I. TUJUAN
Pedomanini bertujuan untuk membantu klinisi dalam merawat pasien dengan penyakittiroid baik itu untuk penyakit tiroid yang jinak maupun yang ganas, terutamauntuk pedoman bagi spesialis kedokteran nuklir dalam memberikan terapi iodiumradioaktif (NaI-131). Di dalam pedomanini juga akan dibahas mengenai penilaian pasien dengan penyakit tiroid yangakan diberikan terapi NaI-131, tatalaksana pemberian terapi NaI-131, danpemahaman tentang akibat yang dapat ditimbulkan dari pemberian terapi NaI-131.
II. LATARBELAKANG
Iodium radioaktif,dalam hal ini I-131, mempunyai perangai biokimia yang sama dengan iodiumstabil/non-radioaktif (I-127), yaitu hampir seluruhnya akan ditangkap (uptake) dan diakumulasi di kelenjartiroid. Iodium radioaktif memiliki sifat fisik yang mampu memancarkan sinarbeta dan gamma. Melalui sinar gamma yang dipancarkan, I-131 dapat digunakanuntuk pencitraan (imaging) kelenjartiroid. Sedangkan sinar beta dapat digunakan untuk terapi karena kemampuannyamengablasi sel-sel folikel tiroid yang fungsional.
Iodida merupakan bahanbaku pembentukan hormon tiroid yang dalam proses pembentukannya akan menjalani2 tahapan penting, yaitutrapping(pengumpulan)dan organifikasi. Kemampuan jaringan tiroid dalam menangkap (uptake) iodida tersebut menggambarkankinetikanya dalam kelenjar tiroid, dan secara tidak langsung menggambarkan pulafungsi dari kelenjar tiroid tersebut.
Terapi penyakit tiroidjinak maupun ganas dengan I-131 merupakan modalitas yang telah digunakan secaraluas sejak tahun 1940-an. Energi radiasi dari sinar beta yang dimiliki olehI-131 akan mengablasi jaringan tiroid fungsional sehingga diharapkan produksihormon tiroid dan ukuran dari kelenjar tiroid akan berkurang. Yang dimaksuddengan penyakit tiroid jinak adalah hipertiroidi dan struma multinodosa ataustruma difusa non-toksik. Di Amerika Serikat terapi NaI-131 merupakan terapipilihan pertama untuk pasien dengan hipertiroidi; namun di Eropa dan Jepangterapi NaI-131 baru dilakukan apabila terjadi kegagalan dengan obat anti-tiroid(OAT).
Penyakit keganasantiroid yang dapat diberikan terapi NaI-131 adalah karsinoma tiroidberdiferensiasi baik (KTB). KTB merupakan keganasan yang berasal dari jaringanepitel folikel tiroid dan masih dapat mensintesis tiroglobulin danmengakumulasi iodium. KTB dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan histopatologisyaitu folikuler, papilifer, dan campuran. Terapi utama dari KTB adalahtiroidektomi total, dilanjutkan dengan terapi adjuvan yaitu ablasi menggunakanNaI-131 dan terapi supresi hormon tiroid. Kombinasi tiroidektomi total, ablasidengan NaI-131, dan supresi dengan hormon tiroid terbukti dapat menurunkanangka kekambuhan dan meningkatkan angka harapan hidup dari penderitan denganKTB. Terapi NaI-131 pada KTB diberikan berdasarkan pada stratifikasi risiko.
Dokter yang bertanggungjawab dalam memberikan terapi pada pasien dengan penyakit tiroid tersebut harusdapat memahami patofisiologi klinis dan proses penyakitnya serta harus dapatbekerja sama dengan dokter spesialis lain yang terlibat dalam penatalaksanaanpasien tersebut. Di Amerika Serikat, dokter yang dapat memberikan terapiNaI-131 adalah dokter spesialis kedokteran nuklir, radiologi, radioterapi, ataudokter yang memiliki sertifikat pelatihan dan kompetensi serta pengalaman dalammelakukan pemberian terapi NaI-131 secara aman. Di Eropa, dokter yang dapatmemberikan terapi NaI-131 adalah dokter spesialis kedokteran nuklir atauradioterapi. Di Indonesia, berdasarkan permenkes No.008 tahun 2009, dokter yangdapat memberikan terapi NaI-131 adalah dokter spesialis kedokteran nuklir.
