi tahu Clarke dan Hamilton bahwa Prancis lebih baik membakar semua temuan mereka daripada menyerahkannya begitu saja; ia bahkan menyebut-nyebut soal kehancuranPerpustakaan Iskandariyah. Clarke dan Hamilton menyampaikan permintaan cendekiawan Prancis kepada Hutchinson, dan ia akhirnya bersedia mengakui hasil temuan mereka sebagai kepemilikan pribadi para cendekiawan tersebut.[41][43] Menou langsung mengklaim Batu Rosetta sebagai kepemilikannya.[41][44] Hutchinson sadar akan nilai dari batu ini dan menolak klaim Menou.[41]

Tidak diketahui secara pasti bagaimana batu ini kemudian menjadi kepemilikan Britania, karena catatan pada masa tersebut memiliki rincian yang berbeda-beda. KolonelTomkyns Hilgrove Turner, yang ditugaskan mengiringi proses pengangkutan batu ini ke Inggris, mengklaim bahwa ia secara langsung menyitanya dari Menou. Dalam catatan yang lebih rinci, Edward Daniel Clarke menyebutkan bahwa ia, seorang muridnya, serta Hamilton diantarkan oleh seorang "perwira dan anggota Institut" dari Prancis secara diam-diam ke gang di belakang tempat tinggal Menou. Ia lalu menunjukkan Batu Rosetta yang tersembunyi di bawah permadani di antara barang-barang milik Menou. Menurut Clarke, informan mereka takut batu ini akan dicuri jika dilihat oleh pasukan Prancis. Hutchinson langsung diberitahu soal hal ini dan batu ini kemudian diambil (kemungkinan oleh Turner).[45]

Turner membawa batu ini ke Inggris di atas kapal fregat eks-PrancisHMSEgyptienne yang telah dirampas. Kapal ini mendarat diPortsmouth pada Februari 1802.[46] Ia memerintahkan agar batu ini (bersama dengan barang-barang antik lainnya) dipersembahkan di hadapan RajaGeorge III. Sang raja, yang diwakili oleh Menteri PerangLord Hobart, memberikan arahan agar batu ini disimpan diBritish Museum. Menurut kisah Turner, ia dan Hobart sepakat bahwa batu ini sebaiknya ditunjukkan kepada para ahli diSociety of Antiquaries of London (Turner merupakan anggota perkumpulan ini) sebelum disimpan di museum. Batu ini pertama kali ditunjukkan dan menjadi bahan perbincangan dalam pertemuan perkumpulan tersebut pada11 Maret 1802.[B][H]

Para ahli melihat Batu Rosetta di ajangKongres Orientalis Internasional Kedua tahun 1874

Pada tahun 1802, Society of Antiquaries of London membuat empat cetakan inskripsi dalam bentukplester, masing-masing kemudian diberikan kepadaUniversitas Oxford,Cambridge,Edinburgh, danTrinity College Dublin. Tak lama kemudian, cetakan inskripsi ini juga dibuat dan dibagikan kepada para cendekiawan Eropa.[E] Sebelum akhir tahun 1802, batu ini diserahkan kepadaBritish Museum dan disimpan di tempat tersebut hingga kini.[46] Inskripsi baru yang dituliskan dengan warna putih di ujung kiri dan kanan batu tersebut bertuliskan "Diambil di Mesir olehAngkatan Darat Britania tahun 1801" dan "Dipersembahkan oleh Raja George III".[2]

Batu ini dipamerkan di British Museum sejak Juni 1802.[6] Pada pertengahan abad ke-18, Batu Rosetta diberi nomor penyimpanan "EA 24"; "EA" disini merupakan singkatan dari "Egyptian Antiquities" (Barang Antik Mesir). Batu ini menjadi bagian dari koleksi monumen Mesir Kuno yang diambil dari Prancis, termasuksarkofagus FiraunNectanebo II (EA 10), patungImam Agung Amun (EA 81), dan kepalan tangan besar yang terbuat darigranit (EA 9).[47] Peninggalan-peninggalan ini ternyata terlalu berat untuk lantaiMontagu House (gedung British Museum yang pertama), sehingga barang-barang tersebut kemudian dipindahkan ke bilik baru yang ditambahkan di gedung tersebut. Batu Rosetta dipindah ke galeri pahatan pada tahun 1834 tak lama setelah Montagu House dirobohkan dan digantikan oleh gedung British Museum yang masih berdiri hingga kini.[48] Menurut catatan British Museum, Batu Rosetta adalah benda yang paling banyak dikunjungi di museum tersebut.[49] Kartu pos dengan gambar batu ini bahkan menjadi kartu pos yang paling banyak terjual selama beberapa dasawarsa.[50]

Para pengunjung British Museum melihat Batu Rosetta pada tahun 1985
Kerumunan pengunjung melihat Batu Rosetta di British Museum

