Agama abrahamik adalah sekumpulan agamamonoteistik yang menghormati atau mengagumi tokoh agamaAbraham, yaituYudaisme,Kristen, danIslam, meskipun istilah ini juga sering mencakup beberapa agama kecil lainnya. Agama-agama dalam kelompok ini memiliki kesamaan doktrinal, historis, dan geografis yang membedakannya denganagama-agama India, Iran, danAsia Timur. Istilah ini, yang diperkenalkan pada abad ke-20, menggantikan istilah "Yahudi-Kristen" untuk memasukkan Islam sebagai agama Abrahamik dan mengakui perbedaan antara Yudaisme dan Kristen. Namun, istilah ini telah dikritik karena menyederhanakan nuansa budaya dan doktrinal yang kompleks.
Tradisi Yahudi danKristen menyebutkan bahwaDua Belas Suku Israel adalah keturunan dari Abraham melalui putranyaIshak dan cucuYakub, yang putra-putranya membentukbangsa Israel diKanaan, sedangkan tradisi Islam menyebutkan bahwa Dua Belas Suku Arab yang dikenal sebagaibani Ismail adalah keturunan dari Ibrahim melalui putranya Ismail di tanah Arab.[4][1][5][6][7]
Agama Israel kuno berasal dari agama Kanaan kuno pada Zaman Perunggu, dan menjadi monoteistik kuat sekitar abad ke-6 SM.[8][9]
Kekristenan berpisah dari Yudaisme pada abad ke-1 M,[1] dan menyebar luas setelah diadopsi oleh Kekaisaran Romawi sebagai agama negara pada abad ke-4 Masehi. Islam muncul pada abad ke-7 M, dan juga tersebar luas melaluipenaklukan Muslim awal.[1]
Agama samawi membentuk kelompok agama terbesar dalamilmu perbandingan agama, setelah agama-agama dari India, Iran, dan Asia Timur.[10] Kristen dan Islam adalah agama terbesar di dunia berdasarkan jumlah pemeluknya.[11] Agama-agama samawi dengan penganut lebih sedikit termasuk Yudaisme,[11]iman Baháʼí,[2][12][13]Druze,[2][14] Samaria,[2] danRastafari.[2][15]
Cendekiawan Katolik IslamLouis Massignon menyatakan bahwa frasa "Agama Abrahamik" adalah semua agama yang berasal dari sumber spiritual yang sama.[16] Istilah yang lebih modern berasal dari istilah plural dari referensiAl-Qur'an yaituMillah Abraham, "Agamanya Ibrahim", bentuk bahasa arab dari Abraham.[17]
Janji Allah padaKejadian 15:4-8 mengenai ahli waris Abraham menjadi paradigmatik bagi orang Yahudi, yang berbicara tentang dia sebagai "bapa kita Abraham" (Avraham Avinu). Dengan munculnya kekristenan,Paulus sang Rasul, dalamRoma 4:11-12, juga menyebutnya sebagai "bapa dari semua orang" mereka yang beriman, disunat atau tidak disunat. Islam juga menganggap dirinya sebagai agama Abraham.[18] Semua agama Abrahamik utama mengklaim garis keturunan langsung kepada Abraham:
Orang Kristen menegaskan asal-usul leluhur orang Yahudi di Abraham.[18] Kekristenan juga mengklaim bahwaYesus adalah keturunan Abraham.[Matius 1:1-17]
Muhammad, sebagaiorang Arab, diyakini oleh umat Islam sebagai keturunan dari putraIbrahim(Abraham),Isma'il (Ismael), melaluiHajar (Hagar). Tradisi Yahudi juga menyamakan keturunan Ismael,Orang Ismail, dengan orang Arab, sedangkan keturunanIshak olehYakub, yang juga kemudian dikenal sebagai Israel, adalah orang Israel.[20]
Kepercayaan Bahá'í menyatakan dalam kitab sucinya bahwa Bahá'ullah adalah keturunan Abraham melalui putra-putra istrinya Keturah.[5][21][22]
Ketepatan pengelompokan Yudaisme, Kristen, dan Islam dengan istilah "agama-agama Ibrahim" atau "tradisi-tradisi Ibrahim" telah banyak ditentang. Kepercayaan umum Kristen tentang Inkarnasi, Trinitas, dan kebangkitan Yesus, misalnya, tidak diterima oleh agama Yahudi dan Islam (lihat misalnya pandangan Islam tentang kematian Yesus). Ada kepercayaan-kepercayaan utama dalam Islam dan Yahudi yang tidak dimiliki oleh sebagian besar agama Kristen (seperti pantangan terhadap daging babi), dan kepercayaan-kepercayaan utama dalam Islam, Kristen, dan Iman Baháʼí yang tidak dimiliki oleh agama Yahudi (seperti posisi kenabian dan keMesiasan Yesus).[23]
Adam Dodds berpendapat bahwa istilah "Kepercayaan Abrahamik", meskipun bermanfaat, dapat menyesatkan, karena istilah ini menyampaikan kesamaan historis dan teologis yang tidak spesifik, dan dapat menjadi masalah jika diteliti lebih lanjut. Meskipun ada kesamaan di antara agama-agama tersebut, akar persamaan hanya bersifat periferal dari kepercayaan dasar masing-masing dan dengan demikian menyembunyikan perbedaan-perbedaan yang krusial.[24] Alan L. Berger, Profesor Studi Yudaisme di Florida Atlantic University, menulis bahwa meskipun "Yudaisme melahirkan agama Kristen dan Islam," ketiga agama tersebut "memahami peran Abraham" dengan cara yang berbeda.[25] Sementara itu, Aaron W. Hughes menggambarkan istilah tersebut sebagai "tidak tepat" dan "sebagian besar merupakan neologisme teologis."[26]
Sebutan alternatif untuk "agama-agama Abraham", yaitu "monoteisme gurun", mungkin juga memiliki konotasi yang tidak memuaskan.[27]
123456Abulafia, Anna Sapir (23 September 2019)."The Abrahamic religions".www.bl.uk. London: British Library.Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2020. Diakses tanggal9 March 2021.
↑Dever, William G. (2001)."Getting at the "History behind the History"".What Did the Biblical Writers Know and When Did They Know It?: What Archeology Can Tell Us About the Reality of Ancient Israel. Grand Rapids, Michigan dan Cambridge, Britania Raya: Wm. B. Eerdmans. hlm.97–102.ISBN978-0-8028-2126-3.OCLC46394298.
↑Benjamin, Don C. (1983).Deuteronomy and city life: a form criticism of texts with the word city ('îr) in Deuteronomy 4:41-26:19. Lanham, MD: University Press of America. hlm.47.ISBN0-8191-3138-5.OCLC9324453.Nineteenth century scholars were convinced that the uniform vastness of the desert was the incentive for Israel's belief in one god. Baly, however, points out that most desert dwellers are polytheists. [...] Monotheism, according to Baly, have never developed in desert cultures; monotheism always develops in cities! Pemeliharaan CS1: Status URL (link)