Izin kepemilikanNaI-131 dan peraturan mengenai batas paparan radiasi pada pasien yang diberikanterapi NaI-131 bervariasi antar negara. Dokter yang memberikan terapi NaI-131haruslah mengetahui dan mematuhi semua hukum dan peraturan yang ada di negaratersebut.
Fasilitas tempatpemberian terapi NaI-131 harus memiliki personil paramedis yang berkompeten,peralatan keselamatan radiasi, dan prosedur mengenai penanganan sampah danlimbah radiasi, pengawasan staf personil terhadap risiko kecelakaankontaminasi, dan pengaturan dari pencemaran udara dari NaI-131.
III.DEFINISI
· I-131 adalah suatu radionuklida yangmemancarkan partikel beta dengan waktu paruh 8.1 hari, dan juga memiliki energisinar gamma sebesar 364 KeV dan energi maksimum dari partikel beta sebesar 0.61MeV, dan jarak penetrasi terhadap jaringan berkisar 0.8 mm.
· Terapi iodium radioaktif adalahpemberian NaI-131 (I-131 disenyawakan dengan Na) secara oral.
· Penyakit tiroid jinak adalah Graves (strumadifusa toksik), struma nodusa/multinodosa toksik dan nontoksik, dan nodultiroid otonom (NTO) toksik maupun nontoksik.
· Penyakit tiroid ganas adalah karsinomatiroid berdiferensiasi yang mampu mensintesis tiroglobulin dan menangkapNaI-131.
IV. INDIKASIdan KONTRAINDIKASI TERAPI NaI-131
A. INDIKASI
1. Penyakittiroid jinak
· Hipertiroidi;
· Nodul tiroid otonom (NTO), toksik ataunon-toksik;
· Struma multinodosa nontoksik.
2. Keganasantiroid
· Terapi adjuvan karsinoma tiroidberdiferensiasi pasca-tiroidektomi total;
· Metastasis karsinoma tiroidberdiferensiasi pasca-tiroidektomi total.
B. KONTRAINDIKASI
Terapi NaI-131 tidakboleh diberikan pada penderita yang sedang hamil dan menyusui.
A. TATALAKSANA
A. PersiapanPasien
1. Untuksemua penderita
a. Penderitaharus menghentikan konsumsi obat yang mengandung iodium, suplemen iodium,hormon tiroid, dan obat lainnya yang berpotensi mempengaruhi penangkapanNaI-131 di jaringan tiroid dalam waktu yang telah ditentukan. (lihat lampiran tabel1);
b. Penderitadiminta untuk mengkonsumsi makanan rendah iodium selama 7 – 10 hari sebelumterapi NaI-131 untuk meningkatkan kemampuan jaringan tiroid menangkap NaI-131(lihat lampiran tabel 2);
c. Sebelumdiberikan terapi NaI-131, penderita diminta puasa minimal 6 – 8 jam untukmengoptimalkan penyerapan NaI-131 di dalam saluran cernadan baru boleh makan satu jam setelah pemberianNaI-131;
d. Sebelumdiberikan terapi NaI-131, penderita wanita usia produktif harus yakin bahwa diasedang tidak hamil; bila perlu dilakukan tes kehamilan;
e. Dokteryang memberikan NaI-131 harus memberikan penjelasan kepada penderita dankeluarganya mengenai prosedur, pengobatan, hasil yang diharapkan dari terapiNaI-131 dan efek samping yang mungkin terjadi.
f. Suratpersetujuan (informed consent) harusditandatangani pasien sebelum pemberian terapi NaI-131.