Batu Rosetta pada awalnya dipamerkan dengan sudut yang hampir horizontal dan bersandar di atas logam yang dibuat khusus untuk menopangnya.[48] Pada awalnya batu ini tidak memiliki lapisan pelindung. Pada tahun 1847, kerangka pelindung mulai dipasang walaupun ada penjaga yang memastikan bahwa pengunjung nakal tidak akan menyentuh batu ini.[51] Semenjak tahun 2004, batu ini dipajang di dalam kotak khusus di tengah Galeri Pahatan Mesir. Tiruan Batu Rosetta kini juga tersedia diKing's Library British Museum tanpa ada kotak dan boleh disentuh, sebagaimana pengunjung pada awal abad ke-19 melihat batu ini.[52]

Pada tahun 1917, menjelang akhirPerang Dunia I, British Museum merasa khawatir akan serangan udara Jerman diLondon, sehingga Batu Rosetta dan barang-barang berharga lainnya diamankan. Batu ini disimpan selama dua tahun di stasiunPostal Tube Railway yang terletak 15 meter di bawah tanah diMount Pleasant (di dekatHolborn).[53] Selain pada saat perang, Batu Rosetta hanya pernah satu kali dibawa keluar dari British Museum, yakni selama satu bulan pada Oktober 1972 untuk dipajang diLouvre di Paris bersama denganSurat Champollion kepada M. Dacier untuk memperingati 150 tahun penerbitan surat tersebut.[50] Ketika proyek konservasi Batu Rosetta dilaksanakan pada tahun 1999, pengerjaannya bahkan dilakukan di dalam galeri agar peninggalan sejarah ini tetap dapat dinikmati oleh khalayak umum.[54]

Penguraian inskripsi Batu Rosetta

Sebelum penemuan kembali Batu Rosetta dan penguraiannya,bahasa Mesir kuno dan aksaranya tidak dapat dibaca ataupun dipahami sejakruntuhnya Kekaisaran Romawi. Penggunaanaksara hieroglif menjadi semakin terspesialisasi bahkan pada akhirzaman Firaun; pada abad ke-4 Masehi, hanya sedikit orang Mesir yang bisa membacanya. Penggunaan hieroglif untuk monumen-monumen sudah berakhir setelah semua kuilpagan ditutup pada tahun 391 oleh Kaisar RomawiTheodosius I; inskripsi terakhir yang telah ditemukan bertanggal24 Agustus 394 dariFilae dan dikenal dengan sebutanGraffito Esmet-Akhom.[55]

Tidak sepertialfabet Yunani ataupunLatin, hieroglif tetap terlihat seperti gambar, dan para penulis klasik juga menegaskan perbedaan ini. Pada abad kelima, imamHorapollo menulisHieroglyphica yang menjelaskan hampir 200glif. Karyanya dianggap terandalkan, tetapi juga mengandung beberapa kesalahan. Akibatnya, karya ini menghambat upaya untuk memahami tulisan Mesir.[56] Sejarawan Arab di Mesir pada abad kesembilan dan kesepuluh kemudian juga mencoba mengurai hieroglif Mesir.Dzun-Nun al-Mishri danIbnu Wahsyiyyah adalah dua sejarawan pertama yang pertama kali mempelajari hieroglif dengan membandingkannya denganbahasa Koptik yang digunakan oleh para imamKristen Mesir pada masa tersebut.[57][58] Kajian hieroglif ini dilanjutkan oleh para ahli Eropa, terutama olehJohannes Goropius Becanus pada abad ke-16,Athanasius Kircher pada abad ke-17, danGeorg Zoëga pada abad ke-18, tetapi upaya-upaya ini tidak membuahkan hasil.[59] Penemuan Batu Rosetta pada tahun 1799 memberikan informasi penting yang sebelumnya sudah hilang. Informasi ini secara bertahap ditemukan oleh berbagai ahli, hingga pada akhirnyaJean-François Champollion berhasil menguraikan inskripsi Batu Rosetta yang dijuluki "teka-tekiSfinks" olehKircher.[60]

Tulisan Yunani

Reka ulang teks Yunani yang hilang menurutRichard Porson (1803)

TulisanYunani di Batu Rosetta menjadi titik awal untuk mengurai keseluruhan inskripsi di batu ini. Para ahli di Barat banyak yang menguasai bahasa Yunani Kuno, tetapi mereka tidak mengenal istilah-istilah khusus dalam konteks pemerintahan yang digunakan di Mesir pada masaHelenistik;papirus-papirus berbahasa Yunani dalam jumlah yang besar masih belum ditemukan pada saat itu. Oleh sebab itu, para ahli mengalami kesulitan dalam upaya untuk menerjemahkan isinya. Terjemahan teks ini dari bahasa Yunani Kuno ke bahasa Inggris disampaikan secara lisan olehStephen Weston di pertemuanSociety of Antiquaries pada April 1802.[61][62]

