Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini berisi tentang beragam bentuk bahasa Tionghoa. Untuk bahasa Tionghoa yang menjadi bahasa nasional Tiongkok dan Taiwan, lihatBahasa Tionghoa Baku.
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
Bahasa Tionghoa atauBahasa Cina (汉语/漢語, 华语/華語, atau 中文;Pinyin: Hànyǔ, Huáyǔ, atau Zhōngwén) adalah bagian dari rumpunbahasa Sino-Tibet. Meskipun kebanyakan orangTionghoa menganggap berbagai varian bahasa Tionghoa lisan sebagai satubahasa, variasi dalam bahasa-bahasa lisan tersebut sebanding dengan variasi-variasi yang ada dalam misalkanbahasa Roman; bahasa tertulisnya juga telah berubah bentuk seiring dengan perjalanan waktu, meski lebih lambat dibandingkan dengan bentuk lisannya, dan oleh sebab itu mampu melebihi variasi-variasi dalam bentuk lisannya.
Sekitar 1/5 penduduk dunia menggunakan salah satu bentuk bahasa Tionghoa sebagai penutur asli, maka jika dianggap satu bahasa, bahasa Tionghoa merupakan bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di dunia. Bahasa Tionghoa (dituturkan dalam bentuk standarnya,Mandarin) adalah bahasa resmiTiongkok danTaiwan, salah satu dari empat bahasa resmiSingapura, dan salah satu dari enam bahasa resmiPBB.
Istilah dan konsep yang digunakan orang Tionghoa untuk berpikir tentang bahasa berbeda dengan yang digunakan orang-orang Barat; ini disebabkan oleh efek pemersatuaksara Tionghoa yang digunakan untuk menulis dan juga oleh perbedaan dalam perkembangan politik dan sosialTiongkok dibandingkan denganEropa. Tiongkok berhasil menjaga persatuan budaya dan politik pada waktu yang bersamaan dengan jatuhnyakerajaan Romawi, masa di mana Eropa terpecah menjadi negara-negara kecil yang perbedaannya ditentukan oleh bahasa.
Perbedaan utama antara konsep Tiongkok dan konsep Barat tentang bahasa ialah bahwa orang-orang Tiongkok sangat membedakan bahasa tertulis 文 (wén) dari bahasa lisan 语 (yǔ). Pembedaan ini diperluas sampai menjadi pembedaan antara kata tertulis 字 (zì) dan kata yang diucapkan 话 (huà). Konsep untuk bahasa baku yang berbeda dan mempersatukan bahasa lisan dengan bahasa tertulis ini dalam bahasa Tionghoa tidaklah terlalu menonjol. Ada beberapa varian bahasa Tionghoa lisan, di manabahasa Mandarin adalah yang paling penting dan menonjol. Tetapi di sisi lain, hanya ada satu bahasa tertulis saja. (Lihat paragraf di bawah ini).
Bentuk karakter cetak kuno darizhongwen.
Bahasa Tionghoa lisan adalah semacam bahasa intonasi yang berhubungan denganbahasa Tibet danbahasa Myanmar, tetapi secara genetis tidak berhubungan dengan bahasa-bahasa tetangga sepertibahasa Korea,bahasa Vietnam,bahasa Thai danbahasa Jepang. Meskipun begitu, bahasa-bahasa tersebut mendapat pengaruh yang besar dari bahasa Tionghoa dalam proses sejarah, secara linguistik maupun ekstralinguistik.Bahasa Korea danbahasa Jepang sama-sama mempunyai sistem penulisan yang menggunakanaksara Tionghoa, yang masing-masing dipanggilHanja danKanji. DiKorea Utara,Hanja sudah tidak lagi digunakan danHangul ialah satu-satunya cara untuk menampilkan bahasanya sementara diKorea SelatanHanja masih digunakan.Bahasa Vietnam juga mempunyai banyak kata-kata pinjam dari bahasa Tionghoa dan pada masa dahulu menggunakan aksara Tionghoa.
Hubungan antara bahasa Tionghoa lisan dan bahasa Tionghoa tulis
Hubungan antara bahasa Tionghoa lisan dan tertulis cukup kompleks. Kompleksitas hubungan ini makin dipersulit dengan adanya berbagai variasi bahasa Tionghoa lisan yang telah melewati evolusi selama berabad-abad sejak zaman akhirDinasti Han. Meskipun begitu, bentuk tulisannya tidak mengalami perubahan yang besar.