2. Untuk penderita penyakit tiroidjinak
a. Hasilpemeriksaan kadar hormon tiroid (T4 bebas dan T3 bebas) danthyroid stimulating hormone(TSH) yangterkini harus tersedia.
b. Kemampuanpenangkapan NaI-131 oleh kelenjar tiroid diketahui melalui pemeriksaanradioiodine uptake (RAIU), atau secarakualitatif melalui pemeriksaan sidik tiroid. Pemeriksaan ini akan membedakanantara hipertiroidi dari penyebab tirotoksikosis lainnya.
c. Padakeadaan tertentu, misalnya pada penderita berusia lanjut, penyakitkardiovaskuler, struma multinodosa yang besar dan mendapat terapi NaI-131 dalamdosis tinggi, atau penyakit sistemik berat lainnya, maka pemberian OAT pre-terapiNaI-131 dapat diberikan untuk menurunkan kadar hormon tiroid.
d. OATdihentikan paling kurang 5 hari sebelum pemberian terapi NaI-131 dan dapatdilanjutkan kembali 5 hari sesudahnya.
e. Obatpenyekat beta (beta-blocker) dapatdiberikan untuk mengendalikan gejala hipertiroidi; obat penyekat beta ini tidakperlu dihentikan pada saat pemberian terapi NaI-131.
f. Suratpersetujuan (informed consent) harusmenjelaskan hal-hal di bawah ini:
· Kemungkinan diperlukan pemberian terapiNaI-131 lebih dari 1 kali
· Kemungkinan terjadinya hipotiroidi setelahterapi NaI-131 yang memerlukan pengobatan dengan hormon tiroid seumur hidup sebagaipengganti.
· Kemungkinan timbulnya atau perburukandari oftalpmopati.
· Kemungkinan terjadinya rasa tidak nyamandi leher yang bersifat sementara atau perburukan gejala hipertiroidi (walaupunsangat jarang) yang disebabkan oleh tiroiditis akibat radiasi.
3. Untuk penderita keganasan tiroid
a. Sebelumterapi NaI-131, konsumsi hormon tiroid terlebih dahulu harus dihentikan selama4–6 minggu (atau bila mengkonsumsi T3 cukup dihentikan selama 2 minggu), tujuannyauntuk meningkatkan kadar serum TSH menjadi > 30 uIU/mL. Peningkatan kadarserum TSH tidak akan terjadi bila volume sisa jaringan tiroid fungsional masih cukupbesar;
b. Penghentiankonsumsi hormon tiroid tidak perlu dilakukan bila diberikanrecombinant human TSH (rhTSH), sehinggahipotiroidi dapat dicegah;
c. Fotorontgen thoraks dan pemeriksaan darah rutin serta hitung jenis perlu dilakukansebelum pemberian terapi NaI-131. Foto rontgen thoraks diperlukan untukmengetahui terjadinya metastasis yang terjadi di paru, sedangkan pemeriksaandarah rutin dan hitung jenis diperlukan untuk mengetahui terjadi supresihematologi di sumsum tulang;
d. Hasilpemeriksaan TSH yang terkini dan laporan operasi serta hasil histopatologiharus tersedia pada penderita pasca-tiroidektomi total;
e. Parameteryang digunakan untuk menilai keberhasilan terapi NaI-131 pada penderitakarsinoma tiroid berdiferensiasi adalah kadar tiroglobulin serum dengan syarat antibodiantitiroglobulin negatif, para pakar umumnya sepakat kadar tiroglobulin > 3ng/dL menunjukkan masih adanya sisa jaringan tiroid atau metastasis yangfungsional.
f. Pemantauansetelah terapi (operasi maupun ablasi dengan NaI-131) untuk mendeteksi sisajaringan tiroid atau metastasis atau kekambuhan melalui pencitraan NaI-131diagnostik tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan efekstunning pada jaringan tiroid, yang akan menyebabkan resistensiterhadap pemberian terapi NaI-131 berikutnya; sebagai alternatif dapatdigunakan radiofarmaka lainnya (seperti: Tc-99m MIBI, dll) atau pencitraandengan menggunakan PET FDG;
g. Suratpersetujuan (informed consent) harusmenjelaskan hal-hal dibawah ini:
· Tujuan pemberian terapi NaI-131 adalahuntuk menghancurkan sisa jaringan tiroid fungsional dan keganasan tiroid.