Sementara itu, dua salinanlitografik yang dibuat di Mesir didapat olehInstitut de France di Paris pada tahun 1801.Gabriel de La Porte du Theil kemudian mulai mengerjakan proses penerjemahan ke dalam bahasa Yunani, tetapi tak lama kemudian ia dipindahtugaskan oleh Napoleon. Hasil kerjanya yang belum selesai diserahkan kepadaHubert-Pascal Ameilhon. Ameilhon menjadi orang pertama yang menerbitkan terjemahan teks Yunani di Batu Rosetta pada tahun 1803; ia menghasilkan terjemahan ke dalam bahasaLatin dan Prancis dengan maksud agar isinya bisa disebarluaskan.[H] DiCambridge,Richard Porson mencoba mencari tahu teks Yunani di pojok kanan bawah yang hilang. Ia melakukan proses reka ulang, dan hasilnya kemudian disebarkan di kalangan Society of Antiquaries bersama dengan cetakan inskripsinya. Pada saat yang sama,Christian Gottlob Heyne diGöttingen membuat terjemahan baru ke dalam bahasa Latin yang lebih terandalkan daripada Ameilhon, dan terjemahan ini diterbitkan pada tahun 1803.[G] Terjemahan ini dicetak ulang oleh Society of Antiquaries dalam edisi khusus jurnalArchaeologia tahun 1811 bersama dengan terjemahan Weston yang sebelumnya belum diterbitkan, narasiKolonel Turner, dan dokumen lainnya.[H][63][64]

Tulisan demotik

Pada saat Batu Rosetta ditemukan, diplomat dan cendekiawan SwediaJohan David Åkerblad sedang meneliti sebuah aksara dari Mesir yang masih belum begitu dipahami, yang kelak disebut aksarademotik. Åkerblad menyebutnya "Koptikkursif" karena ia yakin bahwa aksara tersebut digunakan untuk menuliskan salah satu bentukbahasa Koptik (yang merupakan keturunan langsung dari bahasa Mesir Kuno), walaupun aksara tersebut sangat berbeda denganaksara Koptik. Tokoh Orientalis PrancisAntoine-Isaac Silvestre de Sacy membahas aksara ini dengan Åkerblad saat ia menerima salah satu cetakan litograf pertama Batu Rosetta dari Menteri Dalam Negeri PrancisJean-Antoine Chaptal pada tahun 1801. Ia menyadari bahwa teks yang ada di bagian tengah Batu Rosetta dituliskan dalam aksara "Koptik kursif" ini. Ia dan Åkerblad lalu mulai bekerja dengan fokus pada teks bagian tengah ini, dengan dugaan sementara bahwa aksara tersebut adalah aksara alfabetis (yang tiap hurufnya melambangkan satu konsonan atau vokal, tak seperti hieroglif) . Mereka mencoba menemukenali tempat-tempat munculnya nama Yunani di teks tersebut dengan membandingkannya dengan teks Yunaninya. Pada tahun 1802, Silvestre de Sacy melaporkan kepada Chaptal bahwa ia berhasil menemukenali lima nama ("Aleksandros", "Aleksandreia", "Ptolemaios", "Arsinoe", dan gelar Ptolemaios "Epifanis").[C] Sementara itu, Åkerblad mencatat keberadaan 29 huruf (lebih dari setengahnya kemudian terbukti benar) yang telah ia temukenali berdasarkan nama-nama Yunani yang disebutkan di teks demotiknya.[D][61] Namun, mereka tidak berhasil mengurai karakter-karakter lainnya, yang kelak terbukti tidak murni bersifat alfabetis, tetapi jugaideografis (tiap karakternya melambangkan gagasan) dan simbol-simbol lain.[65]

  • Karakter demotik versi Johan David Åkerblad dibandingkan dengan alfabet Koptik (1802)
    Karakter demotik versiJohan David Åkerblad dibandingkan dengan alfabet Koptik (1802)
  • Tiruan teks demotik di Batu Rosetta
    Tiruan teks demotik di Batu Rosetta

Tulisan hieroglif

Tabel karakter fonetis hieroglifik dibandingkan dengan bentuk demotik dan Koptik (menurut Champollion, 1822)

Silvestre de Sacy akhirnya tak lagi meneruskan upayanya untuk mengurai inskripsi di batu ini, tetapi ia masih dapat memberikan sumbangsih ilmiah yang lain. Pada tahun 1811, setelah berdiskusi dengan seorang siswaTiongkok mengenaiaksara Mandarin, Silvestre de Sacy mulai mempertimbangkan masukan dariGeorg Zoëga pada tahun 1797 bahwa nama-nama asing di inskripsi hieroglif Mesir mungkin ditulis secara fonetis. Ia juga mengingat kembali bahwa pada tahun 1761,Jean-Jacques Barthélemy menggagas kemungkinan bahwa karakter-karakter yang tertulis dalam tanda yang disebutcartouche merupakan sebuah nama. Maka dari itu, ketikaThomas Young (sekretaris urusan luar negeriRoyal Society of London) menulis surat kepadanya mengenai Batu Rosetta pada tahun 1814, Silvestre de Sacy menjawab bahwa dalam upaya untuk membaca teks hieroglif, Young mungkin perlu mencaricartouche yang berisikan nama Yunani dan mencoba menemukenali karakter-karakter fonetis yang ada.[66]

