2 Timotius 4 | |
---|---|
![]() Lembaran yang memuat 1 Timotius 2:2-6 padaCodex Coislinianus, yang dibuat sekitar tahun 550 M. | |
Kitab | Surat 2 Timotius |
Kategori | Surat-surat Paulus |
Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
Urutan dalam Kitab Kristen | 16 |
Titus 1 → |
2 Timotius 4 (disingkat2Tim 4) adalah bagian terakhir dariSurat Paulus yang Kedua kepada Timotius dalamPerjanjian Baru diAlkitabKristen.[1][2] Digubah olehrasul Paulus[3] dan ditujukan kepadaTimotius.[4]
Pembagian isi pasal:
Sepanjang sejarah gereja selalu ada orang yang tidak mau mengasihi ajaran sehat, namun ketika akhir zaman makin dekat, keadaan akan makin parah (bandingkan2 Timotius 3:1–5; 1 Timotius 4:1).1) "Orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat". Banyak orang akan mengaku dirinya Kristen, berkumpul di gereja, tampaknya menghormati Allah, tetapi tidak akan menerima iman rasuliPerjanjian Baru yang asli atau perintah Alkitab untuk memisahkan diri dari ketidakadilan (2 Timotius 3:5; bandingkanRoma 1:16).2) "Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran" (2 Timotius 4:4). Penyampaian Firman Allah oleh hamba Allah tidak akan diterima oleh banyak orang dalam gereja. Mereka yang berpaling dari kebenaran akan menginginkan pemberitaan yang menuntut kurang dari Injil sejati (bandingkan2 Timotius 2:18; 3:7–8; 1 Timotius 6:5; Titus 1:14). Mereka tidak akan menerima Firman Allah tentang pertobatan, dosa, hukuman, dan perlunya hidup kudus dan terpisah dari dunia (bandingkan2 Timotius 3:15–17; Yeremia 5:31; Yehezkiel 33:32).3) "Mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinga". Mereka tidak akan mencari gembala menurut standar Firman Allah (bandingkan2Tim 1:13–14; 1Tim 3:1–10), tetapi akan mencari orang yang sesuai dengan keinginan duniawi mereka. Mereka akan memilih pengkhotbah yang pandai berpidato, mampu menghibur, dan berita yang akan menyakinkan mereka bahwa mereka dapat tetap menjadi Kristen sementara hidup menurut tabiat dosa (bandingkanRom 8:4–13; 2Pet 2:1–22).4) Roh Kudus mengingatkan semua yang tetap setia kepada Allah dan tunduk kepada Firman-Nya untuk menantikan penganiayaan dan penderitaan karena kebenaran (2Tim 3:10–12; Mat 5:10–12). Selanjutnya, mereka harus memisahkan diri dari kelompok, gereja dan lembaga yang menyangkal kuasa Allah dalam keselamatan dan yang menyampaikan Injil yang berkompromi (Gal 1:9; 2Tim 3:5; 1Tim 4:1–2; 2 Petrus 2:1; Yudas 1:3; Wahyu 2:24).Orang percaya harus selalu setia kepada Injil Perjanjian Baru dan hamba Allah yang memberitakannya dengan benar. Setelah melakukan ini, orang percaya dapat yakin tentang persekutuan yang intim dengan Kristus (Wahyu 3:20–22) dan menerima kesegaran rohani dari Tuhan (Kis 3:19-20).[6]
Ketika meninjau kembali hidupnya bersama Allah, Paulus sadar bahwa ajalnya sudah dekat (2 Timotius 4:6) dan melukiskan hidup Kristennya dengan istilah berikut:
Karena Paulus tetap setia kepada Tuhannya dan Injil yang dipercayakan kepadanya, maka Roh Kudus bersaksi kepadanya bahwa persetujuan Allah dan "mahkota kebenaran" tersedia bagi dia di sorga. Di sorga Allah sudah menyiapkan pahala bagi semua orang yang setia pada kebenaran (bandingkanMatius 19:27–29; 2 Korintus 5:10).
Orang Kristen zaman Perjanjian Baru sangat merindukan kedatangan Tuhan untuk mengambil mereka dari bumi agar bersama dengan Dia selama-lamanya (lihat1 Tesalonika 4:13–18; bandingkanFilipi 3:20–21; Titus 2:13). Suatu tanda khusus umat Allah ialah bahwa mereka tidak kerasan dalam dunia dan mengharapkan rumah sorgawi (Ibrani 11:13–16).[6]
Gereja Katolik memandang ayat ini sebagai implikasi bahwaOnesiforus telah meninggal dunia pada saat itu, sebagaimana tersirat dalam2 Timotius 1:16-18, karena Paulus secara langsung menyapaAkwila dan Priskila serta tampaknya ia memberi salam kepada "keluarga Onesiforus" untuk menghibur keluarganya.[11]