· Kemungkinan diperlukan pemberian terapiNaI-131 lebih dari 1 kali
· Efek samping dapat termasuk mual,terkadang hingga muntah, nyeri di kelenjar saliva, berkurangnya cairan salivadan kemampuan mengecap, nyeri dan bengkak pada leher bila jumlah sisa jaringantiroid masih banyak, dan penurunan sel darah putih yang mengakibatkan peningkatanrisiko terjadinya infeksi; efek samping tersebut bersifat sementara dan akanhilang dengan sendirinya.
B. Pemberianterapi NaI-131
1. Untuksemua penderita
a. Dokteryang merawat harus mendapatkan riwayat kesehatan penderita yang berhubungandengan penyakit tiroid dan melaksanakan pemeriksaan fisik secara langsung;
b. Dosiskumulatif dari NaI-131 yang telah diberikan kepada penderita harus dicatat kedalam rekam medis;
c. Dokteryang merawat harus memastikan bahwa pemeriksaan laboratorium yang tepat telahdilaksanakan dan dianalisa;
d. Identitaspenderita harus dicatat dengan benar untuk menghindari kesalahan, hal ini disesuaikandengan kebijakan di rumah sakit tersebut.
e. Terapidengan NaI-131 dapat diberikan dalam bentuk cairan atau di dalam kapsul, namundosis aktivitas tetap harus dipastikan sebelum diberikan kepada penderita.Apabila diberikan dalam bentuk cairan maka harus dilakukan tindakan untukmengurangi penguapan selama proses persiapan radiofarmaka dengan caramenyediakan sistim penyaring yang baik dan segera diberikan kepada penderita;
f. Dosimetriradiasi untuk pasien dewasa dapat dilihat pada lampiran tabel 3 dan 4.
2. Pemilihandosisuntuk penderitahipertiroidi
Berbagai metode dalam menentukan dosisaktivitas NaI-131 telah digunakan pada penderita dengan hipertiroidi. Metodeyang sering digunakan di Amerika Serikat adalah menggunakan perkiraan ukurankelenjar tiroid dan hasil RAIU 24 jam untuk menghitung jumlah aktivitas NaI-131yang diinginkan di kelenjar tiroid. Aktivitas NaI-131 yang diinginkan adalah2.96 – 7.4 MBq (8 - 200 uCi)/gram jaringan tiroid. Dosis radiasi di kelenjartiroid dipengaruhi oleh RAIU serta waktu paruh biologis dan efektif dariNaI-131. Waktu paruh biologis ini sangat bervariasi. Batas atas dosis aktivitasdi kelenjar tiroid (7.4 MBq/gram [200 uCi/gram]) dapat digunakan untuk penderitadengan struma nodosa, struma difusa toksik berukuran sangat besar, danpemberian ulang terapi. Di Eropa dan Indonesia, dosis NaI-131 yang diberikanberdasarkan dosis empiris (185 - 555 MBq [5 – 15 mCi]).
3. Pemilihandosis untuk penderita keganasan tiroid
a. Berbagaimetode telah digunakan untuk menentukan dosis aktivitas NaI-131 untuk penderitadengan keganasan tiroid, diantaranya adalah:
· Untuk ablasi sisa jaringan tiroidpasca-operasi, aktivitas NaI-31 yang dapat diberikan berkisar antara 2.75 – 5.5GBq (75-150 mCi) tergantung dari RAIU dan jumlah sisa jaringan tiroid.