Young mengikuti saran tersebut, dan dua hasil penelitiannya membuka jalan bagi upaya untuk menguraikan hieroglif di Batu Rosetta. Dalam teks hieroglif tersebut, ia menemukan karakter fonetis "p t o l m e s" (berdasarkan transliterasi saat ini: "p t w l m y s") yang dipakai untuk menulis nama Yunani "Ptolemaios". Ia juga menyadari bahwa karakter tersebut menyerupai karakter yang tertulis dalam aksara demotik. Ia lalu mencatat 80 kemiripan antara teks hieroglif dan demotik. Temuan ini sangat penting karena kedua aksara tersebut sebelumnya diduga sangat berbeda. Dengan ini ia dapat menerka bahwa aksara demotik tidak sepenuhnya bersifat fonetis, tetapi juga terdiri dari karakter-karakter ideografik yang berasal dari hieroglif.[I] Temuan Young disoroti dalam artikel "Mesir" yang ia tulis untukEncyclopædia Britannica pada tahun 1819.[J] Namun, ia tidak berhasil menguraikan lebih dari itu.[67]

Pada tahun 1814, Young mulai bertukar surat denganJean-François Champollion, seorang guru diGrenoble yang telah menghasilkan berbagai karya penelitian mengenai Mesir Kuno. Champollion melihat salinan inskripsi hieroglif dan Yunani diobelisk Filae pada tahun 1822.William John Bankes telah mencatat keberadaan nama "Ptolemaios" dan "Kleopatra" di inskripsi tersebut.[68] Dengan menggunakan temuan ini, Champollion berhasil menemukenali karakter fonetisk l e o p a t r a (transliterasi saat ini:q l i҆ w p 3 d r 3.t).[69] Dengan ini ia dapat mereka ulang alfabet yang terdiri dari karakter hieroglif fonetis yang dijelaskan dalam suratnya yang terkenal, "Lettre à M. Dacier", yang dikirim pada tahun 1822 kepadaBon-Joseph Dacier, SekretarisAcadémie des Inscriptions et Belles-Lettres di Paris; temuan ini kemudian diterbitkan oleh Académie tersebut.[K] Dalam catatan tambahannya, Champollion menyatakan bahwa karakter fonetis serupa tampaknya juga muncul dalam nama Yunani maupun Mesir; hipotesis ini terbukti benar pada tahun 1823 setelah ia berhasil menemukenali nama firaunRamses danThutmose yang tertulis dicartouche di kuilAbu Simbel. Inskripsi hieroglif yang jauh lebih tua ini disalin oleh Bankes dan kemudian dikirim kepada Champollion olehJean-Nicholas Huyot.[M] Semenjak itu, penelitian Batu Rosetta menjadi terpisah dari upayapenguraian hieroglif Mesir, karena Champollion menggunakan banyak teks lain untuk mereka ulang tata bahasa Mesir Kuno dan menyusun kamus hieroglif yang diterbitkan setelah kemangkatannya pada tahun 1832.[70]

Penelitian selanjutnya

Tiruan Batu Rosetta yang boleh disentuh diKing's Library British Museum

Penelitian terhadap Batu Rosetta kini lebih berfokus pada upaya untuk memahami tulisannya secara lebih menyeluruh dan juga konteksnya. Hal ini dilakukan dengan membandingkan ketiga jenis tulisan di batu ini. Pada tahun 1824, ahli sejarah klasikAntoine-Jean Letronne menjanjikan terjemahan harfiah baru dari tulisan Yunaninya untuk digunakan oleh Champollion. Sebagai imbalan, Champollion berjanji akan mengkaji segala hal yang kelihatannya saling bertentangan di ketiga jenis tulisannya. Setelah kematian Champollion secara mendadak pada tahun 1832, rancangan hasil kajiannya tidak dapat ditemukan, sehingga penelitian Letronne pun terhenti.François Salvolini, mantan murid dan asisten Champollion, meninggal pada tahun 1838. Hasil kajian Champollion dan rancangan-rancangan lainnya yang hilang ditemukan di antara berkas-berkas yang dimiliki oleh sang mantan murid tersebut. Temuan ini secara tidak sengaja menunjukkan bahwa tulisan Salvolini mengenai batu ini (yang diterbitkan tahun 1837) merupakan hasil jiplakan dari kajian Champollion.[O] Letronne akhirnya berhasil menyelesaikan tafsir tulisan Yunani di Batu Rosetta dan juga menyelesaikan terjemahan ke dalam bahasa Prancis (pertama kali terbit tahun 1841).[P] Pada awal dasawarsa 1850-an, ahliEgiptologi JermanHeinrich Brugsch danMax Uhlemann menerbitkan terjemahan Latin yang didasarkan pada tulisan demotik dan hieroglif di Batu Rosetta.[Q][R] Terjemahan Inggris kemudian diterbitkan pada tahun 1858, dan terjemahan ini merupakan buah karya tiga anggotaPhilomathean Society diUniversitas Pennsylvania.[S]