Hingga abad ke-20, sebagian besar tulisan Tionghoa formal berbentuk Tionghoa Klasik 文言 (Pinyin: wényán) yang sangat berbeda dari semua varian lisan Tionghoa seperti halnya bahasa Latin Klasik. Hal ini sangat berbeda daribahasa Roman modern. Aksara Tionghoa yang lebih mirip dengan bahasa lisannya digunakan untuk menulis karya-karya informal seperti novel-novel yang mengandung bahasa sehari-hari.
SejakGerakan 4 Mei (1919), standar formal tulisan Tionghoa adalah 白话 (Pinyin: báihuà) yaitu bahasa tionghoa vernakular atau bahasa sehari-hari yang mempunyaitata bahasa dankosakata yang mirip, namun tidak sama dengan tata bahasa dan kosakata bahasa Tionghoa lisan modern. Meskipun hanya sedikit karya baru yang ditulis dalam bahasa Tionghoa Klasik, bahasa Tionghoa Klasik masih dipelajari di tingkat SMP dan SMU di Tiongkok dan menjadi bagian dari ujian masuk universitas.
Aksara Tionghoa adalah karakter kata yang tidak berubah meskipun dalam berbagai dialek cara pengucapannya berbeda-beda. Dengan demikian, meskipun angka satu dalambahasa Mandarin berbunyi "yī", sedangkan dalambahasa Kantonis berbunyi "yat" dan dalambahasa Hokkien bunyinya adalah "tsit/cit", semuanya berasal dari satu kata Tionghoa yang sama dan masih menggunakan satu karakter yang sama, yaitu: 一. Namun, cara penggunaan karakter tersebut tidak sama dalam setiap dialek Tionghoa. Kosakata yang digunakan dalam dialek-dialek tersebut juga telah diperluas. Selain itu, meski kosakata yang digunakan dalam karya sastra masih sering mempunyai persamaan antara dialek-dialek yang berbeda (setidaknya dalam penggunaan hurufnya karena cara bacanya berbeda), kosakata untuk bahasa sehari-hari sering kali mempunyai banyak perbedaan.
Interaksi yang kompleks antara bahasa Tionghoa tertulis dan lisan bisa digambarkan melaluibahasa Kantonis. Terdapat dua bentuk standar yang digunakan untuk menulis bahasa Kantonis: Kantonis tertulis formal dan Kantonis tertulis biasa (bahasa sehari-hari). Kantonis tertulis formal sangat mirip dengan bahasa Tionghoa tertulis dan bisa dimengerti oleh seorang penutur bahasa Tionghoa tanpa banyak kesulitan, tetapi Kantonis tertulis formal cukup berbeda daripada Kantonis lisan. Kantonis tertulis biasa lebih mirip dengan Kantonis lisan tetapi sulit dimengerti oleh penutur bahasa Tionghoa yang belum terbiasa.
Bahasa Kantonis mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah non-Tionghoa lainnya karena mempunyai bentuk tulisan standar yang digunakan secara luas. Bahasa-bahasa daerah lainnya tidak mempunyai bentuk tulisan standar alternatif seperti Kantonis namun mereka menggunakan huruf-huruf lokal atau menggunakan huruf-huruf yang dianggap kuno di "baihua".
Selain bahasa diatas, ada pula jenis bahasa Tionghoa lain yang dituturkan sepertibahasa Hakka atau khek danbahasa Tiochiu.
Kategorisasi perkembangan bahasa Tionghoa masih menjadi perdebatan di antara para ahli-ahli bahasa. Salah satu sistem yang pertama diciptakan oleh ahli bahasaSwedia bernamaBernhard Karlgren; sistem yang sekarang dipakai merupakan revisi dari sistem ciptaannya.
Bahasa Tionghoa Lama adalah bahasa yang umum pada zaman awal dan pertengahandinasti Zhou (abad ke-11 hingga 7 SM) - hal ini dibuktikan dengan adanya ukiran pada artifak-artifak perunggu, puisiShijing, sejarahShujing, dan sebagian dariYijing (I Ching). Tugas merekonstruksi Bahasa Tionghoa Lama dimulai oleh para filologisdinasti Qing. Unsur-unsur fonetis yang ditemukan dalam kebanyakan aksara Tionghoa juga menunjukkan tanda-tanda cara baca lamanya.