· Untuk terapi sisa keganasan tiroid danmetastasis kelenjar getah bening di leher dan mediastinum, aktivitas NaI-131yang dapat diberikan berkisar antara 5.55 – 7.4 GBq (150 – 200 mCi).
· Untuk terapi metastasis jauh, aktivitasNaI-131 yang dapat diberikan biasanya > 7.4 GBq (> 200 mCi).
· Dosis radiasi terhadap sumsum tulangmembatasi pemberian NaI-131; beberapa ahli menyarankan paparan radiasi terhadapsumsum tulang tidak melebihi 200 rad. Dosimetri yang lebih tepat diperlukanpada penderita yang akan mendapat terapi NaI-131 dalam dosis yang sangat besar;
· Untuk mengurangi toksisitas, retensiNaI-131 di dalam tubuh pada 48 jam pasca pemberian harus < 4.44 GBq (120mCi) atau < 2.96 GBq (80 mCi) jika terdapat metastasis paru yang difus;
· Dosis kumulatif maksimal dari NaI-131yang dapat diberikan adalah sebanyak 1 (satu) Curie (Ci).
b. Pemberian lithium karbonat secara oraldapat memperpanjang waktu paruh biologis dari NaI-131 dan dapat berguna pada penderitayang memiliki metabolisme iodium yang cepat;
c. Penderitaharus banyak minum selama beberapa hari (untuk meningkatkan frekuensi danvolume berkemih) dan peningkatan aliran kelenjar saliva (dengan menggunakan permenasam) dapat membantu mengurangi paparan radiasi di kandung kemih dan kelenjarsaliva. Penderita disarankan untuk buang air besar minimal 1 kali dalam sehariuntuk mengurangi paparan radiasi di dalam usus besar, yang dapat dilakukandengan memberikan pencahar.
d. Palingtidak 1 minggu setelah pemberian terapi NaI-131 harus dilakukan pencitraanuntuk tujuanstaging.
C. Perawatanuntuk penderita keganasan tiroid
1. Penderitaharus menghindari bertemu dengan orang lain untuk mengurangi paparan radiasiyang tidak perlu kepada mereka sehingga penderita perlu dirawat isolasi; instruksitertulis perlu diberikan kepada pasien.
2. Setelahmendapat terapi NaI-131, penderita tidak boleh hamil selama paling kurang 6bulan (penderita hipertiroidi) dan 12 bulan (penderita KTB);
3. Jikapenderita harus dirawat inap (isolasi), staf keperawatan harus dapat menjalankanprosedur keselamatan radiasi dengan baik. Staf keperawatan yang terlatih harusdilengkapi dengan alat pemantau radiasi yang baik (film badge, dosimeter, dll);
4. Penderitadiperkenankan pulang bila paparan radiasi sudah dalam batas yang aman (< 1mrad/jam/m);
5. Setiappenyakit penyerta lain harus dicatat dan perencanaan untuk penanganan kasuskedaruratan pada saat perawatan (isolasi) harus disiapkan. Pada keadaandarurat, penanganan kedaruratan harus diprioritaskan terlebih dahulu sebelummasalah mengenai paparan radiasi;
6. Pemantauanradiasi harus dilakukan secara rutin oleh dokter yang merawat;
7. Laporanuntuk dokter pengirim perlu dibuat dengan mencantumkan prosedur pemberianterapi NaI-131, data riwayat penderita yang penting, hasil pemeriksaan fisik,hasil laboratorium, saran mengenai terapi supresi hormon tiroid dan pemeriksaanuntuk pemantauan pasca-terapi NaI-131 serta menjelaskan bahwainformed consent telah diperoleh sebelumpemberian terapi NaI-131.