Pertanyaan yang masih menjadi bahan perdebatan saat ini adalah tulisan mana yang menjadi versi standar dari inskripsi di Batu Rosetta. Pada tahun 1841, Letronne mencoba menunjukkan bahwa tulisan Yunaninya (yang dibuat oleh pemerintah Mesir di bawah WangsaPtolemaios) merupakan versi aslinya.[P] Sementara itu, ahli Egiptologi BritaniaJohn D. Ray menulis bahwa "hieroglif merupakan aksara yang paling penting di batu ini: aksara tersebut ada di situ untuk dibaca oleh para dewa, dan imam mereka yang paling terpelajar".[7] Philippe Derchain dan Heinz Josef Thissen berpendapat bahwa ketiga versi ini ditulis secara bersamaan, sementara Stephen Quirke merasa maklumat ini merupakan "peleburan yang rumit dari tiga tradisi tekstual yang penting".[71]Richard Parkinson merasa bahwa versi hieroglifnya menyimpang dari formalisme kuno dan kadang-kadang menggunakan bahasa yang lebih mirip denganlaras bahasa demotik yang lebih umum digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh para imam.[72] Fakta bahwa ketiga tulisan di batu ini tidak dapat disamakan secara kata-per-kata dapat menjelaskan mengapa proses penguraiannya lebih sulit daripada yang diperkirakan.[73]

Persaingan

Salinan Batu Rosetta dengan ukuran raksasa buatanJoseph Kosuth diFigeac (kota kelahiranJean-François Champollion)

Sebelum penjiplakan yang dilakukan oleh Salvolini terbongkar, tuduhan-tuduhan plagiarisme telah dilontarkan dalam sejarah upaya penguraian Batu Rosetta. Sumbangsih Thomas Young diberikan atribusi oleh Champollion dalamLettre à M. Dacier tahun 1822, tetapi para kritikus Britania pada masa itu menganggap bahwa Champollion tidak sepenuhnya mengakui sumbangsih Young.James Browne (penyuntingEncyclopædia Britannica yang menerbitkan artikel Young pada tahun 1819), misalnya, secara awanama menerbitkan sejumlah artikel tinjauan diEdinburgh Review pada tahun 1823 yang memuji hasil karya Young dan melayangkan tuduhan plagiarisme kepada Champollion.[74][75] Artikel-artikel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis olehJulius Klaproth dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1827.[N] Publikasi Young yang diterbitkan tahun 1823 juga menegaskan kembali sumbangsih yang telah ia berikan terhadap upaya penguraian.[L] Kematian Young (1829) dan Champollion (1832) tidak mengakhiri perdebatan ini. Dalam tulisannya mengenai Batu Rosetta pada tahun 1904,E. A. Wallis Budge memberikan sorotan khusus terhadap sumbangsih Young.[76] Pada awal dasawarsa 1970-an, para pengunjung British Museum dari Prancis mengeluh karena gambar Champollion lebih kecil daripada Young di panel keterangan, sementara pengunjung Inggris mengeluhkan hal yang sebaliknya. Nyatanya kedua gambar ini memiliki ukuran yang sama.[50]

Permohonan pengembalian

Tiruan Batu Rosetta di Rashid (Rosetta),Mesir

Pada Juli 2003, Sekretaris JenderalDewan Tertinggi Barang Purbakala Mesir,Zahi Hawass, menyerukan agar Batu Rosetta dikembalikan ke Mesir. Seruan ini (yang disampaikan di media Mesir dan internasional) juga menyatakan bahwa batu tersebut merupakan "lambang identitas Mesir kami".[77] Ia mengulangi permintaan ini dua tahun kemudian di Paris dengan memasukkan batu ini ke dalam daftar barang-barang penting yang termasuk ke dalam warisan budaya Mesir (yang juga termasukPatung Dada Nefertiti diÄgyptisches Museum Berlin; patung arsitekPiramida Agung Giza,Hemiunu, diRoemer-und-Pelizaeus-Museum,Hildesheim;Zodiak Kuil Dendera diLouvre; danPatung Dada Ankhhaf diMuseum Seni RupaBoston).[78]

Pada tahun 2005, British Museum memberikan sebuah tiruan Batu Rosetta kepada Mesir. Tiruan ini awalnya dipamerkan diMuseum Nasional Rashid yang baru direnovasi.[79] Pada November 2005, Hawass mengusulkan agar British Museum meminjamkan Batu Rosetta selama tiga bulan, dan pada saat yang sama ia mengulangi kembali tujuan jangka panjang Mesir untuk memperoleh kembali batu ini.[80] Pada Desember 2009, ia menawarkan pencabutan klaim pengembalian secara permanen apabila British Museum mau meminjamkan batu ini selama tiga bulan untuk ajang pembukaanMuseum Besar Mesir diGiza pada tahun 2013.[81]

Ahli kajian MesirJohn Ray sempat berkomentar, "suatu saat mungkin batu ini akan menghabiskan lebih banyak waktu di British Museum daripada di Rosetta."[82] Museum-museum nasional menolak mengembalikan peninggalan-peninggalan budaya dari negara lain yang sangat penting seperti Batu Rosetta. Untuk menanggapi permintaan yang berulang kali disampaikan dari Yunani untuk mengembalikanPualam Elgin (yang berasal dariParthenon) dan juga permintaan-permintaan serupa kepada museum-museum lain di dunia, lebih dari 30 museum besar dunia (termasuk British Museum, Louvre,Museum Pergamon di Berlin, danMetropolitan Museum di New York City) mengeluarkan pernyataan bersama pada tahun 2002 bahwa "benda-benda yang diperoleh pada masa sebelumnya harus dilihat sejalan dengan kepekaan dan nilai dari masa tersebut" dan "museum tidak hanya untuk warga satu bangsa saja, tetapi untuk semua orang dari segala bangsa".[83]