Bahasa Tionghoa Pertengahan adalah bahasa yang digunakan pada zamandinasti Sui,dinasti Tang dandinasti Song (dari abad ke-7 hingga 10 Masehi). Bahasa ini dapat dibagi kepada masa awalnya - yang direfleksikan olehtabel rimaQieyun 切韻 (601 M) dan masa akhirnya pada sekitar abad ke-10 - yang direfleksikan oleh tabel rimaGuangyun 廣韻.Bernhard Karlgren menamakan masa ini sebagai 'Tionghoa Kuno'. Ahli-ahli bahasa yakin mereka dapat membuat rekonstruksi yang menunjukkan bagaimana bahasa Tionghoa Pertengahan diucapkan. Bukti cara pembacaan bahasa Tionghoa Pertengahan ini datang dari berbagai sumber: varian dialek modern, kamus-kamus rima, dan transliterasi asing. Sama seperti bahasa Proto-Indo-Eropa yang bisa direkonstruksi dari bahasa-bahasa Eropa modern, bahasa Tionghoa Pertengahan juga bisa direkonstruksi dari dialek-dialek modern. Selain itu, filologis Tionghoa zaman dulu telah berjerih payah dalam merangkum sistem fonetis Tionghoa melalui "tabel rima", dan tabel-tabel ini kini menjadi dasar karya ahli-ahli bahasa zaman modern. Terjemahan fonetis Tionghoa tehadap kata-kata asing juga memberikan banyak petunjuk tentang asal-muasal fonetis bahasa Tionghoa Pertengahan. Meskipun begitu, seluruh rekonstruksi bahasa tersebut bersifat sementara; para ahli telah membuktikan misalnya, melakukan rekonstruksi bahasa Kantonis modern dari rima-rima musik Kantonis (Cantopop) modern akan memberikan gambaran yang sangat tidak tepat mengenai bahasanya.
Perkembangan bahasa Tionghoa lisan sejak masa-masa awal sejarah hingga sekarang merupakan perkembangan yang sangat kompleks. Klasifikasi di bawah menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok utama bahasa Tionghoa berkembang dari satu bahasa yang sama pada awalnya.
Hingga pertengahan abad ke-20, kebanyakan orang Tiongkok yang tinggal di Tenggara Tiongkok (Guangdong , Fujian , Hainan) tidak semua penduduknya dapat berbahasa Mandarin berbeda dengan orang orang yang tinggal di Barat daya Tiongkok (Yunnan, Guizhou, Sichuan) yang mana orang orang Han disana hanya menggunakan Bahasa Mandarin sekalipun dialeknya berbeda dengan yang ada di Beijing. Bagaimanapun juga, walaupun adanya campuran antara pejabat-pejabat dan penduduk biasa yang bertutur dalam berbagai dialek Tionghoa, Mandarin Nanjing menjadi dominan setidaknya pada masadinasti Qing yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa resmi. Sejak abad ke-17, pihak Kekaisaran telah membentuk Akademi Orthoepi (正音書院 Zhengyin Shuyuan) sebagai upaya agar cara pembacaan mengikuti standar Beijing (Beijing adalah ibu kota Qing), tetapi upaya tersebut kurang berhasil. Mandarin Nanjing akhirnya digantikan penggunaannya di pengadilan kekaisaran dengan Mandarin Beijing dalam 50 tahun terakhir dinasti Qing pada akhir abad ke-19. Bagi para penduduk biasa, meskipun berbagai variasi bahasa Tionghoa telah dituturkan di Tiongkok pada waktu itu, bahasa Tionghoa yang standar masih belum ada. Penutur-penutur non-Mandarin di tenggara Tiongkok juga terus berkomunikasi dalam dialek-dialek daerah mereka dalam segala aspek kehidupan.
Keadaan berubah dengan adanya (di Tiongkok dan Taiwan) sistem pendidikan sekolah dasar yang mempunyai komitmen dalam mengajarkan bahasa Mandarin. Hasilnya, bahasa Mandarin sekarang dituturkan dengan lancar oleh hampir semua orang-orang diTiongkok Daratan,Taiwan dan sebagianSingapura. DiHong Kong, bahasa pendidikan masih tetapbahasa Kantonis namun Mandarin juga tetap digunakan secara luas.
Bilangan dalam bahasa Tionghoa dengan bahasa Indonesia
èr dan liǎng merupakan angka 2. yang membedakan èr untuk dua digit angka (contoh: 302, 122 dan 242) dan liǎng untuk tiga atau lebih digit angka (contoh:248,2239 dan29252)