8. Satuminggu setelah pemberian terapi NaI-131, penderita diberikan terapi supresihormon tiroid dengan dosis awal 100 mikrogram per hari, dan penyesuaian dosis hormontiroid berdasarkan pemeriksaan kadar TSH 1 bulan kemudian.
V. PEMANTAUAN
1. Untukpenderita dengan hipertiroidi
Efek samping yang mungkin dapat terjadipada penderita hipertiroidi setelah terapi dengan NaI-131 antara lain adalah:
a. Eksaserbasi tirotoksikosisyang jarang terjadi (biasanya terjadi dalam satu minggu setelah terapi);
b. Pembengkakan di daerahtiroid dan mulut kering (biasanya ringan dan dapat hilang sendiri);
c. Hipotiroidi sementara(biasanya 3-6 bulan pasca pengobatan);
d. Hipotiroidi menetap(dipantau dengan menentukan kadar serum TSH danfreeT4 secara periodik 3-6 bulan sekali);
e. Bila dalam 3-6 bulan belum menunjukan adanya perbaikan secaraklinis maupun hasil laboratorium, terapi dengan NaI-131 dapat diulang kembali.
2. Untukpasien dengan keganasan tiroid
a. Pemeriksaankadar TSH, tiroglobulin, dan antibodi anti-tiroglobulin sertaultrasonografi(USG) leher dilakukansetiap 6 bulan sekali. Pemeriksaan dilakukan dengan sebelumnya menghentikan pemberianterapi supresi hormon tiroid selama 4 – 6 minggu dengan tujuan meningkatkankadar serum TSH 10 kali dari batas atas nilai normal (> 30 uIU/ml);
b. Bilakadar TSH > 30 uIU/L dan kadar tiroglobulin< 3 ng/dL serta titer antibodi anti-tiroglobulin negatif, maka inimenunjukkan tidak ada lagi sisa jaringan tiroid fungsional atau metastasis;akan tetapi bila kadar tiroglobulin > 3 ng/dL serta antibodianti-tiroglobulin positif, maka perlu dilakukan pencitraan NaI-131 diagnostikuntuk mendeteksi lokasi dari keganasan;
c. Bilapencitraan NaI-131 diagnostik positif, kadar TSH dan tiroglobulin tinggi (>3 ng/dL), maka penderita diberikan lagi terapi NaI-131 dengan dosis 5.55 – 7.4GBq (150 - 200 mCi) dan dirawat di kamar isolasi;
d. Penderitadianjurkan untuk melakukan pemeriksaan yang sama setiap 6 bulan sekali sampai dinyatakan” bersih” dengan kadar tiroglobulinterstimulasi< 3 ng/dl (TSH > 30 uIU/L) dan antibodianti-tiroglobulin negatif.
e. Bilakadar serum tiroglobulin terstimulasi tetap tinggi, walaupun pencitraan NaI-131negatif, merupakan indikasi untuk melanjutkan terapi NaI-131. Dosis NaI-131 kumulatifmaksimal yang dapat diberikan adalah sebanyak 1 (satu) Curie.
f. Bila dalam 2 kali waktu pemantauan (setiap 6bulan) berturut-turut hasil pemeriksaan baik, maka interval waktu pemantauanakan diperpanjang menjadi setiap 1-2 tahun sekali. Bila dalam 2 (dua) kaliwaktu pemantauan berikutnya (setiap 2 tahun) hasil pemeriksaan tetap baik, makapasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pemantauan kembali setiap 5 tahunsekali;
g. Bila dosis kumulatif telah mencapai 1 (satu)Curie, tetapi kadar tiroglobulin terstimulasi tetap tinggi (dengan kadar TSHtinggi dan antibodi anti-tiroglobulin negatif), maka penderita dinyatakan gagaldengan terapi NaI-131 dan perlu diberikan cara terapi yang lain.
VI.REFERENSI
1. MeierDA, Brill DR, Becker DV, Clarke SEM, Silberstein EB, Royal HD, et al. Procedureguideline for therapy of thyroid disease with Iodine-131. J Nucl Med 2002; 43:856-861.