Penggunaan istilah "Batu Rosetta" sebagai ungkapan

Berbagai naskahepigrafis yang membantu penguraian sistem aksara kuno terkadang diibaratkan sebagai "Batu Rosetta". Contohnya, koin-koin dwibahasa bertulisanaksara Yunani danBrahmi dari rajaYunani-BaktriaAgatokles juga disebut sebagai "Batu Rosetta cilik" karena berperan dalam penguraian aksara Brahmi olehChristian Lassen, yang membuka jalan bagi ilmu epigrafi India kuno.[84]Inskripsi Behistun juga telah dibandingkan Batu Rosetta karena perannya dalam penerjemahan tiga bahasa kuno dariTimur Tengah:bahasa Persia Kuno,Elam, danBabilonia.[85]

Dalam bahasa Inggris, istilahRosetta stone juga telah digunakan secaraidiomatis untuk merujuk pada sesuatu yang menjadi petunjuk utama dalam proses pemecahan informasi yang terenkripsi, terutama jika petunjuk tersebut berasal dari sampel yang kecil tetapi representatif untuk dijadikan pemecah bagi keseluruhan informasi.[86] MenurutOxford English Dictionary, istilah ini pertama kali digunakan secara figuratif dalam entri mengenai analisis kimia senyawaglukosa dalamEncyclopædia Britannica edisi tahun 1902.[86] Ungkapan ini juga digunakan dalam novelThe Shape of Things to Come karyaH. G. Wells yang terbit tahun 1933. Dalam buku ini, diceritakan bahwa sang protagonis menemukan naskah bertulisan hurufstenografi yang memberi petunjuk untuk memahami sekumpulan material tambahan yang ditulis denganmesin tik dalamhuruf Latin.[86]

Sejak saat itu, ungkapan ini telah digunakan secara luas dalam berbagai konteks lainnya.Penerima hadiah NobelTheodor W. Hänsch menggunakan istilah ini dalam artikel mengenaispektroskopi yang terbit dalam majalahScientific American pada tahun 1979. Ia menulis bahwa "spektrum atom hidrogen [merupakan] Batu Rosetta bagi fisika modern: begitu pola garis-garis [pancaran] ini berhasil diuraikan, banyak hal lain yang dapat dipahami".[87] Dalam ilmu kedokteran, teknikekokardiografi Doppler (pemanfaatanefek Doppler pada ekokardiogram untuk menggambarkan arah dan kecepatan aliran darah jantung) disebut sebagai Batu Rosetta yang membantu para ahli untuk memahami proses rumit pengisianbilik kirijantung pada beberapa kasusgagal jantung.[88] Pemahaman menyeluruh mengenai sekumpulan gen utama dalamantigen leukosit manusia juga telah diibaratkan sebagai "Batu Rosettaimunologi".[89] Dalam ilmu botani,Arabidopsis thaliana disebut sebagai Batu Rosetta yang membantu menjelaskan waktu berbunga sebuah tanaman.[90] Sementara dalam astronomi, sebuahsemburan sinar gamma (SSG) yang terjadi pada waktu dan tempat yang bersamaan dengan ledakansupernova disebut sebagai Batu Rosetta untuk memahami asal-usul SSG.[91]

Rujukan

Journal
Versi bertanggal 2019 dari artikel ini telah melewati prosesulasan sejawat (di sini), telah dimuat dalam jurnalWikiJournal of Humanities dan dapat dirujuk sebagai:
Dalby, Andrew, et al. (2019)."Rosetta Stone".WikiJournal of Humanities.2 (1): 1.doi:10.15347/wjh/2019.001.Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) publikasi akses terbuka

Catatan kaki

  1. Bierbrier (1999) hlm. 111–113
  2. 123Parkinson et al. (1999) hlm. 23
  3. Synopsis (1847) hlm. 113–114
  4. Miller et al. (2000) hlm. 128–132
  5. 12Middleton and Klemm (2003) hlm. 207–208
  6. 12The Rosetta Stone
  7. 123Ray (2007) hlm. 3
  8. Parkinson et al. (1999) hlm. 28
  9. 1234Parkinson et al. (1999) hlm. 20
  10. Budge (1913) hlm. 2–3
  11. Budge (1894) hlm. 106
  12. Budge (1894) hlm. 109
  13. Parkinson et al. (1999) hlm. 26
  14. Parkinson et al. (1999) hlm. 25
  15. Clarysse and Van der Veken (1983) hlm. 20–21
  16. 123Parkinson et al. (1999) hlm. 29
  17. Shaw & Nicholson (1995) hlm. 247
  18. Tyldesley (2006) hlm. 194
  19. 12Clayton (2006) hlm. 211
  20. Bevan (1927)hlm. 252–262Diarsipkan 2023-02-19 diWayback Machine.
  21. Assmann (2003) hlm. 376
  22. Clarysse (1999) hlm. 51, dengan kutipan dariQuirke and Andrews (1989)
  23. 12Bevan (1927) hlm. 264–265
  24. Ray (2007) hlm. 136
  25. Parkinson et al. (1999) hlm. 30
  26. Shaw (2000) hlm. 407
  27. Walker and Higgs (editors, 2001) hlm. 19
  28. Bagnall and Derow (2004) (no. 137 in online version)
  29. Budge (1904);Budge (1913)
  30. Bevan (1927) hlm. 263–268Diarsipkan 2023-02-19 diWayback Machine.
  31. Simpson (n. d.); versi revisi dariSimpson (1996) hlm. 258–271
  32. Quirke and Andrews (1989)
  33. Parkinson (2005) hlm. 14
  34. Parkinson (2005) hlm. 17
  35. Parkinson (2005) hlm. 20
  36. Clarysse (1999) hlm. 42;Nespoulous-Phalippou (2015) hlm. 283–285
  37. Benjamin, Don C. (March 2009).Stones and stories: an introduction to archaeology and the Bible. Fortress Press. hlm. 33.ISBN 978-0-8006-2357-9. Diakses tanggal14 July 2011.
  38. Adkins (2000) hlm. 38
  39. Gillispie (1987) hlm. 1–38
  40. Wilson (1803) vol. 2 hlm. 274–284
  41. 1234Parkinson et al. (1999) hlm. 21
  42. Burleigh (2007) hlm. 212
  43. Burleigh (2007) hlm. 214
  44. Budge (1913) hlm. 2
  45. Parkinson et al. (1999) hlm. 21–22
  46. 12Andrews (1985) hlm. 12
  47. Parkinson (2005) hlm. 30–31
  48. 12Parkinson (2005) hlm. 31
  49. Parkinson (2005) hlm. 7
  50. 123Parkinson (2005) hlm. 47
  51. Parkinson (2005) hlm. 32
  52. Parkinson (2005) hlm. 50
  53. "Everything you ever wanted to know about the Rosetta StoneDiarsipkan 2019-10-22 diWayback Machine." (British Museum, 14 Juli 2017)
  54. Parkinson (2005) hlm. 50–51
  55. Ray (2007) hlm. 11
  56. Parkinson et al. (1999) hlm. 15–16
  57. El Daly (2005) hlm. 65–75
  58. Ray (2007) hlm. 15–18
  59. Ray (2007) hlm. 20–24
  60. Powell, Barry B. (2009-05-11).Writing: Theory and History of the Technology of Civilization (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 91.ISBN 978-1-4051-6256-2.
  61. 12Budge (1913) hlm. 1
  62. Andrews (1985) hlm. 13
  63. Budge (1904) hlm. 27–28
  64. Parkinson et al. (1999) hlm. 22
  65. Robinson (2009) hlm. 59–61
  66. Robinson (2009) hlm. 61
  67. Robinson (2009) hlm. 61–64
  68. Parkinson et al. (1999) hlm. 32
  69. Budge (1913) hlm. 3–6
  70. Dewachter (1990) hlm. 45
  71. Quirke and Andrews (1989) hlm. 10
  72. Parkinson (2005) hlm. 13
  73. Parkinson et al. (1999) hlm. 30–31
  74. Parkinson et al. (1999) hlm. 35–38
  75. Robinson (2009) hlm. 65–68
  76. Budge (1904) vol. 1 hlm. 59–134
  77. Edwardes and Milner (2003)
  78. Sarah El Shaarawi (5 Oktober 2016)."Egypt's Own: Repatriation of Antiquities Proves to be a Mammoth Task". Newsweek – Middle East. Diarsipkan dariasli tanggal 2019-07-20. Diakses tanggal2019-07-20.
  79. "Rose of the Nile" (2005)
  80. Huttinger (2005)
  81. "Antiquities wish list" (2005)
  82. Ray (2007) hlm. 4
  83. Bailey (2003)
  84. Aruz, Joan; Fino, Elisabetta Valtz (2012).Afghanistan: Forging Civilizations Along the Silk Road (dalam bahasa Inggris). Metropolitan Museum of Art. hlm. 33.ISBN 9781588394521.
  85. Dudney, Arthur (2015).Delhi: Pages From a Forgotten History (dalam bahasa Inggris). Hay House, Inc. hlm. 55.ISBN 9789384544317.
  86. 123Oxford English dictionary (1989) s.v. "Rosetta stone"Diarsipkan June 20, 2011, diArchive.is
  87. Oxford English dictionary (1989) s.v. "Rosetta stone"Diarsipkan June 20, 2011, diArchive.is. Kutipan asli: "... the spectrum of the hydrogen atoms has proved to be the Rosetta Stone of modern physics: once this pattern of lines had been deciphered much else could also be understood".
  88. Nishimura and Tajik (1998)
  89. "International Team"
  90. Simpson and Dean (2002)
  91. Cooper (2010)