2. MasjhurJS, Kartamihardja AHS. Buku Pedoman Tatalaksana Diagnostik dan TerapiKedokteran Nukir. Rumah Sakit Hasan Sadikin/Bagian Kedokteran Nuklir FakultasKedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.
3. CooperDS, Doherty GM, Haugen BR, Kloos RT, Lee SL, Mandel SJ, et al. ATA (AmericanThyroid Association) Management Guidelines for Patients with Thyroid Nodulesand Differentiated Thyroid Cancer. Thyroid 2009;19:1167-99.
4. BahnRS, Burch HB, Cooper DS, Garber JR, Greenlee MC, Klein I. Hyperthyroidism andother causes of thyrotoxicosis: Management guidelines of the American ThyroidAssociation and American Association of Clinical Endocrinologists. EndocrPract. 2011;17(3).
Lampiran
Tabel 1. Interaksiobat
JENIS OBAT | REKOMENDASI WAKTU PENGHENTIAN OBAT |
Obat antitiroid (seperti; propylthiouracil, methimazole, carbimazole) dan multivitamin
| 3 hari untuk OAT 7 hari untuk multivitamin |
Hormon tiroid (seperti; tiroksin, triiodotironin) | 2 minggu untuk triiodotironin+ 4-6 minggu untuk tiroksin+
|
Ekspektoran, rumput laut, carageen,cairan Lugol, cairan potasium iodida | 2-3 minggu tergantung kandungan iodium*
|
Topikal iodium (povidone iodine; betadine®) | 2-3 minggu*
|
Obat kontras radiografi * Intravena (larut dalam air) * Obat lipofilik |
3-4 minggu (fungsi ginjal normal) 1 bulan
|
Amiodaron | 3-6 bulan atau lebih lama |
* Interval waktu ini untuk pasien dengan hipertiroid. Untuk pasien KTB direkomendasikan 6 minggu waktu penghentian obat. + Interval waktu ini hanya untuk pasien KTB. |
Tabel 2. Makanan yang mengandungiodium
Garam beriodium Susu dan sejenisnya Telur Makanan laut Rumput laut dan produkkelp Roti yang mengandung iodium Cokelat Multivitamin mengandung iodium Zat pewarna yang mengandung iodium |
Tabel 3. Dosisserap radiasi
Organ | mGy/MBq | Rad/mCi |
Dianggap tidak ada penangkapan di lapang tiroid (atirotik)* Kandung kemih Dinding kolon bagian bawah Ginjal Ovarium Testis Lambung |
0.610 0.043 0.065 0.042 0.037 0.034 |
2.3 0.16 0.24 0.16 0.14 0.13 |
Dianggapuptakedi tiroid 55% dan berat kelenjar tiroid 20 gram+ Tiroid Kandung kemih Payudara Dinding kolon bagian atas Ovarium Testis |
790 0.290 0.091 0.058 0.041 0.026 |
2.933 1.1 0.34 0.21 0.15 0.10 |
* Dari ICRP 53, hal. 275 + Dari ICRP 53, hal. 278 |
|
|
Tabel4. Dosis radiasi di sumsum tulang untuk NaI-131
dosisaktivitas 74 – 7.400 MBq (2 – 200 mCi)*
Uptaketiroid(%) | Dewasa mGy/MBq (rad/mCi) | Anak (10 tahun) mGy/MBq (rad/mCi) |
0 5 35 45 55 | 0.035 (0.13) 0.038 (0.14) 0.086 (0.32) 0.100 (0.37) 0.120 (0.45) | 0.065 (0.25) 0.070 (0.26) 0.160 (0.59) 0.190 (0.70) 0.220 (0.81) |
* Dosis dapat bervariasi tergantung dari waktu paruh efektif di seluruh tubuh. (Dari ICRP 53, hal. 275-278) |