Garis waktu publikasi awal tentang Batu Rosetta

  1. ^ 1799:Courrier de l'Égypte no. 37 (29 Fructidor year 7, i.e. 1799) hlm.3 Diakses July 15, 2018
  2. ^ 1802: "Domestic Occurrences: March 31st, 1802" inThe Gentleman's Magazine vol. 72 part 1 hlm. 270http://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id%3Dmdp.39015027527129 Diakses July 14, 2010]
  3. ^ 1802:Silvestre de Sacy,Lettre au Citoyen Chaptal, Ministre de l'intérieur, Membre de l'Institut national des sciences et arts, etc: au sujet de l'inscription Égyptienne du monument trouvé à Rosette. Paris, 1802Diakses July 14, 2010
  4. ^ 1802:Johan David Åkerblad,Lettre sur l'inscription Égyptienne de Rosette: adressée au citoyen Silvestre de Sacy, Professeur de langue arabe à l'École spéciale des langues orientales vivantes, etc.; Réponse du citoyen Silvestre de Sacy. Paris: L'imprimerie de la République, 1802
  5. ^ 1803: "Has tabulas inscriptionem ... ad formam et modulum exemplaris inter spolia ex bello Aegyptiaco nuper reportati et in Museo Britannico asservati suo sumptu incidendas curavit Soc. Antiquar. Londin. A.D. MDCCCIII" inVetusta Monumenta vol. 4 plates 5–7
  6. ^ 1803:Hubert-Pascal Ameilhon,Éclaircissemens sur l'inscription grecque du monument trouvé à Rosette, contenant un décret des prêtres de l'Égypte en l'honneur de Ptolémée Épiphane, le cinquième des rois Ptolémées. Paris: Institut National, 1803Diakses July 14, 2010
  7. ^ 1803:Chr. G. Heyne, "Commentatio in inscriptionem Graecam monumenti trinis insigniti titulis ex Aegypto Londinum apportati" inCommentationes Societatis Regiae Gottingensis vol. 15 (1800–1803) hlm.260 ff.
  8. ^ab 1811: Matthew Raper,S. Weston et al., "Rosetta stone, brought to England in 1802: Account of, by Matt. Raper; with three versions: Greek, English translation by S. Weston, Latin translation by Prof. Heyne; with notes by Porson, Taylor, Combe, Weston and Heyne" inArchaeologia vol. 16 (1810–1812) hlm. 208–263
  9. ^ 1817:Thomas Young, "Remarks on the Ancient Egyptian Manuscripts with Translation of the Rosetta Inscription" inArchaeologia vol. 18 (1817)Diakses July 14, 2010 (lihat hlm. 1–15)
  10. ^ 1819: Thomas Young, "Egypt" inEncyclopædia Britannica, supplement vol. 4 part 1 (Edinburgh: Chambers, 1819)Diakses July 14, 2010 (lihat hlm. 86–195)
  11. ^ 1822:J.-F. Champollion,Lettre à M. Dacier relative à l'alphabet des hiéroglyphes phonétiques (Paris, 1822)At Gallica: Diakses July 14, 2010at French Wikisource
  12. ^ 1823: Thomas Young,An account of some recent discoveries in hieroglyphical literature and Egyptian antiquities: including the author's original alphabet, as extended by Mr. Champollion, with a translation of five unpublished Greek and Egyptian manuscripts (London: John Murray, 1823)Diakses July 14, 2010
  13. ^ 1824: J.-F. Champollion,Précis du système hiéroglyphique des anciens Égyptiens. Paris, 1824Online version at archive.org2nd ed. (1828) At Gallica: Diakses July 14, 2010
  14. ^ 1827: James Browne,Aperçu sur les hiéroglyphes d'Égypte et les progrès faits jusqu'à présent dans leur déchiffrement (Paris, 1827; based on a series of articles inEdinburgh Review beginning with no. 55 (February 1823) hlm. 188–197)Diakses July 14, 2010
  15. ^ 1837:François Salvolini, "Interprétation des hiéroglyphes: analyse de l'inscription de Rosette" inRevue des deux mondes vol. 10 (1937)At French Wikisource
  16. ^ab 1841:Antoine-Jean Letronne,Inscription grecque de Rosette. Texte et traduction littérale, accompagnée d'un commentaire critique, historique et archéologique. Paris, 1840 (issued inCarolus Müllerus, ed.,Fragmenta historicorum Graecorum vol. 1 (Paris:Didot, 1841))Diakses July 14, 2010 (see end of volume)
  17. ^ 1851: H. Brugsch,Inscriptio Rosettana hieroglyphica, vel, Interpretatio decreti Rosettani sacra lingua litterisque sacris veterum Aegyptiorum redactae partis ... accedunt glossarium Aegyptiaco-Coptico-Latinum atque IX tabulae lithographicae textum hieroglyphicum atque signa phonetica scripturae hieroglyphicae exhibentes. Berlin: Dümmler, 1851Diakses July 14, 2010
  18. ^ 1853:Max Uhlemann,Inscriptionis Rosettanae hieroglyphicae decretum sacerdotale. Leipzig: Libraria Dykiana, 1853Diakses July 14, 2010
  19. ^ 1858:Report of the committee appointed by the Philomathean Society of the University of Pennsylvania to translate the inscription on the Rosetta stone. Philadelphia, 1858

Daftar pustaka

Pranala luar

Cari tahu mengenai pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Definisi dan terjemahan dari Wiktionary
Gambar dan media dari Commons
Teks sumber dari Wikisource
Entri basisdata #Q48584 di Wikidata

Internasional
Nasional
Lain-lain
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Batu_Rosetta&oldid=28436040"
Kategori:
Kategori tersembunyi:

[8]ページ先頭

©2009-2026 Movatter.jp